
"Besok berarti ayahmu sudah boleh pulang?" Adhi dan Zara yang baru saja selesai makan malam, berjalan menuju ruang rawat ayah Zara.
"Iya."
"Maaf ya, besok aku tidak bisa menjemputmu." Perkerjaan Adhi yang begitu banyak, membuatnya tidak bisa membantu kepulangan ayah Zara.
"Santai dhi, lagi pula aku bisa naik taxi. Kamu sudah mau kemari dan menemani aku saja, aku sudah berterimakasih." Zara tersenyum menenangkan Adhi.
Adhi yang melihat Zara tersenyum, merasa sangat senang. Paling tidak rasa lelahnya selepas berkerja hilang, saat melihat senyum manis yang di berikan Zara. "Aku akan usahakan untuk ke rumah besok sore."
"Kalau kamu lelah, kamu tidak perlu memaksakan."
"Lelahku akan hilang saat melihatmu ra," batin Adhi. "Iya. Besok jika aku lelah, aku tidak akan datang." Adhi tahu, jika dia menjawab bahwa dirinya akan memaksakan ke rumah Zara. Sudah di pastikan, obrolan mereka akan berujung perdebatan. "Ya sudah, kamu istirahat, aku akan pulang."
Zara yang melihat Adhi berpamitan mengangguk. Adhi memutar tubuhnya, dan melangkah meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.
**
Pagi ini sesuai jadwal, ayah Zara akan pulang ke rumah. Tapi sampai jam menunjukan pukul sembilan, dokter belum kunjung datang, untuk mengecek kondisi ayahnya.
"Kamu makan dulu aja ra." Ayah Zara yang melihat Zara belum makan pun, meminta anaknya untuk makan.
Karena menunggu dokter yang lama, akhirnya Zara memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Zara keluar dari ruang rawat ayahnya, menuju ke kantin rumah sakit.
Setelah dia selesai makan, Zara buru-buru kembali ke ruang rawat ayahnya. Tapi langkah Zara terhenti, saat mendengar sesorang memanggil namanya. Dan saat Zara menoleh, dia mendapati Atta yang memanggil dirinya.
"Kamu disini ra?" tanya Atta yang baru saja melangkah mengampiri Zara.
"Iya, ayah aku sakit," jelas Zara. "Bang Atta sendiri kenapa kesini?"
Tapi belum sempat Atta menjawab, seorang wanita paruh baya menghampiri Atta dan Zara. "Ayo ta, mama sudah selesai," ajak mamanya pada Atta. Tapi saat mamanya mengajak Atta untuk pulang, mata mamanya melihat seorang wanita cantik di depan Atta. Mama Atta memperhatikan Zara dari atas ke bawah. "Siapa ta?" tanya Mama Atta pada Atta. Mama Atta tahu betul bahwa anaknya, selalu di kelilingi wanita sexy tapi yang di hadapan mama Atta, adalah wanita cantik dengan tampilan sederhana.
"Kenalin ma, ini Zara," ucap Atta pada mamanya. "Ra, ini kenalin mama aku." Atta beralih menatap pada Zara.
"Salam kenal Tante, saya Zara." Zara mengelurkan tangannya, seraya memperkenalkan diri dengan sopan.
"Saya Sarah, mama Atta." Sarah menerima uluran tangan Zara. "Zara sedang apa disini?"
"Saya sedang menjaga ayah yang sedang di rawat disini, Tante."
Sarah melihat wajah Zara yang begitu cantik alami. Cara berpakaian Zara juga tidak seperti, wanita kebanyakan yang dirinya lihat bersama dengan Atta. Rasanya dia baru pertama kali melihat anaknya berteman dengan wanita baik-baik. "Dimana ayah mu di rawat?"
"Di ruang anggrek, Tante."
"Ta, kita jenguk ayah Zara dulu ya." Sarah menatap Atta sejenak, dan beralih menarik tangan Zara lembut menuju ruang rawat ayah Zara.
