Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Membayar hutangmu dengan pernikahan


__ADS_3

Zara yang semalam pulang dari rumah Fira, langsung mengecek buku tabungan dan mengumpulkan barang-barang yang bisa di jual. Pikirannya hanya satu, bagaimana dirinya bisa mendapatkan uang.


Setelah mengumpulkan semua, pagi ini Zara bersiap untuk bertemu dengan temannya. Zara yang sudah membuat janji untuk menjual motornya, berniat bertemu pagi ini dengan temannya yang akan membeli motor.


Setelah siap, Zara keluar dari kamarnya. Niatnya ingin berlalu begitu saja. Tapi sayangnya, Zara harus bertemu dengan ayah dan ibunya.


"Ra," panggil Bu Intan pada Zara.


Zara menghentikan langkahnya, saat ibunya memanggilnya. Walapun dirinya masih begitu kecewa, tapi Zara tidak mau terlalu menyalahkan. Zara hanya berpikir, munngkin memang takdirnyalah yang membuat dirinya di dalam situasi ini.


"Ibu masih punya perhiasan sedikit, siapa tahu bisa menambah uang yang sedang kamu kumpulkan." Bu Intan yang semalam melihat Zara keluar dari rumah, menebak jika Zara sedang mencari pinjaman uang.


Zara yang mendengar ucapan ibunya berbalik dan menatap pada ibunya. Rasanya Zara tidak percaya, jika ibunya akan memberikan perhiasan untuk di jual. "Ibu," panggil Zara.


"Maafin ibu, Ra," ucap Bu Intan menangis. Intan sadar betul jika semua salahnya. "Karena ayahmu membantu ibu yang keluar dari penjara, sekarang kamu yang menjadi korbannya."


Zara yang mendengar ucapan ibunya hanya bisa terperagah. "Maksud ibu?"


"Iya, Ra, ibu masuk penjara karena membela diri saat mantan suami ibu ingin memukul ibu. Ibu memukulnya kembali hingga dia terluka, dan keluarganya melaporkan ibu ke kantor polisi." Bu Intan menjelaskan semua yang menjadi penyebab ayahnya memiliki hutang.


Zara benar-benar tidak menyangka, akan seperti itu kejadiannya.


"Ayahmu menyewa pengacara untuk membebaskan ibu, dan itulah sebabnya ayahmu punya hutang." Bu Intan hanya bisa merutuki kesalahannya, hingga membuat semua orang susah.


Zara baru mengerti, bagaimana bisa ayahnya memiliki hutang sebegitu besar. "Bu, Zara minta maaf karena tidak tahu," ucap Zara. Zara memeluk ibunya, meluapkan rasa penyesalannya, yang telah menuduh ibunya.


"Ra, harusnya ibu yang meminta maaf." Dalam pelukan Zara, Bu Intan terus meminta maaf.


"Ra," panggil ayah Abian pada Zara.


Melepas pelukan ibunya, Zara menatap pada ayahnya.


"Ayah masih ada seratus juta, mungkin ini akan bisa menambah uang yang sedang kamu cari." Abiam merasa sangat menyesal tidak bisa membantu putrinya banyak.


Melihat ayahnya memberikan uang padanya, Zara langsung memeluk ayahnya. "Terimakasih, Yah."


"Maaf ayah tidak bisa memberimu uang yang banyak."


"Ayah tenang saja, Zara sudah minta tolong pada Fira,dan Fira akan membantu," ucap Zara seraya melepaskan pelukannya.


Abian bersyukur, Zara masih memiliki sahabat yang baik, yang mau membantunya. "Ayah hanya bisa mendoakan, semoga uangnya terkumpul."


"Zara harus pergi, ayah simpan dulu uangnya."


"Baiklah."


Zara yang sudah berpamitan, keluar dari rumah. Menuju halaman rumahnya, Zara melihat motornya yang selalu di pakainya kuliah hingga berkerja itu. Berat rasanya Zara menjual motornya, tapi Zara tidak ada pilihan lain.


Menyakinkan dirinya, jika keputusannya benar, Zara langsung mengendari motornya menuju ke rumah temannya.


