
Adhi yang masuk dengan kesal tiba-tiba menghubungi seseorang.
"Ma datanglah dengan Bu Ani, Fira akan menikah besok." kata-kata yang terucap oleh Adhi di sambungan telepon.
Setelah sambungan teleponnya mati, Adhi nampak masih menghubungi seseorang.
"Siapkan semua, Bu Ani dan mamaku akan kemari."
Setelah Adhi sibuk mengurus semua, Adhi kembali ke ruang tamu. Di sana dia melihat Fira yang masih duduk dengan pandangan kosong. Dia melangkahkan kakinya menghampiri Fira. "Fir," panggil Adhi untuk menyadarkan dari lamunannya.
"Kenapa dhi?, kenapa jadi begini?" tangis Fira pecah, dia meluapkan kekecewaanya. Fira benar-benar tidak terima, dirinya di jadikan tumpuan kesalahan atas cintanya. Nyonya inan yang mengangapnya penghalang, membuat Fira benar-benar terluka. Rasanya Fira merasa kehidupan tidak adil padanya. Dirinya yang selalu jadi korban, dari semua keinginan orang-orang, dan merasa semua orang begitu jahat padanya.
"Sabarlah semua akan baik-baik saja esok." Adhi mencoba menenangkan Fira.
"Esok seperti apa maksudmu?" Fira menatap tajam pada Adhi.
"Esok disaat kamu menikah, karena itu akhir dari semua kesedihan dan lukamu." Adhi menjawab masih dengan tenang. Dia tahu wanita di hadapannya sedanh begitu bersedih.
"Kenapa kamu bilang besok aku mau menikah dhi?" tanya Fira yang masih tidak terima dengan apa yang Adhi katakan.
"Kamu lihat kan fir, Tante Inan akan mengirimmu lebih jauh, dan aku tidak mau itu terjadi." tegas Adhi pada Fira yang masih terisak.
"Biarkan saja Nyonya Inan mengirimku lebih jauh, aku tidak perduli lagi, dia akan mengirimku kemanapun," teriak Fira meluapkan kekesalananya, dengan mengucap dengan setengah teriak.
"Tapi aku perduli fir," bentak Adhi yang tak kalah hilang kesabarannya. Rasanya Adhi benar-benar kesal dengan wanita di hadapannya ini. Dia benar-benar tidak memperdulikan orang di sekitarnya, yang begitu menyayanginya.
Adhi mengenggam tangan Fira. "Kamu kemarin janji tidak akan pergi jauh lagi, mana janji kamu fir?" tanya Adhi dengan nada yang sudah lebih rendah. Rasanya Adhi juga terluka saat melihat Fira harus pergi jauh.
"Aku tahu ini berat, tapi cuma ini cara agar kamu hidup normal. Bu Ani juga ingin tinggal di negara ini, menikmati hari tuanya, apa kamu akan membiarkan untuk ikut denganmu pergi jauh menghindar terus?" Adhi menatap Fira mencoba meyakinkan Fira.
__ADS_1
Fira masih terisak, dan tak menjawab apapun. Fira berfikir, kali ini Adhi benar, kalau dia tidak bisa mengorbankan ibunya terus menerus, untuk menanggung semuanya. Ibunya juga ingin menikmati masa tuanya di rumahnya, rumah peninggalan ayahnya.
"Tapi aku tidak bisa dhi," jawabnya masih dengan terisak.
"Terkadang kita harus di paksa untuk melakukan sesuatu fir, tapi kita tidak pernah tahu bahwa paksaan itu lah yang membuat kita sadar, bahwa itu yang terbaik." Adhi mengusap, menghapus air mata Fira
"Istirahatlah sekarang, bersiaplah untuk besok, percayalah padaku semua akan baik." ucapnya, "Aku pulang dulu," pamit Adhi pada Fira.
Setelah Adhi pergi, Fira hanya terisak di dalam kamar memikirkan kenapa harus begini hidupnya. Kenapa cintanya dengan Jeje, tak berujung bahagia bersama Jeje. Fira mengingat, pertama ibunya melihat, dan membuatnya pergi dari Jeje, kedua mama Jeje yang melihat, dan membuat Fira harus menikah.