Atta menarik senyum di bibirnya saat melihat mamanya, mengajak untuk menjenguk ayah Zara. Dirinya tahu betul, dari sorot mata mamanya, menyiratkan ketertarikkan dengan Zara.
Mengekor di belakang Zara dan mamanya, Atta melangkah menuju ruang rawat ayah Zara.
Sesampainya di ruang rawat ayahnya, Zara melihat dokter yang sedang memeriksa kondisi ayahnya.
"Pak Abian sudah bisa pulang hari ini." Dokter yang baru saja memeriksa ayah Zara pun, memberitahu bahwa ayah Zara sudah bisa pulang.
"Terimakasih dok," ucap ayah Zara pada dokter.
"Silakan urus administrasinya. Nanti perawat akan membantu untuk mengurus kepulangan Pak Abian." Dokter pun langsung pergi setelah memberikan informasi pada ayah Zara.
"Ayah." Zara menghampiri ayahnya, dan berdiri di sisi ranjang.
Ayah Zara yang melihat Zara tidak sendiri merasa bingung. "Siapa mereka ra?"
"Kenalkan saya Sarah, Pak. Saya mama Atta, teman putri Bapak." Sarah yang mendengar pertanyaan ayah Zara langsung menjawab. Sarah langsung mengulurkan tangannya. Dan di ikuti Atta setelahnya juga, mengulurkan tangan berkenalan dengan ayah Zara.
"Kalau Pak Abian dan Zara mau pulang, bagaimana kalau sekalian saja." Sarah yang merasa sudah selesai melakukan cek up ke dokter, menawari Zara dan ayahnya.
"Tidak perlu Tante, saya tidak mau merepotkan. Nanti saya naik taxi saja."
"Tidak ra, kamu tidak merepotkan. Saya malah senang," ucap Sarah pada Zara. "Iya kan ta?" Sarah beralih pada Atta.
Atta yang mendengarkan ucapan mamanya bingung. "Eh...iya.."
"Ya sudah kamu temani Zara mengurus administrasi. Biar mama yang temani Pak Abian," ucap Sarah pada Atta dan Zara.
Zara yang mendengar ucapan dari Sarah hanya bisa pasrah, di ikuti Atta di belakangnya, mereka berdua keluar dari ruang rawat ayahnya.
"Maaf aku ngerepotin ya Bang."
"Kenapa minta maaf sih ra, lagi pula mama sendiri yang minta untuk mengantar. Aku juga nggak keberatan kok." Atta yang melihat reaksi mamanya sangat senang, ternyata dirinya tidak perlu bersusah payah mendapatkan izin dari mamanya, karena mamanya sudah sangat senang. Yang dia pikirkan sekarang hanya mengatakan perasaannya pada Zara.
Zara hanya mengangguk, mendengar ucapan Atta. Zara di temani Atta menuju ke bagian admistrasi, untuk mengurus administrasi kepulangan ayahnya. Sesampainya di depan bagian administrasi, Zara menunggu petugas.
Petugas yang selesai mencetak biaya administrasi kepulangan ayah Zara, memberikan pada Zara. Zara yang menerima kertas berisi total biaya rawat ayahnya, membulatkan matanya saat melihat total biaya perawatan ayahnya. "Apa benar totalnya segini?" Zara yang melihat angka dua puluh juta dalam tagihan merasa sangat kaget.
''Ini sudah benar, disini juga sudah di jelaskan rinciannya," ucap petugas.
Zara yang mendengar petugas membenarkan total biaya rawat ayahnya sedikit bingung. Bagaimana dirinya tidak bingung, jika uang yang dia miliki hanya lima belas juta. Itu pun adalah saldo sisa tabungannya, karena kemarin adiknya baru saja menjalani ujian, dan harus membayar sejumlah biaya. "Saya baru ada lima belas juta, bisakah saya membayarnya dengan jumlah segitu terlebih dahulu. Sisanya akan saya bayar besok." Pikir Zara, dia akan meminta tolong Fira besok.
