Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Gantiin Fira nyidam


__ADS_3

Jeje yang baru saja keluar dari Bandara, langsung menuju ke rumah mertuanya. Melihat jam di pergelangan tangannya, jam menunjukan sudah pukul dua belas malam. Jeje tidak tahu, apakah mungkin kedatanganya akan sangat menganggu tidur nyenyak penghuni rumah. Tapi Jeje tidak bisa menunggu sampai besok, untuk bertemu dengan Fira.


Mengetuk pintu rumah, Jeje menunggu seseorang untuk membuka pintu. Perasaan Jeje begitu berdebar-debar saat menunggu pintu di buka. Berharap akan ada yang membuka pintu, di jam yang sudah hampir dini hari.


Saat pintu di buka, Jeje melihat seorang pria membuka pintu. Tanpa bertanya pun, Jeje sudah menebak itu adalah Raka. Pria yang di ceritakan Fira sebagai kakak angkatnya.


"Kamu, Je," ucap Raka.


"Iya, kamu pikir siapa." Suara Jeje sedikit dengan nada ketus. Walapun Jeje sudah mendengar, jika pria di hadapanya ini adalah kakak angkat Fira. Tapi baginya, mereka bukanlah satu darah.


"Masuk!" Raka mempersilakan Jeje untuk masuk.


Jeje menarik kopernya, dan masuk ke dalam rumah. Lampu tampak temaram, karena memang biasanya lampu di rumah mertuanya, akan di matikan menjelang tidur.


"Fira sudah tidur," ucap Raka pada Jeje sesaat menutup pintu kamarnya.


"Tanpa kamu bilang juga aku tahu, ini sudah malam, dan jelas Fira sudah tidur."


Raka hanya mengeleng mendengar ucapan Jeje. "Kamu masih sama ya, tidak pernah berubah."


Jeje yang menarik kopernya hendak ke kamar Fira, menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Raka. Membalikkan tubuhnya, Jeje memandang Raka tajam. "Siapa kamu, tahu apa kamu tentang aku?"


Raka menarik senyum di wajahnya. "Jeje kecil yang arogan, yang di saat mainanya di sentuh dia akan marah, masihlah sama dengan Jeje dewasa, yang saat wanita yang di cintai di dekati, dia juga akan marah."


Jeje manautkan kedua alisnya, merasakan bingung siapa pria di hadapanya ini. "Siapa kamu?" Suara Jeje lebih tinggi dari sebelumnya.


"Aku akan laki-laki yang kamu usir saat mencoba memainkan mainanmu." Raka mengingat dengan jelas, bagaimana arogannya Jeje waktu kecil.


Jeje mencoba mengali memori di ingatannya, berharap dirinya mengingat siapa pria di hadapannya itu. Sampai akhirnya dia mengingat siapa pria itu. "Kamu anak kecil itu?" tanya Jeje pada Raka. Jeje mengenal dulu Raka tinggal di rumahnya. Tapi Jeje tidak tahu saaat itu kalau Raka anak Bu Wati-asisten rumah tangga di rumahnya.


"Iya, apa kamu sudah ingat?" Dulu Raka pernah tinggal bersama ibunya di rumah Nareswara. Tapi karena Raka tidak nyaman, akahirnya Raka meminta untuk tinggap bersama Pak Amin-ayah Fira. Untungnya Bu Ani menerimanya dengan lapang dada. Mendapat sambutan hangat dari Bu Ani, Raka merasa betah. Di tambah Fira yang baik, membuat lebih nyaman.


"Apa kamu dendam, hingga membuat dirimu ingin membalas dengan membuat aku dan Fira bertengkar?" Pertanyaan tajam dari Jeje terucap begitu saja.


Raka langsung tertawa mendengar tuduhan Jeje. "Aku tidak sekeji itu."


Bagi Jeje tidak mudah dirinya percaya begitu saja pada Raka. "Jauhilah Fira, dan jangan jadikan alasan kakak dan adik sebagai cara untuk mendekati Fira." Jeje sudah malas berurusan dengan pria yang Jeje sendiri lupa namanya. Walaupun Fira sudah menjelaskan namanya berkali-kali, tapi Jeje tetap saja tidak mengingatnya.


"Redamlah emosimu itu. Jika tidak, itu akan membuatmu susah."


Jeje mengabaikan begitu saja ucapan Raka begitu saja. Jeje berpikir untuk tidak mau berdebat dengan Raka, mengingat yang ada di pikirannya sekarang adalah Fira. Melangkah menuju kamar Fira. Jeje membuka pintu kamar Fira. Lampu kamar yang mati, dan tergantikan lampu tidur, memberikan cahaya yang minim di dalam kamar Fira. Masuk ke dalam kamar Fira, Jeje langsung menutup pintu Fira. Rasanya, Jeje tidak mau ada yang menganggunya.


