
Setelah Adhi di rumah orang tuanya kurang lebih lima hari, akhirnya hari ini Adhi akan kembali ke negaranya. Rasanya sudah cukup waktu sebanyak itu di gunakan Adhi, untuk mendekatkan diri dengan mamanya, dan juga dengan Fira.
Adhi yang sudah selesai bersiap, lalu keluar dari kamarnya, dan segera berpamitan dengan seluruh penghuni rumah. Saat menuruni tangga, Adhi melihat sudah ada mamanya, Tuan Edward dan Bu Ani disana. Mereka semua menunggu untuk berpamitan dengan Adhi.
"Mama masih kangen kamu dhi," Nyonya Ayu menangis tidak rela Adhi pulang, rasanya waktu terasa masih kurang baginya untuk melepas kerinduan bertahun-tahun. Rasanya dia juga masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan putranya.
"Mama bisa kesana, atau Adhi kesini nanti ma," Adhi memeluk mamanya mencoba menenangkan. Adhi tahu, mamanya masih ingin menghabiskan waktu bersama dengannya, sebagai waktu yang hilang bertahun-tahun yang lalu.
"Kamu sering-sering telepon mama ya dhi," pinta Nyonya Ayu pada anaknya.
"Iya ma, Adhi akan hubungin mama," jawab Adhi seraya melepas pelukannya.
Adhi beralih ke Tuan Edward. "Titip mama ya Om," pinta Adhi penuh harap.
"Iya, kamu juga jaga diri disana," Tuan Edward memeluk Adhi, dan Adhi pun membalasnya.
Adhi merasa kehangatan seorang ayah dari Tuan Edward. Sebenarnya Adhi sudah bisa menerima Tuan Edward, tapi dia merasa masih cangung untuk memanggil papa pada Tuan Edward. Adhi berharap ini awal yang baik, dan kedepan kedekatan mereka akan terjalin lebih baik lagi. Menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.
"Om, harap kamu pertimbangan tawaran Om," bisik Tuan Edward, dan Adhi yang mendengar kata tawaran, mengerti apa yang di maksud oleh Tuan Edward, Adhi pun mengangguk seraya melepas pelukan.
Adhi juga berpamitan dengan Bu Ani, ibu dari Fira. Sebenarnya Adhi sudah mengenal Bu Ani, karena Adhi sempat bertemu Bu Ani saat mengatar Fira pulang dulu sewaktu kuliah. Adhi memang hanya bertemu beberapa kali, karena Bu Ani hanya pulang seminggu sekali. Tapi mereka sempat bertegur sapa.
"Saya pamit ya Bu, Terimakasih sudah mau kesini, dan buat mama senang karena ada orang yang satu negara dengan mama," Adhi mengulurkan tanganya, untuk mengucapkan terimakasih.
"Sama -sama Tuan," ucap Bu Ani menerima uluran tangan Adhi.
__ADS_1
"Jangan panggil Tuan, panggil Adhi saja," pinta Adhi dengan sopan.
"Tapi.." sambil melihat Nyonya Ayu, dan Nyonya Ayu menganggu, memberi tanda menyetujui.
"Ya Adhi, kamu jaga diri juga disana, sering-sering main kesini lagi."
"Ya Bu."
Setelah berpamitan, akhirnya Adhi masuk ke dalam mobil, dan menuju ke bandara.
"Aku senang sekarang kamu sudah bisa menerima Nyonya Ayu dan Tuan Edward," ucap Fira saat di mobil, menuju bandara.
Fira memang tahu tentang kisah Adhi, beberapa kali Fira jalan atau pulang di antar Adhi, Adhi sempat menceritakan tentang kehidupannya. Tapi Fira tidak menyangka akan jadi bagian dari cerita Adhi juga. Bertemu dengan wanita yang sering di ceritakan Adhi jauh di masa mereka kuliah.
"Ya fir, mungkin sudah saatnya aku menerima semua, lagian capek fir menghindar terus, pada akhirnya aku ketemu juga sama mama. Sama kayak kamu menghindar terus, dan pada akhirnya kamu bakal ketemu juga kan?" sindir Adhi.
