Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Memanjat pohon mangga


__ADS_3

Setelah memutuskan untuk ke rumah Zara. Jeje melajukan mobilnya ke rumah Zara. Saat mobil yang di kendarai Jeje sampai di depan rumah Zara, dia langsung memarkiran mobilnya, dan turun dari mobil.


Melihat Jeje sudah turun, Zara melangkah menuju rumah tetangganya. Zara langsung mengetuk pintu rumah, dan menunggu sang pemilik rumah membuka pintu .


Saat menunggu pemilik rumah membuka pintu. Jeje mengedarkan pandangan, mencari dimana letak pohon mangga. ''Dimana kamu mengambil mangga?'' Jeje menoleh, menatap Adhi, untuk tahu pohon mana yang terdapat buah mangga.


"Itu,'' ucap Adhi seraya menunjuk pohon mangga yang terdapat di samping rumah.


Kedua bola mata Jeje membulat sempurna, saat melihat pohon besar di samping rumah. Dengan batang pohon yang menjulang tinggi, membuat pohon mangga itu nampak lebih tinggi dari pohon-pohon yang terdapat di sebelahnya.


''Kamu ra,'' ucap wanita paruh baya, yang baru saja membuka pintu.


''Iya Tante," ucap Zara sopan.


'Ada apa kamu kemari ra?'' Wanita paruh baya itu melihat Zara datang dengan dua pria tampan.


''Saya mau minta buah mangga, Tante.'' Zara menjelaskan kedatanganya.


''Teman kamu nyidam lagi?'' Tanya wanita paruh baya seraya tertawa kecil.


''Iya Tante.''


Wanita paruh baya itu pun melangkah menuju pohon mangga yang terdapat di samping rumahnya. ''Sepertinya buah mangga hanya tersisa yang paling atas,'' ucap wanita paruh seraya mengedarkan pandangan melihat setiap sisi pohon mangga.


Jeje, Adhi, dan Zara pun ikut mengamati pohon, dan mencari letak buah mangga. Jeje yang mendapati buah mangga yang terletak di pucuk pohon, menelan ludahnya kasar. Dalam hati dia berpikir, bagaimana caranya dia bisa memetiknya. ''Bagaimana kamu memetiknya kemarin?'' Jeje bertanya pada Adhi, tapi fokus matanya tetap pada pohon mangga.


''Aku memanjat, karena fruit picker yang biasa di pakai untuk mengambil mangga patah,'' jelas Adhi. ''Tapi beruntungnya, aku tidak harus mencapai puncak pohon untuk mengambil mangga.''


Kepala Jeje seketika berdenyut merasakan pusing membayangkan dirinya harus memanjat.


''Suruh saja temanmu memanjat, dan mengambilnya ra,'' ucap wanita paruh baya. Dan meninggalkan Zara , Adhi, dan Jeje masuk ke dalam rumah.


Zara yang mendengar ucapan tetangganya, langsung beralih pada Jeje. ''Bapak bisa memanjat pohon?'' Tanya Zara ragu- ragu.


Jeje mengeleng kepalanya, saat mendapat pertanyaan Zara. Dirinya tidak tahu, bagaimana memulai memanjat. Rasanya dia menyesali kenapa dulu dia tidak ikut kelas wall climbing di kampusnya. Jadi di saat seperti ini dia tidak perlu bersusah payah memanjat.


''Bayangin aja gimana monyet manjat Bang.'' Suara Adhi memecah pikiran Jeje.


Jeje yang mendengar ucapan dari Adhi menatap tajam Adhi. ''Aku nggak pernah lihat monyet manjat pohon, coba kamu tunjukkan padaku.'' Jeje yang kesal pun menantang Adhi untuk memanjat.


''Sayangnya aku bukan monyet, jadi aku tidak bisa menunjukan pada Bang Jeje,'' ucap Adhi dengan senyum kemenangan.


Zara yang mendengar perdebatan antara Jeje dan Adhi hanya bisa mengeleng kepala. ''Kalau Pak Gajendra tidak bisa memanjat bagaimana?'' Zara merasa bingung untuk memberi solusi. ''Atau kalau nggak, kamu aja dhi yang manjat. Kemarin kamu bisa manjat.'' Zara beralih pada Adhi.


''Ide bagus itu ra,'' ucap Jeje semangat. "Sudah dhi sana naik! Perintah Jeje pada Adhi.


Adhi memutar bola matanya, malas mendengar Jeje memintanya untuk memanjat. ''Yang hamil istri siapa?'' Tanya Adhi, menoleh dan melirik tajam pada Jeje.


