Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Daffa bertemu mama


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan Daffa dan Tania sampai, tapi mereka memilih menginap di hotel terlebih dahulu untuk menghilangkan lelah mereka.


"Kita nggak apa-apa nginep di hotel dulu sayang," tanya Tania pada Daffa.


"Iya, besok baru kita akan menginap di rumah mama," jelas Daffa.


Daffa langsung menghubungi mamanya setelah sampai di hotel. Dia mengabari, kalau akan ke rumah mamanya besok pagi.


Daffa juga menghubungi Adhi, untuk memberi tahu bahwa dirinya sudah sampai. Daffa juga memanyakan beberapa perkerjaan disana pada Adhi.


Daffa merasa senang, karena Adhi sudah sangat pandai mengelola restoran peninggalan dari papanya.


***


Pagi harinya Daffa dan Tania bersiap untuk menuju ke rumah mama Daffa. Sepanjang perjalanan Tania begitu takut. Ini adalah kali pertamanya bertemu mama Daffa. Walaupun mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, Tania belum pernah bertemu mama Daffa.


"Apa mama kamu bakal setuju sama hubungan kita?" tanya Tania ragu-ragu pada Daffa.


Daffa menatap Tania lekat, dia tahu wanita yang akan jadi istrinya itu, sedang sangat ketakutan bertemu mamanya untuk pertama kali.


"Mama akan langsung setuju saat melihat menantunya yang cantik ini." Daffa mencoba mengoda Tania dengan mencubit hidung Tania.


"Jangan gombal, aku serius." Tania mencebikan bibirnya kesal saat Daffa malah mengodanya.


"Aku serius, kamu memang cantik." Daffa tersenyum, menenangkan Tania.


"Kamu tidak perlu khawatir mama akan menyetujui hubungan kita, dan menerimamu sebagai menantunya." Daffa membelai rambut Tania, memberi penjelasan.


Tania selalu senang saat Daffa selalu bisa membuat dirinya tenang. Walau Daffa sedikit humoris tapi dia selalu bisa menempatkan diri. Sebagai seorang kakak dia menjadi perlindungan bagi adiknya. Maka dari itu Tania tak perlu ragu pada Daffa, karena Daffa akan selalu melindunginya juga seperti yang dia lakukan selama ini pada adiknya.


Waktu yang cukup lama mereka berhubungan, membuat Tania yakin memilih Daffa, sebagai suaminya.


Taxi yang mereka naiki berhenti di depan rumah mewah. Tania dan Daffa keluar dari taxy dan membayar taxi yang mereka naiki.


Hal yang pertama di lihat Tania adalah rumah mewah yang nampak asri, karena banyak tanaman hijau dan bunga-bunga tertanam rapi di halaman rumah mama Daffa.


Tok..tok..


Daffa mengetuk pintu rumah mamanya.

__ADS_1


Selang beberapa saat pintu di buka, dan mamanya lah yang membukanya. "Daffa," panggil mama Daffa, saat membuka pintu rumah, dan langsung memeluk putranya.


Dari tadi mama Daffa sudah menunggu Daffa. Sejak Daffa mengabari kalau hari ini dia akan ke rumah mamanya. Mama Daffa begitu bahagia sampai menunggu, dan bersiap membuka pintu sendiri.


Karena dia mau melihat wajah putranya saat membuka pintu nanti.


"Mama." Daffa mempererat pelukan pada mamanya. Daffa melihat mamanya tak banyak berubah, masih cantik seperti dulu.


"Mama kangen banget sama kamu, Nak." Mama Daffa menangis di pelukan putranya. Mama Daffa membelai wajah putranya.


Sudah sekitar sepuluh tahun Daffa dan mamanya berpisah. Sejak kematian papanya Daffa dan Adhi memilih menetap, dan tidak mau pindah. Daffa yang mengurusi restoran peninggalan papanya memilih jauh dari mamanya.


"Daffa juga kangen ma.." ucap Daffa dengan suara parau. Sebagai anak dia juga sangat merindukan mamanya .


Mama Daffa menatap kelat anaknya. Anak yang sudah lama dia tinggalkan, tapi dia mau datang ke rumahnya setelah sekian lama.


