Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Selimut


__ADS_3

Drt..drt..


Bunyi ponsel membuat tidur indah sepasang suami istri harus sirna seketika. Setelah semalam Jeje dan Fira di sibukkan dengan berolahraga, pagi ini mereka masih di tempat tidur karena merasa lelah.


"Sayang ponselnya bunyi" ucap Fira seraya menggoyangkan tubuh Jeje yang di pelukannya. Fira yang berucap pun tak membuka matanya sama sekali.


Jeje yang di bangunkan Fira, karena ponselnya berdering meraba nakas di sampingnya dengan mata tertutup.


"Halo" ucap Jeje pertama kali mengangkat sambungan telepon.


"Kalian dimana sih?" suara mama Inan begitu kencang, hingga Jeje sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Apa sih ma?" ucap Jeje dengan suara serak khas bangun tidur, yang sedikit kesal mamanya menganggu tidur indahnya.


"Apaan apaan?, kamu itu dimana?, kenapa belum sampai hotel, sebenarnya kalian jadi mengadakan pesta nggak sih?" tanya mama Inan yang membrondong beberapa pertanyaan pada Jeje.


Jeje yang masih mengantuk hanya acuh mendengarkan, hingga beberapa detik dia tersadar, "Hah, pesta!" serunya kaget saat mengingat pesta pernikahannya.


Jeje membuka matanya sempurna, mencari letak jam dinding di kamarnya, "Astaga jam sebelas" gumamnya.


"Halo je" panggil mama Inan yang tiba-tiba tidak mendengar suara putranya, dan mencoba memanggil-manggil.


"Ya halo ma"


"Kamu cepet kesini, Fira harus bersiap-siap" seru mama Inan dengan nada kesal, karena anak dan mantunya belum datang ke hotel untuk bersiap-siap.


"Ya ma, Jeje dan Fira akan segera kesana" ucap Jeje, dan mematikan sambungan teleponnya sesaat kemudian.


"Sayang, bangun" ucap Jeje membangunkan Fira.


"Aku masih ngantuk" Fira masih menolak untuk bangun dan mengeratkan pelukan pada Jeje.


"Sayang, kita harus cepat ke hotel, mama sudah menunggu buat acara pesta pernikahan kita" ucap Jeje masih berusaha mengoyang-goyangkan badan Fira.


Fira yang mendengar kata pesta masih mencerna baik-baik, dan saat dia tersadar, dia langsung membuka lebar matanya, "Hah pesta" ucapnya tak kalah kaget dari Jeje.


Fira langsung terduduk, mengembalikan kesadarannya dari alam mimpi. Jeje yang melihat Fira bangun dari tubuhnya pun ikut terduduk.


"Jam berapa ini?" tanya Fira yang sudah mulai panik.


"Jam sebelas"


"Hah, jam sebelas" pekik Fira, dan membuat Jeje menjauhkan tubuhnya sedikit dari Fira, karena lengkingan suara Fira begitu menyakitkan di gendang telinganya.

__ADS_1


"Kita terlambat, bagaimana ini" ucapnya yang panik.


Fira menyibak selimutnya hendak berdiri, tapi urung di lakukan saat melihat tubuh polosnya, dan rasanya dia tidak bisa berlenggang begitu saja ke kamar mandi, dengan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya. Fira langsung menarik selimutnya menutupi tubuhnya.


Dia melangkahkan kaki menuju kamar mandi, tapi karena panik, tiba-tiba dia memikirkan sesuatu yang lain.


"Dimana gaun aku" dia berbalik menuju lemari untuk mencari gaunnya, dengan menyeret selimut yang melilit di tubuhnya.


Butuh waktu lama Fira tersadar, bahwa gaunnya sudah di bawa mama Inan kemarin, "Astaga, gaunnya sudah di bawa mama" dia menepuk dahinya merutuki dirinya yang lupa.


Akhirnya dia berjalan menuju kamar mandi lagi, tapi sebelum sampai di kamar mandi, dia melihat Jeje dengan tubuh polos di atas tempat tidur.


"Ach..kenapa kamu nggak menutupi tubuh kamu sih" ucapnya seraya memejamkan matanya saat melihat Jeje tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.


"Mau menutupi dengan apa?, selimut saja kamu bawa" ucap Jeje santai.


