
"Aku akan pulang sebelum jam makan siang," ucap Jeje seraya memberikan kecupan manis di dahi Fira. Jeje yang harus bertemu dengan Reza terlebih dahulu, akhirnya memutuskan untuk ke kantor terlebih dahulu, sebelum penerbangan ke luar negeri.
Senyum terukir di wajah Fira. "Iya, aku juga harus menyiapkan baju-bajumu terlebih dahulu." Fira yang sudah mulai berkerja, sudah mulai di sibukan dengan kegiatan di rumah.
"Baiklah, tapi ingat jangan terlalu lelah."
"Iya," ucap Fira di sertai anggukan.
Fira mengantar Jeje sampai ke depan apartemen, dan masuk ke dalam apartemen kembali, setelah memastikan Jeje sudah pergi.
Melangkah ke kamar, Fira langsung menyiapkan baju untuk di bawa Jeje ke luar negeri. Tidak lupa Fira menyiapkan kebutuhan yang lain.
**
Jeje yang keluar dari apartemen, menuju ke parkiran. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar namanya di panggil. Dan saat Jeje menoleh, ternyata Celia lah yang manggilnya. Jeje hanya mendegus kesal, saat Celia lagi-lagi berusaha berbicara dengannya.
"Ada apa?" tanya Jeje ketus.
"Je, apa kamu masih semarah itu denganku?" Celia menatap Jeje. Celia benar-benar tersiksa saat Jeje mendiaminya.
"Sudahlah, bukannya aku sudah mengatakan jangan mendekatiku lagi." Jeje menatap tajam pada Celia.
"Tapi..."
"Aku mohon, pergilah sejauh mungkin dari aku." Jeje menatap lekat wajah Celia. Sorot mata penuh ancaman di berikan pada Celia. Tidak sedikit pun celah di berikan Jeje pada Celia.
Celia terperangah dengan apa yang di ucapkan Jeje. Sudah sejauh ini Celia berusaha, tapi tetap saja Jeje tidak mau mendengarkannya.
Mengabaikan Celia, Jeje langsung berlalu ke mobilnya. Dan menuju ke kantornya. Harusnya hari ini Jeje menunggu pernerbanganya nanti malam dengan mengabiskan waktu dengan Fira. Tapi dirinya harus memberitahu Reza beberapa dokumen untuk di serahkan pada Daniel.
Sesampainya di kantor Jeje langsung menemui Reza dan menyiapkan dokumen yang di butuhkan.
"Aku harap kamu bisa menangangi semua selama aku pergi."
"Saya akan usahakan, Pak."
Saat dua perkerjaan dalam satu waktu seperti ini, rasanya berat untuk Jeje membagi waktu. Tapi beruntung Reza yang berkerja dengannya cukup lama, sudah bisa msngatasinya.
**
Selesai menyiapkan baju, Fira merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya yang berat, akhirnya dia pejamkan. Pikirnya dirinya bisa mengistirahatkan tubuhnya, di saat menunggu Jeje pulang.
Saat Fira tidur, dirinya merasakan sentuhan lembut. Perlahan Fira membuka matanya. "Kamu sudah pulang?" Pemandangan pertama yang di lihat Fira adalah wajah tampan suaminya, yang berada tepat di depan wajahnya.
"Aku bilang bukan, kalau aku akan pulang sebelum jam makan siang?" Jeje menatap lekat wajah Fira. Senyuman tak surut dari wajahnya, saat melihat wanita yang di cintainya.
Jeje menyelesaikan perkerjaanya tadi dengan buru-buru, karena dia ingin segera pulang, untuk bertemu Fira. Dan saat Jeje sampai di rumah, Jeje melihat Fira sedang tertidur di kamar.
Sejenak mata Jeje melihat ke arah koper. Ternyata istrinya itu sudah menyiapkan barang-barangnya yang akan di bawanya ke luar negeri.
