
Sesuai permintaan ibunya Fira masuk ke dalam kamar tamu di rumahnya. Disana sudah ada perias yang menanti Fira. Fira melangkahkan kakinya menghampiri perias itu.
"Ya ampun calon pengantinnya cantik sekali, nanti setelah di rias pasti akan lebih cantik," ucap perias dan Fira hanya tersenyum. Dia langsung menyuruh Fira untuk duduk di depan kaca besar.
Dari pantulan kaca, Fira melihat dengan jelas wajahnya yang masih sembab, karena menangis. Rasanya perias itu hanya berbasa-basi batin Fira. Mana ada wanita dengan lingkaran di bawah mata, bisa di bilang cantik.
Perias pun memberi sentuhan demi sentuhan pada wajah Fira. Menghias wajah Fira dengan sapuan alat make up. Dan Fira hanya diam membisu, dengan tatapan kosong.
"Selesai," ucap perias pada Fira.
Mendengar suara perias, seketika menyadarkan Fira. Fira langsung melihat dari pantulan kaca. Dia melihat wajahnya yang sembab, berubah menjadi lebih segar. Wajahnya yang pucat, berubah menjadi cerah dengan sapuan bedak dan blush on.
Saat perias selesai merias Fira, Fira mendengar pintu kamarnya di ketuk. Fira menoleh, dan mendapati Zara dari balik pintu. Zara pun masuk ke dalam kamar, melangkah menghampiri Fira. Zara yang berniat memberikan kebaya putih yang cantik untuk Fira, di kagetkan dengan wajah cantik Fira dengan make up.
"Wah kamu cantik banget" ucap Zara saat melihat Fira sudah di rias. Zara tahu betul temannya tidak pernah suka pakai make up tebal. Jadi saat di rias, Fira nampak berbeda.
"Pakai ini," Zara menyerahkan kebaya pada Fira, "Kamu akan tambah cantik nanti", senyum mengembang di wajah Zara.
Fira pun melihat kebaya yang di berikan oleh Zara. Di pandangnya lekat kebaya itu, dan Fira bisa melihat bahwa kebaya itu begitu cantik. Fira langsung memakainya, dan di bantu oleh Zara.
Setelah selesai bersiap, Fira menunggu di dalam kamar di temani oleh Zara. Sesekali Zara merapikan penampilan Fira, agar telihat sempurna nantik.
__ADS_1
Saat menunggu, Fira dan Zara mendengar pintu di ketu. Dan saat pintu terbuka, nampak Bu Ani dari balik pintu. "Apa kamu sudah siap?" tanya Bu Ani seraya berjalan menghampiri Fira. Fira pun hanya menjawab dengan anggukan.
"Kamu cantik sekali fir," ucap Bu Ani berkaca-kaca melihat wajah putrinya. Dia membelai lembut wajah Fira.
"Terimakasih bu, Apa ibu bahagia?" tanya Fira menatap bahagia.
"Ibu mana yang tidak bahagia saat putrinya menikah. Bagi ibu melihat kamu bahagia adalah kebahagiaan ibu, jadi berbahagialah."
"Ayahmu pasti senang melihatmu hari ini, dia juga pasti bahagia putri kecilnya ini akan menikah" ucap Bu Ani mengingat suaminya yang sudah tiada. Ada perasaan lega di hati Bu Ani, saat melepas putrinya untuk menikah, tapi sedih karena dia harus sendiri, dan tanpa suaminya melepas putri mereka.
Fira yang mendengar ucapan ibunya langsung teringat akan ayahnya. Menikah tanpa ayahnya adalah hal berat untuknya. Tapi benar kata ibunya, ayahnya akan bahagia melihat putrinya menikah hari ini, dan Fira mencoba menerima semua takdirnya. Dan membuat ibunya bahagia. "Fira akan bahagia demi ibu dan ayah"
Bu Ani berdiri mengulurkan tangannya, "Ayo, pengantin pria sudah menunggu," ajak bu Ani pada Fira untuk ke depan, menemui pengantin pria.
