
Setelah kembali ke kantor, Fira dan Adhi di sibukkan dengan perkerjaan.
Sampai sore jam waktu pulang perkerjaan mereka belum selesai.
"Bisakah kita pulang saja, rasanya aku lelah sekali hari ini, perkerjaan ini tak habis-habis," keluh Adhi sambil meregangkan ototnya.
Fira yang mendengar Adhi mengeluh hanya tersenyum, "Baiklah, kita selesaikan besok lagi." Fira merapikan berkas-berkas yang bertebaran di meja, dan menyusunnya dengan rapi.
"Apa kamu tahu fir, mengurus restoran lebih mudah dari pada kerja disini." Adhi tidak pernah menyangka, kalau bisnis yang di geluti Jeje dan Tuan Edward begitu sulit baginya.
"Ayolah dhi, aku yakin tidak akan ada yang sulit disini, kamu pasti bisa, buktinya Jeje saja bisa," Fira tak sengaja membandingkan Adhi dengan Jeje.
"Jeje??" gumam Adhi.
"Maksudku, Jeje pun pasti dulu sama sepertimu belajar dari awal,"Fira membenarkan perkataannya.
"Aku rasa kamu benar, dan sekarang Bang Jeje bisa sesukses sekarang," Adhi mengingat, bahwa Jeje dulu juga berjuang. Adhi tahu betul bagaiaman Daffa menceritakan Jeje yang baru terjun ke dunia bisnis.
"Jadi semangat." Fira menepuk bahu Adhi dan keluar dari ruangan Adhi.
**
Saat hendak memasuki lift, Adhi dah Fira melihat ternyata, sudah ada seorang wanita dari lantai atas yang juga berada di dalam lift
"Hai fir, mau pulang juga?" tanya Zara saat melihat Fira masuk ke dalam lift
"Iya."
Mereka bertiga pun di dalam lift, bersama-sama menuju ke loby kantor.
"Bagiamana hari pertama kerja," Zara menatap Fira dan bertanya.
"Berat," jawab Adhi sebelum Fira menjawab.
Zara mengerutkan dahinya, mendengar jawab Adhi, "Kenapa?"
"Adhi masih adpatasi aja ra, biasa dunia baru pasti masih sulit." Fira mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Adhi. Dan Zara pun mengangguk mengerti.
"Semangat dhi. " Zara menatap Adhi memberikan semangat, Adhi pun membalas dengan anggukan dan senyuman.
Saat mereka sedang asik bercerita, tiba-tiba terdengar dering posel. Dan tenyata ponsel Adhi yang berdering, Adhi pun menjawab sambungan telepon.
__ADS_1
"Halo bang," jawaban Adhi pertama kali saat menerima sambungan telepon
"Halo dhi, abang mau minta tolong, carikan mangga untuk Tania." jelas Daffa dari sambungan telepon.
"Apa?" Adhi sedikit mengerutkan keningnya.
"Iya, Abang sedang perjalanan ke luar kota, dan Tania mau mangga, jadi tolong carikan, sekalian carikan yang dari pohon ya."
"Iya..iya.." jawab Adhi terlihat pasrah. Adhi pun langsung mematikan sambungan telepon, setelah mengiyakan.
Fira yang melihat Adhi terlihat kesal setelah menerima panggilan telepon pun bertanya, "Ada apa?"
"Bang Daffa minta aku cari mangga untuk Kak Tania, Bang Daffa sedang tidak bisa, karena sedang di perjalanan keluar kota," kesal Adhi mengingat permintaan Abangnya.
"Kan tinggal beli dhi, di supermarket juga ada kan."
"Masalahnya bukan itu fir," Adhi terlihat lemas menggingat permintaan Tania.
"Lalu?" tanya Fira binggung.
"Kak Tania mau yang baru di petik." Adhi benar-benar di buat kesal karena ulah kakak iparnya, yang mau mangga yang baru di petik, sedangkan Daffa sedang tidak bisa.
"Tetanggaku punya pohon mangga, aku bisa mengantarmu dhi untuk memintanya," ucap Zara yang mendengar percakapan antara Fira dan Adhi.
"Iya."
Adhi langsung beralih pada Fira, "Fir maaf sepertinya aku tidak bisa mengantarmu."