Menaruh kopernya di sudut kamar, Jeje melihat Fira dari kejauhan. Tubuh Fira yang terbenam di dalam selimut, membuat hanya kepalanya saja yang terlihat. Melangkah menuju ke tempat tidur, Jeje masih memandang wajah Fira yang sudah dia rindukan beberapa hari ini.


Ingin rasanya Jeje membenamkan tubuhnya ke dalam selimut. Merasakan kehangatan bersama tubuh Fira di bawah selimut. Tapi dirinya urung melakukannya, sebelum membersihkan diri. Berlalu ke kamar mandi, Jeje membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Saat merasakan tubuhnya sudah bersih, Jeje mengambil bajunya di dalam koper. Pilihannya jatuh pada kaos dan celana pendek. Setelah memakai bajunya, Jeje melangkah menuju ke tempat tidur.


Menyibak selimut dengan perlahan, Jeje masuk ke dalam selimut yang membungkus tubuh Fira. Memiringkan tubuhnya, Jeje melihat wajah Fira lekat. Wajah yang begitu Jeje rindukan beberapa hari ini. Wajah dengan hiasan lesung pipi yang selalu mengiringi tawa bahagia Fira.


Pelahan Jeje mendekat pada Fira. Melingkarkan tanganya pada tubuh yang sudah mulai terlihat berisi. Mendekap Fira dalam pelukannya Jeje memejamkan matanya.


***


Fira merasakan pelukan hangat yang membuatnya benar-benar tertidur nyenyak. Rasanya dirinya begitu menikmati dengkuran halus yang menerpa tengkuknya. Mengerjap, Fira merasakan ada yang salah dengan apa yang di rasanya. Pelahan Fira membuka matanya sempurna, dan terlihat tangan kokoh memeluk dirinya.


Mengerutkan keningnya, Fira merasa mengenal tangan milik siapa ini. Tapi entah kenapa dia tidak yakin. Fira tahu betul, jika Jeje mengatakan padanya akan pulang besok. Tapi sekarang yang di lihatnya adalah tangan milik Jeje.


Ragu-ragu Fira membalikkan tubuhnya. Memastian tangan milik siapa yang sedang memeluknya. Saat berbalik, mata Fira membulat, dan berlanjut dengan senyum saat tahu siapa yang ada di hadapannya.


Wajah pria yang begitu dia rindukan, berada tepat di hadapannya. Rahang tegas, dan di tubuhi sedikit jenggot di sekitarnya, membuat wajah Jeje tampak seksi di mata Fira. Membelai jenggot yang baru tumbuh di rahang tegas Jeje, Fira merasakan sedikit menusuk di jemarinya.


"Apa kamu sedang mengodaku?" Suara bass milik Jeje, terdengar saat Fira sedang asik menikmati membelai lembut wajah Jeje. Mata Jeje masih tertutup, merasakan sentuhan lembut dari jemari Fira.


"Tidak," elak Fira. Tapi tangannya tak beranjak dari wajah Jeje.


Jeje membuka matanya sempurna. "Lalu apa yang kamu lakukan?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin merasakan duri-duri halus ini," ucap Fira mengibaratkan jenggot halus milik Jeje.


Mendengar ucapan Fira, Jeje langsung membenamkan kepalanya pada leher Fira. Mengesekan rahangnya, pada leher Fira dengan lembut.


"Sayang hentikan." Fira yang merasa geli berteriak memohon.


Tapi Jeje yang sangat gemas, tanpa henti melanjutkan aksinya. Tawa Fira mengelegar mengisi keheningan pagi. Fira yang merasa tidak tahan pun tak berhenti memohon.


Saat sedang sibuk bercanda, Fira dan Jeje mendengar suara pintu di ketuk. Jeje seketika menghentikan aksinya, dan di ikuti Fira yang menghentikan tawanya. "Apa mereka tidak tahu jika aku sedang berduaan dengan istriku," grutu Jeje yang kesal saat ada yang menganggunya.


"Sudah jangan marah." Fira mengecup bibir Jeje, dan menyibak selimutnya. Bangkit dari tempat tidur Fira berniat untuk membuka pintu.


"Mau kemana kamu," ucap Jeje seraya menarik lembut tangan Fira.


"Aku mau membuka pintu." Fira menatap Jeje, seolah meminta Jeje melepaskannya.


"Biarkan saja."