Tapi sebelum ke rumah temannya, Zara menuju ke toko perhiasan, untuk menjual beberapa perhiasan miliknya dan milik ibunya.


"Saya mau menjual ini," ucap Zara memberikan perhiasan mililnya pada penjual perhiasan.


Menimbang perhiasan milik Zara, penjual pun mentaksir uang yang akan di dapat Zara. "Ini sepuluh juta, total dari semuanya ini."


Mendapatkan uang sepuluh juta bagi Zara sudah lebih baik, dari pada tidak sama sekali. Melanjutkan perjalanannya, Zara menuju ke rumah temannya.


Sesampainya di rumah temannya. Zara langsung menyerahkan kunci dan surat-surat kepemilikan pada temannya.


"Ini uangnya," ucap teman Zara.


"Terimakasih." Zara bertukar uang dengan kunci dan surat-surat kepemilikan.


Zara menerima uang berjumlah delapan juta dari penjualan motornya. Zara masih terus berpikir jika uangnya belum lah cukup.


"Tabunganku ada tiga puluh dua juta, uang penjualan perhiasan sepuluh juta, dan uang penjualan motor delapan juta, berarti semua totol lima puluh juta," gumam Zara.


Zara hanya menghela napasnya, karena uang yang di terimanya masih jauh dari kata cukup.


Saat Zara hendak pergi, ponsel Zara berbunyi. Melihat ponselnya, Zara melihat nama Adhi tertera disana. Seketika Zara terkesiap, saat melihat Adhi menghubungi dirinya.


"Aku lupa mengabari Adhi jika aku tidak masuk kerja, dan aku juga lupa dari semalam aku belum menceritakan permasalahannya pada Adhi." Zara merutuki kesalahannya yang sibuk menjual apa yang dia punya, hingga lupa untuk mengabari Adhi.

__ADS_1


Mengusap layar ponselnya, Zara menerima panggilan telepon dari Adhi. "Halo Dhi," sapa Zara saat menganggkat sambungan telepon.


"Dimana kamu?" Suara Adhi terdengar meninggi saat menanyakan keberadaa Zara.


"Di jalan melati," jawab Zara.


"Diam disana dan jangan kemana-mana!" Adhi langsung mematikan sambungan telepon saat Zara belum sempat menjawab.


Zara hanya bisa menelan salivanya saat mendenga suara Adhi yang terdengar marah. "Mungkin dia marah karena aku tidak mengabari dirinya, yang tidak masuk kerja."


Zara hanya bisa menunggu Adhi, datang di depan rumah temenanya. Pikirannya terus melayang bagaimana dirinya akan mendapatkan uang lagi untuk membayar hutang.


Saat Zara menunggu. Akhrinya mobil Adhi datang. Mobil Adhi langsung berhenti tepat di hadapan Zara. Zara pun langsung masuk ke dalam mobil Adhi.


"Darimana kamua?" tanya Adhi menatap tajam pada Zara.


"Aku..." Zara bingung menjelaskan pada Adhi.


"Mencari uang?" tanya Adhi.


Zara membulatkan matanya saat mendengar Adhi tahu darimana dirinya pergi. "Dari mana kamu tahu?"


"Apa bagini cara kamu menganggap aku, Ra,?" Adhi yang tadi berniat menjemput Zara, tidak mendapati Zara di rumah.


Saat Adhi bertanya kemana Zara pergi, Adhi malah mendapati ibu Zara menangis. Adhi seketika panik saat melihat tangisan ibu Zara.


Akhirnya Adhi mendesak kedua orang tua Zara untuk menceritakan, dan Adhi mendapati cerita jika Zara sedang mencari uang untuk melunasi hutang ayahnya pada mama Atta.


"Maafkan aku, dhi, aku hanya tidak mau menyusahkan dirimu." Zara hanya bisa menangis mengingat dirinya tidak mau melibatkan Adhi.


"Ra, aku apa begini caramu mencintai? Dirimu tidak mau berbagi kesedihan denganku," ucap Adhi seraya menangkup wajah Zara.


