
Dingin kamar hotel yang tiba-tiba terasa, membuat mata Jeje mengerjap. Saat dia membuka matanya, dia melihat selimut tersingkap dan memperlihatkan tubuh polosnya. Dingin yang di ciptakan pendingin ruangan, begitu saja terasa menusuk ke tulang, melalui pori-pori tubuh tanpa penghalang itu.
Jeje menarik Selimut menutupi tubuhnya, tapi nyatanya selimut tak mampu dengan cepat menghangatkan tubuhnya. Perlahan dia merapatkan tubuhnya pada tubuh Fira, menempelkan tubuh tanpa penghalang. Dengan pelukan hangat, menempelkan kulit tubuhnya pada kulit tubuh Fira, kehangatan perlahan di rasakan oleh Jeje.
Fira yang merasakan tangan kekar melingkar di tubuhnya mengerjap. "Jam berapa ini? Suara serak khas, bangun tidur terdengar memecah keheningan malam.
"Jam dua, sudah tidurlah lagi." Jeje mengeratkan pelukannya.
Mata Fira yang mengerjap, memang melihat hanya terdapat lampu temaram dalam kamar, dan belum ada sinar matahari yang masuk melalui celah jendela. Jadi sudah bisa di pastikan, bahwa ini masih terlalu dini hari untuk terjaga. Karena tubuhnya masih begitu lelah sisa penyatuannya semalam, Fira memejamkan kembali matanya.
**
Suara lenguhan terdengar seiring Fira merenggangkan ototnya. Perlahan Fira membuka matanya. Saat dia menoleh ke arah sebelah ranjang, ternyata ranjang sudah nampak kosong.
"Pagi," sapa Jeje yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Pagi." Fira tersenyum membalas sapaan dari suaminya.
Jeje melangkah menghampiri Fira yang masih nyaman di tempat tidur. Membungkukkan tubuhnya sedikit, Jeje mengecup kening Fira. "Bangun, dan mandilah."
Fira masih malas sekali untuk beranjak. "Tidak ada baju, jadi nanti saja."
Jeje tersenyum melihat ke arah bawah, di mana Fira tidur. "Jangan beralasan. Aku sudah menyiapkan baju untukmu."
"Apa kamu tadi pulang?" Fira heran karena sejak semalam Jeje tak melepaskan pelukkannya. Jadi sudah di pastikan Jeje tidak pergi kemana-kemana.
"Tidak."
"Lalu darimana kamu dapat baju?"
"Aku meminta sopir mama untuk mengantarkan baju."
Fira mengerti dari mana Jeje mendapatkan bajunya. Fira ingat betul, bahwa kemarin mamanya membelikan begitu banyak baju, hingga akhirnya Fira memilih meninggalkan di lemari kamar Jeje, karena di lemari apartemennya tidak muat.
"Jadi sekarang pergilah mandi, karena pasti anakku sudah lapar disini." Jeje mencium perut Fira yang berbalut selimut.
"Baiklah." Fira tidak ada alasan lagi untuk menikmati tempat tidur nyaman dari hotel ini, karena dia harus bangun dan membersihkan diri.
Fira menarik selimut, untuk menutupi tubuh polosnya dan melangkah menuju ke kamar mandi, tapi seketika Fira menghentikan langkahnya saat selimut tertahan. Dan saat Fira menoleh, dia mendapati Jeje lah yang menarik selimutnya. "Kenapa di tarik selimutnya?"
"Kenapa harus menutupi tubuhmu dengan selimut?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Jeje di iringi senyuman.
Fira melirik tajam pada Jeje di sertai dengusan kesal. "Apa aku harus berjalan bak model dengan tubuh polos ke kamar mandi?" Tanya Fira dengan nada menyindir.
"Kenapa tidak? Justru aku mau melihat mu berjalan dengan tubuh polosmu."
Senyum tertarik di sudut bibir Fira. Dengan membalikkan tubuhnya, Fira menghampiri Jeje. "Apa kamu ingin melihat tubuh polos ku berjalan bak model?" Fira membelai dada Jeje yang masih terbuka, dan hanya berbalut handuk di pinggangnya.
"Iya." Suara Jeje sudah mulai terasa berat, saat mendapatkan sentuhan dari Fira.
Tangan Fira beralih dari dada Jeje menuju ke tangan. Dengan belaian lembut, Fira meraih jemari Jeje. "Benarkah?" tanya Fira berbisik tepat di telinga Jeje.
Jeje sama sekali tidak menjawab, dia menikmati sensasi embusan nafas Fira, yang terasa mengelitik telinganya.
"Tapi aku rasa kamu tidak akan melihatnya." Fira yang sudah melepaskan tangan Jeje yang memengang selimut, langsung berlalu meninggalkan Jeje, menarik selimut yang sudah terlepas dari tangan Jeje.
