Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Darimana kamu?


__ADS_3

Jeje yang sangat sibuk, akhirnya membuat babymoon yang di inginkan Fira belum terlaksana. Terlebih lagi, keinginan Fira yang ingin mengajak Adhi dan Zara, membuat mereka harus mencocokan jadwal.


"Jadi lusa kita jadi pergi?" Fira yang baru saja melihat Jeje keluar dari kamar mandi langsung menyambut dengan pertanyaan.


"Iya, lusa kita akan pergi pagi-pagi," ucap Jeje seraya mengosok-gosokan rambutnya yang basah.


"Jadi aku bisa bersiap-siap besok?" Fira sudah membayangkan, jika besok dirinya akan mengepaki pakaiannya.


"Kita hanya tiga hari, jangan bawa baju terlalu banyak. Lagi pula, kita akan satu mobil dengan Adhi."


Fira pun mengangguk mengerti. "Berarti kita bawa satu koper kecil saja ya?"


"Iya, bawa satu koper saja, dan isi dengan baju kita berdua." Jeje yang selesai menaruh handuknya, dan langsung merangkak naik menyusul ke tempat tidur.


"Apa yang akan kita lakukan disana?" Fira yang masuk ke dalam pelukan Jeje, memeluk Jeje erat.


"Menikmati udara pengungungan, mungkin kita bisa mengadakan barbeque malam harinya," ucap Jeje seraya membelai rambut Fira.


"Pasti akan seru."


"Sudah, sekarang tidurlah, kamu harus banyak istirahat. Aku tidak mau kalau lelah."


Fira yang diminta, Jeje istirahat langsung memejamkan mata. Jeje pun ikut memejamkan mata.


***


"Ingat ya, nanti jangan terlalu lelah." Jeje yang akan berangkat kerja, memperingatkan Fira untuk tidak terlalu lelah mempersiapkan baju yang akan dibawanya untuk jalan-jalan besok.


"Iya, aku tidak akan melakukan pekerjaan terlalu berat." Fira mencoba menenangkan Jeje.


Seraya mengecup kening Fira, Jeje berpamitan. Melihat Jeje meninggalkan apartemen, Fira masuk dan menutup pintu apartemennya.


Masuk ke apartemen, Fira langsung menuju kamarnya. Hal pertama yang Fira kerjakan adalah mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Sesuai dengan yang dipesan Jeje, Fira tidak membawa baju terlalu banyak.


"Sepertinya aku harus membawa baju hangat, karena pasti nanti disana akan sangat dingin."


Fira memilih beberapa baju untuk dimasukkan ke dalam koper. Satu koper diisi baju Fira dan Jeje.


"Kira-kira apa lagi yang harus aku bawa?" Fira memikirkan apa yang harus dibawa. Memikirkan apa yang dibawa, Fira teringat jika dirinya harus membawa sarung tangan dan kaos kaki.


Mencari kaos kaki dan sarung tangan, Fira membuka lemari. Membuka laci Fira menemukan apa yang dicarinya. Setelah dia mendapatkannya, Fira memasukkan kan ke dalam koper.


Setelah memasukkan semua baju yang dia butuhkan, Fira menutup kopernya.


"Sepertinya aku harus membeli beberapa cemilan untuk nanti di sana."


Akhirnya Fira memutuskan untuk ke supermarket, mencari beberapa cemilan. Meraih tasnya, Fira keluar dari kamarnya. Melangkah menuju pintu apartemen, Fira keluar dari apartemen.


Saat Fira keluar dari apartemen, Fira bertemu dengan Celia tepat di depan pintu apartemnnya.


"Fira, kamu mau ke mana," tanya Celia saat melihat Fira keluar dari apartemennya.


"Aku akan ke supermarket untuk membeli cemilan," jawab Fira.


"Kebetulan sekali, aku juga mau ke supermarket. Sepertinya kita bisa pergi bersama-sama."


"Baiklah, kita bisa bersama-sama ke supermarket."


Dengan menaiki taksi, Fira dan Celia pergi ke supermarket terdekat.


"Bagaimana hubunganmu dengan Kak Raka?" Suara Fira terdengar membelah keheningan di dalam taksi.


"Hubungan kami baik-baik, rencananya kami akan mengadakan acara pertunangan terlebih dahulu bulan ini."


"Senang sekali mendengarnya, apa Ibu sudah tahu?"


"Raka sudah memberitahu ibu tentang rencana pertunangan kami."


Mendengar ucapan Celia, Fira merasa sangat lega saat tahu, bahwa Raka memberitahu ibunya tentang rencana pertunangannya. Bisa Fira bayangkan, sesenang apa ibunya saat mendengar Raka akan bertunangan.


