
Fira membuka mengerjap, dan membuka matanya perlahan. Rasanya Fira tidur nyenyak sekali malam ini. Dalam hati Fira mungkin karena pengaruh tempat tidur Jeje yang begitu empuk. Di banding tempat tidur di rumahnya dan apartemen sebelah memang tempat tidur ini lebih enak.
Fira memperhatikan wajah Jeje lekat, rasanya Fira masih tidak menyangka Jeje nyata di hadapannya. Fira membelai rahang tegas Jeje. Batin Fira kapan lagi dia membelai wajah Jeje.
"Apa kamu sedang mengodaku?" Suara serak khas bangun tidur mengagetkan Fira.
"Tidak, aku tidak mengodamu, aku hanya membelai wajahmu, aku baru kali ini bisa membelainya." Jelas Fira ragu-ragu.
"Sepertinya kamu harus di hukum."
Sejenak Fira mengingat bagaimana dia dulu memandangi wajah Jeje, dan berakhir di hukum. Dan dari hukuman itu lah dia jatuh cinta pada Jeje.
"Kenapa di hukum?"
"Iya, karena kamu sudah memandang wajahku."
"Apa hukumannya?"
"Jangan pernah tinggalkan aku lagi selamanya, apa pun yang akan terjadi di antara kita." Jeje memandang wajah Fira lekat. Dia merasakan bahagia bisa menikah dengan wanita yang begitu dia cintai. Dan dia benar-benar tidak bisa jauh dari Fira lagi.
Fira yang mendapatkan hukuman itu hanya merasa aneh dengan jenis hukuman yang Jeje berikan. Dia pikir Jeje akan menghukumnya, sama seperti dulu pertama kali mereka berkenalan. "Tanpa di hukum pun, aku tidak akan meninggalkan dirimu."
Jeje hanya tersenyum, "Terimakasih." Jeje langsung memeluk Fira. Fira yang mendapatkan pelukan dari Jeje, langsung mengeratkan pelukan, menyalurkan rasa cintanya pada Jeje.
"Apa kita kan berpelukan terus dan tidak akan pergi ke kantor," ucap Jeje.
Fira yang mendengar ucapan Jeje langsung melepaskan pelukan, " Bukankah kamu tadi yang memelukku." Fira mencebikan bibirnya kesal karena Jeje seolah menyalahkan dirinya yang menahan dengan berpelukan.
Cup... Jeje langsung mengecup bibir Fira. Dia benar-benar gemas dengan Fira. "Ayo kita bersiap untuk ke kantor." Jeje tahu Fira ingin sekali berangkat berkerja. Dan dia tidak mau membuat wanita di hadapanya kesal di pagi hari.
Fira pun mengangguk, dan beranjak dari tempat tidur. Fira pun membuat sarapan terlebih dahulu, sebelum dia pergi ke kamar mandi dan bersiap ke kantor.
"Bisakah nanti aku turun di halte saja, seperti biasa?" tanya Fira saat mereka berdua sarapan.
Jeje yang mendengar ucapan Fira hanya menautkan alisnya, "Tidak perlu, kita tidak perlu bersembunyi dari siapa-siapa lagi," ucap Jeje tegas. Fira pun tidak punya pilihan lain, selain menuruti keinginan Jeje untuk berangkat bekerja bersama dengan Jeje.
Setelah sarapan, mereka berdua menuju parkiran apartemen, untuk mengambil mobil dan menuju kantor berdua.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Fira berjalan bersama dengan Jeje masuk ke dalam area kantor. Dan semua orang melihat Fira yang berjalan dengan Presdir mereka. Sebenarnya Fira merasa sangat risih, dengan tatapan tajam pada dirinya.
Jeje saat para karyawan memandangi dirinya, yang berjalan bersama dengan Fira hanya acuh saja.
"Mereka melihat kita," bisik Fira pada Jeje.
"Untuk apa kamu memikirkan mereka, ini kantorku suka-suka aku berjalan dengan siapa," ucap Jeje acuh.
"Bagaimana aku tidak memikirkan, pasti mereka masih berfikir kalau kamu masih bertunangan dengan Ana" batin Fira.
