Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Cara yang berbeda


__ADS_3

Sesuai malam janji malam ini dengan Daniel, Fira dan Jeje bersiap untuk makan malam di restoran. Tadi siang Fira sudah memesan tempat di Restoran Rooftop di salah satu hotel di kota mereka.


Jeje yang baru selesai memakai bajunya, melihat Fira sedang merapikan dress yang di pakainya. Mata Jeje menajam, saat melihat lekuk tubuh Fira yang terlihat jelas dari gaun yang di pakainya. Dress dengan lengan panjang dan terbuka di bagian belakang, membuat mengekspos setengah bagian pungung mulus milik Fira. Jeje melangkah mendekati Fira. "Apa harus gaun ini yang kamu pakai?" Tanya Jeje seraya membelai punggung halus milik Fira.


Dari kata-kata Jeje, Fira sudah menyimpulkan bahwa Jeje tidak menyukai dress yang di pakai Fira. "Padahal ini mama yang memilihkan."


Jeje memutar kedua bola matanya malas, dia heran dengan mamanya yang memilih dress seperti ini untuk Fira. Jeje melangkah meninggalkan Fira, dan membuka lemari pakaian. Mata Jeje memindai, mencari dress untuk Fira. Dan akhinya dia melihat satu dress panjang dengan potongan A, dengan lace menutupi hingga leher. "Gantilah yang ini." Jeje memberikan dress pada Fira, setelah kembali mengambil dress untuk Fira.


Fira hanya tersenyum saat mendapat dress dari Jeje. Tanpa menjawab, Fira mengambil dress yang di berikan Jeje dan mengantinya.


Setelah selesai menganti dress nya, Fira kembali menghampiri Jeje. "Puas?" tanya Fira setelah menganti dress nya.


Jeje mengangguk di sertai senyuman. Rasanya dia lebih suka melihat Fira memakai dress yang tertutup, karena dia tidak mau orang lain terpesona melihat tubuh Fira.


Belum puas dengan dress, Jeje memperhatikan kembali penampilan Fira. Dengan melihat dari atas hingga bawah, mata Jeje langsung tertuju pada bibir milih Fira. "Berapa banyak kamu memakai lipstik?"


Fira mengerutkan dahinya mendengar ucapan Jeje yang menyindir. Fira bergegas menuju ke meja rias, melihat ke dalam cermin, warna seperti apa yang membuat Jeje mengatakan hal itu. "Warna pink dari lipstik ini memang lebih pekat, jadi sekali pulas sudah terlihat warnanya."


"Tapi aku tidak suka."


Fira tidak punya pilihan lain, dia langsung mengambil tisu. Fira mengarahkan tisu untuk menghapus lipstik yang ada di bibirnya, tapi seketika tangannya di cekal oleh Jeje. Jeje langsung mengambil tisu dari tangan Fira. Dengan satu gerakan, Jeje menghapus lipstik yang menempel di bibir Fira.


Kedua bola mata Jeje membulat, saat melihat cara Jeje menghapus lipstiknya. Fira membeku, tidak mengelak atau menolak apa yang Jeje lakukan.


Setelah selesai, Jeje mengusap bibirnya dengan tisu yang di bawanya. Jeje menarik senyum di sudut bibinya, merasakan kepuasan dengan apa yang di lakukannya.


Fira hanya bisa mengelang kepala, saat Jeje menghapus lipstik miliknya dengan bibir Jeje. Dengan satu gerakan lembut bibir Jeje, Jeje memindahkan lipstik Fira ke bibirnya dengan ciuman. Dan saat selesai mencium Fira, Jeje mengusap tisu pada bibirnya, untuk menghapus lipstik yang menempel di bibirnya. "Apa itu cara baru menghapus lipstik?" tanya Fira dengan nada menyindir.


Jeje tertawa mendengar sindiran dari Fira. "Aku suka cara yang berbeda, walapun hasilnya sama."


Fira selalu tidak bisa menolak pesona seorang Gajendra, dia punya seribu cara membuat seorang Zhafira tersenyum bahagia.


"Ayo kita berangkat, jangan sampai tamu kita menunggu." Jeje mengajak Fira berangkat untuk menemui Daniel makan malam.


**


Sesampainya di restoran, Jeje menarik lembut tangan Fira, membawanya untuk melingkar di lengannya. Dengan berjalan beriringan, Jeje dan Fira menuju meja yang sudah di pesan.


Belum nampak Daniel, saat Fira dan Jeje sampai di meja restoran. Fira pun beralih melihat pemandangan kota malam hari, yang terlihat sangat indah dari tempatnya duduk. Dengan langit malam, yang berhiaskan bintang, menyatu dengan gelapnya malam dengan sinar lampu yang terdapat di sepanjang kota. "Ternyata pemandangan kota begitu indah di lihat dari sini," ucap Fira.


