
Tok..tok...
Suara pintu ruangan Jeje di ketuk.
"Masuk!" seru Jeje.
"Permisi Pak, Nona Anastasya datang kemari." Sekretaris Jeje memberi tahu kedatangan Ana ke kantor Jeje.
Jeje hanya mengehela nafasnya, belum selesai dia dengan masalah mencari Fira, sekarang masalah baru timbul. "Suruh saja masuk," perintah Jeje.
"Baik, Pak."
Sekertaris Jeje keluar, dan menyuruh Ana untuk masuk ke dalam ruangan Jeje.
Ana pun masuk setelah, sekertaris Jeje mempersilahkan untuk masuk.
"Kenapa sekertarismu itu melarang ku untuk langsung masuk, apa dia tidak tahu kalau aku ini calon tunangan mu," kesal Ana sesaat setelah dia masuk ke dalam ruangan Jeje.
Jeje memutar bola mata jengah mendengar Ana berbicara. Rasanya dia malas sekali menghadapi wanita yang ada di hadapannya ini.
"Dia hanya menjalankan perintah," ketus Jeje. Dia benar-benar malas dengan Ana. Jeje mengingat bagiamana dirinya, bisa menerima Ana, menjadi tunangannya.
"Apa kamu sudah dapat kabar dari Fira je?" tanya Bu Inan pada Jeje yang baru saja pulang berkerja.
"Belum ma," ucap Jeje dengan raut frustrasi.
Bu Inan yang melihat wajah anaknya merasa tidak suka. "Ini sudah hampir enam bulan kamu mencarinya, apa waktu selama itu belum cukup, mama mohon berhentilah mencari Fira," ucap Bu Inan pada Jeje.
Bu Inan yang tahu Jeje selalu saja berusaha mencari Fira tanpa henti menjadi sangat kesal. Setiap libur kerja, Jeje selalu pergi untuk mencari Fira.
"Jangan buang waktumu untuk mencari wanita itu, coba buka hatimu untuk wanita lain, terimalah saran mama untuk menerima perjodohan dengan Ana je." Selama ini Bu Inan selalu berusaha membujuk Jeje, untuk mau menikah dengan Ana.
__ADS_1
Jeje yang mendengar permintaan mamanya, menjadi sangat kesal, cintanya pada Fira benar-benar belum bisa dia hilangkan, dan usahanya mencari Fira pun belum dia hentikan. "Tapi Jeje tidak bisa ma," tolaknya.
"Mama sudah sabar menunggumu mencari wanita itu, dan sekarang mama tidak mau kamu mencari wanita itu lagi. Kalau dia mencintaimu dia harusnya memikirkan mu dan kembali tapi kenyataanya dia tidak pernah kembali untuk mu." Bu Inan berusaha membuat seoalah Fira lah yang salah, dan meninggalkan Jeje, karena dengan cara itulah Bu Inan bisa membuat Jeje mau menikah dengan Ana.
Jeje sedikit berfikir membenarkan ucapan mamanya. Jeje pikir benar kata mamanya, Fira tidak memikirkannya, kalau Fira memikirkan Jeje, Fira tidak akan meninggalkan Jeje selama ini.
"Mama mau kamu menerima perjodohan ini, dalam seminggu ke depan pertunangan mu akan di adakan, mama tidak menerima penolakan," ucap Bu Inan.
Bu Inan yang sudah mengirim Fira, tidak mau menyianyiakan semuanya ini. Dia ingin Jeje segera menikah, sebelum semua terbongkar. Atau sebelum ada orang yang menemukan Fira.
Jeje yang mendengar ucapan mamanya tidak bisa menolak sama sekali. "Terserah mama saja."
Jeje pun meninggalkan mamanya, dan masuk ke dalam kamarnya. Rasanya lelah sekali saat mamanya membahas tentang Ana.
"Je, hari ini Tante Inan meminta kita mencari cincin pertunangan, bisakah kita pergi?" tanya Ana pada Jeje yang membuyarkan ingatan Jeje. Jeje yang di ajak Ana bicara, masih sibuk di depan laptopnya sejak Ana datang.
Jeje menatap sebentar pada Ana, sebelum beralih ke arah laptopnya. "Aku sibuk, pergilah dengan mama saja" ketus Jeje.
