Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Nggak terpesona


__ADS_3

Sesampainya di gedung kantor Jeje, Adhi memarkirkan mobilnya di parkiran kantor. Fira dan Adhi berjalan menuju lift, tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti saat ada yang memanggil Fira. Fira pun menoleh mendapati Naila temannya dulu.


"Nayla," Fira seraya memeluk Nayla.


"Kamu apa kabar, kemana aja?"


Saat mendapat pertanyaan itu Fira sedikit bingung harus menjawab apa, "Aku kerja keluar kota nay," Fira terpaksa memilih berbohong. Dirinya tidak mungkin mengatakan, dia pergi karena orang tua Presdir tempat mereka berkerja.


"Pantes kamu keluar kerja tiba-tiba, ternyata kamu keluar kota, terus sekarang kamu ngapain kesini?"


"Ngalamar kerja lagi ya disini?" tanya Naila antusias.


"Nggak nay, aku disini hanya numpang karena kantor aku belum jadi."


"Oh kamu karyawan kantor, yang mau pakai lantai lima belas ya?" ucap Naila.


"Iya."


Saat Nayla sedang mengobrol dengan Fira, dia melirik ke arah sebelah Fira. Nayla melihat seorang pria tampan, dengan tinggi ideal, "Siapa dia?" tanya Nayla yang ingin tahu.


"Oh dia anak rekan bisnis Pak Gajendra nay, temen kuliah aku sama Zara juga," jelas Fira, "Kenalin nay." Fira menarik lengan Adhi dan mengenalkan dengan Naila.


"Adhi." Adhi mengulurkan tangannya.


"Naila," ucap Naila dengan senyum manis sersaya menerima uluran tangan Nayla.


Akhirnya mereka masuk bersama-sama ke dalam lift.


" Kalian bakal lama di gedung ini,?"


"Sepertinya sampai menunggu, gedung yang sedang di bangun selesai," jelas Fira.


Nayla mengangguk mengerti, sepanjang bercerita dengan Fira, Nayla memperhatikan Adhi.


Fira dan Nayla sedikit bercerita, dan cerita mereka berakhir, saat Fira keluar lebih dulu karena Fira ada di lantai 15, sedangkan naila di lantai 17.


"Temen kamu kayanya terpesona sama aku fir," sombong Adhi pada Fira sesaat setelah keluar lift.


"Percaya diri sekali kamu." Fira menatap sinis pada Adhi


"Ya kamu lihatkan reaksi dia tadi lihat aku, siapa sih wanita yang nggak terpesona lihat aku, gini-gini aku juga ganteng."


"Ada kok yang nggak terpesona," jawab Fira.

__ADS_1


Adhi mengerutkan keningnya, "Siapa?"


"Aku," jawab Fira seraya tertawa.


"Cuma kamu doang fir yang nggak terpesona"


Fira yang melihat Adhi cemberut dan diam saja langsung menarik lengan Adhi. "Iya..iya..ganteng dah jangan cemberut lagi."


Adhi pun tersenyum setelah Fira membujuknya. Adhi merasa dia tidak bisa marah dengan wanita di sampingnya itu.


"Syukur kalau kamu sadar aku ganteng."


"Ya, ganteng tapi nggak punya pacar sama aja."


"Kayak kamu punya aja," sindir Adhi tak mau kalah.


Fira tersenyum mendengarkan kata Adhi, dirinya baru saja mengakhir hubungan dengan Jeje, yang berarti dia tidak memiliki kekasih.


"Kamu nggak mau buka hati fir?"


Fira yang menoleh saat mendapat pertanyaan dari Adhi. "Membuka hati?" Rasanya dia belum bisa membayangkan sejauh itu. "Aku masih butuh waktu dhi, sepertinya aku harus belajar melupakan dulu, baru membuka hatiku."


"Aku akan membantumu fir"


"Nungguin kamu," jawab Adhi seraya berjalan lebih dulu, meninggalkan Fira di depan lift.


Seketika Fira tertegun mendengar ucapan Adhi. "Menunggu ku?"


***


Fira dan adhi sampai di ruangannya. Fira merapikan beberapa berkas yang di bawanya dari luar negeri.


"Sementara, kita akan meminta karyawan Bang Jeje membantu, sebelum kita pindah ke kantor yang baru dan menerima karyawan baru."


"Berarti setelah kita pindah kantor, akan buka lowongan baru ya," Fira memastikan. Dan Adhi mengangguk.


