Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kedatangan Atta


__ADS_3

Sesampainya di restoran mereka bertiga makan bersama. Tapi saat mereka sedang asik makan, tiba-tiba Daffa datang bersama dengan Atta, menghampiri mereka bertiga.


"Hai bang Atta tumben kemari? " sapa Adhi yang melihat Atta berada di restoran.


"Tadi abis anter mobil Abang kamu," ucap Atta seraya melirik Daffa.


"Mobil kenapa lagi Bang?" Adhi beralih pada Daffa, dan bertanya. Adhi memang sudah tahu, kalau minggu lalu mobil Daffa, juga baru saja di perbaiki di bengkel Atta juga.


"Minta ganti kayaknya," ledek Atta sebelum Daffa menjawab. Daffa pun menatap tajam Atta.


Atta yang melihat Adhi tidak sendiri. Dia melihat Adhi bersama dengan dua wanita, dan Atta tahu siapa salah satu wanita yang bersama Adhi. Atta pun beralih pada Zara . "Hai ra," sapanya pada Zara yang duduk di samping Adhi.


"Hai Bang Atta," sapa Zara malas. Zara benar-benar malas, karena kemarin di acara Fira dan Jeje , Zara sempat bertemu dengan Atta. Zara bukan tidak suka, tapi dari cara bicara Atta terlihat seperti dia suka merayu wanita, Zara hanya berjaga-jaga untuk tidak terjebak pada pria itu


"Kok Abang sih" protes Atta, "Panggil aja Atta", ucap Atta dengan memasang senyum.


"Enakan panggil Bang Atta aja, biar kayak Adhi. Aku kan seumuran sama Adhi, jadi kayak Adik Bang Atta," jelas Zara.


Daffa yang mendengar ucapan Zara, hanya tertawa dalam hati. "Baru kali ini seorang Byatta merayu wanita tapi di tolak," goda Daffa berbisik.


"Ini baru permulaan," balas Atta berbisik.


Akhirnya mereka makan sambil sedikit mengobrol. Daffa yang harus berkerja meninggalkan mereka berempat di meja restoran.


Zara yang berniat mendekatkan Nayla dengan Adhi, akhirnya memilih pindah meja untuk mempermudah Nayla dekat dengan Adhi. Mau tidak mau Zara harus duduk dan mengobrol dengan Atta.


"Kamu dah lama ya temanan sama Adhi?" tanya Atta menghilangkan kecangungan.


"Udah Bang, udah dari awal kuliah sama Fira juga"


"Bang Atta dah lama juga ya berteman dengan Pak Presdir dan Bang Daffa?"


Walau Zara malas, Zara masih menghargai Atta saat harus berdua begini. Apa lagi ada Atta, Zara ada alasan kepada Adhi kalau sampai Adhi bertanya kenapa, meninggalkannya dengan Nayla.


"Udah lama berteman sama Jeje dan Daffa, dari kecil malahan."


Setelah dirasa jam istirahat hampir selesai mereka bertiga kembali ke kantor.


"Tadi mengobrol apa sama Adhi?" tanya Zara pada Nayla berbisik di dalam mobil.


"Mengobrol biasa, sama tukeran nomer ponsel," jawab Nayla pada Zara.

__ADS_1


"Gerak cepet banget, dan sampai udah tukeran nomer ponsel," ucap Zara senang. Dalam hatinya berfikir paling tidak dia tidak sia-sia mendekatkan Nayla dan Adhi. Zara berharap Nayla bisa jadi pengganti Fira di hati Adhi.


Sesampainya di kantor mereka masuk ke dalam lift. Jam istrihat yang telah selesai membuat lift penuh dengan karyawan yang ingin kembali ke ruangan mereka masing-masing. Nayla yang masuk lebih duluan ke dalam lift, harus terpisah dengan Zara dan Adhi.


"Kamu sengaja ya meninggalkan aku dan Nayla?" tanya Adhi menatap Zara curiga.


"Benarkan tebakanku"


"Kan tadi Bang Atta ajak aku mengobrol dhi, aku kan nggak enak menolak," jelas Zara pada Adhi. Zara memang tidak berbohong soal Atta yang mengajaknya mengobrol.


