
"Aku pikir dia cerita kalau, dia akan segera menikah,"
Fira memutar tubuhnya, melihat ke arah Jeje, yang tepat di belakangnya, dan sedang menyandarkan tubuhnya di sofa. Fira pun menautkan kedua alisnya, seolah dia kaget mendengar Valeria akan menikah, "Maksud kamu Valeria akan menikah?" tanyanya memastikan.
"Iya."
"Dengan siapa?"
"Reza."
Fira memikirkan, Reza siapa yang di maksud oleh Jeje, "Pak Reza asisten kamu?"
"Iya, Reza asiaten aku, siapa lagi," jawab Jeje malas membalas ucapan Fira yang menanyainya terus.
Fira hanya mengangguk-anggukan kepalanya, baru mengerti ucapan dari Jeje.
"Sudah ayo makan," ajak Jeje mengakhiri bergosip, membahas tentang Valeria, "Kamu mau makan dimana?" tanyanya pada Fira.
"Kita makan di restoran kak Daffa ya, aku ingin makan disana,"
Jeje hanya tersenyum, "Ya sudah ayo," ajaknya berdiri, dan mengulurkan tangan pada Fira.
Fira langsung menerima uluran tangan Jeje, dan berjalan berdua keluar dari ruangan Jeje. Semua karyawan Jeje menyapa atasannya, yang berjalan dengan istrinya. Fira pun membalas sapaaan karyawan Jeje dengan tersenyum.
Rasanya Fira mengingat, bulan lalu mereka masih memandang sinis padanya, yang berjalan dengan Presdir mereka. Karena yang mereka tahu Jeje sudah bertunangan dengan Ana, dan itu membuat Fira nampak seperti selingkuhan Jeje.
Mereka berdua menuju parkiran mobil, dan masuk ke dalam mobil. Jeje langsung melajukan mobilnya, menuju restoran Daffa.
"Aku mengantuk," ucap Fira yang merasakan matanya berat.
Jeje menatap sebentar ke arah Fira, dia hanya berfikir jam berapa Fira bangun, hingga membuatnya mengantuk lagi, tapi pikirannya di tepisnya, dia berpikir mungkin Fira masih lelah akibat perjalanan mereka kemarin, "Tidurlah aku akan membangunkanmu jika sudah sampai," ucapnya lembut pada Fira.
Dan dalam hitungan menit setelah Jeje menyuruhnya tidur, Fira sudah tertidur pulas. "Sepertinya hobi barunya akan bertambah," gumamnya saat melihat Fira yang mudah sekali tertidur.
Sesampainya di restoran Daffa, Jeje membangunkan Fira. Cukup lama untuk Jeje membangunkan Fira. Setelah Fira bangun, mereka berdua berjalan ke dalam restoran Daffa.
Saat mereka masuk, Fira melihat Adhi dan Zara sedang makan di restoran yang sama dengannya, "Ada Adhi dan Zara," ucap Fira mentap Jeje, "Kita bergabung dengan mereka saja," tanpa persetujuan Jeje, Fira yang sedari tadi mengandeng tangan Jeje, langsung menarik lembut tangannya, berjalan menghampiri Adhi dan Zara.
"Hai.." sapa Fira.
__ADS_1
Adhi dan Zara yang sedang fokus makan, menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Fira disana.
"Fira!!" seru Zara, dan langsung berdiri. Mereka berdua menautkan pipi mereka seraya memeluk, "Kamu disini juga?"
"Iya, aku tadi berencana makan disini, tapi malah bertemu kalian," Fira tertawa melihat ketidaksengajaan nya bertemu dengan Adhi dan Zara.
Saat kedua wanita itu sedang asik saling menyapa, Adhi juga menyapa Jeje seraya mengulurkan tangan, "Apa kabar bang?"
"Baik," Jeje menerima uluran tangan Adhi.
"Ayo duduk," ucap Adhi mempersilahkan Jeje duduk, dan membuat ke dua wanita yang sedang saling menyapa itu berhenti.
Mereka semua akhirnya duduk. Fira duduk bersebelahan dengan Zara, sedangkan Jeje bersebelahan dengan Adhi.
Jeje langsung memanggil pelayan, untuk memesan makanan. Sesampainya pelayan datang Fira sangat bersemangat memesan makanan.
Adhi dan Zara di buat bingung mendengar pesanan makanan Fira yang cukup banyak. Tapi mereka hanya berfikir, mungkin Fira sedang lapar.
"Kamu apa kabar dhi," Fira menyadari, dari tadi dia belum menyapa Adhi, dan sibuk menyapa Zara.
"Baik."
"Maaf aku belum masuk kerja hari ini," Fira yang melihat Adhi, merasa tidak enak.
