Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Muntah


__ADS_3

Setelah semalam Jeje memberitahu Fira, kalau Fira sudah bisa berkerja. Hari ini Fira sudah mulai berkerja kembali.


Fira mengerjap, merasakan perutnya bergejolak. Fira memejamkan sebentar matanya. Merasakan lebih dalam apa yang terjadi dalam dirinya. Saat di rasa perutnya yang mual membuatnya ingin muntah. Fira langsung menyibak selimutnya dan berlari ke kamar mandi.


Hoeek..


Fira mencoba memuntahkan apa yang ada di perutnya.


Jeje yang sedang tertidur pulas pun membuka matanya sempurna, saat mendengar suara yang berasal dari kamar mandi. Dia langsung menyibak selimutnya dan melangkah ke kamar mandi. Kamar mandi yang tidak terkunci membuat dirinya bisa langsung masuk ke dalam. Hal pertama yang di lihatnya adalah, istrinya yang sedang menunduk ke dalam wastafel. "Sayang kamu kenapa?" tanyanya panik seraya mendekat.


Fira terus memuntahkan isi perutnya. Tapi muntahnya belum terhenti, saat semua isi dalam perutnya habis. Hingga yang keluar hanya rasa pahit dari ludahnya.


Jeje yang melihat Fira yang terus muntah, mencoba membelai punggung Fira, berharap itu bisa membantu Fira. Saat di rasa Fira sudah mulai berhenti. Jeje membantu Fira untuk kembali ke kamar. Dia mendudukkan Fira di tempat tidur, dan mengambil air putih yang berada di nakas. " Minumlah."


Fira yang melihat Jeje memberi minuman pun menerimanya, dan meminumnya. Meredakan rasa pahit di mulutnya, dan rasa sakit di tenggorokannya.


Jeje yang sudah berkali-kali membaca artikel tentang kehamilan, sudah tahu kenapa istrinya ini muntah-muntah. Tapi tetap saja itu membuatnya merasa tidak tega. Apa lagi melihat wajah Fira yang seketika pucat. "Sebaiknya kamu tidak perlu kerja." Dengan tegas akhirnya Jeje membuat keputusan itu.


Fira yang mendengar ucapan, Jeje langsung membulatkan mata. Rasanya dia kesal sekali, kenapa dia harus muntah-muntah di hari pertamanya berkerja. Padahal kemarin dia masih begitu menikmati kehamilannya tanpa muntah.


"Sayang, aku mohon jangan larang aku untuk berkerja." Fira menatap wajah Jeje, berharap Jeje mencabut larangannya.


"Tidak." Jeje tetap tegas dengan pendiriannya. "Aku ingin kamu istirahat saja."


Fira memejamkan matanya sejenak. Rasanya dia ingin sekali menangis. "Aku mohon, apa kamu tega melihat aku di apartemen sendiri?" Fira benar-benar tidak bisa menjalani kesehariannya hanya berdiam diri di apartemen. Kemarin saja setelah Zara dan Adhi pulang, Fira di buat bosan menunggu Jeje pulang.


Jeje yang mendengar ucapan Fira yang mengatakan di apartemen sendiri, langsung menimbang. Jeje berpikir, dengan keadaan Fira yang seperti ini, dia tidak akan tega melihat Fira sendiri. Kalau hal buruk terjadi, pasti dirinya sendiri yang menyesal. "Baiklah kamu boleh ke kantor, tapi tidak boleh berkerja."


Fira menautkan kedua alisanya bingung. "Kalau tidak berkerja, lalu apa yang aku kerjakan?" tanyanya ingin tahu.


"Diam di ruanganku, istirahat, dan tunggu aku berkerja."

__ADS_1


"Itu namanya aku tidak kerja." Batin Fira yang mendengar ucapan Jeje. "Tapi.."


Belum selesai Fira menyangah ucapan Jeje. Jeje sudah memotong ucapan Fira. "Iya, atau tidak sama sekali." Jeje pun mengancam Fira.


"Iya, iya, aku akan duduk diam menunggumu di ruaganmu." Fira tidak ada pilihan lain. Pikirnya dari pada dia bosan di apartemen lebih baik dia ikut suaminya.


Akhirnya Jeje dan Fira bersiap untuk ke kantor. Jeje yang lebih dulu bersiap, melanjutkan menyiapkan sarapan setelah selesai bersiap.