Jeje tersenyum melihat apa yang di katakan Fira. Sejenak Jeje teringat seperti pernah mendengar kata-kata yang sama dengan yang di ucapakan Fira. "Aku seperti pernah mendengar kata-kata itu terucap darimu."


Fira mencoba mengingat kapan dia mengatakan kata-kata itu pada Jeje. Saat Fira memutar memory dalam pikirannya, akhirnya dia menemukan dimana dia pernah mengatakan hal itu. "Aku mengatakan waktu kita naik biang lala, saat kamu mengajakku berselingkuh."


Jeje mengingat juga kejadian itu. "Iya, waktu itu adalah awal kita mulai perselingkuhan kita." Jeje tertawa, mengingat kejadian sebelum pernikahan mereka.


"Malam," sapa Daniel pada Jeje dan Fira. Daniel yang datang tepat saat Jeje mengatakan tentang perselingkuhan antara Jeje dan Fira, merasa sangat kaget. Dirinya tidak menyangka bahwa benar adanya, bahwa Jeje dan Fira berselingkuh.


Jeje yang mendengar sapaan dari seseorang, menghentikan tawanya. Saat Jeje menoleh, dia mendapati Daniel dan sekertarisnya berdiri. "Malam, Daniel." Jeje berdiri, dan mengulurkan tanganya pada Daniel.


Daniel pun mengulurkan tangan pada Daniel. Bergantian mengulurkan tangan pada Fira. "Malam Fira," sapa Daniel.


Fira yang melihat Jeje mengulurkan tangannya, menerima uluran tangan Daniel. "Malam." Rasanya Fira masih sangat malu mengingat kejadian tadi siang, saat dirinya terpergok oleh Daniel sedang berciuman dengan Jeje. Fira pun beralih pada Clara. "Malam."


"Malam," ucap Clara ketus, rasanya Clara kesal sekali dengan Fira, karena membuat dua sahabatnya bertengkar tadi siang.


Fira merasa binggung saat melihat wajah Clara terlihat kesal, dan nada suara Clara ketus.


"Silakan duduk." Dengan ramah Jeje mempersilakan Daniel dan Clara untuk duduk.


Jeje, Fira, Daniel, dan Clara memulai makan malam saat makanan sudah datang.


"Berapa lama kamu disini, Niel?" tanya Jeje di sela-sela makan mala mereka.


"Mungkin besok aku sudah kembali," ucap Daniel. Dari pertama kali Daniel datang, ekor mata Daniel memperhatikan Fira. Daniel merasa, hari ini Fira begitu cantik dengan balutan dress dan make up tipis.


"Sayang sekali, kalau kamu lebih lama disini, aku akan mengajakmu untuk makan malam bersama keluargaku."


Saat Jeje mengatakan tentang keluarga, rasanya bibir Daniel merasa gemas untuk bertanya tentang keluaga Jeje. "Kamu anak keberapa Gajendra?"


"Panggil Jeje saja, biar lebih akrab," ucap Jeje. "Aku anak satu-satunya." Jeje menjawab pertanyaan dari Daniel.


"Apa kamu sudah menikah?"

__ADS_1


Saat mendengar pertanyaan dari Daniel, Jeje tersedak. Fira yang melihat Jeje tersedak langsung memberikan minum pada Jeje. "Maaf," ucap Jeje saat di sudah meredakan sakit di tenggorokannya dengan segelas air.


"Iya, tidak apa-apa."


"Oh ya, tadi kamu bertanya apa?"


"Apa kamu sudah menikah?"


"Sudah," jawab Jeje. Jeje langsung menatap Fira sejenak.


Daniel tidak kaget saat mendengar bahwa Jeje sudah menikah. Daniel memperhatikan, bahwa Jeje menatap Fira. Dan dia tidak bisa mengartikan tatapan Jeje pada Fira. "Kalau kamu sudah menikah, kenapa kamu tidak mengajak istrimu kesini." Rasanya Daniel sudah tidak sabar mendapat semua jawaban dari Jeje.


Jeje langsung tertawa mendengar ucapan Daniel. "Untuk apa aku mengajaknya. Kalau.."


Belum selesai Jeje melanjutkan ucapannya, tiba-tiba mereka semua di kagetkan dengan kedatangan seseorang.


"Dasar wanita murahan, setelah kamu mengoda Jeje, sekarang kamu ingin mengoda Daniel." Celia yang baru saja datang, langsung memaki Fira. Celia yang melihat minuman di atas meja pun, langsung menyiramkan minuman itu di atas kepala Fira.


