Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Kepergian Fira


__ADS_3

Tok..tok...


Tok....tok....


Tok...tok....


"Mungkin mereka nggak ada di rumah, je."


"Kita tunggu dulu ma, mungkin mereka di dalam tapi nggak denger," ucap Jeje, dan mencoba mengetuk kembali rumah Fira.


Tok...tok...


Tok...tok...


"Coba kamu tanya tetangganya saja je," ucap papa Jeje.


"Baik, Pa."


Pagi ini Jeje dan orang tuanya datang ke rumah Fira sesuai permintaan Jeje kemarin pagi pada kedua orang tuanya.


"Jeje yakin Bu Ani akan mengizinkan kalau mama dan papa yang membicarakan ini."


"Jeje mohon, Ma, Pa. Jeje ingin menikahi Fira karena Jeje mencintai Fira."


"Baiklah besok pagi kita ke rumah Fira untuk membicarakan ini," ucap Bu Inan kepada Jeje.


"Terimkasih banyak, Ma."


Jeje merasa lega, karena orang tuanya menyetujui untuk melamar Fira.


"Permisi, apa ibu kenal dengan Bu Ani dan Fira yang rumahnya di situ." Jeje bertanya pada tetangga yang kebetulan melintas, seraya menunjuk rumah Fira


"Iya kenal, Mas."


"Kira-kira ibu tahu tidak kemana perginya mereka, karena dari tadi saya ketuk tidak ada yang keluar dari rumah," jelas Jeje.


"Oh...mereka pergi, Mas."


Jeje mengerutkan dahinya, saat mendengar ucapan tetangga Fira


"Pergi? maksudnya pergi kemana?" tanyanya ingin tahu.

__ADS_1


"Saya kurang tahu mas kalau kemana, tapi semalam mereka membawa koper besar dan naik mobil."


"Bawa koper besar?" gumam Jeje.


"Terimakasih Bu infonya."


Jeje melangkah kembali mendekati orang tuanya, yang masih berdiri di depan rumah Fira. Dia masih bingung mendapati jawaban dari tetangga Fira. Jeje yang mendengar kalau Fira dan bu Ani pergi dengan membawa koper besar, masih memikirkan kemana mereka pergi.


"Gimana je?" tanya Bu Inan pada putranya.


"Mereka pergi ma." Jeje mengucapkan dengan mata kosong. Dia tidak menyangka Fira akan pergi meninggalkannya.


"Pergi kemana maksud kamu je?" tanya bu Inan pura-pura panik.


"Kata tetangga mereka pergi bawa koper ma semalam"


"Ya sudah kita pulang dulu aja nanti kita hubungi Fira sesampainya dirumah" bu Inan mencoba menenangkan Jeje.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


**


Sesampainya dirumah, Jeje menghubungi Fira, tapi nomer Fira tidak bisa di hubungi. Jeje juga menghubungi nomer bu Ani yang di mintanya dari mamanya, tapi juga tidak mendapati jawaban. Ponsel mereka berdua tidak dapat di hubungi.


"Kamu kemana fir," Jeje benar-benar frustrasi. Jeje benar-benar tidak tahu harus kemana mencari Fira.


"Aku harus hubungi siapa, aku harus tanya siapa."


Jeje memutar otaknya untuk memikirkan cara menemukan Fira. Sampai dia teringat satu nama setelah Zara, yaitu Adhi.


Jeje langsung menghubungi Daffa, menanyakan apa Adhi ada di rumah, dan Daffa mengatakan mereka masih di rumah. Jeje langsung melajukan mobilnya menuju rumah Daffa untuk menemui Adhi.


Jeje langsung mengetuk pintu rumah Adhi, dirinya benar-benar tidak sabar menunggu Adhi, untuk tahu dimana Fira.


Pintu di buka, dan Jeje melihat Adhi sendiri yang membuka pintu.


"Bang Jeje," ucap Adhi kaget saat melihat Jeje lah yang mengetuk pintu.


"Ada apa tumben kesini?" tanya Adhi yang memang jarang melihat Jeje ke rumahnya.


"Ada perlu sebentar."

