
Setelah dari rumah Atta, Adhi langsung mengantarkan Zara untuk pulang ke rumahnya. Turun dari mobilnya, Adhi dan Zara melangkah menuju ke dalam rumah.
"Ayah, Ibu," panggil Zara saat melihat ayah dan ibunya di ruang tamu.
"Ra, kamu dari mana?" Abian yang khwatir pun bertanya.
"Zara dari rumah Atta, yah." Zara menjelaskan pada ayah dan ibunya.
Abian dan Intan membulatkan matanya, saat mendengar ucapan Zara. "Apa yang terjadi, apa yang mereka semua lakukan padamu." Abian dan Intan begitu khawatir pada apa yang terjadi pada Zara.
"Tidak ada yang mereka lakukan, yah." Zara menenangkan pada ayahnya. " Zara kesana untuk membayar hutang, dan hutang ayah sudah lunas," ucap Zara menjelaskan pada ayahnya.
"Lunas?" tanya Abian memastikan.
"Iya, Adhi yang melunasinya, yah." Zara menatap Adhi sejenak sebelum kembali pada Ayahnya.
Abian langsung melihat ke arah Adhi. Dirinya sangat malu, saat mengetahui Adhi yang membayar semua hutangnya. "Terimakasih, Nak," ucap Abian seraya hendak bersujud pada Adhi.
"Om, jangan seperti itu," ucap Adhi. "Saya melakukan semua karena mencitai Zara, Om."
Abian merasa senang saat melihat, jika anaknya mendapatkan pria sebaik Adhi. Abian hanya bisa menangis, menyesali telah melakukan hal buruk pada putrinya.
"Sebaiknya kita duduk dulu," ucap Abian mempersilakan Adhi untuk masuk.
Abian duduk di kursi sofa di ikuti Zara, Adhi, dan Bu Intan. Zara dan Adhi memilih untuk duduk di berdampingan, sedangkan Abian dan Intan juga berdamping.
"Om, Tante, saya kemari untuk mengatakan kalau saya ingin menikahi Zara secepatnya," ucap Adhi pada ibu dan ayah Zara sesaat setelah mereka semua duduk.
Abian dan Intan begitu kaget saat mendengar, jika Adhi ingin menikahi Zara secepatnya. "Apa harus secepatnya?" tanya Abian memastikan kembali.
"Iya, Om, saya tidak mau hal seperti ini kembali terjadi jika saya tidak cepat menikahi Zara." Adhi yang berpikir, jika Atta bisa saja melakukan hal lain lagi, tidak mau ambil resiko. Hingga memutuskan untuk segera menikahi Zara, adalah keputusan paling tepat.
"Lalu kapan pernikahannya?"
"Saya mau besok."
Zara, Abian dan Intan langsung menatap bingung pada Adhi, saat mendengar ucapan Adhi. Mereka semua tidak menyangka, jika secepatnya yang di maksud Adhi adalah besok.
"Besok?" Zara benar-benar tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Adhi.
"Iya, besok, aku mau kita menikah secara sederhana saja, yang penting sah menurut agama dan negara." Adhi menatap Zara, meyakinkan Zara akan keputusannya.
"Kenapa secepat itu?" Zara tahu betul, jika rencana Adhi adalah setelah dirinya ke luar negeri. Tapi semua berubah seketika, saat kejiian Atta yang ingin menikahinya.
"Aku tidak mau semua hal ini terulang, Ra. Apa lagi aku akan ke luar negeri. Aku tidak akan tenang disana nanti, meninggalkan kamu disini." Adhi menjelaskan pada Zara.
"Ayah dan Ibu terserah kamu, Ra." Abian yang mendengar perdebatan antara anaknya dan calon menantunya, hanya bisa menyerahkan segala keputusan pada Adhi dan Zara.
Zara yang mendengar penjelasan Adhi merasa sangat mengerti kekhawatiran Adhi. Di tambah lagi ayahnya yang menjelaskan, jika menyerahkan semua padanya, membuat Zara semakin bingung.