"Lalu kapan kamu mau kerja,?" Adhi yang memiliki kesempatan bertanya pada Fira, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Hatinya bingung bagaimana caranya mempertahankan Zara, jika Fira sudah masuk untuk berkerja.
"Bisakah Fira menambah cutinya beberapa hari dhi?" Jeje yang mendengar Adhi bertanya pada Fira mencoba meminta pada Adhi. Jeje merasa tidak tega melihat istrinya yang nampak lelah, karena perjalanan kemarin.
Adhi seperti mendapat angin segar, saat Jeje meminta untuk menambah cuti Fira, dia berfikir Zara masih akan tetap di kantor, saat Fira masih cuti, "Boleh bang, asal abang masih membiarkan Zara di kantor aku."
"Ya, Zara akan tetap di kantor kamu selama Fira menambah cutinya,"
Zara yang mendengar ucapan Jeje, merasa itu adalah perintah mutlak, dan tak perlu persetujuannya.
"Kok kamu mutusin sendiri sih," Fira yang dari tadi diam, akhirnya membuka suaranya. Walaupun sebenarnya dia senang saat Adhi memberikannya cuti lagi, karena dia memang merasa masih sangat lelah seusai perjalanan bulan madu kemarin.
Jeje langsung menatap Fira, "Kenapa memangnya,?"
"Ya kamu tanya Zara juga, jangan mengambil keputusan sendiri saja," kesal Fira pada Jeje.
__ADS_1
Zara yang mendengar Fira merasa tidak terima, karena Jeje memutuskan sendiri merasa tidak enak dengan Jeje. Sebagai atasannya, tanpa persetujuan darinya, Jeje berhak memutuskan sendiri, "Aku nggak apa-apa fir," ucapnya menenangkan Fira.
"Kamu lihat sendiri kan, Zara tidak masalah," Jeje menjawab dengan santai. Dia benar-benar heran dengan Fira, apa dia lupa kalau suaminya ini atasan Zara. Ucapannya adalah perintah.
Belum sempat Fira menjawab lagi ucapan Jeje, makanan yang dia pesan datang, dan mengalihkan fokus Fira.
Fira berubah bersemangat menunggu pelayan meletakan pesanan di atas meja nya.
Jeje yang melihat Fira mood nya berubah, ketika melihat makanan hanya tersenyum.
Fira yang tidak sabar, langsung memakan makanannya. Dia sudah tidak memperdulikan persoalan tentang Zara yang akan mengantikannya, yang akan menambah cutinya.
Adhi dan Zara yang melihat Fira begitu lahap memakan makanannya, membulatkan mata. Mereka pikir pesanan tadi untuk Fira dan Jeje. Tapi ternyata Jeje hanya memesan satu pasta saja.
"Kamu lagi hamil fir?" tanya Zara memecah keterkejutannya melihat Fira yang makan begitu banyak.
Fira yang mendengar Zara mengatakan sesuatu menoleh pada Zara, seketika dia menghentikan makannya, "Kenapa kamu bicara begitu?"
"Aku lihat kamu makan begitu banyak, seperti makan untuk dua orang saja,"
"Kamu hamil sayang?" Jeje yang mendengar ucapan Zara, langsung bertanya pada Zara.
"Tapi aku nggak mual," ucap Fira yang merasa tidak mual, seperti yang di rasa ibu hamil pada umumnya.
Zara yang mendengar ucapan Fira langsung tertawa kecil, "Nggak semua ibu hamil mual," jelasnya, "Sebaiknya kamu periksakan saja atau kamu bisa pakai testpack untuk mengeceknya."
Fira yang mendengar ucapan Zara mengingat, kapan terakhir dia haid. Dan itu terjadi saat pernikahannya dengan Jeje sebulan yang lalu.
"Bagaimana kalau kita periksa setelah dari sini," Jeje yang sudah tidak sabar, ingin segera tahu apakah istrinya hamil atau tidak.
"Nanti dulu, aku tidak mau kecewa, kalau sampai dokter mengatakan aku tidak hamil," Fira yang dari tadi mendengar penjelasan Zara, tidak mau menyalahartikan nafsu makannya sebagai tanda kehamilan.
"Kalau nggak mau periksa ke dokter, beli testpack aja fir," timpal Zara.
"Tapi..."
Belum selesai Fira menjawab, "Nanti kita beli," potong Jeje.
Fira yang tak bisa menolak pun hanya bisa pasrah, ucapan Jeje terkadang seperti perintah yang tak bisa di bantah.
__ADS_1
Adhi yang dari tadi mendengar pembicaraan tentang kehamilan Fira tersenyum kecil, dia sangat berharap Fira benar-benar hamil, dan Zara bisa berkerja di kantornya.
Akhinya mereka melanjutkan makan, yang tertunda karena pembahasan tentang kehamilan.