Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Lift karyawan


__ADS_3

Ting..tong...


Suara bel apartemen Fira berbunyi


"Siapa pagi-pagi bertamu, bukannya Adhi bilang tidak bisa menjemput," gumam Fira seraya berjalan membuka pintu.


"Pagi," sapa seseorang di depan pintu saat Fira membukanya.


"Pagi je, ada apa kamu pagi-pagi kesini?" tanya yang bingung mendapati Jeje yang pagi-pagi sudah bertamu.


"Untuk menemanimu sarapan." ucap Jeje enteng.


"Menemaniku?" Fira hanya tersenyum menanggapi kata-kata Jeje, Fira rasa dia tidak butuh di temani, tapi Jeje lah yang butuh di temani.


"Masuklah!" Fira mempersilahkan Jeje untuk masuk ke dalam apartemen, Jeje pun mengikuti Fira dan masuk. "Ayo kita sarapan dulu" ajak Fira pada Jeje.


Jeje pun melangkahkan kaki ke arah meja makan, mengikuti Fira. Sesampainya di meja makan Jeje melihat sudah tersedia dua piring makanan. "Apa kamu tahu aku mau kesini?"


"Tadi aku membuat untuk Adhi, tapi Adhi mengabari kalau dia tidak bisa menjemput" jelas Fira yang tidak sengaja mengatakan untuk siapa satu piring itu.


"Ternyata untuk Adhi " kesal Jeje dalam hatinya.


Fira yang melihat Jeje sedikit kecewa karena makanannya untuk Adhi, merasa tak enak.


"Besok akan aku buatkan khusus untuk mu, kalau kamu mau sarapan disini, tapi sekarang makanlah yang ini dulu." Fira berusaha menenangkan Jeje.


"Baiklah" senyum kemenangan mengembang di bibir Jeje. Jeje pun menarik kursi, dan makan bersama-sama


"Rasanya aku sudah lama sekali tidak makan masakkanmu," ucap Jeje seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Fira mengingat, entah kapan terakhir kali, dia memasak untuk Jeje. Rasanya sulit untuk Fira menghitung waktu dimana dia pergi. "Makanlah sepuasmu, seminggu ke depan aku akan memasakan untukmu." Fira hanya bisa berharap menganti semua luka yang .dia tinggalkan untuk Jeje.


"Aku harap tidak hanya seminggu saja, kamu akan memasak untukku."

__ADS_1


Setelah mereka sarapan mereka memutuskan untuk berangkat ke kantor bersama, awalnya Fira menolak tapi Jeje yang memaksa. Akhirnya Fira pun menuruti untuk berangkat bersama. Mereka berdua menuju parkiran, dan Jeje melajukan mobilnya ke arah kantor.


Sesampainya Fira dan Jeje di kantor, mereka berjalan bersama di loby kantor. Semua orang yang melihat Presdir mereka berjalan dengan seorang wanita, hanya memasang mata mereka, untuk memperhatikan siapa wanita itu.


"Bukankah itu karyawan perusahaan yang menumpang di lantai 15," ucap salah satu karyawan wanita.


"Wah bisa-bisanya dia mendekati Presdir, padahal Presdir sudah bertunangan," balas salah seorang karyawan wanita yang satunya pada temannya.


Semua percakapan itu terdengar jelas oleh Fira. Fira yang merasa risih hanya bisa diam. Rasanya sesak mendengarkan kalau dia berjalan dengan tunangan orang. Walaupun yang di katakan mereka adalah benar.


Sampai di depan lift, Jeje mengajak Fira untuk naik lift Presdir, tapi Fira merasa tidak enak. Akhirnya Fira dan Jeje berpisah, karena Fira akan naik lift khusus karyawan dan Jeje naik lift khusus Presdir


"Zhafira," panggil seorang pria yang baru datang, dan juga ingin naik lift.


Fira yang melihat ada pria yang memanggil langsung menoleh, dan mendapati Arman manager pemasaran yang memanggil dirinya.


"Iya Pak Arman," jawab Fira


"Kamu apa kabar?" Arman mengulurkan tangannya. Rasanya Arman senang sekali mendapati Fira di kantornya lagi


"Kamu mau melamar kerja lagi disini?"


