Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Aku akan kembali


__ADS_3

Jeje mengerjap, merasakan pelukannya yang terlepas dari Fira. Dengan masih mengantuk, dia meraba ke samping dimana Fira tidur. Dia ingin membawa Fira kembali pelukannya, mendekapnya penuh kehangatan. Tapi saat tangannya meraba, dia tidak mendapati Fira di sampingnya.


Jeje langsung membuka matanya, melihat tempat tidur yang kosong, dan hanya dirinya yang ada. Dia pun menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, berdiri dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Tapi saat dia membuka pintu kamar mandi. Dia tidak mendapati Fira di dalam kamar mandinya.


Langkahnya dia lanjutkan keluar dari kamarnya, mencari keberadaan Fira. Saat keluar dari kamar, dia mencium aroma masakan yang mengelitik indra penciumannya. Jeje meneruskan langkahnya menuju dapur. Dan akhirnya dia mendapati Fira disana. "Sayang kamu sedang apa?" tanya Jeje seraya melangkah mendekat pada Fira.


Fira yang sedang sibuk memasak sarapan, di kagetkan dengan suara Jeje yang bertanya. Dia langsung membalikkan tubuhnya, menatap suaminya yang berdiri di belakangnya. "Aku sedang memasak."


Jeje menatap tajam pada Fira. "Kenapa tidak membangunkan aku, untuk memasak," ucapnya tidak suka.


Fira melihat kedua mata Jeje yang begitu tajam menatapnya. Fira tahu bahwa Jeje kesal dengannya. "Tadi aku melihat kamu tidur sangat pulas. Jadi aku tidak ingin membangunkan kamu," ucapnya pada Jeje.


"Aku sudah bilang bukan, kalau kamu tidak boleh memasak," sergah Jeje pada Fira.


Fira yang mendengar Jeje sedikit membentaknya langsung terdiam. Fira bukan tidak ingat, kalau Jeje melarangnya, tapi perutnya yang berbunyi, membuat dirinya langsung bangun dan memasak. "Maaf," lirihnya menjawab.


Jeje langsung tersadar saat suara lirih Fira terdengar olehnya. Dia merasa sudah berlebihan memperlakukan Fira. "Aku hanya tidak ingin kamu lelah." Jeje mulai melembutkan suaranya. "Duduklah, biar aku yang melanjutkan," ucapnya seraya membawa Fira untuk duduk. Jeje langsung menarik kursi di meja makan, dan membantu Fira untuk duduk.


Fira hanya bisa pasrah dan mengikuti arahan Jeje. Dirinya tidak mau berdebat dengan Jeje pagi-pagi, karena membatah ucapanya. Akhirnya Fira memilih duduk, dan melihat Jeje beraksi di dapur.


"Makanlah," ucap Jeje yang sudah selesai memasak, dan meletakkan makanan di meja makan.


Fira langsung memakan masakan yang di buat oleh Jeje. Dia melahap makanannya dengan semangat. Perutnya yang sudah dari tadi berbunyi, meminta untuk segera di isi.


"Apa kamu lapar?" Tanya Jeje yang melihat Fira yang begitu lahap saat makan.


"Iya, tadi aku berniat masak karena aku lapar," ucap Fira seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Jeje tersenyum mendapati istrinya yang ternyata lapar. "Lain kali bangunkan aku, aku akan memasakan untukmu, kapan saja."


Fira hanya mengangguk dan menatap sejenak Jeje, saat menjawab ucapan Jeje. Dia pun melanjutkan makananya, dan fokus pada makannya.


Setelah selesai makan, dan bersiap. Fira mengantar Jeje berangakat kerja hingga pintu depan.


"Aku sudah meminta Zara kemari di jam makan siang. Kamu bisa membicarakan perpindahan mu dengannya tanpa harus keluar dari apartemen," ucap Jeje seraya membelai rambut Fira. Fira yang mendengar ucapan Jeje pun mengangguk. "Aku berangkat dulu. "Jeje mencium kening Fira dan melangkahkan kaki meninggalkan Fira di apartemen.


Fira akhirnya menutup pintu setelah Jeje pergi.


**

__ADS_1


Saat Fira sedang asik menyiapkan makan siang yang dia pesannya tadi. Fira mendengar bel apartemennya berbunyi. Fira mengedarkan pandangan, melihat jam dinding. Dan jam menujukan pukul dua belas. "Itu pasti Zara," ucapnya seraya berjalan menuju pintu apartemen.


Fira membuka pintu, dan mendapati Adhi dan Zara di depan pintu.


"Hai fir," sapa Zara seraya menautkan kedua pipinya pada Fira


"Aku pikir kamu sendiri," ucap Fira saat melihat Zara datang ke apartemennya berdua dengan Adhi.


"Tadi Bang Jeje memang meminta Zara saja, tapi aku pun juga mau ikut bergabung dengan kalian," jawab Adhi sebelum Zara menjawab.