"Apa sudah jam makan siang sekarang?" Fira membelai wajah Jeje yang terlampau dekat dengannya.
"Sudah, aku juga sudah membelikan makanan untukmu," ucap Jeje mengangsur wajah Fira. "Sebaiknya kita makan dulu." Jeje bangkit dan menegakkan tubuhnya. Di ulurkan tanganya pada Fira.
Fira pun ikut bangun, dan menerima uluran tangan Jeje. Melangkah ke meja makan, Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira.
"Kamu beli apa?" tanya Fira saat mencium aroma yang menguar dari makanan yang di beli Jeje.
"Coba tebak," ucap Jeje dengan senyum di sudut bibirnya.
"Ayam bakar." Fira menjawab dengan sangat semangat. Daro tadi aromanya dia sudah tahu apa yang di beli oleh Jeje.
"Betul sekali." Jeje mengacak rambut Fira sedikit. "Ayo makan." Jeje membuka makanannya dan memberikan pada Fira.
Fira begitu berbinar saat melihat makananya. Dengan semangat Fira memakan makananya. Rasa manis gurih dan aroma bakar, begitu memanjakan lidah Fira.
Mata Fira yang selalu berbinar saat melihat makanan yang dia suka, adalah salah satu kesukaan Jeje. Ada perasaan senang yang selalu menghampiri Jeje, saat Fira begitu lahap memakan makananya. "Saat aku ke luar negeri, kamu juga harus makan yang banyak." Jeje membelai rambut Fira lembut.
"Iya," jawab Fira. "Lagi pula, nanti akan ada ibu yang akan memasakan makanan enak untuk aku."
Jeje mengangguk, membenarkan ucapan Fira. Mertuanya pasti akan memanjakan Fira dengan masakannya nanti. saat Fira tinggal disana. Dan tidak perlu di ragukan lagi, bagaimana rasa masakan mertuanya.
__ADS_1
"Kamu juga disana jangan lupa makan," ucap Fira.
"Iya."
"Kalau Reza tidak ada, apa kamu akan menginap di hotel?" Fira memang tahu, bahwa Jeje dan Reza akan tinggal di hotel, selama menyelesaikan urusannya. Dan dalam situasi saat Reza tidak ikut ke luar negeri, mungkin saja Jeje akan merubah rencananya.
"Iya, masih seperti rencana awal."
"Oh, aku pikir kamu akan takut kalau tinggal di hotel sendiri," goda Fira.
Jeje langsung mencubit pipi Fira. "Apa kamu lupa, waktu akan kesana dan bertemu denganmu, aku juga tinggal sendiri."
Fira mengingat peristiwa dimana setelah dirinya bertemu dengan Jeje. Jeje membawanya ke hotel. "Iya dan di hotel kamu menciumku tanpa permisi." Suara Fira penuh dengan nada sindiran pada Jeje.
Jeje tergelak saat Fira mengingatkannya akan peristiwa itu. "Waktu itu aku benar-benar merindukanmu." Jeje menatap lekat pada Fira. Pandangan penuh cinta terlihat dari sorot matanya. "Aku tidak tahu, andai aku tidak menemukanmu disana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupku."
Pandangan Fira pun tak lepas dari wajah Jeje. Dia tahu bahwa mereka sama-sama saling mencintai. "Aku pun sama, aku juga tidak tahu akan jadi apa hidupku, jika kamu tidak kesana. Seolah sudah ditulis, bahwa kita harus bertemu disana."
"Sepertinya begitu." Jeje menarik tangan kiri Fira, dan memberikan kecupan manis di pungung tangan istirnya itu. "Aku sangat mencintaimu."
"Jangan membuatku menangis," ucap Fira saat mendengar ucapan Jeje. Bukannya membalas ucapan cinta Jeje, Fira malah melakukan protes.
"Oke-oke. Lanjutkan makanmu." Jeje tahu, Fira sedang berat sekali untuk di tinggalkan. Apa lagi keadaannya yang sedang hamil,
membuatnya mudah sedih.
