Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Tetangga baru


__ADS_3

Setelah penyatuan semalam pagi ini Fira merasa sedikit lelah sekali. Dengan berat Fira mencoba membuka matanya. Dia mulai menyibak selimut dan mengambil bajunya yang berceceran di lantai, karena kegiatan semalam.


"Pagi," sapa Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Pagi." Fira menyapa balik suaminya itu, dengan memberi senyuman. Rasanya melihat dada Jeje yang terbuka dengan tetesan air yang mengalir, begitu membuat Fira terpesona. Entah apa yang membuat Fira engan melepas pandangannya pada tubuh suaminya itu.


Jeje yang melihat Fira memperhatikannya, tersenyum penuh tanya. Dia tahu betul, bahwa istrinya jarang sekali memandangi dirinya yang biasa keluar dari kamar mandi dengan dada terbuka. Fira yang malu selalu saja berusaha menghindar, atau berlalu meninggalkannya. "Apa yang kamu lihat?" tanya Jeje seraya melangkah mendekati istrinya.


Fira menengadah saat Jeje berdiri tepat di hadapannya. Dirinya yang masih duduk di pinggir tempat tidur, membuat dirinya tepat berada di depan dada Jeje. "Aku baru sadar ternyata tubuhmu ini sexy sekali," ucap Fira seraya membelai dada Jeje menyusuri sampai ke perut bak roti sobek milik Jeje.


Jeje yang mendapat sentuhan lembut dari Fira memejamkan matanya sejenak, menikmati sentuhan lembut dari jari jemari Fira. "Apa kamu sedang mengodaku?" Tanyanya pada Fira yang benar-benar sedang menguji dirinya.


"Tidak," elaknya seraya tersenyum.


"Kalau tidak, hentikanlah sentuhanmu itu, atau aku tidak akan bisa menahannya untuk tidak melakukannya," ucapnya seraya mengenggam tangan Fira dengan lembut, memberi peringatan keras akibat dari perbuatan Fira.


Fira yang mendapati Jeje menghentikan aksinya pun hanya tersenyum. Dirinya tahu, suaminya itu tidak akan tahan saat dirinya mengodanya. Dirinya ingat betul bagaimana gelisahnya Jeje menginginkan dirinya semalam, walaupun dia tidak mengodanya. "Iya aku tidak akan mengodamu." Fira berdiri, dan berada tepat di hadapan Jeje.


Satu kecupan tiba-tiba mendarat tepat di bibir Jeje. Dan Fira pun melangkah menuju kamar mandi, sesaat setelah memberi kecupan manis untuk Jeje.


Jeje yang melihat Fira mengecupnya, membulatkan matanya. Rasanya istrinya itu berubah sekali beberapa hari ini. Biasanya Jeje yang selalu memulai lebih dulu, entah itu ciuman atau sekedar kecupan. Tapi sejenak ingatannya kembali pada penyatuannya semalam. Rasanya Fira benar-benar lebih agresif dari biasanya.


Senyum di ujung bibir Jeje pun tertarik, saat mendapati perubahan Fira yang sangat menguntungkan untuk dirinya. Rasanya akan jadi sensasi tersendiri, jika Fira yang lebih dulu memulai.


Fira yang masuk ke dalam kamar mandi, langsung menguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower. Rasanya dia benar-benar menikmati setiap air yang mengalir di tubuhnya. Matanya yang tadi berat, dan masih mengantuk seketika terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Rasa segar di tubuhnya pun membuatnya lebih bersemangat pagi ini.


Setelah rutinitasnya mandi selesai. Fira keluar dari kamar mandi. Saat Fira keluar, di melihat Jeje sedang memakai kemeja putih, dan setelan jasnya di depan kaca. Fira akhirnya berlalu mengambil bajunya dan memakainya.


Setelah selesai memakai baju, Fira menuju meja rias untuk memoles wajahnya. Tapi belum langkahnya sampai di meja rias. Jeje sudah menghadangnya, dengan memberikan dasinya kepada Fira. Fira yang tahu maksud Jeje pun menerima dasi yang di berikan Jeje. Fira memakaikannya di kerah baju Jeje. Tubuh Jeje yang lebih tinggi membuatnya sedikit menunduk, agar Fira tidak kesulitan.


Sesaat selesai memasangkan dasi pada Jeje, Fira langsung beralih ke meja rias dan memoles wajahnya. Tapi saat sedang asik memoles wajahnya di depan cermin, indra penciuman Fira mengendus wangi yang seketika membuat perutnya bergejolak.


Perutnya yang terasa mual, akhirnya membuat Fira menghentikan kegiatan memoles make up di wajahnya dan berlalu ke kamar mandi.