Setelah sampai di supermarket, Fira membeli beberapa cemilan. Sedangkan Celia membeli kebutuhannya.

__ADS_1


"Ini sudah menjelang makan siang, bagaimana kalau kita makan siang sekalian," tawar Celia pada Fira.


Fira menimbang-nimbang tawaran Celia untuk makan siang bersama. "Baiklah."


Setelah memikirkan akhirnya Fira memutuskan untuk menerima tawaran Celia.


Setelah berbelanja beberapa barang, akhirnya Celia dan Fira menuju salah satu restoran terdekat. Saat di perjalanan, Fira mengirim pesan pada Jeje, kalau dirinya sedang pergi bersama Celia untuk makan siang. Tapi tidak ada balasan dari Jeje.


Sesampainya di restoran Fira dan Celia memesan makanan. "Jadi rencana pertunanganya akan di adakan kapan?" tanya Fira di sela-sela menunggu makanan datang.


"Sepertinya akan di akan bulan ini. Tapi lebih tepatnya belum tahu."


"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan untuk mengatakannya."


"Terimakasih."


Saat sedang menunggu pesanan makanan, ponsel Celia berbunyi. Fira yang mendengar pembicaraan Celia, menangkap jika akan ada seseorang yang datang. Fira menebak mungkin Raka, mengingat Celia menyebut namanya dalam sambungan telepon.


"Daniel ingin menemui aku," ucap Celia pada Fira.


Fira yang tadinya menduga Raka lah yang menghubungi ternyata salah. Justru Daniel lah yang menghubungi Celia.


"Apa kamu tidak keberatan Daniel ikut kita makan siang?"


"Tentu saja tidak."


Di saat makanan datang, saat itu juga bersamaan dengan Daniel datang. Daniel yang memang sedang menuju rumah Celia, tidak butuh waktu lama untuk sampai di restoran dimana Fira dan Celia makan.


"Hai Lia, Hai Fira," sapa Daniel saat melihat Fira dan Celia di restoran.


"Hai Daniel," sapa Fira dan Celia bersamaan.


"Kalian sudah lama?" tanya Daniel seraya menarik kursi


"Belum, ini makanan pun juga baru sampai," jawab Celia.


Daniel yang melihat makanan baru datang menyadari jika Celia dan Fira memang belum lama datang. Akhirnya dia memilih untuk memesan makanan, dan bersama dengan Fira dan Celia makan siang.


"Tidak banyak yang aku kerjakan di rumah, memasak, membaca artikel ibu hamil, dan bersantai," jawab Fira. Memang selama ini tidak banyak yang di kerjakan oleh Fira. Apa lagi mama Inan sudah memberikan asisten rumah tangga yang datang setiap pagi untuk membantu Fira.


"Kamu bisa memasak, Fir?" tanya Celia pada Fira.


"Iya, sedikit aku belajar dari ibu."


"Wah aku juga mau memasak."


"Oh ya, apa kamu bisa belajar memasak?" tanya Fira.


"Iya, apa kamu mau mengajari aku?"


"Tentu saja." Fira berpikir, jika tidak ada salahnya mengajari Celia memasak di sela waku kosongnya.


"Baiklah, kapan kita mulai?"


"Mungkin minggu depan?" Mengingat jika tiga hari kedepan dirinya dan Jeje akan berlibur, Fira memilih waktu untuk minggu depan.


"Apa kamu ingin jadi istri yang baik, hingga belajar memasak?" Daniel yang sudah tahu jika Celia dan Raka akan melangsungkan pertunangan, mencoba mengoda Celia.


Pipi Celia langsung merona saat mendengar ucapan Daniel. "Aku hanya berusaha."


Daniel tahu pasti seperti apa temannya. Celia seolah berubah saat bersama dengan Raka, dan itu membuat dirinya ikut senang.


"Kamu kapan akan menyusul aku?"


"Aku?" Mata Daniel sejenak melihat ke arah Fira. Masih tersisa di hati Daniel rasa cintanya pada Fira. "Aku rasa aku belum menemukannya." Fira yang sudah menikah, membuat Daniel mundur untuk mendekati Fira.


Setelah selesai makan siang, di antar oleh Daniel, Fira dan Celia pulang. Sesampainya di depan apartemen Fira dan Celia berpisah di depan pintu apartemen.


Membuka pintu apartemen, Fira masuk ke dalam apartemen. Tapi seketika matanya membulat saat melihat siapa yang berada di apartemen.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Fira yang melihat Jeje duduk di sofa, sedikit kaget karena di jam segini Jeje sudah pulang.

__ADS_1


"Dari mana kamu?"


Saat mendapatkan pertanyaan dari Jeje. Fira baru ingat, jika dirinya tidak memberi kabar saat keluar dari rumah.