"Emang mengobrol apa?" tanya Adhi ingin tahu.


"Nggak banyak sih, soalnya keburu kita balik kantor. Nanti kalau dia hubungin aku lagi aku kasih tahu"


"Dia minta nomer ponsel kamu?" tanya Adhi memastikan.


"Iya"


"Aku harap Bang atta nggak akan permainin Zara" batin Adhi.


Adhi tahu benar sepak terjang Atta untuk mendekati wanita. Jadi wajar Adhi sedikit khawatir.


***


"Nggak fir, ibu nggak apa-apa." Bu Ani mencoba menenangkan Fira. "Yang penting kamu sering-sering ke sini saja, jenguk ibu."


"Iya bu, Fira akan sering berkunjung kesini."


Akhirnya Jeje dan Fira berpamitan untuk pulang pada Bu Ani. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan menuju ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, mereka meletakan dua tas berisi beberapa pakaian merek kemarin.


"Kita ambil barang-barang kamu di sebelah ya sayang."


Fira yang mendengar Jeje mengajaknya mengambil barang-barangnya di apartemen sebelah pun mengangguk.


Mereka pun masuk ke dalam apartemen yang pernah Fira tempati.


"Kamu sudah lama beli apartemen ini?" Fira yang merapikan barang-barangnya tergelitik untuk bertanya.


Jeje yang sedang membantu Fira merapikan beberapa barang pun menoleh, "Belum, aku beli saat pertunangan dengan Ana di batalkan."

__ADS_1


"Apa apartemen ini sengaja di beli untuk aku tempati?" Fira masih begitu pernasaran.


"Iya."


Fira membulatkan matanya, " Sudah aku duga"


"Lalu setelah aku tinggal di apartemen mu untuk apa apartemen ini?"


"Nanti aku akan menjualnya saja, lagi pula untuk apa aku punya dua apartemen bersebelahan," ucap Jeje. "Aku berencana membeli rumah untuk kita, apa kamu setuju?"


"Kenapa harus beli rumah?"


Jeje yang mendengar ucapan Fira hanya tersenyum, " Karena saat kita punya anak, apartemen kita tidak akan muat." Jeje mendekat, dan ikut bersimpuh di lantai bersama Fira, yang sedang memasukkan bajunya ke dalam koper.


"Apa kalau kita punya rumah, aku bisa mengajak ibu untuk tinggal bersama?" Fira masih memikirkan ibunya yang tinggal sendiri, dan dia benar-benar merasa tidak tega.


"Tentu saja boleh."


Mendapati jawaban Jeje, Fira langsung memeluk Jeje, "Terimakasih."


"Bu Ani sekarang ibu ku juga, jadi jangan berterimakasih."


Mereka pun melanjutkan membereskan barang-barang Fira dan membawanya ke apartemen Jeje. Fira langsung memasukan baju-bajunya di lemari yang Jeje beri tahu tadi.


***


Setelah makan malam dan membersihkan diri, Fira dan Jeje merbahkan tubuh mereka di tempat tidur milik Jeje. Fira masih terasa sangat asing saat harus tidur di tempat tidur Jeje.


"Apa benar kamu besok sudah mau masuk kerja?" Jeje memastikan lagi pada Fira.


"Iya, kamu tahu bukan perkerjaan Adhi begitu banyak. Dan pernikahan kita yang tiba-tiba membuat aku tidak sempat menyelesaikan perkerjaan ku," jelasnya.


Jeje sebenaranya juga tahu seberapa banyak perkerjaan Adhi, dan pasti dia benar-benar membutuhkan Fira. " Ya sudah kalau begitu."


"Lagi pula untuk apa kita cuti kalau tidak bisa melakukan apa-apa?"


"Maksudmu?" Fira yang mendengar ucapan Jeje sedikit bingung.


"Iya, karena kamu sedang datang bulan berarti tidak ada yang bisa kita kerjakan bukan."


Fira hanya memutar mata malas menanggapi ucapan Jeje. Dia tahu pria yang menjadi suaminya itu masih begitu kesal, karena masih harus menunggu untuk malam pertama.

__ADS_1


__ADS_2