"Maaf Nona, pihak rumah sakit tidak bisa memberikan kebijakan seperti itu."
Zara hanya berpikir, tidak enak jika dia menghubungi Fira di jam kerja seperti ini. Tapi tidak mungkin dirinya menunggu sampai Fira istirahat. Tapi Zara tidak punya pilihan lain, akhirnya dia mengambil ponselnya, dan memberanikan diri meminjam pada Fira.
Atta yang melihat Zara masih belum menyelesaikan administrasi kepulangan ayahnya, melangkah mendekat. "Belum selesai ra?"
Zara yang sedang sibuk mencari nomer Fira, menatap Atta, saat mendengar Atta bertanya. " Belum." Zara yang menjawab Atta seraya menghubungi Fira. Tapi cukup lama Zara menghubungi Fira, tidak ada jawaban dari Fira. Wajah Zara seketika memucat, membayangkan bagaimana dirinya membayar biaya ayahnya.
Atta yang menyadari perubahan wajah Zara menjadi penasaran. "Ra, kamu kenapa?"
Tapi belum sempat Zara menjawab pertanyaan Atta, petugas administrasi sudah bertanya pada Zara. "Bagaimana Nona, apakah Anda mau membayar administrasi ini?"
"Saya sedang menghubungi teman saya, bisakah Anda menunggu saya sebentar." Rasanya Zara benar-benar frustrasi, saat mendengar pertanyaan dari petugas administrasi.
"Ra, ada apa sebenarnya?" Atta yang mendengar pembicaraan antara Zara, dan petugas administrasi menjadi bingung.
Zara yang mendapatkan pertanyaan Atta tidak menjawab, dirinya memilih menghubungi Fira kembali.
__ADS_1
Atta yang tidak mendapatkan jawaban Zara, beralih pada petugas. "Apa pembayarannya sudah selesai ?"
"Belum, karena Nona itu bilang akan menghubungi temannya terlebih dahulu untuk mencari kekurangan biayanya."
Atta yang mendengar ucapan petugas mengerti, bahwa Zara sedang sibuk menghubungi sesorang untuk di mintai tolong. "Ini, pakai ini untuk membayar biaya rawat atas nama Abian." Atta menyerahkan kartu, untuk membayar biaya rawat ayah Zara.
Petugas pun langsung menerima kartu yang di berikan oleh Atta, dan melakukan transaksi pembayaran biaya rumah sakit. Setelah selesai petugas pun memberikan kembali kartu milik Atta.
Atta yang menerima kartu miliknya, langsung melangkah menghampiri Zara. "Ayo ra, semua sudah selesai."
Zara yang sedang menghubungi Adhi pun, menoleh saat mendengar suara Atta. Zara merasa sangat bingung mendengar kata selesai dari Atta. "Maksud Bang Atta apa?"
"Aku sudah membayar biaya rumah sakit ayah kamu. Jadi ayo kita ajak ayahmu pulang."
Zara membulatkan matanya, mendengar ucapan Atta yang sudah membayar biaya rumah sakit ayahnya. Dirinya yang baru saja menghubungi Adhi, karena Fira tidak mengangkat sambungan teleponnya, kaget saat Atta sudah membayar semua. Saat dia masih di kagetkan dengan aksi Atta, yang sudah membayar biaya rumah sakit ayahnya, dari sambungan telepon suara Adhi terdengar memanggil. Zara pun langsung beralih pada ponselnya. " Halo dhi," jawab Zara.
"Kamu kenapa?" Suara Adhi terdengar khawatir dari sambungan telepon.
"Dhi nanti aku akan hubungi kamu lagi ya," ucap Zara. Dan saat mendengar Adhi yang mengiyakan, Zara langsung menutup sambungan telepon.
Zara langsung beralih pada Atta yang berada sampingnya. "Bang Atta sudah membayar biaya rumah sakit ayah? "
"Iya."
"Kenapa?"