"Tidak pak, saya karyawan di lantai 15"


"Oh, perusahaan baru yang sedang berkerjasama dengan perusahaan ini ya?" tanyanya memastikan.


"Iya Pak."


Rasanya Arman cukup senang mendengar Fira berkerja di kantor yang sama dengannya.


"Selama ini kamu kerja dimana?"


Fira yang mendengar pertanyaan Arman, Fira sedikit bingung, "Saya berkerja di luar kota Pak." Seperti dengan Nayla, dengan Araman pun dia harus berbohong.

__ADS_1


"Oh keluar kota, soalnya kamu tiba-tiba sekali berhenti berkerja."


Fira mengingat, dirinya memang tidak sempat berpamitan, atau mengucapkan perpisahan saat berhenti berkerja, "Maafkan saya Pak." Fira yang merasa tidak enak akhirnya memilih meminta maaf.


"Tidak apa-apa." Araman tersenyum pada Fira.


Pembicaraan mereka terhenti, saat lift terbuka. Arman dan Fira pun masuk ke dalam lift. Tidak terlihat karyawan lain yang masuk ke dalam lift, dan akhirnya mereka berdua lah yang hanya akan masuk ke dalam lift.


Saat lift hendak tertutup, tiba-tiba ada sepatu yang menahannya, dan lift terbuka kembali. Mereka berdua terperangah, saat ternyata yang menahan, dan ingin masuk adalah Jeje.


"Pagi Pak," sapa Arman yang gugup saat Presdirnya masuk lift karyawan,


dan Jeje menjawab dengan anggukan.


Jeje melangkah masuk ke dalam lift, dan berdiri di tengah-tengah antara Arman dan Fira. Memang dari awal Fira mengobrol tidak terlalu dekat dengan Araman, dan terdapat jarak antara mereka berdua.


"Apa lift Presdir sedang rusak Pak?" tanya Arman basa -basi pada Jeje.


"Tidak, saya hanya ingin mengecek lift karyawan, apa berfungsi dengan baik atau tidak," jawab Jeje sinis.


Arman yang mendapati jawaban sinis, terdiam dan tidak berani bertanya lagi. Nyalinya ciut mendapati sikap Presdirnya.


Jeje hanya beralasan saja untuk mengecek lift, sebenarnya Jeje tidak suka Fira dekat-dekat dengan pria lain. Saat tadi dirinya menunggu lift, dia melihat seorang pria memanggil Fira,.dan saat Jeje menoleh ternyata Arman Manager pemasaran, yang memanggilnya.


Jeje yang melihat Fira dan Arman berbincang, merasa sangat kesal. Tapi belum hilang kesalnya pada Arman yang mengajak berbincang Fira, Jeje melihat Fira dan Arman masuk ke dalam lift hanya berdua, dan membuat Jeje langsung panik. Dia langsung beralih ke lift karyawan, karena tidak mau melihat Fira di dekati pria lain. Dan dia masuk tepat waktu sebelum lift tertutup kembali.


Di dalam lift tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Arman yang tadi mendapat tanggapan sinis dari Jeje, tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Sedangkan Fira yang tidak tahu harus berbincang apa memilih diam.


Diam-diam Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira. Fira yang kaget, langsung menoleh dan memandang Jeje. Fira mencoba melepas tangan Jeje karena takut di lihat orang. Apa lagi ada Arman di samping Jeje.


"Diam sayang," bisik Jeje pada Fira, saat melihat Fira mencoba melepaskan genggaman tangannya.


Mendengar kata sayang, membuat Fira diam seribu kata. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mendengar Jeje memanggilnya begitu. Rindu mungkin itu lebih tepatnya ungkapan yang pas.

__ADS_1


Sampai di lift lima belas, Fira pamit untuk keluar lebih dulu kepada Jeje dan Arman. Mereka pun mengiyakan dan mempersilahkan Fira untuk keluar.


Arman yang keluar lebih dulu, juga berpamitan juga. Dan tinggallah Jeje yang di dalam lift, menuju ruanganya.


__ADS_2