Fira membuka matanya, dan menunduk melihat selimut yang dia lilitkan di tubuhnya.


"Astaga selimutnya aku pakai, karena panik aku jadi lupa" gumamnya.


"Kenapa kamu masih malu sih" tanya Jeje seraya mendekat pada Fira.


Fira yang melihat Jeje mendekat, memundurkan tubuhnya, "Kamu mau apa lagi?"


Fira yang mengerti maksud Jeje pun langsung melepas selimut yang di pakainya, dan meleparkan ke tubuh Jeje, hinga menutupi seluruh tubuh Jeje.


Jeje yang kaget tubuhnya tertutup selimut dari kepala sampai kaki, membukanya dengan susah payah.


Saat sudah dapat membuang selimut yang menutupi dirinya, dia melihat Fira yang sudah lari ke dalam kamar mandi.


Fira langsung menutup pintu kamar mandi, setelah melempar selimut pada Jeje. Jeje yang melihat Fira menutup pintu, langsung berlari mengejar, dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang buka" ucap Jeje saat mengetuk.


"Nggak mau" ucap Fira dari dalam, dan terdengar oleh Jeje yang di luar.


"Kita udah terlambat, sebaiknya kita bareng mandinya, biar nggak lama"


"Nggak mau, kamu suka bohong bilang mandi nggak lama"


"Dia bilang aku suka bohong??" gumam Jeje mengerutkan keningnya, "Tapi bener juga sih" sesaat dia menyadari ucapan Fira memang benar.


"Kali ini nggak lama beneran?" Jeje masih merayu Fira untuk membukakan pintu. Tapi tak kunjung di bukakan oleh Fira.

__ADS_1


Akhirnya Jeje memilih untuk menunggu, dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.


Setengah jam kemudian Fira keluar dari kamar mandi "Ya ampun, kenapa dia tidak pakai selimut untuk menutupinya" batin Fira yang melihat tubuh polos Jeje.


"Kamu cepat mandi, nanti mama nungguin" ucapnya pada Jeje.


Jeje yang merebahkan tubuhnya di tempat tidur pun, beranjak dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Urusan kita belum selesai ya" ancam Jeje yang kesal di tinggal mandi sendiri oleh Fira.


"Ya, nanti kita selesaikan" ucapanya seraya mendorong Jeje ke dalam kamar mandi.


**


Setelah selesai bersiap Jeje dan Fira menuju ke hotel tempat di adakannya pesta.


"Bukannya aku sudah pasang alarm?, kenapa tidak bunyi?" tanya Fira pada Jeje yang masih fokus menyetir mobilnya.


"Aku mematikannya" jawab Jeje dengan tidak bersalah.


Fira hanya menahan kekesalannya, "Ya ampun dia mematikan alarm?"


Sampai di hotel, Jeje langsung memarkirkan mobilnya. Dia menoleh kesamping, melihat Fira yang nampak masih kesal.


"Jangan marah, aku tahu aku salah matiin alarm"


Fira langsung memutar badannya mendengar Jeje berucap


"Maaf"


Fira yang mendengar kata maaf dari Jeje langsung merasa bersalah, sebenarnya bukan salah Jeje membuat terlambat, karena dirinya juga salah.


"Maafkan aku juga, karena menyalahkan dirimu" ucapnya dengan menatap lekat pada Jeje.


Jeje mengangguk mengiyakan permintaan maaf Fira seraya langsung memeluk Fira.


Pelukan mereka berlangsung hanya sebentar saja, dan Jeje melepas pelukannya beralih menekan Pipi Fira. Fira yang tahu apa masud Jeje pun langsung tersenyum.


"Aku ingin melihat senyum ini mengembang sepanjang pesta, karena ini adalah pesta kita, yang akan menjadi kenang- kenangan indah untuk kita, suatu hari nanti" ucap Jeje membelai wajah Fira.


Fira menganggu mengiyakan kata-kata Jeje. Mendengar kata-kata Jeje membuatnya merasa sangat bahagia, dirinya tidak pernah menyangka, dirinya berada di titik ini. Dimana di nikahi oleh seorang Gajendra Nareswara yang begitu mencintainya.


"Ayo turun, mama pasti menunggu"

__ADS_1


Jeje dan Fira pun menuju kamar hotel yang di sediakan, dan bersiap untuk pesta malam ini.


__ADS_2