"Dhi..." Zara langsung memeluk Adhi, rasanya dirinya sudah tidak kuat menanggung bebannya sendiri. "Aku tidak mau menikah dengan Bang Atta." Zara hanya bisa terisak dalam pelukan Adhi.


"Kamu pikir aku akan membiarkan?" Adhi benar-benar geram dengan cara licik yang di gunakan oleh Atta, dirinya tidak menyangka Atta akan merebut Zara dengan cara licik.


"Aku akan membayar hutang ayahmu, dan aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi, tidak akan aku biarkan Atta mengambilmu dari aku."


"Percayalah padaku," ucap Adhi pada Zara. "Jangan menangis lagi, oke." Adhi menghapus air mata Zara.


Zara hanya bisa mengangguk, saat mendengar ucapan Adhi.


"Pakai seatbelt mu, kita akan bayar hutangnya sekarang juga." Adhi sudah tidak bisa menunggu untuk besok. Amarahnya sudah tidak bisa dia redam sedikitpun.


Melajukan mobilnya, Adhi menuju ke rumahnya. Dirinya sudah memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk mendapatkan uang untuk membayar hutang ayah Zara.


Sesampainya di rumah Adhi langsung masuk ke kamarnya. Mencari buku depositonya, Adhi berencana mencairkan deposito yang segaja dia persiapkan untuk penikahannya.


Tapi kini, deposito itu akan dia gunakan untuk membayar hutang ayahnya. " Aku lebih baik menyelamatkan pengantinnya bukan," ucapnya tertawa pada dirinya sendiri saat melihat deposito miliknya.


Setelah mendalapatkan apa yang dia cari, Adhi kembali ke mobilnya. Melajukan mobilnya kembali, Adhi menuju ke bank.


"Kemarin aku meminjam Fira, apa perlu aku menghubungi Fira?" tanya Zara sesaat setelah Adhi masuk ke dalam mobil.


"Semalam kamu sempat ke rumah Fira?" tanya Adhi memastikan.


"Iya," jawab Zara lirih.


"Apa namaku tidak ada di daftar pertama yang akan kamu hubungi?" tanya Adhi kesal. Adhi benar-benar tidak menyangka Zara bisa tidak menghubungi dirinya.


"Maaf," ucap Zara kembali lirih.


"Apa jadinya kalau sampai aku tidak tahu hari ini?" tanya Adhi meluapkan kekesalannya. "Apa kamu mau menikah dengan Bang Atta?"


"Tidak," jawab Zara langsung tanpa memberi jeda pada ucapan Adhi. " Aku tidak mau menikah denganya, aku mau menikah denganmu." Zara menangis membayangkan, jika dirinya harua menikah dengan Atta.


Adhi hanya tersenyum melihat jawaban Zara. Adhi tahu, jika Zara mencintai dirinya. "Aku tidak serius, jangan menangis lagi," ucap Adhi mengenggam tangan Zara.


Sesampainya di bank, Adhi langsung melakukan proses pencairan dana depositonya. Walaupun harus kena pinalti karena belum jatuh tempo pengambilan, Adhi tidak keberatan.


"Ayo kita bayar sekarang." Adhi menarik tangan Zara untuk kembali ke mobil dan menuju ke rumah Atta.


Melanjukan mobilnya, tujuan utamanya adalah rumah Atta. Dengan membawa uang sesuai hutang ayah Zara, Adhi dan Zara turun dari mobil.

__ADS_1


Mengetuk pintu rumah Atta, Adhi dan Zara menunggu sejenak di bukakan pintu.


"Zara, Adhi," ucap Atta yang melihat dua orang yang dia kenal ada di depan pintu.


"Hai, Bang, apa kabar?" tanya Adhi basa-basi. Senyum Adhi tertarik di ujung bibirnya saat melihat Atta.


"Ada apa kemari?" Sebenarnya Atta sudah menungga apa yang membuat Adhi dan Zara datang.


"Apa aku tidak di persilakan masuk dulu?" tanya Adhi.


"Oh, ya, silakan masuk." Atta yang sedikit gugup akhrinya mempersilakan Adhi untuk masuk ke dalam rumahnya.