Fira langsung muntah sesaat sampai di kamar mandi. Perutnya yang kosong, hanya memuntahkan sedikit isi dalam perutnya. Rasanya perut Fira benar-benar tidak nyaman, saat tidak ada yang keluar dari perutnya.


Jeje yang melihat Fira, berlalu ke kamar mandi, langsung mengejar Fira. "Sayang," panggil Jeje seraya membuka pintu.


"Berhenti." Fira yang mendengar Jeje membuka pintu langsung melarang Jeje untuk masuk.


Jeje yang mendengar larangan Fira langsung berhenti. Dia merasa sangat bingung, kenapa Fira melarangnya. "Sayang kamu kenapa?" tanya Jeje memastikan.


"Ganti bajumu sekarang juga, dan jangan semprotkan parfum di bajumu," ucap Fira masih dengan mencoba untuk memuntahkan isi perutnya.


Dahi Jeje langsung berkerut saat mendapati permintaan Fira untuk menganti bajunya. Dalam hantinya bertanya kenapa harus ganti baju, padahal dirinya sudah rapi. Tidak ada pilihan bagi Jeje, selain menuruti keinginan Fira. Akhirnya Jeje pun berlalu untuk menganti bajunya, meninggalkan Fira yang masih di kamar mandi.


Fira yang sudah selesai dengan muntahnya, keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia masih mencium aroma parfum Jeje. Akhirnya dia memilih langsung keluar dari kamar, dan menuju sofa di depan tv.


Fira langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia memejamkan matanya, merasakan sensasi yang di ciptakan oleh perutnya. Dan rasanya benar-benar tidak enak.

__ADS_1


Jeje yang sudah selesai menganti baju pun keluar mencari Fira. "Sayang kamu kenapa?" Tanyanya melihat Fira yang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Jeje melangkah mendekat pada Fira dan berjongkok di samping Fira.


"Parfum mu begitu menyengat, dan aku tidak suka," ucap Fira yang memberitahu Jeje kenapa dia bisa sampai tiba-tiba muntah.


"Jadi kamu muntah karena parfum ku?" tanyanya memastikan. Dan Fira mengangguk. Jeje hanya bisa memijat keningnya. Batinnya hanya bisa berkata, bagaimana bisa Fira muntah karena mencium aroma parfumnya. Tapi Jeje ingat, dengan artikel yang di bacanya, kalau indra penciuman ibu hamil lebih sensitif.


"Apa aku perlu menganti parfum ku dengan yang lain?" Jeje yang merasa tidak suka saat tidak memakai parfum pun memcoba mencari solusi.


"Aku rasa tidak perlu. Sebaiknya kamu jangan memakai parfum terlebih dahulu selama aku hamil."


Jeje hanya bisa menghela nafasnya, saat Fira meminta tidak memakai parfum selama dia hamil. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dia tidak memakai parfum. Tapi melihat Fira muntah saat mencium parfumnya, Jeje merasa tidak tega. "Baiklah."


Jeje membelai rambut Fira, "Sebaiknya kamu istirahat saja. Tidak perlu ke kantor."


Fira yang merasa tubuhnya lemas pun mengangguk. Dirinya tidak mau nanti di kantor membuat Jeje kesusahan. Dan lebih memilih menuruti ucapan Jeje.


"Ayo bangun, dan makan lah dulu. Baru nanti kamu istirahat." Jeje langsung membantu Fira untuk duduk, dan berdiri menuju ke meja makan.


Dengan malas Fira memakan sandwich yang sudah di siapkan Jeje. Mengigit dan mengunyah dengan malas sandwich miliknya. Dirinya tidak mau sampai tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutnya. Dan berakibat buruk untuk kandunganya.


"Minumlah," Jeje menyodorkan segelas susu ibu hamil untuk Fira. Dan Fira langsung meminumnya perlahan-lahan, agar tidak membuat perutnya mual kembali.


Setelah selesai Jeje mengantar Fira kembali ke kamar, untuk beristirahat. "Aku akan ke kantor, siang nanti pesanlah makanan lewat aplikasi. Aku akan usahakan untuk pulang cepat," ucap Jeje, dan Fira mengangguk menjawab ucapan Jeje. Jeje langsung mengecup kening Fira untuk berpamitan. Dan berlalu melangkah keluar dari kamar, untuk berangkat berkerja.


***


Fira mengerjap, saat perutnya mulai berbunyi karena merasa lapar. Fira pun membuka perlahan matanya, dan mengedarkan pandangan mencari jam dinding. Jam masih menunjukan pukul sepuluh. Tapi perutnya sudah berdemo minta di isi.


Setelah Fira menunggu sekitar tiga puluh menit, terdengar suara bel apartemennya. "Itu pasti pesanan pizza ku," gumam Fira seraya melangkah keluar kamarnya menuju pintu apartemen.