Jeje hanya mendegus kesal di sertai tawa kecil sesudahnya, saat melihat aksi Fira. Ternyata istrinya hanya menipunya, dan berhasil melepaskan selimut yang dari tadi dia pegang. Dia melihat Fira yang berbalut selimut menuju kamar mandi, meninggalkan dirinya yang sudah mulai tergoda oleh sentuhan Fira.
**
Valeria yang semalam di hubungi oleh Jeje, masih menyimpan begitu banyak pertanyaan. Akhirnya pagi ini Valeria menghubungi Celia, untuk bertemu di restoran hotel dimana Valeria akan mengadakan pesta.
"Maaf membuatmu menunggu, Val," ucap Celia pada Valeria.
"Tidak apa-apa. Duduklah!"
"Ada apa kamu menghubungiku Val?" Celia yang tadi pagi mendapat pesan singkat dari Valeria merasa bingung, saat tiba-tiba Valeria memintanya untuk bertemu.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan hingga Jeje menghubungiku, dan mengatakan bahwa kamu menuduh Fira adalah selingkuhan dari Jeje." Sebenarnya Valeria merasa geram saat Jeje semalam menghubunginya, dan menuduh memberikan berita palsu pada Celia.
"Bukankah memang benar Fira adalah selingkuhan Jeje seperti yang kamu katakan."
"Aku?" tanya Valeria menujuk dirinya sendiri. Valeria merasa tidak pernah mengatakan hal itu pada Celia.
"Iya, waktu kita bertemu di toko perhiasan, dirimu mengatakan bahwa suamimu berselingkuh dengan sekertarisnya. Dan yang aku katakan benar bukan bahwa Jeje berselingkuh dengan sekertarisnya?"
Valeria mencerna baik-baik ucapan dari Celia. Valeria mengingat pertemuannya dengan Celia waktu di toko perhiasan. Dirinya memang menceritakan bahwa suaminya selingkuh dengan sekertarisnya, pada Celia. "Apa kamu mengira Jeje adalah suamiku?" tanya Valeria memastikan.
Celia bingung mendengar pertanyaan dari Valeria. "Bukankah kamu dan Jeje menikah, setelah Jeje memutuskan berpacaran denganmu?"
Valeria baru mengerti dari mana akar permasalahannya ini. Celia mengira suami Valeria adalah Jeje. Dan Celia mengira suaminya yang selingkuh itu adalah Jeje. "Dengar Lia, Jeje bukan suamiku. Dan suamiku yang selingkuh bukanlah Jeje."
Celia mengerjapkan matanya, masih memahami ucapan Valeria. "Jadi kamu bukan istri Jeje?"
"Bukan. hubunganku dan Jeje putus sebelum aku menikah dengan suamiku," ucap Valeria. "Aku rasa kamu menyatukan dua cerita berbeda, dan membuatmu berpendapat bahwa Fira adalah selingkuhan Jeje."
Rasanya Celia merutuki kesalahannya yang mengira bahwa Valeria dan Jeje pernah menikah, dan pernikahan mereka gagal karena adanya Fira-sekertaris Jeje.
"Fira bukan selingkuhan dari Jeje. Fira adalah istri Jeje, Lia."
Celia membulatkan kedua bola matanya, mendengar ucapan Valeria. "Fira istri Jeje." Pertanyaan itu lolos dari bibir Celia.
"Iya," jawab Valeria dengan penuh keyakinan.
Rasanya Celia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia tidak menyangka bahwa selama ini dirinya salah mengira Fira adalah selingkuhan Jeje, padahal Fira adalah istri Jeje.
"Aku rasa kamu hanya salah paham. Hingga kamu memberi tuduhan pada Fira."
Celia masih diam dan tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya bingung dengan semua kenyataan ini.
"Aku sudah jelaskan semua, dan aku harap kamu berhenti menuduh Fira adalah selingkuhan Jeje." Valeria menatap tajam pada Celia. "Baiklah, aku harus kembali karena malam ini pesta pernikahanku." Sebenanya Valeria sedikit kesal, di saat dia harus menyiapkan pesta pernikahannya, dirinya harus meluangkan waktu untuk Celia.
Valeria berdiri tapi matanya masih menatap pada Celia. "Aku harap kamu datang malam ini." Valeria berlalu meninggalkan Celia yang masih diam membeku.
Cukup lama Celia diam, setelah Valeria meninggalkan dirinya di restoran sendiri. Dengan langkah gontai, Celia kembali ke apartemennya. Pikiran Celia masih di penuhin rasa bersalah, saat salah menuduh Fira adalah selingkuhan Jeje. Celia pikir, jika Fira adalah selingkuhan, dirinya bisa mendapatkan Jeje kembali. Tapi kenyataanya Fira adalah istri Jeje, dan tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Jeje kembali.
**
Setelah memarkirkan mobilnya, Fira dan Jeje keluar dari mobil dan melangkah menuju Ballroom hotel.
Sesampainya di acara pesta pernikahan Valeria dan Reza. Jeje dan Fira mengikuti semua proses pernikahan Valeria dan Reza. Terlihat wajah bahagia terpancar dari Reza dan Valeria. Dan membuat para undangan merasakan bahagianya.