"Aku tidak keberatan, kalau memang menurutmu menikah secepatnya lebih baik." Setelah memikirkan, Zara memilih untuk mengikuti keinginan Adhi. Zara sendiri juga takut, kalau Atta akan melakukan hal lain saat Adhi di luar negeri.
"Baiklah, aku akan mengurus semua." Adhi merasa lega saat mendengar Zara dan orang tuanya tidak keberatan.
"Ayah dan ibu akan membantu mempersiapakan juga di rumah, jadi kamu tidak perlu khawatir masalah Zara." Abian menatap Adhi dan menjelaskan pada Adhi.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu." Adhi berdiri dan berpamitan pada kedua orang tua Zara.
Zara yang melihat Adhi berpamitan pun langsung berdiri, dan mengantar Adhi untuk ke depan. Zara dan Adhi berjalan keluar bersama-sama.
"Kamu tidak keberatan bukan, jika tidak akan ada pesta?" Adhi yang memakai uang yang di sudah deposito untuk membayar hutang ayah Zara, harus merelakan pesta pernikahan mereka.
"Iya, aku tidak masalah." Zara sadar betul, Adhi sudah sangat mengeluarkan uang terlalu banyak. Jadi dirinya tidak akan menuntut Adhi terlalu lebih.
Adhi bersyukur saat Zara tidak menuntutnya untuk pesta mewah. "Baiklah, aku pergi dulu," ucap Adhi, dan Zara pun mengangguk. Melangkah menuju mobilnya, Adhi melajukan mobilnya. Tempat pertama yang di tujunya adalah restoran Daffa.
Sesampainya di restoran, Adhi langsung menemui Daffa. Mengetuk pintu ruangan Daffa, Adhi masuk saat terdengar suara Daffa berseru untuk masuk.
"Kamu tumben pagi-pagi kemari," ucap Daffa pada Adhi.
"Iya, aku ada perlu sama Abang" ucap Adhi seraya menarik kursi tepat di hadapan Daffa.
"Perlu apa?" Daffa semakin penasaran saat Adhi mengatakan, jika dirinya datang memiliki maksud tertentu.
"Aku mau menikah besok, Bang." Dengan tegas Adhi mengatakan pada Daffa.
Kedua bola mata Daffa membulat sempurna saat mendengar ucapan Adhi. "Menikah dengan siapa?" Pertanyaan itu lah yang keluar dari mulut Daffa.
"Sama Zara lah, Bang, sama siapa lagi?" Adhi tidak habis pikir kenapa Daffa bisa bertanya seperti itu. Padahal dia tahu dengan jelas kalau, Adhi sedang menjalin hubungan dengan Zara.
"Iya, aku tahu dengan Zara." Karena kagetnya, Daffa sampai salah menanyakan sesuatu. "Maksud Abang, kenapa besok, kenapa mendadak sekali?"
"Bang Atta hampir saja menikahi Zara, Bang?" Dengan perasaan geram, Adhi mengatakan pada Daffa.
"Atta? Menikahi Zara?" Daffa merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Adhi. "Coba jelaskan dengan benar, Abang tidak mengerti," ucap Daffa.
"Ayah Zara memiliki hutang pada mama Bang Atta, dan karena tidak bisa membayar hutang, mam Bang Atta meminta Zara menikah dengan Bang Atta." Adhi menjelaskan semua pada Daffa.
"Aku membayar hutang ayah Zara, dan masalah hutangnya sudah selesai," ucap Adhi. "Tapi aku takut Bang Atta akan berbuat lebih, jadi aku memutuskan untuk menikahinya saja."
Daffa baru mengerti kemana arah pembicaraan Adhi. Daffa tahu bagaimana ketakutan Adhi, jika tidak menikahi Zara secepatnya. "Tapi apa harus besok, kamu tahu, mama tidak akan bisa datang kalau semendadak ini."
"Aku akan minta tolong Bang Jeje untuk hal itu, dan aku akan hubungi mama."