Fira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Jeje. "Jangan begitu, kalau aku tidak membukanya, orang di luar tidak akan berhenti mengetuk."


Seraya mendengus kesal, Jeje melepaskan tangan Fira. Pikir Jeje, mungkin benar kata Fira, jika tidak di buka suara ketukan pintu tidak akan berhenti.


Fira melangkah menuju pintu. Membuka pintu, Fira melihat Raka lah yang mengetuk. "Ada apa, Kak?"


Raka yang di minta untuk membangunkan Fira, mengetuk pintu kamar Fira. Sebenarnya Raka malas, karena di dalam kamar Fira ada Jeje. Apa lagi dari luar terdengar tawa Fira. Rasanya jiwa kesendirannya meronta, merasa iri. "Ibu memintamu untuk sarapan."


"Iya, aku akan keluar setelah mandi."


"Baiklah."


Fira langsung menutup pintu, dan menuju ke tempat tidur. Di atas tempat tidur Fira melihat Jeje masih meringkuk di dalam selimut seraya menatapnya. "Ayo bangun," ucap Fira dengan posisi masih berdiri di samping tempat tidur.


Jeje yang sudah menebak, jika yang mengetuk pintu adalah Raka. "Menganggu saja," grutunya. Melihat Fira yang masih berdiri di samping tempat tidur, membuat Jeje menarik tangan Fira. "Kemarilah, aku masih merindukan dirimu."


Rasanya Fira merasakan hal yang sama. Tapi Fira merasa tidak enak dengan Raka dan ibunya. "Kita keluar dulu saja, nanti di lanjutkan lagi," ucap Fira membujuk Jeje.


"Kalau itu nanti, saat kita di apartemen." Fira yang melihat sorot mata Jeje berbinar, mengerti kemana arah pembicaraan Jeje.


Jeje mendengus kesal saat mendapat jawaban dari Fira. "Lalu apa yang di lanjutkan?" tanyanya sedikit menaikan dagunya.


"Berpelukan melepas rindu," ucap Fira malu-malu.


"Kamu tahu bukan, aku sudah beberapa hari tidak bergelut denganmu di atas tempat tidur. Jadi saat kamu memelukku sudah di pastikan itu hanya akan menyiksaku." Rasanya Jeje tidak sanggup memeluk Fira tapi tidak bisa melanjutkan ke kegiatan lain.


"Ayolah, jangan seperti itu." Fira bingung harus membujuk Jeje seperti apa. "Aku janji, sampai di apartemen kita akan melakukannya."


"Kalau begitu kita pulang hari ini juga." Jeje yang mendengar janji Fira tidak mau membuang kesempatan berharga.


"Kalau ibu mengizinkan." Entah kenapa Fira ragu ibunya akan mengizinkannya pulang, mengingat ibunya ingin makan malam dengan menantunya.


"Baiklah, aku akan izin pada ibu nanti." Pikir Jeje, hal mudah hanya untuk meminta izin pada mertuanya.


Akhirnya setelah melakukan negosiasi, Jeje mau beranjak dari tempat tidur. Menuju kamar mandi, Jeje membersihkan diri, beragantian dengan Fira.


Setelah rapi, Fira dan Jeje keluar dari kamar, dan menuju ke meja makan. Di meja makan hanya ada ibunya, karena Raka telah berangkat untuk berkerja. "Je, kamu sudah pulang," ucap Bu Ani basa-basi. Sebenarnya Bu Ani sudah tahu dari Raka, Jika Jeje sudah pulang.


"Sudah, Bu." Jeje menarik lembut tangan Bu Ani, dan mencium punggung tanganya.


"Ya sudah kamu sarapan dulu. Ibu sudah sarapan dengan Raka tadi." Bu Ani pun berlalu setelah berbicara dengan Jeje.


Jeje mengangguk dan menarik kursi di meja makan. Bersama Fira, Jeje makan bersama.


Ibu yang sedang asik di dapur, kembali ke meja makan. Menarik kursi, Bu Ani bergabung dengan Fira dan Jeje.


Fira yang melihat ibunya, menyengol Jeje, untuk mengatakan pada ibunya, perihal kepulangannya ke apartemen. Tapi belum sempat Jeje membuka suara. Bu Ani sudah membuka suara lebih dulu.


"Nanti malam ibu mau mengadakan makan malam. Sekalian ada kamu, Je, jadi kita bisa kumpul untuk makan malam."

__ADS_1


Jeje dan Fira yang mendengar ucapan Bu Ani saling pandang. Mereka berdua bingung mau menolak bagaimana.


