Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Melihatmu bahagia


__ADS_3

"Aku sudah janji bukan, kalau hari ini aku akan mengajakmu jalan-jalan," ucap Raka pada Fira.


"Apa kakak hari ini tidak berkerja?"


"Aku akan berkerja, dan nanti sebelum jam makan siang aku akan pulang. Dan kita bisa jalan-jalan." Raka tersenyum pada Fira. Dirinya tahu Fira sangatlah bosan di rumah, maka dari itu dia berniat mengajaknya jalan-jalan.


Fira pun ikut tersenyum, mendengar Raka akan meluangkan waktu untuknya. Paling tidak, dirinya bisa melupakan kesedihannya terlebih dahulu.


"Ayo, ibu sudah menunggu kita untuk sarapan." Raka yang berniat memanggil Fira tadi, urung di lakukan karena melihat Fira yang terlihat habis menangis.


Fira berdiri dan melangkah menuju ke meja makan. Di meja makan sudah ada ibunya yang menantinya.


Menarik kursi, Fira mengambil makanan dan meletakkan di piringnya.


"Usahakan di maksa makan, jangan sampai perutmu kosong," ucap Bu Ani pada Fira.


Sebenarnya Fira malas sekali untuk makan, mengingat apa yang sedang di rasanya. "Iya, Bu." Fira menyadari saat dirinya hamil, yang makan bukanlah dirinya saja, tapi juga buah hatinya dalam perut.


**


Jeje terus menghubungi Fira, tapi Fira tidak mengangkat sambungan teleponnya. Rasanya Jeje benar-benar tersiksa, dengan sikap Fira padanya.


"Apa aku keterlaluan menuduhnya?" tanya Jeje pada dirinya sendiri.


Emosi yang begitu menglingkupinya benar-benar menyiksanya. Jam menunjukan masih dini hari. Akhrinya Jeje memilih memejamkan matanya terlebih dahulu, sebelum dirinya mengadakan pertemuan dengan Tuan Edward dan Adhi.


**


Setelah selesai mandi, Jeje bersiap untuk ke kantor Tuan Edward. Sesekali Jeje melihat ponselnya. Pikirnya siapa tahu Fira menghubunginya. Tapi nihil, tidak ada notifikasi yang menunjukan Fira menghubunginya


Dalam keadaan seperti ini, ingin rasanya Jeje kembali dan menemui Fira. Karena hari ini, pikirannya hanya tertuju pada Fira.


Tapi Jeje menyadari, jika tanggung jawabnya harus dia selesaikan. Berkerja sama dengan Tuan Edward dan mengajari Adhi adalah tanggung jawab yang dia harus laporkan pada Tuan Edward. Dan Jeje tidak bisa meninggalkan begitu saja.


Saat di rasa dirinya sudah siap, Jeje berlalu keluar hotel. Dengan menaiki mobil yang sudah di siapkan Tuan Edward, Jeje menuju kantor Tuan Edwrd.


Sesampainya di kantor Tuan Edward, Jeje langsung menuju ruangan Tuan Edward. Sekertaris Tuan Edward, mengarahkan Jeje untuk ke ruang meeting karena disana sudah ada Adhi dan Zara.


"Pagi," sapa Jeje seraya mengulurkan tangannya pada Zara dan beralih pada Adhi, saat sudah masuk ke dalam ruang meeting.


"Pagi," jawab Zara.


"Pagi," jawab Adhi menerima uluran tangan Jeje. "Sepertinya Bang Jeje kurang tidur?" tanya Adhi saat melihat wajah lesu Jeje.


"Iya," jawab Jeje sedikit mendegus.


"Kenapa?"


"Fira tidak mengangkat teleponku dan..." Saat mendapatkan pertanyaan dari Adhi tanpa sengaja Jeje mengatakannya. Tapi dia berhenti saat di rasa ragu mengatakan pada Adhi.


"Fira baik-baik saja kan, Bang?" tanya Adhi pada Jeje. Dalam keadaan Fira yang hamil, banyak kemungkinan hal buruk terjadi pada Fira.


"Dia baik, tapi semalam ada seorang pria yang mengangkat sambungan telepon milik Fira." Jeje mengusap wajahnya kasar, saat merasa kegelisahannya tak urung ilang.