''Iya istri aku lah,'' jawab Jeje.


''Yang di kandung anak siapa?'' Tanya Adhi lagi.


''Iya anak aku lah,'' jawab Jeje dengan penuh keyakinan.


''Iya berarti, yang manjat harus Bang Jeje lah,'' ucap Adhi. ''Memang Bang Jeje mau anaknya mirip aku , kalau nanti aku yang ambil mangga.''


Jeje membulatkan kedua bola matanya sempurna, mendengar ucapan Adhi. 'Iya nggak lah, dia harus mirip aku.''


''Iya sudah sekarang Bang Jeje manjat.''


Jeje pun langsung melangkahkan kakinya, mendekat pada pohon mangga. Memandangi dari mana dia akan memulai memanjat.


Adhi yang melihat Jeje mulai mendekat pada pohon mangga, hanya bisa menahan tawa. Dia tidak habis pikir, Presdir Nareswara Grup bisa di bodohi segampang itu. ''Bagaiamana Bang Jeje bisa berpikir anaknya mirip aku, jika benih yang di tanam benihnya.'' Adhi hanya bisa menertawakan kebodohan Jeje dalam hati


Akhirnya dengan bersusah payah, Jeje bisa memanjat pohon mangga. Tapi letak buah yang terlalu di pucuk, membuat Jeje harus memanjat lebih tinggi.

__ADS_1


Tubuh Jeje yang besar, dan ranting yang rapuh, membuat ranting yang di pijak Jeje seketika patah. Untung saja tangan Jeje berpegang pada ranting lain, membuat dia tidak jatuh kebawah.


Zara dan Adhi yang di bawah, begitu kaget saat melihat ranting patah, dan hampir membuat Jeje hampir saja terjatuh.


Setelah bisa mengapai mangga yang di ambil, Jeje memetik dan melemparkannya pada Adhi yang berada di bawah. Saat buah mangga di rasa cukup Jeje memutuskan untuk turun. Tapi seketika jantungnya berdetak lebih kencang, keringat dingin mulai keluar membasahi tubuhnya, saat merasakan takut melihat ke arah bawah. Jeje berpikir keras, bagaimana dia bisa turun. Rasanya dia hanya bisa menelan susah ludahnya, saat bisa naik, tapi tak bisa turun.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, dengan perlahan akhirnya Jeje bisa turun dari pohon mangga. Seketika Jeje melihat kakinya, yang sedikit berdarah di beberapa tempat, karena tergores ranting. Dirinya yang memakai celana pendek, tidak menyangka jika harus adegan memanjat hari ini.


Setelah berterimakasih pada pemilik pohon. Jeje, Adhi, dan Zara keluar dari halaman rumah tetangga Zara.


''Terimakasih ra, sudah mengantarkan untuk meminta mangga.'' Jeje yang berdiri di dekat mobilnya, berterimakasih pada Zara.


''Sama-sama Pak.''


''Pasti Fira akan senang saat suaminya mendapatkan keinginannya, dengan bersusah payah.'' Adhi patut kagum dengan apa yang sudah di lakukan Jeje, hanya untuk mengambil mangga.


Jeje yang mendengar ucapan Adhi hanya tersenyum. Rasa bahagianya saat mendapatkan apa yang Fira mau, tidak bisa mengalahkan apapun. ''Cepatlah menikah, dan rasakan bahagianya.'' Jeje menepuk bahu Adhi, menyakinkan bahwa kebahagiaan ini tidak akan terkalahkan.


''Aku harap aku segera merasakannya.''


Setelah berpamitan dengan Zara dan Adhi, Jeje melajukan mobil menuju rumah mamanya. Sepanjang perjalanan Jeje merasakan sangat senang, saat bisa membawa mangga muda yang baru di petik untuk Fira.


Fira yang mendengar suara mobil Jeje baru saja datang, langsung melangkah keluar meninggalkan mama dan ibunya di ruang keluarga. Senyum mengembang di wajah Fira saat melihat Jeje turun dari mobil dnegan membawa sebuah kantung plastik. Fira bisa memastikan bahwa isi dari kantung plastik yang di bawa adalah mangga muda pesanannya.


"Ini,'' ucap Jeje saat berdiri tepat di hadapan Fira, seraya menyerahkan kantung plastik yang berisi mangga.


''Terimakasih,'' ucap Fira seraya memeluk Jeje.


''Sama-sama,'' ucap Jeje senang. ''Ayo masuk.'' Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira, dan menarik lembut tangan Fira melangkah masuk ke dalam rumah.