"Apa yang kenapa ra? Harusnya aku yang bertanya pada kamu. Disini ada aku, tapi kamu sibuk untuk meminta tolong orang yang jauh disana. Apa kamu nggak bisa anggap aku teman, yang juga bisa membantu mu?" Atta sebenarnya merasa kesal saat mendengar Zara sedang menghubungi Adhi, untuk meminta tolong.
Zara yang mendengar nada bicara Atta yang tidak suka, menjadi tidak enak. "Bukan begitu Bang," elak Zara.
"Lalu?"
"Aku belum lama berkenalan dengan Bang Atta, rasanya tidak patas aku meminta tolong."
"Dan kamu memilih menghubungi Adhi begitu?" Atta yang kesal sedikit menaikkan suaranya.
Zara yang melihat Atta marah merasa sangat malu, saat beberapa orang di rumah sakit melihat ke arahnya. Zara merasa seperti baru saja menghubungi selingkuhan dan ketahuan.
"Sudah, ayo ayahmu pasti sudah menunggu." Atta melangkah menuju ruang rawat meninggalkan Zara.
Zara yang masih diam di tempat dia berpijak, marasa bingung. Akhirnya dirinya memilih untuk melangkah mengikuti Atta menuju ruang rawat ayahnya. Pikirnya biaya ayahnya yang di bayar Atta akan dia urus nanti setelah ayahnya pulang.
**
Setelah menyelesaikan administrasi Atta mengantar Zara dan ayahnya. Di temani juga oleh mamanya, Atta menuju rumah Zara. Sesampainya di rumah sederhana milik Zara Atta membantu ayah Zara untu masuk ke dalam rumah.
Sarah yang memperhatikan rumah kecil sederhana hanya tersenyum. Dia berpikir gadis cantik yang dia temui sekarang adalah orang biasa. Setelah Zara mempersilakan masuk, Sarah duduk di kursi sederhana milik Zara. Di susul Atta selanjutnya, setelah Atta membantu Zara membawa ayahnya ke kamar.
"Silakan Tante, Bang." Zara meletakkan dua cangkir minuman di atas meja.
"Terimakasih," ucap Sarah. Sarah benar-benar merasa senang melihat wanita yang sopan di hadapannya. "Kamu tinggal sama siapa di rumah ini?" Tanya Sarah pada Zara.
"Saya tinggal dengan ayah dan satu adik saya."
"Zara wanita cantik dan mandiri, mama suka," ucap Sarah saat dalam perjalanan pulang. "Cari wanita itu kayak Zara ta, jangan kayak pacar-pacar kamu di bar itu," sindir Sarah pada anaknya.
"Mama nggak lihat Atta lagi usaha."
"Kelamaan ta, nanti keburu di ambil orang Zara nya."
"Atta hanya nggak mau buat Zara nggak nyaman ma."
"Terserah kamu, tapi kalau kelamaan, nanti mama yang gerak cepat."
"Ma..." Atta selalu tahu bahwa mamanya selalu tidak mau berlama-lama saat dia menginginkan sesuatu.
**
Suara dering telepon terdengar dari kamar, saat Zara sedang sibuk memasak. Zara mematikan kompornya dan melangkah menuju kamar untuk mengambil ponsel miliknya. Dan saat dia melihat layar ponselnya, nama Fira yang tertera di layar ponselnya. "Halo fir," sapa Zara.
"Halo ra, maaf tadi ponsel aku ada di dalam tas, dan ternyata dalam mode silent. Jadi aku nggak denger saat kamu telepon. Kamu ada apa ra menghubungi aku." Suara Fira nampak merasa tidak enak dengan Zara, karena mengabaikan, panggilan telepon dari Zara.
Zara yang merasa tidak perlu memberitahu Fira masalah biaya rumah sakit, mencoba mengelak . " Nggak fir, tadi hanya mau mengabari kalau ayah aku sudah pulang hari ini. Jadi aku mengabari kamu.
"Om Abian sudah pulang, ya sudah besok aku jenguk ya, sekalian aku mau ke rumah mertua."
" Ya fir, terimakasih."