"Oh ya dari kemarin ada yang aku mau tanyakan," ucap Fira saat dia mengingat sesuatu.


"Apa?" Adhi yang sedang merapikan mejanya, menatap Fira.


"Apa kamu sengaja meminta Tuan Edward untuk aku berkerja dengan mu?" Dari kemarin sebenarnya Fira ingin menanyakan hal ini. Tapi karena sibuk Fira lupa menanyakannya.


"Menurutmu?"

__ADS_1


Fira sudah menduga Adhi lah yang meminta Tuan Edward, agar dia membantuya. " Kenapa harus aku?"


"Aku ingin pelan-pelan kamu kembali kesini, aku ingin mengembalikan kehidupanmu lagi fir," Adhi menatap Fira meyakinkan lagi untuk kesekian kalinya.


Fira sangat senang memiliki teman seperti Adhi yang begitu peduli dengannya. Terimakasih dhi. "


Adhi pun mengangguk, "Semoga semua rencanaku mengembalikan kehidupanmu seperti semula berhasil fir."


**


Selang beberapa saat, Jeje dan Reza datang menghampiri Adhi dan Fira, di ruangannya. Mereka berencana meeting untuk rencana perusahaan Tuan Edward.


"Duduk Bang." Adhi mempersilahkan Jeje untuk duduk.


"Nggak usah kamu suruh duduk, aku juga akan duduk, kalau kamu lupa ini kantor aku juga," sindir Jeje.


"Oh ya aku yang lupa, kalau aku yang numpang disini," Adhi tersenyum.


"Jadi bersikaplah baik saat disini." Jeje menatap tajam pada Adhi.


"Baiklah," ucap Adhi malas, " Apa ini asisten Abang?" tanya Adhi saat melihat seorang pria di samping Jeje.


"Kenalkan saya Reza, asisten Presdir," ucap Reza memperkenalkan diri, seraya mengulurkan tangan.


"Adhi, teman adik Bang Jeje, teman mantan kekasih Bang Jeje, Dan calon Presdir perusahaan baru," ucap Adhi mengenalkan diri, seraya menerima uluran tangan Jeje.


"Teman mantan kekasih," ucap Jeje geram mendengar Adhi mengenalkan diri. Jeje langsung menatap tajam pada Adhi.


"Iya Fira mantan kekasih Abang kan?" tanyanya memastikan. " Iya kan fir?" Adhi beralih pada Fira.


Fira yang melihat hanya memijat keningnya, dari tadi tadi pagi, dia melihat Adhi yang selalu mengoda Jeje. Melihat Jeje dan Adhi, Fira seperti melihat tom dan jerry. Rasanya dia akan terbiasa nanti untuk lihat perdebatan mereka.


Jeje yang melihat Adhi menanyakan pada Fira, langsung menatap Fira. Dia ingin tahu Fira akan menjawab apa, atas pertanyaan Adhi.


"Bisakah kita melanjutkan perkerjaan," ucap Fira mengakhiri, perdebatan antara Adhi dan Jeje. Fira memilih tidak menjawab apa pun pertanyaan Adhi.


Jeje yang mendengar Fira memilih mengalihkan pembicaraan, hanya tersenyum tipis. Sedang Adhi yang mendengar Fira mengalihkan pembicaraan, tahu kalau Fira sedang menghindar.


Akhir mereka melanjutkan perkerjaan, dan mengakhiri perdebatan mereka. Karena kedatangan Jeje keruangan Adhi, untuk meeting. Mereka membahas tentang perencanaan ke depan untuk perusahaan baru Tuan Edward. Saat mereka membahas, mereka juga menghubungi Tuan Edward melalui sambungan vidio.


Jeje menjelaskan beberapa hal dalam sambungan vidio kepada Tuan Edward. Dan memberi tahu bahwa, kantor yang sedang di bangun.


Jeje memberitahu beberapa hal yang harus di kerjakan oleh Adhi. Adhi pun mendengarkan dengan baik setiap yang di katakan oleh Jeje. Walaupun Adhi terbilang baru, tapi Adhi cukup cepat untuk mengerti yang di jelaskan oleh Jeje. Tuan Edward pun merasa senang, Adhi mengerti yang di jelaskan oleh Jeje.

__ADS_1


Akhirnya mereka mengakhiri sambungan telepon saat semua pembahasan sudah selesai.


__ADS_2