Fira membuka pintu, dan melihat kurir pengantar makanan berdiri tepat di depan pintu. Setelah menanyakan nama pemesan, dia langsung menyerahkan kepada Fira, setelah memastikan kalau Fira lah pemesannya.


Setelah menerima pesananya, Fira berbalik untuk masuk ke dalam apartemennya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang, yang baru saja keluar dari apartemen sebelah.


"Hai, apa kamu penghuni baru di apartemen itu?" tanya Fira yang melihat wanita cantik dengan tinggi sekitar 178cm. Kulit putih dan mulusnya yang begitu terlihat sangat terawat, membuat Fira terpesona akan kecantikan wanita lain.


"Iya," ucapnya pada Fira. " Perkenalkan aku Celia." Wanita itu mengulurkan tangannya pada Fira.


"Fira." Fira menerima uluran tangan Celia. Fira tidak menyangka kalau Jeje sudah menjual apartemen, dan sudah menemukan pembelinya.


"Senang bertemu denganmu Fira." Senyum mengembang di wajah cantik Celia, saat mengungkapkan kebahagiaan mendapatkan tetangga baru.


"Senang juga bisa bertemu denganmu. Ternyata aku punya tetangga baru." Fira pun membalas senyuman Celia dengan senyuman juga. "Apa kamu mau pergi?" tanya Fira, yang melihat Celia menggantungkan tas di bahunya.


"Iya, aku mau mencari makanan."


Fira yang mendengar ucapan Celia yang mau mencari makanan pun melihat box pizza yang berada di tangannya. " Mau makan bersama denganku, kebetulan aku memesan pizza dengan ukuran large." Fira yang merasa tidak akan habis memakan pizza yang di pesannya pun menawari Celia.


"Apa kamu tidak takut menawari orang yang baru saja kamu kenal?" tanya Celia sedikit heran karena semudah itu Fira menawarinya.

__ADS_1


"Aku rasa kamu orang baik," ucap Fira polos.


Celia pun tersenyum. " Terimakasih sudah percaya kalau aku orang baik."


"Ayo, silahkan masuk." Fira melebarkan pintu apartemennya, dan mempersilakan Celia masuk.


Celia yang di persilahkan masuk pun melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen Fira, mengekor di belakang Fira. Penampakannya apartemen Fira tidak jauh berbeda dengan apartemennya. Batin Celia, mungkin dua apartemen ini sama-sama di design oleh orang yang sama.


"Silahkan duduk." Fira mempersilahkan Celia untuk duduk. Fira langsung meletakkan Pizza di atas meja makan, dan membukanya. Mereka berdua pun memulai memakan slice demi slice pizza yang berada di atas meja.


"Apa kamu tinggal sendiri?" tanya Fira pada Celia, di sela-sela makan.


"Iya, aku tinggal sendiri."


"Apa perkerjaanmu?" tanya Fira lagi.


"Aku seorang model," ucapnya pada Fira. Fira yang mendengar Celia adalah model mangangguk. Dalam hatinya berkata pertama kali Fira melihat Celia. Fira merasa Celia cantik bak model. Dan ternyata dia memang benar seorang model.


"Kalau kamu?" tanya Celia menanyakan perkerjaan Fira.


"Aku sekertaris."


Celia yang mendengar Fira hanya seorang sekertaris sedikit kaget. Bagaimana tidak dia kaget, karena apartemen yang di tempati oleh Fira dan dirinya adalah apartemen mewah. Dan untuk ukuran sekertaris, mana mungkin Fira bisa tinggal disini. Tapi dirinya tidak mau mencampuri urusan orang lain, dan memilih diam.


Setelah mereka sibuk berbincang, Celia mengakhiri obrolan, dan makannya dengan berpamitan. Celia beralasan ada pemotretan setelah dari apartemen Fira.


Fira pun mengerti kesibukan Celia, dan mengantar Celia sampai di depan pintu apartemennya.


"Terimakasih untuk sarapan menjelas siangnya fir," ucap Celia pada Fira.


"Sama-sama."


"Lain kali kamu harus gantian untuk ke apartemen ku untuk makan juga."


"Tentu." Fira yang mendapat tawaran pun tersenyum.


"Da, fir. " Celia langsung melangkahkan kaki pergi.


Fira yang melihat Celia sudah pergi, berbalik dan menutup pintu.


.


.


.


.


Buat kalian yang sudah suka membaca cerita Terjebak Cinta Majikan jangan lupa luangkan waktu untuk klik like, dan juga Vote karya Myafa. Tapi aku nggak memaksa ya..🥰

__ADS_1


Semoga kalian selalu suka ceritanya💞


Buat kalian yang mau tanya-tanya sama Myafa bisa gabung di grup ya. Terimakasih


__ADS_2