
Saat Jeje, Atta dan Daffa sedang menikmati berbincang, tiba-tiba ponsel Daffa berdering.
"Wah dah di suruh pulang kayak," goda Atta pada Daffa. Atta yang mendengar ponsel Daffa berdering, mengira Tania yang menghubungi Daffa.
Daffa yang mendengar hanya acuh, dan mengambil ponsel di sakunya. Saat dia melihat layar ponselnya, ternyata nama Celia yang tertera di layar ponselnya. "Halo," ucap Daffa saat mengangkat sambungan telepon.
"Gue di atas, loe kesini aja," ucap Daffa menjawab ucapan Celia. Setelah Celia mengiyakan ucapan Daffa. Daffa langsung mematikan sambungan telepon.
Atta yang mendengar perbincangan Daffa di sambungan telepon pun heran, siapa yang di minta Daffa untuk menyusul dirinya. "Siapa?" tanya Atta ingin tahu.
"Celia?" jawab Daffa seraya memasukan telepon di kantung sakunya.
"Apa?" pekik Atta kaget, saat mendengar nama Celia yang di sebut oleh Daffa. "Loe kasih tahu kita disini?" tanya Atta lagi memastikan.
"Iya, tadi siang dia ke restoran gue, nanyain loe. Katanya loe susah banget di hubungin. Jadi gue kasih tahu aja, kalau gue mau ketemu loe malam ini," jelas Daffa.
"Parah loe, kasih tahu dia gue disini. Gue emang sengaja menghindar," ucap Atta merasa sedikit kesal. "Apa lagi ada Jeje juga disini." Atta menatap Jeje saat berucap.
"Apa hubungannya sama gue?" tanya Jeje menunjuk dirinya. Dia bingung kenapa Atta membawa namanya dalam masalah dengan Celia.
Atta menghela nafasnya. "Dia.. " Belum sempat Atta menceritakan kenapa dia menghindar, Celia sudah datang.
"Hai.." sapa Celia. Celia yang baru datang berniat mencari Atta, langsung berbinar saat melihat Jeje juga ada disana. "Kamu juga ada disini juga je," ucap Celia seraya melangkah menghampiri Jeje. Celia langsung duduk di samping Jeje.
Jeje yang melihat Celia duduk di sampingnya hanya acuh.
"Kenapa nyari gue?" tanya Atta menatap tajam pada Celia.
Celia bingung saat Atta menanyakan hal itu padanya. Dia yang sengaja mencari Atta, untuk mengetahui kehidupan Jeje tidak bisa mengatakan hal itu di depan Jeje. "Gue cuma mau ketemu aja, karena loe susah banget di hubungi." Celia hanya bisa mengatakan hal itu agar Jeje tidak curiga.
Atta hanya menatap sinis pada Celia. Tanpa dia mengatakan apa maksud Celia mencari dirinya. Dia sudah bisa menebak tujuan Celia mencari dirinya.
"Gue ke toilet dulu ya." Jeje yang malas dengan kedatangan Celia memilih menghindar. Jeje langsung berdiri dan melangkah menuju toilet.
Celia yang melihat Jeje keluar pun, menatap punggung Jeje yang berjalan berlalu meninggalkan teman-temannya. "Gue juga ke toilet dulu ya," ucap Celia pada Atta dan Daffa.
Atta dan Daffa hanya acuh saat mendengar Celia yang pamit ke toilet. Mereka berdua sudah menebak, bahwa Celia mengejar Jeje ke toilet.
"Emang kenapa sih loe, menghindar dari Celia?" tanya Daffa saat melihat Celia sudah berlalu.
"Waktu Jeje pergi bulan madu sama Fira. Jeje bertemu dengan Celia disana. Jeje langsung menghubungi gue, buat tanya berapa lama Celia disana." Atta memulai ceritanya.
"Gue langsung hubungin Celia, dan tanya dia berapa lama pemotretan disana. Dan Celia bilang dia seminggu disana. Dan gue langsung balik menghubungi Jeje. Dan akhirnya Jeje mempercepat waktu bulan madunya, karena malas dengan adanya Celia di sana," ucap Atta. "Tapi waktu gue telepon Celia, dia sendiri yang cerita kalau dia ketemu Jeje di luar negeri, dan mengatakan bahwa Jeje sudah menikah. Gue langsung bilang tegas sama dia, buat jangan ganggu dia lagi. Tapi.." Atta menghentikan ucapnya.
"Tapi kenapa?" Daffa yang penasaran pun bertanya.
"Tapi beberapa hari yang lalu dia datang ke kantor gue." Atta mengingat kejadian di mana dirinya bertemu dengan Celia.
Atta yang sedang mengecek laporan dari bengkel dan laporan penjualan, mendengar ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk!" seru Atta.
"Maaf Pak ada tamu," ucap sekertaris Atta sesaat setelah membuka pintu.
"Suruh masuk," perintah Atta pada sekertarisnya.