Setelah cukup lama mereka berpelukan mama Daffa menatap Tania, yang berdiri di samping Daffa. Mam Daffa memperhatikan wanita cantik dengan tinggu semampai yang begitu anggun.


"Apa wanita cantik ini calon menantu mama?" tanya mama pada Daffa, Daffa pun mengiyakan.


"Halo Tante," sapa Tania.


"Kenapa panggil Tante, panggil Mama ya. " Mama Daffa pun memeluk calon menantunya.


Tania pun mengangguk mengiyakan permintaan mama Daffa. Ada rasa lega, saat mama Daffa menerimanya.


"Ayo masuk," mama Daffa mengandeng calon menantunya, dan mengajak Daffa masuk.


Mama Daffa mempersilahkan Daffa dan Tania masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga duduk di ruang tamu. Masih terasa rasa senang dari wajah mereka. Setelah pelayan menyuguhkan minuman mereka berbincang mengenai pernikahan Daffa.


"Jadi kapan pernikahan kalian?" tanya mamanya pada Daffa.


"Pernikahan kami satu minggu lagi ma, Daffa dan Tania kemarin ingin mengundang mama dan om untuk datang ke pernikahan kami"


Daffa masih memanggil suami baru dari mamanya dengan sebutan 'om'. Masih berat untuk Daffa memanggil dengan sebutan papa karena di matanya papanya tak akan tergantikan.


Mama Daffa pun memahami putranya yang memanggil suaminya, dengan sebutan om. Mungkin berat untuk mereka menerima pengganti dari papa mereka.


"Mama akan datang fa, dengan atau tanpa kamu undang sekalipun." Mama Daffa tersenyum.

__ADS_1


"Gimana kabar adik kamu, kenapa dia tidak ikut?" Mama Daffa menanyakan keberadaan Adhi.


"Maaf kan Daffa ma belum bisa mengajak Adhi kemari, tapi Daffa janji akan mengajak Adhi kemari." Daffa merasa tidak enak kepada mamanya.


"Apa dia masih belum memaafkan mama?" tanya mamanya pada Daffa.


Daffa yang melihat wajah mamanya berubah sedih, mengerti bahwa dia juga merindukan Adhi. Tapi Adhi yang tidak mau datang menemui mamanya, tidak bisa dia paksakan.


"Sudah lah ma, Daffa yakin Adhi memaafkan mama, tapi mungkin Adhi butuh waktu untuk menerima seperti yang Daffa lakukan."


"Iya, mungkin Adhi butuh waktu, mama berharap dia bisa menerima mama lagi."


"Daffa yakin Adhi akan menerima mama," ucap Daffa menenangkan.


Tania dan Daffa menceritakan persiapan pernikahan mereka yang akan di laksanakan di hotel. Tania dan Daffa menjelaskan bahwa mereka tidak akan mengundang banyak orang, hanya kerabat dan teman dekat saja.


Mama Daffa yang mendengarkan penjelasan dari putranya dan calon menantunya, mengerti.


"Bagimana restoran kamu, fa?" tanya mamanya pada Daffa.


Mamanya ingat betul saat meninggalkan Daffa dan Adhi, Daffa lah yang melanjutkan mengurus restoran peninggalan papanya.


"Daffa sedang persiapan membuka cabang baru ma."


Mama Daffa yang mendengar putranya sudah sangat hebat merasa sangat bangga. Dia tidak menyangka putranya tumbuh seperti sang papa yang begitu gigih berjuang.


"Lalu adik kamu?"


"Setelah lulus kuliah dia membantu Daffa ma," jelas Daffa.


Saat mereka sedang asik mengobrol, Daffa melihat seorang pria paruh baya datang, dan menghampiri mereka.


"Apa kabar?" tanyanya pada Daffa seraya mengulurkan tangan.


"Baik, Om." Daffa menerima uluran tangan dari suami mamanya.


Setelah lama berbincang mama daffa mengajak mereka, untuk makan siang bersama, suami dari mamanya pulang


untuk menemani istrinya makan siang bersama putranya.

__ADS_1


__ADS_2