"Pria? siapa?" tanya Adhi yang sedikit kaget pada ucapan Jeje.


"Pria itu bilang kakaknya."


"Kakak?" Adhi yang tahu, jika Fira adalah anak satu-satunya merasa bingung. "Abang sudah tanyakan sama Fira?"


"Sudah."


"Jawaban Fira?"


"Fira bilang itu kakaknya." Rasanya Jeje benar-benar muak saat mengingat, saat Fira menjelaskan jika yang mengangkat sambungan telepon darinya adalah kakaknya.


"Kalau Fira bilang kakaknya, mungkin saja benar." Adhi tahu betul, jika Fira tidak mungkin berbohong.


"Bukannya kamu tahu, jika Fira anak tunggal. Dan mana mungkin tiba-tiba Fira punya kakak. Dan untuk apa pria itu ada di kamar Fira dan mengangkat sambungan telepon dariku." Jeje meluapkan sedikit emosinya pada Adhi.


Adhi yang melihat Jeje meluapkan emosinya, merasa bingung. Keningnya berkerut dalam, mendapati reaksi Jeje. "Bisa saja dia kakak sepupu Fira, Bang." Adhi mencoba menenangkan Jeje, dan memberikan bayangan yang mungkin sedikit masuk akal.


Jeje terhenyak saat Adhi mengatakan, bahwa mungkin saja pria itu sepupu Fira. Memutar ingatannya, Jeje mengingat jika kemarin dia tidak mau mendengarkan penjelasan Fira. Pikirnya mungkin saja Fira akan menjelaskan jika itu adalah sepupunya.


Rasanya Jeje merutuki kesalahannya, karena tidak mendengarkan Fira. Andai dirinya mendengarkan mungkin sekarang dirinya tidak akan sekacau ini.


"Jangan bilang Bang Jeje menuduh Fira yang bukan-bukan?" Adhi yang melihat Jeje diam, menebak sesuatu yanga ada di pikirannya.


"Aku bukan menuduh, tapi.."


"Bang, bagaimana bisa Abang tidak percaya dengan Fira?" Adhi memotong ucapan Jeje. Emosinya ikut terpancing saat melihat pembelaan dari Jeje.


Zara yang melihat kondisi di hadapannya, memegang tangan Adhi, untuk menenangkan emosi Adhi. Zara menyadari, saat Adhi emosi, keadaan tidak akan baik.


Jeje menghela napasnya. Rasanya dirinya benar-benar merasa bersalah pada Fira. Tuduhannya pasti sangat menyakitkan bagi Fira. Apa lagi Fira sedang hamil, dan pasti akan jauh lebih sensitif saat merasa sakit hati.


"Tenanglah Bang, aku yakin Fira akan mengerti kenapa Abang menuduhnya." Adhi menepuk bahu Jeje, memberikan semangat.


"Tapi dia tidak menganggkat telepon dariku." Jeje yang berusaha menghubungi Fira, mendapati Fira yang tidak mau mengangkat sambungan teleponnya.


"Mungkin dia butuh waktu. Kita tahu, Fira tidak akan bisa marah terlalu lama." Mengenal Fira bukanlah sebentar untuk Adhi, dan dia paham betul bagiamana Fira. "Sebaiknya cepat kerjakan perkerjaan kita, agar Abang bisa pulang lebih cepat."


Untuk saat ini, mungkin hanya menyelesaikan perkerjaan yang bisa Jeje lakukan mengingat dia masih memiliki tanggung jawab ini.

__ADS_1


**


Tepat jam sebelas siang, Raka sudah kembali ke rumah. Fira yang sudah bersiap, sudah menunggu Raka di ruang tamu.


"Sudah siap?" tanya Raka.


"Sudah, tapi tunggu ibu dulu." Fira yang merengek untuk ibunya ikut, akhirnya membuat Bu Ani tidak bisa menolak keinginan Fira.


"Ayo," ucap Bu Ani yang menghampiri Raka dan Fira di ruang tamu.


Dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, Fira mengangguk. Rasanya dia tidak sabar, untuk menghabiskan waktu bersama dengan ibunya dan Raka.


Fira, Raka, dan Bu Ani melangkah keluar menuju mobil, yang sudah terparkir di depan rumah. Fira yang melihat tidak ada supir, merasa heran. "Mana supir kakak?" tanya Fira.