Mendengar ucapan Adhi. Daffa tidak punya sanggahan lagi untuk meminta adiknya menunda. "Baiklah, terserah padamu," ucap Daffa. "Lalu apa yang bisa yang bisa Abang lakukan?"
"Acara akan diadakan di rumah Zara, jadi Abang bisa siapkan untuk makanan yang akan disediakan besok."
Daffa mengerti apa yang harus dia lakukan. "Abang mengerti apa yang harus Abang lakukan."
"Terimakasih, Bang."
"Jangan berterimakasih, sudah kewajiban Abang membantu kamu."
"Kalau begitu aku pamit dulu, karena aku akan mengerjakan beberapa hal."
"Iya."
Adhi pun berlalu meninggalkan ruangan Daffa. Perkerjan untuk mempersiapkan pernikahan sangatlah banyak, dan Adhi tidak punya waktu. Masuk ke dalam mobilnya, Adhi mengambil ponsel di saku jasnya. Mencari nomer ponsel Jeje. Adhi mengusap ponselnya untuk menghubungi Jeje.
"Halo, Dhi, ada apa menghubungi aku," sapa Jeje yang mengangkat sambungan telepon.
__ADS_1
"Iya, Bang, aku mau meminta tolong, untuk meminjam pesawat pribadi untuk menjemput mama," ucap Adhi menjelaskan maksudnya menghubungi.
"Ada urusan apa, hingga Tante Ayu harus kemari, apa Tania kenapa-kenapa?" Suara Jeje terdengar khawatir.
"Kak Tania baik-baik saja, Bang."
"Lalu?"
"Aku akan menikah besok, dan aku mau mama bisa datang."
"Menikah?" Suara Jeje terdengar kaget mendengar ucapan Adhi.
"Iya, menikah."
"Dengan Zara?"
"Iya, dengan Zara, memangnya mau dengan siapa lagi." Adhi benar-benar heran, tidak daffa dan tidak Jeje, semua menanyakan dengan siapa dirinya menikah.
"Apa urusan Zara dengan Atta sudah selesai, karena aku belum sempat mengirimkan pinjaman untuk Zara."
"Urusan itu sudah selesai, Bang. Hutang ayah Zara sudah lunas."
"Syukur kalau begitu, jadi kapan kamu akan menikah?"
"Besok."
"Besok? Apa itu tidak sangat mendadak?" tanya Jeje memastikan.
"Apa Abang lupa, jika Abang dulu juga hanya mempersiapkan sehari." Adhi mengingatkan Jeje tentang pernikahan dirinya dengan Fira.
"Iya, baiklah kalau begitu, aku akan membantumu." Jeje tidak bisa berkata apa-apa, karena dulu dirinya juga menyiapkan pernikahan dengan Fira terlalu cepat.
"Baiklah, makasih, Bang."
Adhi langsung mematikan sambungan teleponnya, dan beralih menghubungi mamanya. Adhi mengusap layar ponselnya yang tertera nama mamanya.
"Halo, sayang," ucap Nyonya Ayu menyapa Adhi.
"Halo, ma." Adhi membalas sapaan dari mamanya.
"Ada apa kamu menghubungi mama?"
"Adhi mau mengabari, jika Adhi akan menikah besok, ma." Adhi memberitahu pada mamanya tentang rencananya.
"Menikah? Apa kamu menghamili Zara, Nak?"
Adhi membulatkan matanya saat mendengar tuduhan dari mamanya. "Tidak, ma," elak Adhi.
"Lalu kenapa kamu mendadak mau menikah, jika Zara tidak hamil?"
"Ada sesuatu, ma, tapi nanti Adhi jelaskan jika mama disini," jelas Adhi.
"Lalu mama apa harus kesana?"
"Iya, ma. Adhi sudah mengatur penerbangan untuk mama, jadi mama tinggal kesini saja."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu."
Adhi mematikan sambungan telepon, dan memasukan ponselnya ke dalam sakunya. Adhi merasakan kelegaan saat dirinya sudah menyelesaikan urusannya. "Tinggal menyelesaikan sisanya," ucap Adhi.