Sekertaris Atta langsung keluar saat mendengar perintah dari Atta. Dia langsung mempersilahkan tamu, untuk masuk ke dalam ruangan Atta.
"Hai ta," sapa seorang wanita.
__ADS_1
Atta yang di sapa langsung menatap. "Loe ternyata," jawab Atta yang melihat ternyata Celia lah yang datang.
Celia melangkah menghampiri Atta, dia langsung menarik kursi di depan meja kerja Atta, dan duduk tepat di hadapan Atta.
"Kenapa loe kesini?" Atta yang menebak kedatangan Celia mempunyai maksud pun langsung bertanya.
"Gue mau loe bantuin gue balik sama Jeje."
Atta langsung membulatkan matanya, mendengar ucapan dari sepupunya itu. "Loe gila ya. Bukannya gue udah bilang kalau Jeje udah nikah. Dan loe sendiri udah tahu dari mulut Jeje." Atta yang kesal pun meluapkan kemarahannya. Dia tidak mau sepupunya itu merusak hubungan pernikahan Jeje.
"Gue tahu, kalau gue udah buat Jeje sakit hati, dan akhirnya membuat dia memilih Valeria agar terlihat move on. Tapi sekarang gue mau menebus kesalahan gue."
Atta yang mendengar ucapan Celia semakin bingung. Atta hanya heran kenapa Celia malah membahas tentang Valeria. Walaupun sebenarnya Atta sudah tahu kenapa Jeje memilih menjadi kekasih Valeria. "Iya gue tahu, masalah masa lalu kalian. Tapi itu sudah masa lalu. Sekarang Jeje sudah menikah. Jadi jangan merusak rumah tangga Jeje."
Celia yang mendengar ucapan Atta hanya tersenyum tipis.
Atta yang melihat senyum Celia bingung mengartikannya. Dia benar-benar tidak bisa menebak isi kepala sepupunya itu.
"Ini sudah jadi keputusan gue, jadi loe jangan mencoba melarang gue." Celia pun tidak kalah tegas, saat Atta melarangnya.
Atta hanya mengeleng-geleng kepalanya. Rasanya sulit sekali menjelaskan pada sepupunya itu. " Terserah loe aja." Atta hanya bisa pasrah, karena males menanggapi ucapan Celia.
"Oke gue pergi dulu." Celia pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Atta.
"Jadi dia mau balikan lagi gitu sama Jeje?" tanya Daffa memastikan lagi, setelah mendengar cerita Atta.
"Iya padahal gue udah kasih tahu," ucap Atta. "Dan beberapa hari ini, dia kirim pesan ke gue, tanya alamat Jeje, alamat kantor Jeje. Dan gue nggak bales," lanjut Atta menjelaskan.
Daffa baru tahu alasan Atta menghindar dari Celia. Dirinya benar-benar, merasa bersalah karena memberitahu Celia dimana keberadaan Atta. Dan lagi malah membuat Celia bisa menemui Jeje. " Maaf gue benar-benar nggak tahu."
"Ya sudah, nggak apa-apa, sudah terlanjur juga."
"Gue udah coba buat jelasin sama Celia, tapi kayaknya dia nggak percaya. Dan gue rasa hanya Jeje sendiri yang bisa menyelesaikannya."
Daffa yang mendengar ucapan Atta, membenarkan ucapan Atta. Hanya sikap tegas Jeje yang bisa menyelesaikan semua ini.
**
Jeje yang baru saja keluar dari toilet langsung kaget saat seseorang menarik tangannya, dari balik dinding. Tubuh Jeje yang tidak siap, langsung menempel pada tubuh orang yang menariknya. "Lia," ucap Jeje saat melihat wanita itu adalah Celia.
"Iya je, ini aku," ucap Celia seraya melingkarkan tangannya memeluk Jeje.
Jeje yang merasa di peluk langsung mendorong tubuh Celia. "Jangan melebih batasanmu Lia. Aku sudah mengatakan bahwa aku sudah menikah." Jeje menatap tajam pada Celia. Emosinya seketika memuncak saat wanita di hadapannya dengan seenaknya memeluknya.
Celia yang di dorong oleh Jeje, hanya bisa mengaduh. " Aku tahu kamu sudah menikah je. Tapi aku tahu semua cerita tetang pernikahanmu je," ucap Celia menatap Jeje.
Jeje yang mendengar ucapan Celia, menautkan kedua alis tegasnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh Celia.
"Aku tahu kamu memilih Valeria hanya untuk terlihat move on dari aku. Dan aku tahu kamu masih mencintai aku je, " ucap Celia seraya mengenggam tangan Jeje.
Jeje langsung menghempas tangan Celia, saat Celia mengenggam tanganya. "Cinta apa yang kamu bicarakan. Aku sudah tidak mencintaimu," ucap Jeje pada Celia. "Jadi berhentilah mengejarku." Jeje pun berlalu meninggalkan Celia.