"Aku jadi teringat pesta pernikahan kita," ucap Fira tersenyum, melihat proses pernikahan Valeria dan Reza.
Jeje menoleh melihat ke arah Fira. "Apa kamu mau pesta lagi?"
Fira melirik tajam. "Untuk apa?"
"Agar semua orang tahu bahwa kamu istri aku." Rasanya Jeje benar-benar kesal mengingat orang-orang masih belum tahu bahwa Fira adalah istrinya.
Fira menyadari kekesalan Jeje terhadap Celia. "Mungkin hanya Celia saja yang tidak tahu," ucap Fira mencoba menenangkan Jeje.
"Harusnya dia mencari informasi yang jelas, sebelum mengucapkan atau melakukan tindakan di luar batas."
"Sudahlah, jangan terbawa emosi, sebaiknya kita menghampiri Valaria dan Reza untuk mengucapkan selamat." Fira mencoba mengalihkan kekesalan Jeje. Jeje pun mengangguk dan melangakah menghampiri Reza dan Valeria.
"Selamat atas pernikahan kamu ya Val," ucap Fira seraya menautkan pipinya pada pipi Valeria.
"Terimakasih, Fir."
Beralih pada Reza, Fira pun mengulurkan tangannya memberikan ucapan selamat pada Reza.
Jeje pun juga sama. Dia mengulurkan tangan memberi ucapan pada Valeria. "Selamat ya, Val."
"Terimakasih, je," ucap Valeria.
__ADS_1
Jeje beralih pada Reza dan memberikan ucapan selamat pada asisten setianya itu. "Selamat, Za."
"Terimakasih, Pak Gajendra sudah mau datang."
Saat Fira dan Jeje sedang memberikan selamat pada Valeria dan Reza, terdengar suara seorang wanita.
"Selamat atas pernikahanmu, Val," ucap Celia mengulurkan tangannya.
"Terimakasih, Lia."
Celia melihat ada Jeje dan Fira di hadapan Valeria, menjadi sangat cangung. Apa lagi saat dirinya sudah tahu bahwa Fira adalah istri dari Jeje.
"Je, fir, bisakah kita bicara?" Dengan memberanikan diri, Celia mengatakan itu pada Fira dan Jeje.
"Tidak perlu ada yang kita bicarakan," ucap Jeje tegas. "Dan perlu kamu ingat, bahwa Fira adalah istriku, bukan seperti yang kamu tuduhkan. " Jeje menatap Celia dengan tajam. Rasanya Jeje masih merasakan kesal pada Celia.
Jeje langsung meninggalkan Celia, dan berlalu menarik lembut tangan Fira.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" Fira yang sudah menjauh dari Celia, bertanya pada Jeje.
"Aku tidak akan bisa memaafkan atas semua yang di lakukannya padamu."
Sebenarnya Fira juga masih kesal. "Tapi Valeria sudah menjelaskan bukan?" Fira mengingat pembicaraan antara dirinya, Jeje dan Valeria.
Saat Fira dan Jeje di hotel, ponsel milik Jeje berdering, Jeje yang melihat ponselnya melihat nama Valeria tertera.
"Halo, je."
"Halo, Val. Ada apa kamu menghubungi aku."
"Aku hanya ingin menjelaskan bahwa tadi aku sudah bertemu dengan Celia."
"Lalu?"
"Jadi dia mengira kamu itu suamiku, je. Dan Fira adalah selingkuhan suamiku.
"Bagaimana bisa?"
"Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa berpikir seperti itu. Tapi yang aku tanggap, dia mengabungkan ceritaku dengan dirimu yang kebetulan dekat dengan sekertaris." Valeria tertawa kecil saat mengatakan Fira sekertaris Jeje.
Valeria menjelaskan dengan rinci bagaiamana pertemuannya dengan Celia. Dan Jeje hanya mendengarkan dengan baik bersama dengan Fira, karena ponsel Jeje dalam mode loudspeker.
Setelah Valeria menjelaskan semua, Jeje mematikan sambungan teleponnya.
"Tetap saja, harusnya dia berpikir terlebih dulu sebelum bertindak," ucap Jeje
Fira yang mengingat ucapan Valeria, menangkap bahwa ini adalah kesalahpahaman Celia saja. "Tapi..."
"Jangan membujukku untuk memaafkan Celia, sayang," potong Jeje saat mendengar Fira masih berusaha membujuknya terus.
Fira tahu, bagaimana Jeje yang tidak suka di paksa. Akhirnya Fira memilih untuk diam, dan tidak melanjutkannya ucapannya lagi. "Baiklah aku tidak akan memaksa, tapi bisakah kamu tersenyum."
Jeje yang mendengar ucapan Fira, tersenyum. Selalu saja Fira bisa merubah mood nya seketika.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa Likeš„°
.
__ADS_1
.
.