''Dapat je?'' Tanya Mama Inan pada Jeje.


''Dapatlah ma,'' ucap Jeje dengan nada bangga.


''Ya sudah sini fir, biar mama dan ibu kamu buat sambalnya. Kamu temani Jeje bersih-bersih diri dulu.'' Mama Inan meminta kantung berisi mangga muda.


''Tadi dapat dimana mangganya?'' Fira yang berglayut manja di lengan Jeje menengadah mentap Jeje.


''Di rumah tetangga Zara.''


''Dulu juga Adhi minta tetangga Zara, untuk istri Kak Daffa.'' Fira seketika mengingat bahwa Adhi pernah meminta juga mangga pada tetangga Zara untuk Tania, istri Daffa.


''Kamu tahu bahwa Adhi pernah minta mangga pada tetangga Zara?''


''Waktu itu saat pulang kerja, Kak Daffa menghubungi Adhi untuk mencari mangga, karena Kak Daffa sedang di luar kota. Kebetulan ada Zara, dan mengatakan tetangganya memiliki pohon mangga. Jadilah Adhi pergi bersama Zara ke rumah Zara.''


''Kamu nggak ikut ke rumah Zara?'' Dalam hati Jeje berkata, andai Fira ikut waktu itu dengan Adhi, paling tidak Fira tahu sebesar apa dan setinggi apa pohon mangga milik tetangga Zara.


''Tidak, karena waktu itu kamu mengajakku selingkuh,'' goda Fira mengingat kejadian di waktu yang sama dengan Adhi mencari mangga.


Jeje seketika tertawa mengingat dirinya menamai hubungan dengan Fira waktu itu dengan perselingkuhan. ''Itu masa lalu sayang, sekarang kamu istri aku.'' Jeje meraih handle pintu dan amsuk ke dalam kamar bersama Fira.


''Iya tapi itu seolah melekat pada aku, bahwa aku adalah selingkuhan mu sebelum jadi istrimu.''


''Tapi kenyataannya tidak begitu bukan.'' Jeje memutar tubuhnya menghadap pada Fira. ''Maaf pernah membuat mu sulit dalam posisi itu.''


''Iya, lagi pula aku tidak bisa melarang orang berpendapat bukan.'' Fira tersenyum menutupi kesedihannya mengingat semua itu. Fira sadar betul sebagian orang masih berpikir dirinya adalah selingkuhan dulu Jeje. ''Sudah mandilah aku akan siapkan baju.''


Jeje mengangguk dan mendaratkan kecupan di kening Fira sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Fira pun beranjak mengambilkan baju untuk Jeje. Fira mengambilkan Jeje tshirt dengan warna hitam dan celana pendek.


Saat Fira melekatkan baju di atas tempat tidur, Fira mendengar pekikan Jeje dari kamar mandi. Fira langsung melangkah menuju kamar mandi untuk tahu apa yang terjadi pada Jeje. ''Sayang, kamu kenapa?'' Tanya Fira seraya mengetuk pintu.


''Tidak apa-apa,'' jawab Jeje dari dalam pintu.

__ADS_1


Fira yang mendengar jawaban Jeje, akhinya memilih menunggu seraya mainkan ponselnya.


Jeje yang baru saja keluar menahan perih di kaki dan tangannya. Dirinya yang tidak menyangka bahwa luka tergores ranting akan perih saat terkena sabun, membuat dirinya tadi memekik.


''Kamu tadi kenapa?" Fira yang baru saja melihat Jeje yang keluar dari kamar mandi bertanya.


''Tangan dan kakiku tadi tergores ranting, jadi waktu terkena sabun sedikit perih.''


Fira langsung melangkah mendekat pada Jeje. ''Mana?'' Tanya Fira seraya menarik tangan Jeje mencoba melihat lukanya. Fira melihat di beberapa sudut tangan Jeje terdapat luka gores. ''Sakit?" Tanya Fira menatap sedih pada Jeje.


''Tidak, ini hanya luka kecil.'' Jeje menangkup wajah Fira dengan kedua tangannya.


''Walaupun luka kecil tetap saja akan membuat infeksi,'' ucap Fira. '' Gantilah baju, aku akan ambilkan obat, untuk mengobati luka di tangan dan kakimu.'' Fira melangkah mencari kotak obat yang terdapat di sudut kamar Jeje. Sedangkan Jeje memakai bajunya, sesuai permintaan Fira.


