
Fira yang di hubungi Zara langsung menuju ke rumah Zara. Saat di telepon Fira hanya memberitahu, jika dirinya akan menikah. Mendapatkan kabar itu, jika Zara akan menikah, Fira benar-benar merasa bersalah. Sepanjang perjalanan, Fira merutuki kesalahannya yang tidak cepat mengirim uang pada Zara. Sesampainya di rumah Zara. Fira langsung mengetuk pintu, dan menunggu sejenak pintu di buka.
"Fira," ucap Zara saat membuka pintu.
"Ra, maafin aku," ucap Fira langsung memeluk Zara. "Harusnya aku tadi langsung mengirimu dirimu uang." Fira mengungkapkan penyesalannya.
"Nggak perlu merasa menyesal, fir. Aku tidak apa-apa." Zara melepas pelukan pada Zara. Senyum terunkir di wajah cantik Zara, merasakan kebahagiaannya yang sebentar lagi akan menikah.
Fira yang melihat senyum mengembang di wajah Zara merasa sangat heran. Seingat Fira, kemarin Zara datang kerumahnya dengan menangis tersedu-sedu karena tidak mau menikah dengan Atta. Tapi kini, Fira melihat wajah penuh senyum dari Zara.
"Ra, kamu bahagia menikah?" tanya Fira memastikan.
"Iya, fir, aku bahagian sekali bisa menikah."
Fira hanya bisa mengertukan dahinya saat mendengar ucapan Zara. Dirinya tidak mengerti kenapa, Zara bisa sesebahagia itu. "Kamu senang menikah dengan Atta?" Fira menanyakan kembali.
"Atta?" Zara yang mendengar nama Atta di sebut oleh Fira pun bingung. Tapi sejenak dia menyadari maksud dari ucapan Fira. "Aku bukan menikah dengan Atta, fir."
"Lalu?"
"Aku menikah dengan Adhi."
"Adhi?" tanya Fira. "Bagiamana bisa Adhi? Bukankah Atta sudah membayar dirimu."
"Iya, Adhi sudah membayar hutang ayah, fir, dan sekarang aku akan menikah dengan Adhi," jelas Zara.
"Apa Adhi juga meminta dirimu untuk membayar hutang dengan pernikahan?" tanya Fira.
Zara memukul lengan Fira lembut. "Apa kamu ingat, jika aku dan Adhi saling mencintai?"
Fira hanya tersenyum memerkan giginya, saat menyadari kebodohannya dalam berucap. "Lalu kapan pernikahannya?" tanya Fira.
"Besok."
Fira membulatkan matanya sempurna saat mendengar, jika pernikahan Zara akan di adakan besok. "Apa kamu tidak salah, cepat sekali," grutu Fira.
"Bukannya dulu persiapan pernikahanmu juga sehari?" sindir Zara.
"Oh, iya," ucap Fira saat mengingat jika pernikahannya hanya di siapkan dalam sehari. "Lalu apa yang bisa aku bantu?" Fira tahu Zara yang memintanya untuk datang ke rumah, pasti membutuhkan bantuan.
"Iya, aku mau kamu menemani aku ke butik."
"Ya sudah, ayo," ucap Fira pada Zara.
Zara langsung masuk untuk mengambil tasnya dan berpamitan dengan ayah dan ibunya. Berlalu menuju butik, Zara dan Fira menaiki taxi. Sepanjang perjalanan, Zara menceritakan bagaimana kejadian tadi pagi yang di alami Zara.
"Untung Adhi datang tepat waktu, jika tidak, apa jadinya dirimu menikah dengan orang yang kamu tidak cintai." Fira yang mendengar cerita dari Zara hanya bisa menyimpulkan jika Zara sangat beruntung.
"Iya, kamu benar."
"Itu kalian namanya berjodoh," ucap Fira.
Zara hanya mengangguk. Dirinya pun berpikir seperti itu. Jika dirinya dan Adhi di takdirkan bersama. Karena jika tidak, mungkin kini dirinya akan bersanding dengan Atta.
Sesampainya di butik, Zara dan Fira masuk ke dalam butik. Fira dan Zara langsung memilih-milih gaun untuk di kenakan oleh Zara.
"Ra, ini saja," ucap Fira menunjukan satu gaun pada Zara.