Fira menangis meratapi, betapa buruk akhir cintanya. Fira yang menangis hingga membuatnya lelah, dan dia tertidur.
**
Ting..tong...
Suara bel apartemen berbunyi.
Fira beranjak dari tempat tidur, melangkah menunju pintu untuk membuka pintu
Ceklek
"Fira, kamu lama sekali sih, aku sudah berkali-kali menekan bel tapi kamu nggak buka-buka," suara Zara yang berisik menyambut Fira di pagi ini, saat membuka pintu.
Zara langsung masuk, dan menuju ke dapur. Dia mengambil air minum di lemari es, dan langsung meminumnya. "Apa kamu tahu, aku menunggumu sampai kehausan," ucap Zara yang sedang meminum air putih dingin menghilangkan dahaganya, akibat mengomel menunggu Fira tadi.
Fira yang mendapati sikap Zara hanya diam dan tak bersuara. Dia begitu malas menjawab, ocehan Zara. Rasa malas benar- benar menghampiri Fira hari ini.
"Ayo bersiaplah" Zara mendorong tubuh Fira untuk masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Fira yang didorong oleh Zara seketika menghentikan langkahnya, "bersiap untuk apa?" tanyannya binggung.
"Untuk pernikahanmu, untuk apa lagi?" Zara menjawab dengan enteng.
Sejenak Fira mengingat, kalau semalam Adhi mengatakan, kalau Fira akan menikah hari ini juga, agar tidak jadi penghalang untuk Jeje. Fira pikir semalam hanya mimpinya, tapi ternyata semua adalah kenyataan yang harus dia hadapinya.
Rasanya Fira ingin pergi untuk menghindari semua ini. Tapi fikirannya tertuju pada kata-kata Adhi, bahwa ibunya akan jadi korban, kalau Fira hanya menghindar terus.
Zara yang menyadari kesedihan Fira mencoba menenangkan. Zara memeluk Fira, Fira yang di peluk sebenarnya ingin menangis, tapi air matanya sudah serasa kering, "Semua akan baik-baik saja fir."
Akhirnya Fira tidak ada pilihan lain, dirinya pun memilih bersiap. Setelah selesai bersiap, Zara mengantarkan Fira ke rumahnya. Karena acara pernikahan Fira akan di adakan di rumahnya.
Sepanjang jalan Fira hanya diam, dan tak membuka pembicaraan apa pun dengan Zara. Pandangannya kosong, memikirkan bagaimana bisa dia jalan hidupnya seperti ini.
"Ayo turun," ajak Zara pada Fira seraya membuka pintu mobil.
Fira yang mendengar Zara mengajaknya turun langsung tersadar. Fira mengedarkan pandangan, dan menyadari bahwa dia sudah di depan rumahnya. Dari balik kaca mobil dia melihat rumahnya seketika berubah. Fira melihat rumahnya kini sudah dengan decor-decor pernikahan, seolah sudah siap menyambut dirinya.
Fira pun turun dari mobil, berjalan ke arah rumahnya. Saat di depan pintu dia melihat ibunya yang sedang menyambutnya. Entah sejak kapan Ibunya sudah ada di rumahnya, Fira sendiri tidak tahu.
Bu Ani langsung memeluk putrinya, menyalurkan rasa rindu dan bahagia. Fira yang di peluk pun hanya bisa menangis.
"Kenapa calon pengantin menangis," goda Bu Ani seraya menghapus air mata Fira.
"Ini hari pernikahanmu, jangan menangis nak." Bu Ani memberi senyuman untuk Fira menandakan bahwa dia bahagia.
Fira yang melihat ibunya bahagia tak bisa berbuat apa-apa. Fira mengingat dengan benar, sejak hubungannya dengan Jeje, dan harus meninggalkan negara ini, Fira sudah tak melihat senyum bahagia ibunya lagi.
Fira berfikir mungkin inilah akhir dari semuanya.
__ADS_1
"Bersiaplah sayang, wajah cantik ini akan di rias menjadi lebih cantik," ucap bu Ani seraya membelai wajah Fira.