"Khusus hari ini, untuk Nyonya-Nyonya, saya sendiri yang akan menjadi supir." Raka sedikit menundukkan tubuhnya, dan membukakan pintu mobil yang belakang.


Fira dan Bu Ani langsung tertawa saat mendengar ucapan Raka. Bu Ani pun masuk ke dalam mobil, sedangkan Fira membuka pintu depan samping kemudi. "Aku tidak akan membiarkan pria tampan menjadi supir," ucap Fira mengoda.


Raka hanya tersenyum, dan membiarkan Fira untuk duduk di kursi depan. Dan saat semua sudah masuk, Raka beralih pada sisi mobil, dan membuka pintu kursi kemudi.


Melajukan mobilnya Raka menuju mall terdekat. Rasanya Raka sangat senang, saat bisa pergi dengan Fira dan Bu Ani. Rasa rindunya pada ibunya dan keluarga, terobati dengan kehadiran Fira dan ibunya. Raka merasa mendapatkan keluarga yang melengkapi hidupnya.


Walapun dirinya tidak bisa mendapatkan Fira sebagai istrinya, tapi Raka sudah cukup saat mendapatkan Fira sebagai adiknya. Paling tidak Fira akan ada di dalam hidupnya. Tidak perlu memaksakan kehendak, jika Fira di ciptakan bukan untuk dirinya.


Sesampainya di mall, mereka turun dan langsung melangkah ke dalam mall. Karena sudah jam makan siang, akhirnya mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


Setelah memilih restoran, mereka masuk ke dalam restoran. Pelayan menyambut, dan menyiapkan meja untuk Raka, Fira dan ibunya.


"Ibu senang, kalian sekarang sudah besar ya, ibu merasa sudah sangat tua," ucap Bu Ani saat menunggu makanan mereka datang.


Mata Bu Ani sudah berkaca-kaca, mengingat Raka dan Fira tumbuh bersama. Dan rasanya waktu begitu cepat sekali berputar.


"Ibu," ucap Fira seraya memeluk ibunya dari samping. Melihat ibunya yang berkaca-kaca Fira merasa tidak tega.


"Bu, ibu masih tetap cantik walaupun sudah tua," goda Raka.


"Kak.." tegur Fira, yang mendengar Raka mengoda ibunya.


Raka pun memeluk Bu Ani dari samping. Menyalurkan rasa sayangnya.


Bu Ani yang mendapatkan pelukan dari Fira dan Raka, meneteskan air mata. Air mata kebahagiaan, yang tak bisa di ungkapkannya. Baginya Raka bukan hanya sekedar anak angkatanya. Tapi juga anaknya seperti halnya Fira. Dan Bu Ani menyanyangi Fira dan Raka sama besarnya


"Kamu cepat nikah, jadi ibu bisa gedong cucu juga," ucap Bu Ani menepuk tangan Raka yang sedang melingkar memeluknya.


Raka melepas pelukannya. "Belum ada wanita yang cocok, Bu. Nanti jika sudah ada, Raka pastikan ibu orang pertama yang Raka kenalkan."


"Kok ibu saja Kak, aku?" tanya Fira seraya menunjuk pada dirinya.


Fira langsung tersenyum pada Raka, saat mendapatkan jawaban dari Raka.


"Ibu ke toilet sebentar." Bu Ani yang merasa wajahnya basah sedikit karena air mata, merasa perlu membasuh wajahnya.


Fira dan Raka mengangguk, saat ibunya izin ke toilet.


"Fir," panggil Raka saat Bu Ani pergi.


"Apa?" Fira melihat wajah Raja tampak serius.


"Aku mau jujur sama kamu. Sebenarnya aku menyukai kamu," ucap Raka pada Fira.


Fira sontak langsung membulatkan matanya, saat mendengar ucapan Raka. Fira benar-benar tidak menyangka, bahwa Raka akan mengatakan hal itu. Fira selama ini menganggap Raka tidak lebih dari kakaknya. Dan ternyata Raka menganggapnya lebih.


"Jangan salah paham," ucap Raka saat melihat raut wajah Fira yang berubah. "Aku hanya ingin melegakan perasaanku saja. Aku sadar kamu sudah menikah dan aku tidak akan bisa mendapatkan dirimu lagi. Karena itu, aku ingin perasaan ini hilang dengan aku mengatakan padamu."