Fira melangkah menuju penghulu yang sudah duduk di kursi yang sudah di siapkan. Fira melihat kesekeliling, nampak tidak banyak tamu yang hadir, hanya terlihat teman dan kerabat dekat, dan beberapa orang yang Fira tidak kenal.
Dari jauh Fira nampak seorang pria dengan jas hitam duduk di depan penghulu, dan Fira hanya melihatnya dari belakang. Fira menatap punggung pria itu. Rasanya Fira tidak asing, tapi seketika Fira menjauhkan pikirannya.
Bu Ani pun membantu Fira untuk duduk, di kursi samping pengantin pria. Fira yang merasa sesak di dadanya mendapati kenyataan akan pernikahannyanya ini, hanya menunduk menahan tangisnya. Pikirannya benar-benar melayang entah kemana. Semua seperti mimpi bagi Fira. Sejenak Fira bertanya, apa benar ini akhir dari semuanya. Apa akhir cintanya dengan Jeje akan segara berakhir.
Penghulu mulai mengucap ijab qobulnya dan mempelai pria mengucap, "Saya terima nikahnya Zhafira Maheswari binti Amin Nugraha dengan mas kawin tersebut tunai."
__ADS_1
"Sah?" tanya penghulu
Dan semua orang yang berada di rumahnya menjawab Sah.
Fira masih mencerna setiap kata-kata, yang tadi di ucap oleh penghulu dan mempelai pria. Fira yang mendengar ucapan yang cukup cepat, membuatnya susah untuk mencernanya. Tapi samar-samar Fira mengingat suara yang dia dengar, dan Fira merasa tidak asing mendengar suara itu. Fira yang begitu penasaran, langsung menoleh.
Fira langsung membulatkan matanya, dia begitu kaget mendapati siapa mempelai pria yang menikahinya, "Jeje," gumam Fira.
"Apa aku mimpi ?" batin Fira
Fira benar-benar merasa seolah sedang bermimpi. Bayangan Jeje seolah ada di hadapannya.
Penghulu pun menyuruh mereka berdiri, untuk saling menyematkan cincin. Dan pengantin pria pun menyematkan cincin di jemari Fira.
Fira tersadar bahwa ini bukan mimpi, saat dia merasakan jemarinya di sentuh oleh Jeje. Fira menatap wajah Jeje dengan seksama. "Bukan mimpi, " batin Fira
Penghulu pun meminta Fira bergantian, untuk menyematkan cincin di jemari Jeje, tapi Fira masih dalam keterkejutannya, dan masih fokus menatap Jeje. Dia tidak sama sekali mendengarkan ucapan penghulu.
"Apa kamu tidak mau memakaikan aku cincin, dan memandang aku terus sayang," bisik Jeje, dan langsung membuyarkan lamunan Fira yang menatap Jeje.
Fira yang tersadar lansung memasangkan cincin ke jemari Jeje. Dan Jeje langsung mengecup kening Fira. Fira yang di kecup setelah proses pernikahannya, merasa bahagia, dia bisa menikah dengan orang yang begitu di cintainya. Tapi perasaan masih bercampur kebingungan.
__ADS_1
Penghulu meminta mereka untuk duduk, dan menandatangani berkas pernikahan. Fira menatap berkas di depannya, dengan seksama. Tertulis jelas nama Zhafira Maheswari tertera di buku nikah wanita, dan nama Gajendra Nareswara di buku nikah pria. Dan semua ini bukan khayalan semata. Semua nyata di depan Fira.
Setelah proses selesai, Fira benar-benar masih dengan kebingungannya. Banyak pertanyaan di dalam fikiran Fira. Semua begitu menjadi tanda tanya bagi Fira. Bagiamana bisa Jeje menikah dengannya, sedangkan Mamanya memintanya menikah kemarin. Dan bagaimana bisa Jeje menikahi Fira, sedangkan kemarin Adhi yang menyiapkan semua. Fira benar-benar tidak tahu jawabannya.