"Aku tahu kalau kamu selingkuh je," ucap Celia pada Jeje.
Jeje yang mendengar ucapan Celia, menghentikan langkahnya. Dia menyadari bahwa orang-orang masih mengira Fira adalah selingkuhannya, karena orang-orang tahu Jeje adalah tunangan Ana sebelumnya. "Itu bukan urusanmu." Jeje pun melanjutkan langkahnya menemui teman-temannya.
Celia yang melihat Jeje pergi hanya bisa menahan kesalnya. " Itu akan jadi urusanku je, karena aku tidak akan rela selingkuhan mu mendapatkan dirimu."
Jeje yang berlalu meninggalkan Celia langsung menghampiri teman-temannya. " Gue balik duluan ya," ucapnya pada teman-temannya, sesaat setelah menemui Daffa dan Atta.
__ADS_1
"Bareng aja je, gue juga udah mau balik kok." Daffa pun berdiri dan melangkah menghampiri Jeje.
"Kita balik dulu ya ta," ucap Jeje pada Atta.
"Oke."
Jeje dan Daffa pun langsung melangkah menuju parkiran mobil, bersama-sama.
"Celia tadi nemuin loe?" tanya Daffa saat mereka berdua melangkah menuju parkiran.
"Iya," jawab Jeje ketus. "Udah gila kayaknya dia," lanjutnya meluapkan kekesalannya, mengingat apa yang di lakukan Celia padanya tadi.
Daffa menoleh pada Jeje. "Emang kenapa?"
"Dia bilang gue masih cinta sama dia. Gue nggak tahu alasannya apa dia bisa bilang begitu."
"Tadi Atta cerita kalau Celia mau berusaha balik sama loe." Daffa pun menimpali ucapan Jeje.
Jeje mengerutkan dahinya. "Jadi itu alasannya?"
"Tapi apa loe masih cinta je sama Celia?" Tanya Daffa ragu-ragu. Daffa tahu persis bagaimana dulu Jeje begitu mencintai Celia. Tapi saat Celia memilih menekuni dunia model. Dia memilih meninggalkan Jeje. Jeje yang frustasi memilih menjalin hubungan dengan Valeria, untuk membuat dia terlihat move on dari Celia. Tapi usahanya sia-sia, karena dia masih begitu mencintai Celia.
"Gue dulu memang mencintai Celia, tapi itu dulu," ucap Jeje pada Daffa. "Dan sekarang gue begitu mencintai Fira. Tidak ada celah yang tersisa di hati gue, buat orang lain selain Fira." Jeje menarik senyum di wajahnya, saat mengingat bagaimana rasa cinta di hatinya untuk Fira.
Daffa yang melihat Jeje, yang begitu mencintai Fira merasa lega. "Loe harus mempertahankan rumah tangga loe. Jangan sampai Celia merusak semua," ucap Daffa seraya menepuk pundak Jeje.
"Iya."
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mobil masing-masing, dan melajukan mobilnya menuju rumah mereka masing-masing.
**
Jeje yang sampai di apartemen langsung menuju kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, Jeje melihat Fira masih tertidur pulas. Dia pun berlalu menuju lemari, dan menganti pakaiannya. Setelah selesai menganti baju, Jeje meletakkan pakaian di keranjang kotor.
Jeje langsung melangkah menuju tempat tidur, dia menyibak selimut Fira, dan masuk ke dalam selimut. Membenamkan tubuhnya dalam selimut, menyusul Fira.
Kedua bola mata Jeje menatap lekat wajah Fira. "Apa kamu tahu, jatuh cinta adalah cara kita belajar memahami hati kita sendiri. Dan belajar terkadang tidak akan cukup hanya sekali. Dan saat hati ini sudah memahami sebuah arti cinta, dia akan melabuhkan hatinya pada orang yang tepat. Dan aku melabuhkan hatiku padamu, karena aku mulai paham bahwa rasa cinta ku berbeda, dengan yang aku rasakan sebelum bertemu dengan mu." Jeje pun mengecup kening Fira, meluapakan rasa cintanya yang begitu besar untuk wanita yang menjadi istrinya itu. " Mimpi yang indah sayang," ucap Jeje seraya memeluk Fira.
Fira yang merasa ada yang memelukanya, mengerjap. "Kamu sudah pulang?" tanya Fira saat melihat Jeje sudah berada di tempat tidur.
"Sudah," ucap Jeje. "Ayo lanjutkan tidurmu," ucap Jeje seraya mengeratkan pelukanya.
Fira yang mendapat pelukan dari Jeje pun, tersenyum. Dia langsung membalas pelukan Jeje. Fira selalu merasa, tangan kekar yang selalu memeluknya itu, adalah tempat ternyaman untuk dirinya.
Akhirnya Fira dan Jeje pun memejamkan matanya, menuju ke dalam alam mimpi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16
__ADS_1