Zara melirik tajam pada Adhi, "Kebiasan lama yang nggak pernah hilang fir. Selalu ikut kita kalau lagi berdua," ucap Zara pada Fira, dan memberi sindiran pada Adhi.


Adhi langsung tertawa. " Aku itu menjaga kalian, biar kalian selalu aman," elak Adhi. Zara yang mendengar elakan Adhi, hanya mencebikkan bibirnya.


"Sudah-sudah ayo masuk." Fira menghentikan perdebatan kecil antara Adhi dan Zara.


Fira mengajak Adhi dan Zara langsung menuju meja makan. Mereka bertiga langsung menyantap makanan yang sudah di sediakan oleh Fira.


"Kamu kenapa minta aku kesini," tanya Zara di sela-sela makan.


Fira yang mendapati pertanyaan Zara, memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pada Zara. " Aku sudah mulai kerja lagi ra." Fira membuka pembicaraan.


"Kamu nggak perlu balik ke kantor Jeje ra," sangah Fira.


Zara mengerutkan dahinya, dia bingung mendengar ucapan Fira. "Kenapa?"


"Jeje mengizinkan aku kerja tapi harus kantor Jeje. Dan kamu akan mengantikan aku di kantor Adhi." Fira menjelaskan kepada Zara


"Kenapa kamu harus di kantor Pak Gajendra?" Zara masih tidak terima dengan penjelasan Fira.


"Karena aku hamil, jadi Jeje tidak mau aku kerja jauh darinya."


Zara membulatkan matanya kaget dengan ucapan Fira. "Kamu hamil fir, selamat ya." Zara memeluk Fira saat mengucapkan selamat.


"Makasih ra," ucap Fira. "Masalah pertukaran aku sama kamu, gimana ra?, Apa kamu keberatan?" tanyanya lagi memastikan pada Zara seraya melepas pelukan.


Zara yang mendengar permintaan Fira untuk bertukar posisi merasa bingung. Apa lagi melihat keadaan Fira yang hamil, membuatnya susah untuk menolaknya. Tapi dirinya memikirakan apa yang Nayla minta kemarin, yaitu menjauhi Adhi. "Kalau aku tetap di kantor Adhi. Aku tidak akan bisa menjauhinya, " batin Zara.


"Mau ya ra?" pinta Fira lagi. "Kalau kamu nggak mau, Jeje nggak akan izinin aku buat kerja. Dan kamu tahu kan, aku akan sangat bosan di rumah." Fira menatap Zara penuh harap.

__ADS_1


"Baiklah, fir." Akhirnya Zara mengiyakan permintaan Fira. Zara merasa tidak tega melihat Fira yang memohon padanya. Dia lebih memilih memikirkan Fira terlebih dahulu di banding Nayla. Bagi Zara persahabatannya dengan Fira, lebih dekat dari pada dengan Nayla. Dan masalah Nayla, Zara akan pikirkan nanti cara menghadapinya.


"Makasih ya ra." Fira senang saat Zara menerima.


Adhi yang mendengar permintaan Fira untuk bertukar posisi dengan Zara, hanya diam saja. Dirinya yang tadi pagi di hubungi Jeje, sebenarnya sudah tahu semuanya. Dia sengaja ikut Zara untuk ke apartemen Fira, karena ingin mendengar jawaban Zara. Dan saat mendengar jawab Zara, Adhi merasa sangat senang.


Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang mereka. Dan berpamitan setelah selesai.


***


"Oke dhi terimakasih infonya." Jeje yang mendapat telepon dari Adhi, yang memberitahu bahwa Zara menyetujui untuk bertukar dengan Fira merasa sangat lega.


Dalam hatinya berpikir, dia akan bisa menjaga Fira, jika istrinya itu ada di kantornya.


Sesaat setelah Jeje mematikan sambungan telepon dengan Adhi. Jeje mendengar pintu ruangannya di ketuk. Jeje pun mempersilahkan untuk masuk.


"Apa Pak Gajendra memanggil saya?" tanya Reza sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangan Jeje.


"Iya za, saya mau minta kamu untuk menjual satu apartemen saya." Jeje yang sudah berniat menjual apartemennya, akhirnya meminta Reza mengurus semua.


"Baik Pak," ucap Reza menerima perintah dari Jeje. " Maaf Pak, besok saya mau izin berkerja setengah hari bersama Valaria, karena kami ingin mencari cincin." Reza memberanikan diri untuk izin pada Jeje.


Jeje yang mendengar Reza meminta izin, mengerti bahwa beberapa hari dirinya cuti, pasti Reza tidak sempat mencari keperluan pernikahannya. "Kamu bisa libur sehari za. Uruslah keperluan pernikahan mu."


Reza yang mendengar Jeje memberi izin sehari merasa sangat senang. "Terimakasih Pak."


Jeje pun mengangguk, menerima ucapan terimakasih Reza.


.


.


.


.


.


Jangan lupa berikan like dan vote🄰

__ADS_1


Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16


__ADS_2