"Makanlah dulu, dan minum susu mu." Jeje meminta Fira untuk duduk dan sarapan.


Fira yang baru saja selesai bersiap, langsung keluar menuju meja makan. Setelah Jeje memintanya untuk duduk, Fira pun menarik kursi dan duduk di sebelah Jeje. Mata Fira berbinar, melihat sandwich yang dia pesan tadi pada Jeje, sebelum dia mandi. Dia pun melahap makanannya, dan meminum susu ibu hamil yang di sediakan oleh Jeje.


**


Sesampainya di kantor, Fira dan Jeje menuju ruangannya. Tapi belum sempat, mereka masuk ke dalam lift, Fira sudah menutup mulutnya dengan tangan. Fira yang merasa perutnya mulai mual, dan ingin muntah, langsung melangkahkan kaki toilet yang berada di loby.


Jeje yang melihat Fira berlalu ke toilet, langsung menyusul ke toilet. Di depan toilet Jeje ragu-ragu untuk masuk, karena itu adalah toilet wanita. Tapi saat mendengar Fira yang muntah-muntah pun, Jeje mengabaikan rasa tidak enaknya, dan masuk ke dalam toilet.


Aksi Jeje itu tidak luput dari penglihatan karyawan-karyawan wanita di kantornya. karyawan wanita di kantor Jeje merasa sangat kaget, saat melihat Presdir mereka masuk ke dalam toilet wanita. Tapi mereka tersenyum saat melihat Presdir mereka, sedang membantu istrinya yang sedang muntah-muntah.


"Wah Presdir perhatian sekali membantu istrinya yang muntah karena hamil," bisik salah satu karyawan wanita.


"Lelaki idaman ya." Karyawan wanita lainnya pun balas berbisik.


Setelah Fira selesai, mereka keluar dari toilet. Jeje langsung membawa Fira ke ruanganya. Jeje memapah Fira sepanjang melangkah menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya, Jeje langsung membantu Fira duduk di sofa.


Jeje melihat wajah Fira yang begitu lelah karena muntah. Rasanya Jeje benar-benar merutuki dirinya, karena membawa Fira ke kantor. Tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Fira di apartemen sendiri. Dalam hatinya hanya bisa berkata, andai Reza hari ini masuk, mungkin dia akan memilih menemani Fira di apartemen.


"Minumlah." Jeje memberikan minuman yang sudah tersedia di meja kerjanya.


Fira langsung meminum, setelah Jeje menyodorkan minuman padanya.

__ADS_1


"Apa ini akan berlansung lama?" Tanyanya yang tidak tega melihat Fira.


Fira yang melihat wajah Jeje yang sedih, karena melihatnya muntah pun tersenyum. "Mungkin hanya trimester pertama," ucap Fira. "Tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja." Fira tersenyum, dan membelai rahang tegas Jeje, memberi ketenangan pada Jeje.


Jeje yang melihat Fira tampah tak terbebani pun merasa lega. "Baiklah kalau begitu sekarang kamu istirahatlah di ruangan sana." Jeje berkata seraya menujuk sebuah ruangan yang terdapat di sampin meja kerjanya.


"Ruangan apa?" tanya Fira yang melihat hanya pintu kaca saja.


"Ayo." Jeje tidak menjawab pertanyaan Fira, tapi menarik tangan Fira lembut, untuk masuk ke dalam ruangan di sampung meja kerja Jeje.


Fira yang melihat Jeje membuka pintu kaca, melihat sebuah ruangan dengan tempat tidur di dalam nya. "Sejak kapan ada ruangan ini?" Tanya Fira menatap Jeje yang berada di sampingnya.


"Ruangan ini sudah ada sejak dulu, kamu saja yang tidak tahu. Aku selalu memakainya jika aku lelah." Jeje menarik Fira masuk ke dalam ruangan. "Sekarang istirahatlah disini." Jeje menyuruh Fira untuk duduk.


Fira yang di minta istirahat, akhirnya memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanaganya seolah sudah benar-benar terkuras karena muntah tadi. Dia pun memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya.


Sedangkan Jeje kembali ke meja kerjanya setelah melihat Fira memejamkan matanya. Dia melanjutkan perkerjaanya, sambil mengawasi istrinya yang sedsng tertidur.


.


.


.


.


.


Jangan lupa berikan like dan vote🄰


Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16

__ADS_1


__ADS_2