Jeje, Daniel, Clara dan Fira sendiri sangat kaget melihat apa yang di lakukan Celia.


"Celia." Teriak Jeje dengan tatapan menajam. Jeje langsung berdiri dan menghampiri Fira.


Daniel yang melihat Celia pun, langsung menarik tangan Celia. "Apa yang kamu lakukan?" Daniel tak kalah meninggikan suaranya.


"Aku memberi pelajaran pada wanita selingkuhan Jeje ini," ucap Celia pada Daniel, dan menatap ke arah Fira.


"Tutup mulutmu Celia," bentak Jeje. "Bawa dia pergi sekarang juga, Niel. Atau aku bisa melakukan melebihi batasku." Jeje sadar betul, bahwa dirinya di liputi emosi. Jeje merasa tidak terima istrinya di perlakukan seperti itu. Dan bisa saja dia berbuat kasar pada Celia


Daniel yang mendengar ucapan Jeje, langsung menarik tangan Celia kasar, dan membawa Celia pergi dari restoran.


Kejadian Celia yang menyiramnya, begitu sangat cepat, hingga membuat Fira begitu kaget dengan apa yang di lakukan oleh Celia.


"Sayang," ucap Jeje. Jeje yang tadinya marah dengan Celia, berubah melembut pada Fira.


Fira mengerjap saat Jeje memanggilnya. Buru-buru dia mengembalikan kesadarannya. Fira menatap dress nya yang basah, dan lebih lagi dia merasakan cairan lengket pada rambutnya, karena minuman yang di tuangkan Celia adalah minuman manis.


"Ayo, kita pesan kamar di hotel ini, dan bersihkan tubuhmu." Jeje menuntun Fira untuk berdiri, dan menuju hotel.


Fira yang merasa tubuhnya begitu lengket, berlalu ke kamar mandi sesuai arahan Jeje. Dia ingin sekali buru-buru menguyur tubuhnya di bawah kucuran air shower. Karena rambutnya begitu tidak nyaman, terkena minuman manis.


Saat melihat Fira sudah masuk ke dalam kamar mandi, Jeje beralih mengambil ponselnya. Jeje mencari nama Valeria saat membuka layar ponselnya. Sebenarnya dari kemarin dirinya ingin menghubungi Valeria, tapi semua itu urung di lakukan karena sibuknya perkerjaannya. "Halo Val."


"Halo, Je."


"Val, sebenarnya apa yang kamu katakan pada Celia hingga dia menuduh Fira adalah selingkuhanku?" Dengan nada tinggi Jeje langsung meluapkan kekesalannya pada Valeria. Dirinya berpikir, semua akar permasalahan ada di Valeria.


"Celia? Selingkuhan? Maksud kamu apa, je?" Valeria nampak bingung saat mendengar ucapan Jeje.


"Jangan pura-pura bodoh, Val. Celia sendiri yang bilang, dirimu mengatakan bahwa Fira adalah selingkuhanku."


Valeria tersentak dengan ucapan Jeje. Dirinya merasa tidak pernah mengatakan hal itu pada Celia. "Aku tidak pernah mengatakan itu, je."


"Celia sendiri yang mengatakan hal itu padaku."


"Je, percayalah aku tidak mengatakan hal itu pada Celia."


Jeje bingung saat mendengar pembelaan Valeria. Dirinya tidak tahu, mana yang bisa dia percaya. "Terserah padamu, kalau kamu merasa tidak bersalah buktikan padaku."


"Aku akan buktikan, Je."


Setelah mendengar ucapan Valeria, Jeje langsung mematikan sambungan teleponnya. Dan meletakkannya di dalam jasnya kembali. Jeje masih menahan gemuruh dalam hatinya. Rasanya masih terasa kesal di hatinya, mengingat apa yang di lakukan oleh Celia.


**


Daniel yang menarik Celia langsung membawa Celia masuk ke dalam mobil. Di ikuti Clara di belakang, Daniel melajukan mobilnya menuju apartemen Celia.


"Apa kamu gila melakukan hal tadi." Daniel yang menyetir menoleh sebentar pada Celia yang duduk di sampingnya.


"Iya, aku gila. Gila karena Jeje mau berselingkuh dengan Fira."


Daniel diam mendengar ucapan Celia, dia mengingat ucapan Jeje yang sedang membahas perselingkuhan saat dirinya datang. "Itu urusan mereka, Lia. Kita tidak bisa mencampuri terlalu dalam."


Emosi Celia begitu menyesakkan bagi Celia. Rasa cintanya pada Jeje, harus kalah dengan selingkuhan. "Kalau saja Fira itu istrinya, aku akan rela melepaskannya, Niel. Tapi kamu tahu bukan bahwa Fira hanya selingkuhannya." Celia mulai menangis melepaskan kekesalannya.