"Nanti kalian berdua temanin ibu ke pasar ya," tambah Bu Ani.


Fira dan Jeje semakin bingung menjawab apa. Rasanya Fira tidak tega untuk menolak. Memegang paha Jeje. Fira mengelang saat Jeje menoleh. Jeje pun yang ingin menolak Bu Ani, akhirnya mengurungkan niatnya.


Setelah makan, Jeje dan Fira bersiap ke pasar. Masuk ke dalam kamar, Fira mengambil tasnya. "Maaf," ucap Fira seraya memeluk Jeje. Fira tahu suaminya begitu merindukan dirinya.


Jeje tersenyum saat Fira memeluknya. Membelai lembut kepala Fira, Jeje mencoba menenangkan Fira. "Tidak masalah."


Fira melepas pelukanya, dan memandang wajah Jeje. "Terimakasih."


Jeje mangangguk menjawab ucapan Fira. "Ayo, nanti ibu menunggu."


Fira pun mengiyakan ucapan Jeje, dan keluar dari kamar bersama dengan Jeje. Menaiki angkutan umum Jeje, Fira, dan Bu Ani menuju pasar. Jeje yang belum mengambil mobilnya, terpaksa harus mengikuti istri dan mertuanya. Sebenarnya Jeje sudah menawari untuk naik taxi saja. Tapi mengingat taxi jarang sekali lewat di dekat rumah Fira, akhirnya Jeje mau tidak mau mengikuti Fira.


Sesampainya di pasar, Jeje membulatkan matanya. Jeje pikir pasar yang di maksud adalah pasar modern. Tapi ternyata hanya pasar tradisional yang sangat jorok. "Apa kita yakin akan berbelanja disini?" Jeje bertanya memastikan pada Fira.


"Apa kamu mau mengajak ibu ke supermarket?" tanya Fira. "Ibu pasti akan sangat kecewa, kamu merendahkan dengan mengajak ke supermarket."


Jeje yang memahami posisinya, tahu bahwa mertuanya pasti akan sangat tersingung jika dirinya mengajak ke supermarket, mengingat mungkin mertuanya lebih sering ke pasar tradisional.


Masuk ke area pasar, Jeje sudah mencium aroma tidak enak. Rasanya Jeje mau muntah, saat mencium aroma tidak sedap. Tapi dirinya, berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.


Tempat pertama yang di tuju Bu Ani adalah sayuran. "Berapa ini?" Bu Ani menanyakan harga brokoli pada penjual sayur.


"Satu kilo lima belas ribu," ucap penjual sayuran.


"Mahal sekali, satu kilo sepuluh ribu ya?" tawar Bu Ani.


"Tidak bisa, kalau mau sekilo tiga belas ribu." Penjual sayur bernegosiasi kembali.


"Tidak mau, kalau boleh sebelas ribu," ucap Bu Ani kembali.


"Tidak bisa, dua belas kalau mau."


"Tidak," ucap Bu Ani melangkah meninggalkan penjual sayur.


"Baiklah, mau ambil berapa kilo." Akhirnya penjual sayur luluh juga dengan negosisasi yang di lakukan Bu Ani.


"Satu kilo saja."


Jeje yang melihat negosiasi yang di lakukan mertuanya mengeleng. "Kalau ibumu jadi partner kerjaku, aku rasa aku akan banyak menang tender," ucap Jeje berbisik pada Fira.


Fira langsung menyikut perut Jeje, saat mendengar ucapan Jeje. Fira tak habis pikir, Jeje akan berpikir seperti itu.


Setelah mendapatkan sayuran Bu Ani beralih ke penjual daging. Jeje semakin di buat mual, saat melihat darah dari daging yang berada di lantai. "Bisakah kita langsung pulang."


Fira langsung melirik tajam pada Jeje, dan Jeje hanya bisa pasrah.


Keluar dari pasar Jeje langsung memuntahkan isi perutnya. Dari tadi dia sudah menahan diri, tapi akhirnya pertahananya runtuh juga.


"Kamu gantiin Fira nyidam," ucap Bu Ani melihat Jeje muntah.


Jeje hanya tersenyum saja, dirinya tidak berani mengatakan pada ibunya, apa yang membuatnya mual dan muntah. Fira yang melihat Jeje, hanya bisa menahan tawanya. Di tambah ucapan ibunya, rasanya Fira sudah tidak bisa menahan tarikan senyum di wajahnya. Jeje yang melihat Fira tersenyum hanya mendengus kesal.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dengan menaiki angkutan umum kembali. Rasanya penderitaan Jeje belum lah berakhir.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like👍🏻🥰


__ADS_2