**
Setelah menyelesaikan makannya. Jeje mengecek barang-barang di bawakan oleh Fira.
"Apa ada yang kurang?" tanya Fira melihat Jeje yabg sedang membuka kopernya kembali, untuk mengecek.
"Aku rasa tidak, semua sudah kamu siapkan dengan benar." Jeje yang sedang bersimpuh, berdiri menegakkan tubuhnya. "Terimakasih," ucap Jeje.
"Hanya ucapan terimakasih saja?" Pipi Fira sudah merona saat melontarkan pertanyaan pada Jeje.
Jeje menarik senyum di ujung bibirnya. "Memangnya harus seperti apa?" tanya Jeje mengoda Fira. Jeje mendekat dan melingkarkan tangannya di pingang Fira.
"Meninggalkan jejek sebelum pergi?" Jeje sedikit mengerlingkan matanya pada Fira.
"Jejak apa?" Dahi Fira berkerut dalam saat tidak mengerti ucapan Jeje.
"Jejak kepemilikan." Jeje langsung membenamkan bibirnya pada bibir Fira. Memberikan ciuman lembut disana.
Mengansur ke leher Fira, Jeje memberikan kecupan yang akan meninggakan bekas disana. Bekas yang menandakan jejek kepemilikannya.
**
Setelah di awali dengan sebuah jejak kepemilikan, Jeje dan Fira melanjutkanya dengan penyatuan.
Menyimpan sebagai rindu, saat nanti mereka jauh. Dan menyimpan hasrat, yang akan di tahan selama berpisah.
Dengan tubuh polosnya, Fira masih setia di pelukan Jeje. Mendekap erat tubuh Jeje, rasanya dia masih belum mau melepas Jeje.
"Bolehkah aku ikut mengantarmu?" Fira yang masih sibuk bermain-main di dada polos Jeje pun bertanya.
"Aku mau mengantarmu terlebih dahulu, dan menitipkan dirimu pada ibu. Setelah itu akan akan di antar Reza ke Bandara. Kamu di rumah saja." Jeje tidak mau Fira terlalu kelelahan saat mengantarnya. Memgingat penyatuan mereka pasti menyisakan kelelahan untuk Fira.
Fira mencebikkan bibirnya sedikit kesal dengan penolakan Jeje. Melepas pelukannya, Fira menjauh dari Jeje.
"Jangan marah," ucap Jeje. Jeje memeluk Fira yang sudah membelakanginya.
"Aku hanya ingin mengantarmu, tapi kamu tidak mengizinkan."
Jeje membenamkan kepalanya di ceruk leher Fira. Mengecup setiap sudut yang bisa di jangkaunya. "Baiklah, aku akan mengizikanmu. Kamu antarkan aku dulu ke Bandara. Dan Reza nanti akan mengantarkanmu ke rumah ibu."
Fira langsung membalik tubuhnya, menghadap ke arah Jeje. "Benarkah?" tanya Fira.
Jeje mengangguk, dan di iringi dengan senyuman. Bagi Jeje, memenuhi keinginan Fira adalah kebahagiaannya.
"Terimakasih." Fira langsung memeluk Jeje.
__ADS_1
Tubuh polos mereka saling menempel tanpa celah sedikit pun. "Sepertinya kamu membangunkannya kembali." Senyum licik tertarik di bibir Jeje.
Fira pun meraskan apa yang Jeje maksud. Fira pun membalas dengan tersenyum juga. "Sekali lagi, aku rasa baby nya akan aman," ucap Fira malu-malu.
Mendapatkan kode dari Fira, langsung membuat Jeje tidak membuang kesempatan. Mendorong tubuh Fira lembut. Jeje membuat Fira di bawah kungkungannya. Mengulang kembali penyatuan yang begitu hangat. Dan menyalurkan cinta yang begitu dalam.