"Tadi aku berbelanja ke supermarket?"


"Apa ke supermarket selama itu?" Jeje yang pulang sebelum jam makan siang, tidak mendapati Fira di rumah. Niatnya untuk makan siang dengan Fira kandas, saat menunggu Fira tidak kunjug pulang.


"Tadi aku bertemu Celia, dan kami akhirnya makan siang bersama." Fira duduk di samping Jeje, dan mencoba menjelaskan pada Jeje. "Sayang, maaf aku tidak mengabarimu." Fira yang metss bersalah pada Jeje pun akhirnya meminta maaf.


"Apa kamu tidak bisa menghubungi aku sebentar saja? Apa kamu tahu, aku khawatir?" Sorot mata Jeje penuh kemarahan menatap ke arah Fira.


"Aku tahu, maafkan aku." Fira benar-benar menyesal dengan apa yang di lakukannya.


Jeje yang melihat wajah Fira dengan penuh penyesalan, rasanya Jeje tidak tega melanjutkan kekesalannya.


"Aku benar-benar khawatir." Suara Jeje lebih rendah dari sebelumnya.


Mendengar suara Jeje yang sudah merendah, Fira memberanikan diri menatap Jeje. "Aku tahu."


Jeje langsung membawa Fira ke dalam pelukannya. "Apa yang kamu lakukan hingga lupa memberi kabar aku?"


"Tadi aku membahas tentang Celia yang mau belajar memasak," jelas Fira. "Kamu kenapa sudah pulang?" tanya Fira yang teringat dengan kepulangan Jeje.


"Tadi aku ingin mengajakmu makan siang, tapi ternyata kamu sudah makan siang."


Mendengar ucapan Jeje, Fira menjauhkan sedikit tubuhnya dari pelukan Jeje. "Jadi kamu belum makan?"


"Belum."


Rasanya Fira merasa sangat bersalah saat ternyata Jeje pulang untuk makan siang bersama dirinya. "Maafkan aku, aku tidak tahu jika kamu mau makan siang denganku."


"Iya."


"Sekarang kamu mau makan apa? Apa kamu mau aku masakan sesuatu?"


"Tidak perlu, aku akan pesan makanan saja." Mengambil ponselnya, Jeje memesan makanan di aplikasi ponselnya.


"Apa kamu sudah selesai mengepaki baju kita?"


"Sudah, tadi aku sudah menyelesaikan. Karena sudah selesai aku pergi ke supermarket untuk membeli beberapa cemilan untuk di bawa."


"Kamu seperti anak kecil yang mau pergi tamasya saja," ucap Jeje. Jeje hanya bisa mengeleng kepala saat Fira berniat membawa cemilan selama perjalanan.


Fira mencebikkan bibirnya mendengar godaan dari Jeje.


Jeje yang menyadari kalau Fira kesal, langsung memeluknya. "Maaf," ucap Jeje.


"Iya."


"Padahal aku sengaja pulang untuk membantu kamu bersiap, tapi sepertinya aku sudah terlambat."


Fira yang tadi sangat bersemangat, memang langsung menyiapkan baju yang di bawa. "Iya, aku terlalu bersemangat."


Saat sedang bercerita, terdengar suara bel apartemen berbunyi. Jeje langsung berdiri dan membuka pintu. Tepat dugaan Jeje jika yang datang adalah kurir makanaan.


Menerima makanan dari kurir, Jeje langsung mengajak Fira untuk menemani dirinya makan siang yang terlamat makan siang.


"Rencananya aku dan Celia akan belajar memasak minggu depan." Fira yang menemani Jeje, menceritakan apa yang di rencanakannya tadi.


"Apa kamu tidak lelah?"


"Ayolah, aku benar-benar bosan saat di rumah. Jika aku ada kegiatan, pasti akan sangat menyenangkan."


Jeje menyadari apa yang di katakan Fira memang benar, jika Fira sangat merasa bosan saat di rumah, dan mengizinkan Fira untuk memasak dengan Celia, bukanlah ide buruk. "Baiklah, aku akan izinkan."


Mendapat dari Jeje, Fira sangat merasa senang. Fira bisa memmbayangkan, dirinya tidak akan bosan jika memiliki kegiatan.


Setelah menyelesaikan makannya, Jeje kembali membanti Fira memindahkan cemilannya ke dalam goodie bag. Mendapati cemilan yang begitu banyak, membuat Jeje hanya bisa mengelengkan kepalanya. Rasanya Jeje ingin mengatakan apa yang ada di pikiannya.Tapi Jeje sudah bisa menebak jika Fira akan kesal.


Akhirnya Jeje memilih untuk diam dan tidak memberikan komentar apa pun pada Fira.

__ADS_1


__ADS_2