Fira masih memahami baik-baik ucapan Raka. Bagi Fira, dia merasa aneh saat dirinya mendapati perasaan Raka yang lain padanya.


"Aku sadar bahwa kita tidak terikat darah. Oleh sebab itu dulu aku menumbuhkan rasa cintaku padamu. Tapi kini aku ingin menghilangkannya, karena aku sudah melihatmu bahagia."


Fira sadar betul, kadang rasa cinta tidak tahu kapan datangnya. Dan apa yang di rasakan Raka masih sebatas wajar baginya. "Aku menganggap Kak Raka sebagai kakakku, dan mungkin kakak pun juga bisa melakukan hal yang sama," ucap Fira.


"Iya, aku tahu. Dan mulai sekarang aku pun menganggap kamu adikku."


Fira tersenyum menampilkan lesung pipinya. "Aku yakin kakak akan mendapatkan wanita yang lebih baik."


"Terimakasih, Fir." Raka menarik tangan Fira dan mengenggamnya. Perasaanya lega saat dirinya sudah bisa mengatakan pada Fira. Raka berharap perlahan dirinya dapat melupakan Fira. Dan memulai membuka hati kembali.


"Kalian sedang mengobrol apa? serius sekali," tanya Bu Ani yang baru saja datang.


"Biasa Bu, obrolan adik yang manja dengan kakaknya," elak Raka pada Bu Ani.


"Kamu Fir, tidak sama ibu, tidak sama Jeje dan sekarang tidak sama Raka sama, manja." Bu Ani mengoda Fira seraya menarik kursinya.


"Biarlah, Bu. Lagi pula aku manja sama ibu, suami dan kakakku." Fira tidak perduli saat ibunya mengodanya.


Raka dan Bu Ani pun tertawa menanggapi ucapan Fira.


Akhirnya makanan pun datang. Raka, Fira, dan Bu Ani pun menikmati makan mereka, san menyelipkan obrolan kecil.


Setelah selesai makan, Raka, Fira dan Bu Ani pergi berjalan-jalan. Fira mengajak Bu Ani untuk melihat-lihat baju anak.


"Nanti saja belinya, kalau sudah tujuh bulan," ucap Bu Ani.


"Memangnya kenapa Bu?"

__ADS_1


"Ya kata orang tua jaman dulu tidak baik."


Fira mencebikan bibirnya, merasa kecewa dengan jawaban ibunya. Padahal dirinya tadi sudah sangat senang melihat baju-baju bayi yang lucu.


Akhirnya Fira memutuskan untuk jalan-jalan melihat ke toko lainnya saja. Karena dirinya tidak jadi saat ingin membeli baju bayi.


Saat berjalan-jalan Fira melihat toko parfum, yang waktu itu memberikan diskon dirinya, yang membeli parfum bersama dengan Jeje.


"Ayo kita kesana," ucap Fira mengajak Raka dan ibunya.


Fira masuk ke dalam sedangkan Raka menunggu di luar toko. Fira melihat lihat parfum. Mencari parfum milik Jeje. Pikirnya siapa tahu parfumnya diskon, jadi Fira bisa memberikannya pada Jeje.


"Apa masih diskon? tanya Fira pada pelayan toko.


Pelayan toko yang mendapatkan pertanyaan dari Fira merasa kaget. "Maaf Nona toko kami sedang tidak ada diskon."


Fira yang mendengar tidak ada diskon, mengangguk mengerti yang di jelaskan oleh pelayan toko. Tapi niatnya untuk membeli parfum tetaplah ada. Baginya ada tidak diskon, dirinya akan tetap membelikan untuk Jeje.


Saat Fira sedang memilih parfum. Terdengar keributan di sebelahnya.


"Apa kamu tahu, pemilik toko ini teman saya, jadi saya bisa laporkan kamu pada pemilik toko ini," ucap seorang wanita paruh baya.


"Maaf Bu, tapi memang parfum baru tidak boleh di coba. Ibu bisa mencium aroma wangi dari contoh yang ada."


"Kurang ajar ya kak. Saya sudah bilang bukan, kalau pemilik toko ini adalah teman saya. Jadi sekarang saya mau mencoba yang baru di buka." Suara wanita paruh baya itu sudah terdengar meninggi.