Setelah mengambil obat untuk mengobati luka Jeje, Fira duduk di sofa dan mengolesi obat di tangan Jeje. Sesekali Fira meniupi obat yang dia oleskan, agar cepat kering. Fira merasa sangat bersalah, gara-gara dirinya yang ingin makan mangga, membuat Jeje harus terluka.


Jeje yang melihat Fira dengan telaten mengobati lukanya merasa senang. Jeje pun mengikuti Fira untuk meniup, tapi bukan lukanya yang dia tiup, melainkan wajah Fira.


Fira yang merasa embusan angin aroma mint menyeruak tepat di wajahnya, menghentikan kegiatannya mengoleskan obat pada luka Jeje. ''Kenapa wajah aku yang di tiup?'' Fira hanya bisa tersenyum.


''Tidak apa-apa, aku hanya memastikan juga bahwa kesedihanmu akan kering dan berganti senyuman.'' Jeje yang menyadari wajah Fira yang berubah, tahu bahwa istrinya sedang bersedih.


Mendengar ucapan Jeje, Fira malah menangis. ''Maafkan aku, aku tidak menyangka bahwa memetik mangga membuatmu hingga terluka.''


''Hai, kenapa kamu menangis,'' ucap Jeje seraya menghapus air mata Fira. ''Apa kamu pikir aku bukan lelaki kuat, hingga dengan luka seperti ini aku menjadi lemah.'' Jeje mencoba menenangkan Fira. ''Ini hanya luka kecil, dan akan cepat sembuh.''


Fira hanya mengangguk dan menghentikan tangisnya.


''Apa kamu tahu, dulu Pak Amin mengatakan anak laki-laki akan terlihat keren saat terdapat luka di tangan atau kakinya.''


''Apa ayah ku mengatakan itu?'' Fira memastikan lagi.


''Iya, dia tidak mau aku menangis saat terjatuh atau terluka. Jadi saat aku terjatuh, aku tidak menangis, dan malah bangga. Bangga karena bisa melakukan sesuatu,'' ucap Jeje. ''Dan aku sekarang bangga, karena aku bisa melakukan sesuatu untuk mu.'' Jeje menangkup wajah Fira dengan tangannya, dan mendaratkan kecupan di kening Fira.


Rasanya terimakasih saja tidak akan mewakili perasaan Fira, yang begitu bersyukur memiliki suami sebaik Jeje.


''Ayo, kita turun, pasti mama dan ibu sudah siap dengan mangga muda dan sambal untukmu.''


Akhirnya Fira dan Jeje keluar kamar, menuruni tangga menuju ruang makan. Sesampainya di meja makan, mereka berdua sudah di sambut oleh Mama Inan dan Bu Ani. dari kejauhan pun Fira dan Jeje melihat, mangga sudah di kupas. Terdapat juga sambal rujak di sebelahnya, dan itu membuat Fira berbinar, tidak sabar memakannya.


Di temani dengan Jeje, ibunya dan mertuanya, Fira memakan mangga dan sambal dengan sangat lahap. ''Apa kamu mau?'' tanya Fira menyodorkan potongan mangga dengan sambal yang sudah menempel.


Jeje yang penasaran karena melihat Fira yang lahap memakan pun mencobanya. Tapi baru saja, Jeje mengigit buah mangga yang berada di mulutnya, Jeje langsung berlalu ke dapur, untuk mengeluarkan buah mangga lagi. ''Asam sekali,'' grutunya.


Mama Inan dan Bu Ani seketika langsung tertawa, melihat Jeje mengeluarkan mangga yang sudah berada di mulutnya. Mereka berdua memang sudah tahu, bahwa mangga yang di makan Fira asam, jadi tidak ada dari mereka yang memakannya.


"Apa kamu tidak merasa mangga itu asam?'' Tanya Jeje sudah kembali duduk di samping Fira.


"Ini enak, tidak asam,'' ucap Fira.


Jeje hanya mengerutkan dalam keningnya, rasanya dia bingung bagaimana rasa asam itu tidak terasa oleh Fira.


"Orang hamil, memang begitu je,'' ucap Mama Inan yang melihat wajah Jeje menatap Fira bingung.


Jeje hanya bisa mengangguk mengerti ucapan mamanya. pikirnya ternyata lidah ibu hamil berbeda dengan lidah normal miliknya. Yanga di makan Jeje enak belum tentu enak untuk Fira, sebaliknya juga, yang Fira rasa enak, belum tentu enak untuk dirinya.


.


.


.


.


Jangan lupa like terus ya☺️

__ADS_1


Biar author semangat


__ADS_2