"Apa sih ra, pakai terimakasih segala. Om Abian sudah aku anggap ayah aku juga."
Zara selalu senang saat Fira tidak pernah berubah padanya. Temannya itu selalu bersikap seolah Zara adalah saudaranya. Setelah Fira dan Zara menyelesaikan pembicaraan. Zara mengakhiri sambungan telepon.
Setelah menaruh ponselnya di atas nakas Zara kembali ke dapur untuk menyelesaikan masaknya. Saat tengah asik masak, adik Zara memberitahu bahwa ada Adhi datang.
"Kamu dah pulang dari kantor dhi?"
Adhi yang tadi di persilakan oleh adik Zara, langsung duduk di kursi ruang tamu milik Zara. "Iya, aku baru pulang."
Zara langung berlalu ke dapur dan membuatkan minum untuk Adhi. Sesaat setelah selesai, Zara kembali, dan duduk bersama Adhi di kursi ruang tamu.
"Minum dhi." Zara mempersilakan Adhi untuk minum, yang sudah dia letakkan di meja.
Adhi langsung meminumnya setelah Zara mempersilakan. " Tadi aku dengar suara Bang Atta." Adhi yang meletakkan minumannya, teringat dengan suara yang di dengarnya tadi dari sambungan telepon . Sebenarnya dia merasa sangat kesal saat mendengar suara Atta ada di samping Zara.
"Iya tadi memang Bang Atta dhi. Aku bertemu dia di rumah sakit bersama mamanya. Dan dia mengantarkan aku dan ayah pulang," jelas Zara.
"Jadi Bang Atta yang mengantarmu pulang dari rumah sakit." Kekesalan Adhi bertambah saat mendengar bahwa Atta mengantarkan Zara dan ayahnya pulang. Dia benar-benar merutuki kesalahannya, yang tidak bisa menjemput Zara dan ayahnya.
"Sebenarnya bukan Bang Atta yang meminta untuk mengantar dhi, tapi mama Bang Atta, yang meminta untuk mengantar."
Adhi yang mendengar penjelasan dari Zara, merasa percuma untuk memperdebatkan lagi, masalah Zara pulang. Pikirnya, Zara sudah di rumah, dan untuk apa dia membahas lagi. "Lalu kenapa kamu tadi menghubungi aku?"
"Tadi aku mau meminjam uang padamu, karena uang untuk membayar biaya rumah sakit ayah kurang."
"Lalu bagaimana ayahmu bisa pulang?"
__ADS_1
"Tadi Bang Atta yang membayar biaya rumah sakit."
Adhi membulatkan matanya dan mengerutkan dalam keningnya, mendengar ucapan Zara. "Apa? Bang Atta yang membayar biaya rumah sakit, kenapa bisa?"
"Saat aku sedang menghubungimu, dia bertanya pada petugas administrasi, dan langsung membayarnya."
"Lalu apa kamu sudah mengembalikan uang yang kamu pakai pada Bang Atta?"
Zara menggeleng saat mendapat pertanyaan dari Adhi. "Uang yang aku punya kurang."
"Berapa kekurangan biaya rumah sakit?"
"Lima juta."
"Hubungi Bang Atta untuk bertemu besok. Besok kita kembalikan uangnya." Adhi yang tidak mau Zara berurusan dengan Atta meminta Zara segera menghubungi Atta.
"Tapi uangnya dhi?"
"Pakai uang aku dulu."
"Tapi..."
"Aku tidak memberimu percuma. Aku akan memotong gajimu," ucap Adhi tersenyum mengoda Zara, sebelum Zara menyanggah ucapan Zara.
Zara tersenyum mendengar Jawabn Adhi. Rasanya dia lega bisa mendapatkan uang, dan bisa mengantinya dengan uang gajinya.
Akhinya mereka memtuskan untuk bertemu Atta besok, setelah Fira ke rumah Zara, untuk menjenguk ayah Zara.