"Tidak apa-apa aku bisa naik taxy."
Akhirnya mereka keluar dari lift bersama-sama. Adhi yang harus mencari mangga, akhirnya pulang bersama Zara, sedangkan Fira akhirnya menunggu taxy untuk kembali ke apartemennya.
Saat Fira sedang menunggu taxy, ada mobil yang melintas di depannya, dan berhenti. Fira tahu betul siapa pemilik mobil itu.
"Ayo, kita searah bukan?" tanya Jeje saat kaca mobil di turunkan.
Fira yang mendapat tawaran dari Jeje masih memikirkan bagaimana menolaknya.
"Anggap saja ini kebahagiaan yang pertama yang kamu berikan padaku, dengan pulang dengan ku," ucap Jeje pada Fira, saat melihat Fira yang ragu-ragu untuk ikut.
Fira saat mendengar kata kebahagiaan yang dia janjikan, akhirnya Fira memutuskan untuk masuk ke dalam mobil, dan ikut pulang bersama Jeje.
__ADS_1
Fira langsung membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam mobil Jeje. Sepanjang jalan Fira merasa cangung duduk dekat dengan Jeje. Fira memilih melihat ke arah luar, agar tidak bertatapan dengan Jeje, dan memilih diam
"Apa kamu masih canggung?" tanya Jeje saat melihat Fira yang masih tidak banyak bicara.
"Aku rasa begitu."
"Anggap saja kita sedang berpacaran." Jeje menatap Fira sebentar saat berucap, dan kembali melihat ke arah jalanan setelahnya.
Fira memutar bola matanya saat Jeje mengatakan untuk menganggap mereka berpacaran. "Kamu sudah bertunangan, yang ada kita seperti sedang berselingkuh," ucap Fira yang kesal karena Jeje menganggap perjanjian kebahagiaan Jeje nampak seperti berpacaran.
"Istilah yang lebih bagus," ucap Jeje senang mendengar istilah yang di berikan Fira.
"Berselingkuh." Jeje melafalkan dengan penuh penekanan
"Selingkuh?, aku harap tidak akan ada yang tersakiti disini " batin Fira.
Fira hanya bisa pasrah dengan istilah yang tidak sengaja dia ucapkan, dan malah di setujui oleh Jeje. Yang Fira fikirkan sekarang hanya membuat Jeje bahagia untuk seminggu ini, sebagai ganti semua yang telah Fira lakukan.
"Kita mulai dengan apa perselingkuhan kita kali ini" ucap Jeje dengan santainya.
"Aku tidak tahu," jawab Fira malas.
"Oke kita mulai dengan jalan-jalan saja," ucap Jeje.
"Terserah padamu saja," Fira hanya mengikuti saja.
"Bagiaman kalau mall?" tanya Jeje saat tempat itu terlintas dalam pikirannya.
"Aku masih memakai pakaian kerja, aku rasa kurang nyaman untuk pergi ke mall dengan pakaian kerja," jelas Fira.
"Lalu kita mau kemana?" Jeje benar-benar tak ada ide untuk kemana, mereka akan pergi.
Jeje terus memikirkan mau kemana mereka, tapi tak ada satu ide pun muncul setelah mall.
Saat berhenti di lampu merah, Fira melihat dari kejauhan di pertigaan jalan, ada sebuah taman hiburan yang buka di malam hari.
"Je, kita kesana saja," ucapnya sambil menujuk ke arah taman hiburan.
Jeje yang melihat Fira menunjuk ke suatu tempat pun, mengikuti arah mana dia menunjuk. Dan Jeje melihat sebuah taman hiburan di pinggir jalan, mungkin lebih tampak seperti pasar malam batin Jeje, "Kamu yakin?" Jeje memastikan kepada Fira, yang ingin pergi ke tempat macam itu.
"Iya" Fira menjawab dengan bersemangat.
__ADS_1
Jeje yang melihat Fira yang begitu bersemangat tidak punya pilihan lain untuk mengiyakan permintaan Fira. Akhirnya Jeje membelokan mobilnya ke arah taman hiburan tersebut.
Cukup lama Jeje harus memarkirkan mobilnya. Karena area parkir yang lebih di dominasi oleh motor.