**
"Semua sudah di bawa?" tanya Fira yang melihat Jeje sedang masukkan koper di bagasi mobi Reza.
Setelah tadi selepas makan siang, Fira dan Jeje menghabiskan waktu bersama. Mereka mengakhiri dengan dua kali penyatuan.
Saat Reza menghubungi, jika dirinya akan segera datang. Jeje langsung bersiap, dan menemui Reza di parkiran mobil.
"Sudah, semua sudah aku masukkan ke dalam bagasi," ucap Jeje yang mencoba menenangkan Fira.
Fira dan Jeje kemudian masuk ke dalam mobil, dan menuju ke Bandara di antar oleh Reza.
Sepanjang perjalanan Jeje menasehati Fira untuk menjaga dirinya. Fira benar-benar sampai heran pada Jeje, karena sudah berulang kali kata-katanya itu di ucapkan.
Tapi Fira memahami kekhawatiran Jeje. Karena ini adalah kali pertama, Jeje meninggalkan Fira.
Sesampainya di Bandara, Fira melihat sudah ada Adhi dan Zara. "Kalian sudah sampai?" tanya Fira seraya menautkan pipinya, di pipi Zara.
"Iya, baru saja kami sampai." Zara yang melepakan tautan pipinya pun menjawab.
"Kalian hati-hati ya disana," ucap Fira pada Adhi dan Zara.
"Kamu tenang saja, Fir. Aku akan menjaga Bang Jeje. Kalau dia macam-macam aku akan mengatakan padamu." Adhi yang melihat kegelisana Fira, malah mengodanya.
"Kamu pikir apa yang akan aku lakukan disana." Suara Jeje penuh dengan sindiran di berikan pada Adhi.
Fira hanya tersenyum melihat Adhi mengoda Jeje. "Sudah-sudah." Fira mencoba menengahi percakapan Jeje dan Adhi. "Kamu hati-hati ya." Fira menghadap pada Jeje, dan sedikit merapikan kemeja yang di pakai oleh Jeje.
"Iya." Jeje memberikan kecupan di pucuk rambut Fira. "Kamu pulanglah. Ini sudah malam."
Jeje beralih menatap pada Reza. "Antarkan Fira pulang, Za. Dan pastikan Fira aman."
"Baik, Pak."
"Kalian semua hati-hati ya. Aku pulang dulu." Fira kemudian melangkah meninggalkan Jeje, Adhi, dan Zara yang sedang menunggu keberangkatan pesawatnya.
Reza langsung melajukan mobilnya, setelah Fira masuk. Menuju ke rumah ibu Fira, Reza mengantarkan Fira terlebih dahulu.
Sesampainya di rumah Fira di bantu Reza mengeluarkan kopernya. "Kamu tidak mau masuk?" tanya Fira pada Reza.
"Tidak, Fir. Valeria sudah menungguku."
Fira tersenyum mendengar ucapan Reza. "Susah kalau pengantin baru, tidak bisa jauh," goda Fira pada Reza.
Reza hanya tersenyum. Dia tidak mengelak apa yang di katakan oleh Fira, karena memang itulah yang di rasanya.
"Sudah sana pulang, aku akan langsung masuk." Fira tahu tadi Jeje sudah berpesan pada Reza, untuk memastikan Fira masuk ke dalam rumah dulu.
"Bye, Fir." Reza pun masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya.
Fira yang melihat mobil Reza sudah jauh dari jangkaun pun, langsung menarik kopernya masuk ke dalam rumahnya.
Tangan Fira langsung mengetuk pintu, dan menunggu ibunya membuka pintu. Dan beberapa saat dirinya mengetuk pintu, pintu akhirnya di buka.
Mata Fira memicing tajam, dan dahinya berkerut dalam, saat melihat seorang pria asing membuka pintunya. "Siapa kamu?" tanya Fira dengan semakin menajamkan pandanganya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like☺️