__ADS_1


"Aku pun juga lebih rela Fira memiliki status yang jelas," batin Daniel.


Daniel langsung mengantarkan Celia pulang ke apartemennya, sebelum dia dan Clara kembali ke hotel.


**


Fira yang sudah selesai membersihkan dirinya, keluar dari kamar mandi. Dengan memakai handuk kimono yang di sediakan hotel, Fira menutupi tubuhnya. Saat Fira keluar, dia melihat Jeje sedang duduk di atas tempat tidur, dengan bersandar pada headboard tempat tidur.


"Kamu sudah selesai sayang," ucap Jeje mengulurkan tanganya.


Melihat Jeje mengulurkan tangannya, Fira melangkah menghampiri Jeje. Fira langsung duduk tepat di samping Jeje.


"Apa kamu baik-baik saja." Jeje menarik tangan Fira, menautkan jemarinya, mengengam erat tangan Fira.


"Aku hanya kaget saja, saat tadi Celia datang dan menyiramku. Aku sampai tidak bisa melawan karena terlalu kaget."


"Ini semua salah Valeria." Kata-kata itu lolos dari mulut Jeje.


Kening Fira berkerut dalam saat mendengar nama Valeria yang di sebut Jeje. "Kenapa bisa Valeria?"


"Kemarin sewaktu aku pulang malam, aku sempat bertemu dengan Celia. Dan dia mengatakan bahwa kamu selingkuhan aku. Saat aku tanya atas dasar apa dia mengatakannya. Celia mengatakan bahwa Valeria lah yang mengatakan padanya."


Fira masih tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Jeje. Dirinya tahu betul Valeria sudah tahu hubungannya dengan Jeje, dan bahkan dia sudah tahu dirinya dan Jeje sudah menikah. "Apa kamu yakin Valeria melakukan itu?"


"Tadi aku sudah menghubungi Valeria, dan dia mengatakan bahwa dia tidak mengatakan hal itu."


"Kamu menghubunginya Valeria?" tanya Fira memastikan.


"Iya."


Fira mendegus kesal. "Kamu tahu bukan, Valeria akan menikah besok. Kalau kamu menghubunginya, pasti Valeria akan panik dan kebingungan memikirkan masalah ini."


Jeje yang tadi terbawa emosi tidak berpikir sampai kesana. Dirinya hanya memikirkan kenapa Valeria bisa mengatakan hal itu. "Maaf aku tidak berpikir sejauh ini."


"Seharusnya kamu bersabar setelah pesta pernikahan Valeria dan Reza," ucap Fira. "Tapi ya sudahlah mau apa lagi, kamu sudah menghubunginya." Fira hanya bisa pasrah menerima Jeje sudah menghubungi Valeria.


"Tapi aku benar-benar geram kenapa Celia senekat itu." Jeje yang mengingat Celia menjadi kembali emosi.


"Kita tidak tahu apa yang mendasarinya melakukan ini. Yang jelas, aku rasa ini hanya salah paham. Dan jika di biarkan semua akan menjadi lebih buruk."


"Kamu benar, dan kita akan menyelesaikannya," ucap Jeje. "Aku tidak mau itu semua menjadi masalah dalam pernikahan kita."


Fira mengangguk, rasanya dirinya juga tidak mau semua hal ini menjadi masalah untuknya. "Oh ya bajuku kotor, dan aku tidak ada baju, bisakah kamu pulang untuk mengambilkan baju untukku." Fira yang teringat bahwa dirinya tidak membawa baju, meminta Jeje mengambilkannya.


"Aku tidak mau," ucap Jeje.


Fira mngerutkan keningnya, mendengar penolakan dari Jeje. "Lalu kamu akan membiarkan aku memakai ini semalaman." Fira menunjukan handuk kimono yang di pakainya.


"Siapa yang mengatakan kamu akan memakai ini."


"Lalu?"


"Kamu tidak akan memakai apa-apa malam ini," ucap Jeje seraya mendekat pada Fira, dan langsung membenamkan bibirnya pada bibir Fira. Dengan gerakan lembut, Jeje mulai mencium Fira.


Fira selalu tidak bisa menolak apa yang di lakukan oleh Jeje. Dengan lembut, Fira pun membalas ciuman yang di berikan oleh Jeje.


Tangan Jeje mulai membuka ikatan handuk kimono yang di pakai oleh Fira. Dengan satu tarikan handuk kimono yang Fira pakai pun terbuka.


Fira yang mendapati Jeje sudah mulai melakukan permainannya, tahu kemana selanjutkan permainan ini akan berakhir.


.


.


.


.


Jangan lupa like ya🥰


.


.

__ADS_1


__ADS_2