"Cantik," ucap Zara. Zara melihat gaun dengan potongan A dan lace menutupi dada dan tangan, membuat tampilan gaun sangat cantik. Zara langsung melihat harga gaunnya yang di tujukan oleh Fira, dan tertera dengan harga tiga puluh juta. "Jangan yang ini, fir," elak Zara. Zara yang berpikir harga gaun itu terlalu mahal memilih mencari gaun yang lain.
Fira yang menyadari wajah Zara berubah sesaat melihat harganya, tahu alasan Zara menolaknya. "Aku akan membelikanmu."
"Tidak perlu." Zara menolak apa yang di lakukan Fira. "Kita cari yang lain saja."
"Anggap saja ini hadiah dari aku, dan aku akan sedih jika kamu menolaknya." Fira menatap Zara menyakinkan Zara.
"Tapi..."
"Aku tidak menerima penolakan." Fira memotong ucapan Zara, sebelum Zara selesai berucap.
"Terimakasih, fir," ucap Zara pada Fira.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Fira dan Zara menunggu Jeje menjemput. Fira yang memberikan kabar, jika dirinya berada di butik, membuat Jeje langsung menjemputnya.
"Kalian sudah lama?" tanya Jeje yang melihat Fira dan Zara masuk ke dalam mobil. Jeje pun mengantarkan Zara untuk pulang.
Sesampainya di rumah Zara. Zara keluar dari mobil Jeje. "Terimakasih, fir, Pak Gajendra, sudah mengantarkan saya," ucap Zara.
"Sama-sama," ucap Fira.
Setelah mengantarkan Zara pulang, akhirnya Jeje dan Fira kembali ke rumah.
***
Pagi ini suasana di rumah Zara sudah banyak lalu lalang orang. Beberapa orang sedang sibuk mendekor rumah untuk persiapan pernikahan Zara dan Adhi.
"Tolong itu bunganya di pasang di meja sana ya." Abian sedang sibuk memerintahkan beberapa orang.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Abian kembali mengecek beberapa persiapan pernikahan Zara dan Adhi. Saat sedang mengecek Abian melihat Nadia yang baru saja bangun.
"Pagi, yah," sapa Nadia.
"Pagi."
Nadia berlalu menuju dapur. Tapi belum sempat langkahnya jauh, ayahnya kembali memanngil, dan membuat Nadia berhenti.
"Nad..."
"Apa, yah?"
"Bangunkan kakakmu, sepertinya dia belum bangun."
"Iya, yah," ucap Nadia. Nadia yang langsung melangkah menuju kamar Zara untuk membangunkan Zara.
Membuka pintu kamar Zara, Nadia melihat Zara masih meringkuk di bawah selimut. "Kak," panggil Nadia seraya mengoyang-goyangkan tubuh Zara.
"Em..." Zara yang di bangunkan hanya meleguh saja.
"Kakak, ayo bangun, hari ini hari pernikahan kakak, tapi kakak masih enak-enakan tidur." Nadia yang mulai kesal membangunkan Zara berterik dan terus mengoyangkan tubuh Zara.
"Iya," ucap Zara yang mendengar suara Nadia.
Mengerjapkan matanya, Zara bangun dari tidurnya. Zara masih sangat menganguk karena semalam dia dan ayahnya menyiapkan beberapa hal, hingga membuat Zara tidur terlalu malam.
Menyibak selimuynya, Zara berlalu ke kamar mandi. Rasanya dia harus segera menyegarkan dirinya untuk menghilangkan rasa kantuk yang menderanya.
Setelah menyelesaikan mandinya, Zara keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Zara melihat ibunya bersama dengan seorang wanita.
"Ini dia calon pengantin," ucap Bu Intan pada seorang wanita.
Zara yang di panggil calon pengantin hanya tersenyum saja. Dirinya masih menyadarkan dirinya, jika hari ini benar-benar hari pernikahannya.
"Ra, sini, kamu mau di make up." Bu Intan menarik lembut Zara untuk mendekat pada wanita yang berada di kamarnya.
"Wah, calon pengantinya cantik. Kalau di make up pasti nanti akan lebih cantik." Wanita yang adalah seorang penata rias pun memuji Zara
"Terimakasih."
"Ya, sudah ayo saya make up dulu," ucap penata rias memita Zara untuk duduk.
Zara yang di minta untuk duduk pun duduk, dan membiarkan penata rias, merias wajahnya. Perasaannya Zara begitu berdebar, membayangkan akan seperti apa wajahnya.
Penata rias mulai merias wajah Zara. Sapuan make up mulai di sapukan di wajah Zara. Wajah canti Zara yang polos pun seketika berubah. Sapuan make up tergambar indah di wajah Zara.