"Kenapa dia tidak bisa bersikap baik padaku" batin Ana. Ana tahu Jeje tidak pernah mencintainya, tapi dia selalu berusaha membuat Jeje mencintainya. Tapi usahanya selalu gagal, karena sikap acuh Jeje yang berlebihan yang dia berikan pada Ana.
Jeje menatap tajam pada Ana, dia benar-benar tidak suka di perintah. "Aku bilang aku sibuk, pergilah" bentak Jeje pada Ana. Rasa cinta yang tidak ada di hati Jeje, membuatnya tidak perduli, dengan perasaan dan keinginan Ana.
Ana yang mendengar bentakan Jeje hanya bisa menahan kesalnya dalam hati, "Untuk mencari wanita itu dia bisa meluangkan waktu, tapi untuk ku dia tidak bisa sama sekali ."
Ana terpaksa keluar dari ruangan Jeje. Ana tidak mau sampai membuat Jeje marah, dengan memaksanya menemani mencari cincin.
Ana takut kalau sampai Jeje marah, dia bisa saja membatalkan pertunangannya, dan Ana tak mau ambil resiko itu. pikirnya, saat menikah nanto Jeje akan menerimanya suatu saat nanti.
Jeje yang melihat Ana keluar, hanya mengusap wajahnya kasar. Rasanya dia masih menyesali keputusannya menuruti mamanya untuk menikah dengan Ana. Karena jujur dalam hatinya masih ada Fira. Tapi dirinya tidak melawan orang tua, yang dia sangat cintai. Walaupun dia kerja kepala, tapi tidak bisa menyakiti kedua orang tuanya, dengan menolak tawaran menikah dengan Ana.
"Andai kamu tidak pergi, aku tidak akan menerima semua ini," Jeje masih saja terus menyalahkan Fira atas kepergiannya, yang entah kemana.
__ADS_1
***
"Apa kamu sudah mendapatkan info tentang Fira dhi?" tanya Daffa pada Adhi yang sedang sibuk di depan laptopnya.
"Belum Bang, aku dah coba cari tapi belum dapat info apapun."
Sama halnya dengan Jeje, Adhi juga mencari Fira selama enam bulan ini. Disela-sela kesibukannya mengurus restoran bersama Daffa, dia masih menyempatkan diri mencari Fira. Adhi selalu meminta Zara untuk membantunya, mencari kemana tempat dimana Fira akan kunjungi.
Tapi sayang usahanya masih belum membuahkan hasil. Tak ada info satu pun yang dia dapat dari kepergian Fira.
Fira benar-benar bak di telan bumi, tak ada jejaknya sama sekali.
"Bersabarlah.." Daffa mencoba menenangkan adiknya. Daffa tahu betul selama enam bulan Adhi mencari Fira tanpa henti.
"Bagaimana rencana pernikahan Abang? apa sudah selesai?" tanya Adhi pada Daffa yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahanya dengan Tania pacarnya.
"Sudah hampir semua siap, rencana abang mau menemui mama untuk mengundangnya ke acara pernikahan Abang," jelas Daffa. "Apa kamu mau ikut?"
"Tidak, Abang saja yang pergi sendiri" ucap Adhi datar.
Daffa tahu Adiknya itu belum bisa menerima mamanya, seperti halnya dirinya.
"Apa kamu belum bisa memaafkannya?"
"Aku sudah memaafkannnya tapi aku belum bisa menerimanya," jawaban Adhi begitu ketus.
"Mama sudah berusaha menghubungimu, dia juga memintamu datang kesana, coba kamu pertimbangkan lagi untuk menjalin hubungan baik dengan mama." Sejak keputusan mamanya untuk pergi dan meninggalkan Adhi dan Daffa, Adhi belum bisa menerima mamanya, saat mamanya menjalin hubungan kembali, dengan anak-anaknya.
"Kalau Abang mau menjalin hubungan baik dengan mama silahkan, aku tidak akan melarang tapi jangan paksakan aku."
Daffa yang mendengar ucapan Adhi hanya berusaha tidak memaksanya, karena dia tahu tidak semudah itu bisa menerima mamanya kembali.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu mau kamu, Abang tidak akan memaksa."
Daffa pun memilih keluar dari ruangan Adhi, dan meninggalkan Adhi sendiri.