Setelah pembahasan uang biasaya rumah sakit. Zara mengajak Adhi untuk makan malam bersama sekalian.
Selama Zara mengurusi makan malam ayahnya di kamar. Adhi temani adik Zara di ruang keluarga.
"Bang Adhi sudah lama kenal Kak Zara?" Nadia yang baru beberapa kali bertemu dengan Adhi, merasa asing dengan Adhi.
"Sebenarnya sudah lama, sejak kuliah."
"Kuliah?" Nadia sedikit kaget. "Dulu hanya tahu kalai kak Zara berteman dengan kak Fira."
Adhi yang mendengar ucapan Nadia, sedikit tergelitik. Dirinya yang sibuk dengan Fira, memang tidak pernah mengantar Zara. Dirinya hanya mendekati Zara di saat membutuhkan untuk bertemu Fira saja. "Iya dulu kami tidak terlalu dekat."
"Kalau sekarang dekat?"
"Menurtumu?"
"Menuruku Bang Adhi suka Kak Zara."
Kadang Adhi heran dengan Zara. Di saat banyak orang yang melihat bahwa Adhi mencintai Zara. Tapi Zara tidak pernga sadar akan cinta Adhi.
"Kak Zara memang susah untu di dekati. Tapi Nadia dukung Bang Adhi." Senyum mereka dari wajah anak SMP itu.
"Terimakasih." Adhi mengacak rambut Nadia sedikit.
"Kalian sedang apa?" Tanya Zara yang sedang membawa nampan sisa makan ayahnya.
"Kami hanya menceritakan Kak Zara yang suka marah-marah padaku," ledek Nadia pada Zara.
"Apa kamu sedang mengadu?" Zara menatap Nadia sinis.
"Iya, aku sedang mengadu dengan kakak laki-laki ku," ucap Nadia. "Iya kan Bang Adhi?" Nadia beralih pada Adhi.
Adhi yang melihat Nadia mengoda Zara mengangguk dan tersenyum.
"Rupanya kalian bersekutu," sindir Zara.
"Apa kalian akan membuatku menunggu perdebatan kalian lebih dulu, sebelum memberiku makan?" Tanya Adhi sedikit menyindir.
Zara dan Nadia langsung tertawa mendengar ucapan Adhi.
"Kalau nanti Bang Adhi kakak ipar Nadia. Bang Adhi harus siap untuk mendengarkan perdebatan kami."
Zara yang mendengarkan ucapan Nadia mendelik. "Nadia," tegur Zara.
Nadia langsung menutup mulutnya, saat tidak sengaja mengatakan hal itu. Adhi pun hanya menarik senyum di ujung bibirnya. Dirinya hanya berpikir menunggu, waktu dimana dia menyatakan cintanya, di tempat yang sudah dia rencanakan.
Akirnya Adhi dan Nadia menuju meja makan, dan memulai makan malam.
"Maafkan Nadia tentang ucapannya tadi dhi." Zara yang sedang mengatarkan Adhi pulang, meminta maaf atas kelancangan Nadia.
"Aku tidak masalah." Adhi tersenyum pada Zara.
Zara yang merasa senyum Adhi, merasa senyum Adhi penuh Arti.
"Ya sudah aku pulang dulu. Jangan lupa hubungi Bang Atta. Tidak perlu telepon, cukup kirimkan pesan singkat saja."
"Iya."
Adhi masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobilnya. Zara yang masih di tempat dimana Adhi meninggalkannya. Senyum di bibir Zara tersenyum sedikit, saat melihat mobil Adhi sudah tidak berada di jangkauannya.
.
.
.
.
.
.
Hari ini up lagi ya, buat kalian yang kangen Adhi, aku selipin sedikit.
Buat kalian yang penasaran gimana visualnya Adhi sama Zara bisa mampir ya di instagram MYAFA16.
Bang Adhi ga kalah ganteng lho sama Bang Jeje. Kalau wajah Bang Jeje lebih bule-bule dikit. Buat Bang Adhi, lebih asia banget ya.
__ADS_1