__ADS_1


Saat Adhi sedang menanyakan kenapa Jeje ke rumahnya, Adhi mendengar teriakan dari dalam rumah, "Siapa dhi?" tanya Daffa dari dalam rumah.


"Bang Jeje, Bang," jawab Adhi pada Daffa.


Daffa yang melihat Adhi membuka pintu, sudah menebak siapa yang datang, karena Jeje sudah menghubunginya tadi.


"Ayo masuk, Bang." Adhi mempersilakan Jeje untuk masuk, dan duduk di ruang tamu.


"Ada urusan apa bro cari Adhi?" tanya Daffa yang bingung kenapa Jeje mencari adiknya.


Daffa yang melihat raut wajah Jeje seperti tidak bersahabat, menjadi was-was, di tambah lagi dia mencari Adhi, Daffa hanya bisa menebak pasti ini berhubungan dengan Fira.


"Bang Jeje cari aku? ada apa?" tanya Adhi yang baru tahu kalau Jeje mencarinya bukan mencari Daffa.


"Apa kamu tahu Fira dimana?" Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Jeje.


"Fira? maksud Abang apa? kenapa tanya keberadaan Fira sama aku?" Adhi bingung dengan sikap Jeje, yang tiba-tiba datang dan menanyakan keberadaan Fira padanya.


"Kata tetangganya Fira dan ibunya pergi dengan koper besar?" jelas Jeje dengan nada frustrasi.


"Aku nggak tahu Fira kemana, Bang," jawab Adhi.


Jeje yang mendengar jawaban Adhi, bingung harus mencari Fira kemana lagi. Adhi yang menjadi tujuannya setelah Zara juga tidak mengetahui.


"Loe dah coba hubungi Fira bro?" Daffa mencoba menengahi, dan menanyakan usaha Jeje untuk mencari Fira.


"Udah tapi nomer ponsel Fira dan ibunya nggak bisa di hubungi." Jeje mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar frustrasi mencari Fira.


"Sebenanya ada apa bang sampai Fira pergi?, apa yang Abang lakuin sampai dia pergi?" Adhi dah mulai terpancing emosinya. Dirinya tahu betul, Fira tidak akan pergi jika tidak ada alasan yang membuatnya pergi.


"Selama ini orang tua kami belum mengetahui hubungan kami. Sampai saat ibu Fira mengetahuinya. Bu Ani memintaku untuk tidak menemui Fira lagi, dan memutuskan hubungan kami. Bu Ani beralasan karena bu Ani merasa tidak enak dengan orang tuaku yang selama ini sudah baik." Jeje menjelaskan dengan berat, bagaimana dirinya harus berpisah dengan wanita yang di cintainya, karena ibu Fira tidak menyetujuinya.


Daffa dan Adhi mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Jeje, dan memilih diam, dan tidak menanggapi sebelum Jeje selesai bicara.


"Tapi setelah aku jelaskan kepada orang tuaku, mereka tidak keberatan. Dan tadi pagi kami datang ke rumah Fira, berniat untuk melamar Fira tapi kami mendapati Fira dan ibunya sudah pergi." Jeje menceritakan semua usahanya untuk mendapatkan Fira. Tapi kenyataanya Fira memilih pergi untuk meninggalkanya, tanpa memberi tahu Jeje sama sekali.


"Aku sudah berusaha meyakinkan orang tua ku, tapi dia kenapa dia tidak meyakinkan ibunya." Jeje meluapkan kekecewaannya pada Fira yang tidak berusaha seperti dirinya.


Jeje benar-benar kecewa, disaat dirinya sudah berusaha susah payah membujuk orang tuanya dan berniat melamarnya, Fira malah pergi meninggalkannya. Padahal dia sudah berharap Fira akan berusaha juga seperti halnya dirinya.


Adhi yang mendengar ucapan Jeje merasa sedikit kesal. Dari yang Adhi dengar, Jeje seolah menyalahkan Fira yang memilih pergi, di banding berjuang bersama Jeje.

__ADS_1


Adhi yang mendengar Jeje masih sempat menyalahkan Fira dalam situasi ini menjadi emosi.


__ADS_2