Melihat wajahnya di pantulan cermin membuat Zara tercengang. Wajahnya benar-benar berubah. Lipstik merah merona di bibirnya. Walaupun Zara jarang memakai warna mencolok seperti merah, tapi tampaknya warna itu tetap cantik di wajahnya.
"Ra, kamu cantik sekali," puji Fira pada Zara.
"Terimakasih," ucap Zara.
"Pasti Adhi akan terpesona nanti denganmu."
Mendengar ucapan Fira, wajah Zara semakin merona. Dirinya belum bisa bayangkan akan seperti apa reaksi Adhi saat melihatnya nanti.
"Ayo, aku bantu memakai gaunmu," ucap Fira.
Zara berdiri dan beralih mengambil gaun yang kemarin di belinya. Di bantu oleh Fira, Zara memakai gaunnya. Gaun dengan lace di dada dan potongan A membuat Zara begitu cantik.
"Sempurna," ucap Fira saat melihat Zara sudah rapi memakai gaunnya.
Zara melihat dirinya di pantulan cermin, yang berada di hadapannya. Gaun dan make up di wajahnya benar-benar mengubahnya menjadi putri.
Saat sedang bersiap, Zara dan Fira melihat pintu terbuka. Melihat di balik pintu, Zara dan Fira melihat ibu dan ayah Zara masuk ke dalam kamar.
"Kamu cantik sekali, Ra," ucap Bu Intan melihat putrinya.
Zara hanya bisa tersenyum pada ibunya, saat mendapatkan pujia dari ibunya.
Abian yang melihat wajah cantik putrinya juga tersenyum. Abian tidak menyangka akan melepas anaknya untuk menikah hari ini. Setelah kejadian kemarin yang sempat membuat dirinya harus mengorbankan anaknya. Kini dirinya bisa bernapas lega saat melepas putrinya pada lelaki yang baik, yang begitu anaknya cintai.
"Ayo, pengantin pria mu sudah menunggu," ucap Abin mengajak Zara untuk keluar dari kamarnya.
Zara mengangguk. Di tuntun Fira dan Bu Intan, Zara keluar untuk menemui calon mempelai pria yang begitu dia cintai.
Melangkah menuju ke tempat acara pernikahan, jantung Zara berdebar-debar. Melewati para tamu. Zara menuju meja di mana disana sudah ada Adhi yang menanti dirinya. Dari kejauhan Zara melihat Adhi sudah dengan gagah memakai setelah jas.
Adhi yang melihat Zara datang langsung terpesona. Terbiasa melihat Zara dengan tampilan biasa saja, membuat Adhi tercengang melihat wajah cantik Zara dengan sapuan make up.
Senyum terlukis di wajah Adhi dan Zara. Duduk saling berdampingan acara pernikahan di mulai.
Adhi begitu berdebar saat harus mengucapkan ijab qobul. Menetralkan debaran jantungnya, Adhi mengucap ijab qobul dalam satu kali tarikan napas.
Menjabat tangan ayah Zara, Adhi mengucapkan kata-kata yang dari tadi sudah dia hapalkan. "Saya terima nikahanya Zara Amelia Putri binti Abian Sanjaya dengan mas kawn tersebut, tunai."
"Sah..."
Zara yang mendengar Adhi menyelesaikan kalimat ijab qobulnya merasa sangat lega. Menatap wajah pucat Adhi, Zara tersenyum.
__ADS_1
Adhi yang dari tadi merasakan berkeringat dingin. Akhirnya bisa bernapas lega, saat menyelesikan ijab qobulnya.
Melanjutkan acara, Adhi dan Zara saling bertukar cicin. Adhi yang kemarin mencari cincin, berharap cincin yang di belinya akan muat pada jemari Zara.
Memasangkan cincin pada jemari Zara, Adhi merasa lega saat cincin pas di jemari Zara, dan cincin terpasang indah di jemari Zara.
Zara pun bergantian memasang cincin di jemari Adhi, sebagai tanda pengikat perrnikahan mereka. Memasang cincin di jemari Adhi, Zara masih benar-benar sulit percaya, jika sekarang di hadapannya adalah suaminya. Senyum pun menghiasi wajah Zara, saat memasang cincin di jemari Adhi.
Kecupan manis di dahi Zara, menjadi ungkapan bahagian dari kedua mempelai
***
Setelah proses acara berlangsung, semua tamu memberikan ucapan selamat pada Adhi dan Zara.