Adhi menarik tangan Zara lembut, dan membawa Zara masuk ke dalam rumah Atta. Duduk di kursi ruang tamu Adhi dan Zara menatap ke arah Atta.


"Aku mau bertemu kamu dan mamamu, Bang," ucap Adhi.


"Siapa tamunya, Ta?" tanya Sarah seraya keluar. Mata Sarah menajam, saat melihat Zara datang dengan Adhi.


"Kalian ada apa kemari?" tanya Sarah.


Adhi meletekkan koper di atas meja. "Ini uang hutang ayah Zara," ucap Adhi seraya menunjukan uang pada Sarah dan Atta.


Atta sudah tidak kaget dengan kedatangan Adhi, karena dirinya sudah melihat Adhi membawa koper, dan tebakan Atta benar, jika Adhi datang untuk membayar hutang ayah Zara.


"Jadi kalian kemari untuk membayar hutang?" tanya Sarah. Sarah salah saat mengira Zara tidak akan bisa membayat hutangnya, dan memberikan waktu pada Zara adalah kesalahan terbesarnya.


"Iya, dan saya minta bukti kalau hutang ayah Zara lunas."


Sarah tidak punya pilihan lain, saat melihat uang yang di bawa Adhi. "Tunggulah disini." Sarah berbalik dan mengambil bukti surat perjanjiannya dengan ayah Zara.


Adhi yang melihat mama Atta pergi beralih menatap Atta. "Ternyata Abang licik juga ya," sindir Adhi.


"Apa kamu pikir aku akan diam saja, saat aku mencintai Zara dan melihatmu bersama Zara?"


"Tapi sayangnya Tuhan tidak mengizinkan Abang dengan Zara. Jadi berhentilah membuat Zara susah."


Atta hanya mendengus, dirinya sudah sangat kalah dari Adhi. Kesempatan untuk memiliki Zara pun seketika lenyap.


"Bang Atta bisa dapatkan wanita yang lebih baik lagi dari aku, jadi aku mohon, jangan ganggu aku lagi, Bang." Zara menatap ke arah Zara. "Kalau pun aku menikah dengan Bang Atta, aku tidak akan pernah mencintai Abang."


Atta sadar, jika Zara sangat mencintai Adhi. "Aku tidak akan menganggumu setelah ini."


"Ini," ucap Sarah menyerahkan pada Adhi surat tanda bukti jika hutang ayah Zara telah lunas.


"Terimakasih, Tante. Saya pikir akan sulit mendapatkan ini," ucap Adhi seraya menunjukan kertas bukti pada Sarah. "Sebaiknya Tante carikan jodoh yang mencintai Bang Atta tulus, bukan karena di paksa seperti cerita-cerita novel," ucap Adhi.


"Ayo, Ra," ucap Adhi seraya menarik tangan Zara lembut. "Terimakasih untuk kerja samanya," ucap Adhi Beralih pada Atta dan mamanya.


Adhi dan Zara pun berlalu meninggalkan rumah Atta.


Melihta Zara dan Adhi sudah pergi, Sarah menatap anaknya. "Maafkan mama, Ta." Sarah hanya bisa meminta maaf pada putranya.


"Sudahlah, Ma," ucap Atta menenangkan mamanya. "Mungkin Zara memang bukan jodoh Atta."


Sarah hanya mengangguk. "Semoga kamu mendapatkan orang yang mencintaimu."


"Iya, Ma, semoga."


***


Adhi dan Zara yang keluar dari rumah Atta langsung menuju ke mobilnya. Masuk ke dalam mobil, Adhi dan Zara merasa sangat lega.


"Terima kasih, dhi," ucap Zara pada Adhi.


"Jangan berterima kasih, karena sekarang kamu punya hutang padaku." Adhi menatap tajam pada Zara.


Zara balas menatap tajam pada Adhi. "Aku akan membayarnya," ucap Zara.


"Dengan apa?"


"Dengan diriku," ucap Zara tersenyum.


Adhi hanya mendengus di iringi tawa. "Baiklah Nona Zara, bersiaplah membayar hutangmu dengan pernikahan." Adhi tertawa, dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Atta.

__ADS_1


__ADS_2