"Ya lah, kalau kamu menghindar terus yang ada namanya kamu nggak menerima kenyataan fir, kalau kenyataan kamu sudah relain Bang Jeje buat nikah sama orang lain, harusnya kamu tunjukin diri kamu kalau itu memang pilihan kamu, bukan dengan menghindar terus," jelas Adhi pada Fira.
"Jangan lari dari kenyataan fir," lanjut Adhi, dengan penuh penekanan. Adhi berharap dengan mengatakan ini semua, Fira bisa memikirkan ulang untuk kembali ke negaranya. Adhi benar-benar berharap Fira bisa kembali ke kehiduapn normalnya.
Fira mencerna semua kata-kata yang di ucapkan oleh Adhi. Mungkin benar yang Adhi katakan, dengan menghindar Fira tampak seperti tidak terima akan keputusannya sendiri, yang memilih meninggalkan Jeje, untuk menikah dengan orang lain.
Harusnya Fira bisa menerima dan menghadapinya. Dengan itu akan mudah bagi Fira, menerima kenyatan bahwa dirinya tidak bisa bersatu dengan Jeje.
"Udah jangan di pikir terus tapi di kerjain," sindir Adhi, yang membuyarkan lamunan Fira setelah mendengar ucapnya panjang lebar dari Adhi.
__ADS_1
Fira yang diam cukup lama, memikirkan kata-kata Adhi. Sampai dia tidak meyadari, kalau sudah sampai di bandara.
Adhi turun dari mobil, dan diikuti oleh Fira di belakang Adhi.
"Aku ngomong sama kamu berasa ngomong sama Zara, kayaknya kamu dah ketularan cerewetnya Zara deh," ucap Fira saat sudah berjalan sejajar dengan Adhi.
"Zara?" batin Adhi.
"Ya mungkin karena kita sama-sama temen kamu fir, kita peduli," Adhi berhenti, dan menjelaskan pada Fira. Adhi menekankan kata teman agar Fira tidak merasa canggung dengan Fira.
Adhi masih berusah mendekati Fira pelan-pelan, dirinya sadar Fira yang masih begitu mencintai Jeje, tidak akan dengan mudah menerima cintanya. Dan dia tidak mau mengungkapkan perasaanya, dan akan berujung penolakan nanti.
Fira hanya mencebikan bibirnya, mendapati Adhi yang semakin cerewet.
"Udah jangan seperti itu," Adhi menekan pipi Fira dengan telunjuknya. "Kok lesung pipinya nggak keluar?" goda Adhi pada Fira, yang sudah menekan pipi Fira, tapi tak bisa menampilkan lesung pipinya.
"Mana bisa begitu," ucap Fira tertawa sambil menyingkirkan tangan Adhi dari pipinya
"Itu dia keluar," Adhi melihat Fira yang tertawa, dan menampilkan lesung pipinya.
Meraka pun akhirnya tertawa bersama, karena keisengan Adhi. Rasanya mereka senang, persahabatan mereka terjalin dengan kebahagiaan. Tawa yang sudah lama tak di temui mereka berdua, menghiasi pertemuan mereka.
"Jangan cemberut lagi, jangan sedih lagi oke," ucap Adhi menepuk halus bahu Fira, "Kamu jaga diri baik-baik ya disini," sebenarnya Adhi masih berat melepas Fira, dan kembali untuk pulang. Tapi tanggung jawabnya di sana, sedang menanti. Dan Adhi tidak bisa meninggalkan begitu saja.
"Kamu juga ya, titip salam buat Zara juga," ucap Fira di iringi senyuman manis. Sebenarnya Fira sama dengan Adhi, yang merasa masih kurang menghabiskan waktu dengan temannya. Rasanya dia begitu merindukan teman-temannya yang sudah lama dia tinggalkan. Fira hanya bisa berharap, suatu saat bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Iya nanti aku sampaikan salam kamu." Adhi pun berlalu meninggalkan Fira, dan melambaikan tangan, sebagai tanda perpisahan. Fira pun membalas lambaian tangan Adhi.
Setelah selesai mengantar Adhi, Fira kembali ke rumah Nyonya Ayu dan Tuan Edward.