"Tapi.."


Wanita paruh baya itu langsung menyiram air minum yang di bawanya pada pelayan toko.


Fira dan Bu Ani kaget melihat adengan di depannya. Mereka merasa tidak tahu masalahnya. Dah melihat sikap wanita paruh baya di hadapannya, Fira dan Ibunya takut, karena menurutnya sangat kasar.


"Apa yang terjadi?" tanya Raka yang melihat keadaan yang sudah tidak kondusif. Dirinya yang tadi menunggu di luar, melihat kekacauan di dalam toko.


"Maaf Pak, ibu ini mau mencoba parfum yang baru dan setelah di coba dia baru akan membelinya. Kami sudah jelaskan jika itu tidak bisa, tapi ibu ini mengatakan beliau mengenal Bapak."


Raka yang mendengar penjelasan pelayan toko mengerti. "Apa ibu mengenal saya?" tanya Raka pada wanita paruh baya.


Wanita paruh baya itu membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika pemilik toko ini adalah seorang anak muda.


"Ibu mengenal saya? saya pemilik toko parfum ini," ucap Raka mengulang ucapannya.


Wanita paruh baya itu tidak mengenal Raka sama sekali, jadi dia memilih untuk diam.


"Pelayan toko saya sudah menjelaskan semuanya. Jadi saya mohon patuhi aturan toko kami. Jika ibu memang mau membeli, silakan coba dengan contoh dari kami." Raka dengan sopan menjelaskan.


"Tidak, saya tidak jadi beli." Wanita paruh baya itu pun berlalu meninggalkan Raka, karena malu.


"Kalian, lanjutkan perkerjaan kalian." Raka beralih pada pegawainya.


Fira dan Bu Ani tercengang melihat kejadian di depannya. Mereka tidak menyangka jika Raka adalah pemilik toko parfum.


"Apa kalian sudah selesai?" tanya Raka menghampiri Fira dan Ibunya.


"Kakak pemilik toko ini?" Fira pernah mendengar dari Adhi, jika toko parfum ini berpusat di luar negeri. Pikirannya masih melayang memikirkan kebenaran, bahwa Raka pemilik toko parfum terkenal.


"Iya." Raka menjawab pertanyaan Fira.


"Wah, ibu tidak menyangka jika anak ibu seorang pengusaha muda," ucap Bu Ani seraya menepuk bahu Raka.


"Berkat doa ibu," ucap Raka.


Fira masih membeku saat mendengar fakta, bahwa Raka pemilik toko parfum terkenal. Ingatannya kembali pada dimana disaat dirinya mendapat parfum gratis. "Apa parfum gratis itu..."


"Iya, aku yang sengaja beri," ucap Raka.


Fira yang hendak menanyakan parfum yang di belinya tempo hari sudah di potong oleh Raka. "Jadi kakak yang sengaja memberikannya untukku?" Fira memastikan kembali.


"Iya." Raka yang waktu itu ada di dalam toko, melihat Fira dan Jeje. Raka benar-benar merasa kaget saat melihat Fira dari kejauhan. Dan akhirnya dia memberikan grtatis karena yang membeli adalah Fira.


"Kalau kakak sudah tahu itu aku, kenapa tidak menghampiriku?" Fira yang mengingat Raka tidak sama sekali menghampirinya merasa heran.


"Kalau kakak menemuimu apa kamu mengenali?" tanya Raka penuh sindiran.


Fira terkesiap mendapat pertanyaan itu. Dirinya nenyadari, jika saat pertama kali bertemu dengan Raka dirinya tidak mengenali Raka.


"Sudahlah, sekarang yang terpenting kamu sudah tahu."


Fira hanya bisa pasrah, saat dirinya tahu bahwa parfum yang di belinya waktu itu adalah pemberian Raka.


"Sudah ayo pulang, ibu dan kamu sudah terlalu lelah jalan-jalan."


Fira tidak ada pilihan selain mengiyakan. Dan melupakan niatnya untuk membeli parfum, karena merasa takut jika Raka akan memberinya gratis kembali. Fira dan Bu Ani pun mengekor di belakang Raka, dan menuju parkiran mobil.


.


.


.


.


please like ya ya🥰

__ADS_1


__ADS_2