Jeje mengajak Fira untuk naik melalui lift khusus presdir. "Sekarang kamu gunakan lift ini, aku tidak mau kamu mengunakan lift karyawan lagi," ucap Jeje pada Fira.
"Tapi, aku merasa tidak enak"
"Kamu istriku, sekarang jadi apa yang membuatmu tidak enak."
Fira hanya bisa mengalah saja, dan keluar dari lift lebih dulu dari Jeje, karena ruangan Fira berada 5 lantai di bawah dari ruangan Jeje.
"Aku keluar dulu ya," pamit Fira pada Jeje. Tapi belum sempat Fira melangkah Jeje sudah menariknya, dan mendaratkan kecupan di pipi Fira. Fira yang mendapatkan kecupan di pipinya hanya terkaget. "Selamat berkerja sayang," ucap Jeje. Dan Fira hanya mengangguk dan keluar dari lift.
Fira benar-benar tidak habis fikir Jeje melakukannya di lift. Walaupun tidak ada karyawan yang melihat, Fira merasa malu.
" Pagi Fir," sapa balik dari Adhi, "Kamu sjdah masuk fir," tanya Adhi yang baru saja menghampiri Fira.
"Iya."
"Memang tidak pergi bulan madu," tanya Adhi tapi dapat membuat pipi Fira merona merah.
"Bukannya kerjaan kita banyak,"
elak Fira pada Adhi.
"Ya juga sih." Adhi sedikit berfikir, memang benar yang di kataka Fira, kalau perkerjaan sedang sangat banyak. "Fir, sepertinya gedung baru kita, sudah bisa di tempati jadi kita bisa pindah kesana."
"Benarkah?" ucap Fira yang sangat senang mendengarnya, "Lalu kapan kita pindah?", tanya Fira lagi.
"Mungkin mulai hari ini kita bisa berbenah, untuk merapikan barang-barang kita disini, nanti aku akan menemui Bang Jeje."
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mulai merapikan barang-barang dan beberapa berkas kita disini."
**
Setelah merapikan beberapa barang Adhi menemui Jeje di ruanganya.
Tok..tok..
"Masuk!" seru Jeje.
"Permisi Pak, Pak Adhi ingin menemui a
Anda," ucap Reza pada Jeje.
"Suruh dia masuk."
"Pagi Pak Ganjendra," sapa Adhi seraya masuk.
"Panggil seperti bisa aja dhi."
"Baiklah."
"Ada apa kemari?"
"Aku kesini mau memberitahu kalau gedung perusahaan Om Edward sudah siap, jadi aku dan beberapa karyawanku akan menempati gedung baru," jelas Adhi pada Jeje.
"Ya Reza sudah mengatakan padaku tadi pagi, tapi aku harap Fira bisa disini dhi." Jeje tidak mau Fira ikut pindah bersama Adhi, di gedung baru perusahaan Tuan Edward.
Adhi mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Jeje, yang meminta Fira untuk tetap tinggal. "Fira karyawan Om Edward Bang, mana bisa dia disini."
"Iya aku tahu, tapi aku tidak bisa biarkan Fira jauh dari aku. Lagi pula perusahaan Om Edward berkerjasama dengan ku jadi tidak masalah bukan kalau Fira disini."
Adhi benar-benar malas berdebat dengan Jeje. "Sebaiknya kamu tanyakan Fira langsung saja Bang, kalau memang dia setuju aku bisa apa aku," pasrah Adhi.
"Tapi aku minta tolong izinkan Fira membantuku lebih dulu Bang."
"Baiklah aku bicarakan dengan Fira, dan aku akan izinkan Fira membantumu lebih dulu, Sekalian tolong kamu sampaikan pada Fira untuk ke ruanganku"
__ADS_1
"Baiklah"
Akhirnya Adhi kembali ke ruanganya dan menyampaikam kepada Fira untuk ke ruangan Jeje. Adhi tidak menyampaikan keinginan Jeje pada Fira, Adhi berfikir biarkan Jeje sendiri yang menyampaikan.