"Selamat ya, Nak." Ucapan selamat pertama kali datang dari Abian. Abian memeluk putrinya dan menantunya, sebagai ungkapan rasa bahagianya. Abian bahagia, saat harus melepas putrinya pada pria baik dan bertanggung jawab seperti Adhi.
"Terimkasih, yah" ucap Zara memeluk erat ayahnya.
"Jadi istri yang baik, Ra." Satu kalimat yang terucap untuk Zara dari Abian.
"Iya, yah."
Beralih pada Adhi, Abian memeluk Adhi. "Titip Zara ya, dhi."
"Iya, Om."
"Panggil ayah, dhi," ucap Abian seraya melepas pelukannya.
"Iya, yah, Adhi akan menjaga Zara," ucap Adhi tersenyum.
Bu Intan pun menghampiri Zara dan Adhi. Memberikan pelukan hangat pada Zara,Bu Intan memberikan ucapan selamat. "Selamat ya, Ra, semoga kamu jadi istri yang baik."
Zara merasa senang, saat pernikahannya seperti ini, ibunya ada untuk menemaninya. Terimakasih, bu."
"Titip Zara, dhi. Kalau nakal di jewer saja," ucap Bu Intan pada Adhi.
Adhi tersenyum mendengar ucapan mertunya. "Tenang, Bu, nanti kalau nakal di jewer," ucap Adhi melirik Zara.
Zara yang mendengar hanya mencebikkan bibirnya.
"Anak nakal," ucap Nyonya Ayu seraya menjewer anaknya.
"Mama," panggil Adhi yang melihat mamanya menarik telinganya.
Zara yang melihat telinga Adhi di tarik hanya tersenyum. Tadi Adhi berniat menjewer dirinya, tapi kini malah Adhi sendiri di jewer oleh mamanya.
"Biar, mama masih kesal sama kamu yang menikah dadakan seperti ini." Walaupun sudah di ceritakan oleh Adhi tapi Nyonya Ayu masih merasa sangat kesal.
"Ma," tegur Daffa.
Nyonya Ayu yang kesal langsung luluh. "Selamat ya, sayang," ucap Nyonya Ayu memeluk Adhi.
"Terimakasih, ma." Adhi tahu kemarahan mamanya hanya sesaat. Adhi merasa sangat senang saat ada mamanya yang menemani dirinya di saat pernikahannya.
Beralih pada Zara, Nyonya Ayu memberikan ucapan selamat. "Selama ya, sayang, akhirnya kamu jadi menantu mama."
"Iya, ma."
Kedekatan Zara dengan mama Adhi memang sudah terjalin sejak pertemuan mereka di luar negeri, saat melakukan perkerjaan.
"Selamat buat kalian." Tuan Edward mengucapkan selamat juga pada Zara dan Adhi.
"Terimakasih, Om," ucap Adhi dan Zara
Berdiri di samping Nyonya Ayu dan Tuan Edward ada Daffa dan Tania. Daffa yang membantu dan menemani adiknya, merasakan kebahagiannya, saat melihat adiknya menikah.
"Selamat," ucap Daffa seraya memberikan pelukan hangat untuk Adhi.
"Terimakasih, Bang." Adhi tahu tak banyak kata yang bisa di ucapkaj oleh kakaknya. Tapi Adhi tahu, jika kakaknya begitu menyayangi dirinya.
"Selamat buat kalian," ucap Tania seraya menautkan pipinya pada pipi Zara. "Cepat hamil ya," lanjutnya.
Mendengar ucapan dari Tania pipi Zara merona. Rasanya dirinya masih sangat malu dengan hal itu.
"Tenang kita bakal nyusul Kak Tania," ucap Adhi.
Belum usai rasa malunya karena ucapan Tania. Zara merona kembali mendengar ucapan Adhi.
"Hai, selamat."
Untunglah rasa malu Zara tertutupi saat suara Fira terdengar memberikan selamat. Zara langsung menerima tautan pipi dari Fira. "Terimakaisih, Fir."
Jeje yang berada di samping Fira pun mengulurkan tangan pada Adhi. "Selamat ya."
"Terimakasih, Bang." Adhi menerima uluran tangan dari Jeje.
"Hai, hai pejuang cinta, akhirnya perjuanganmu berakhir juga," ucap Fira.
Adhi hanya tersenyum saat Fira menyebutnya sebagai 'pejuang cinta'. "Terimakasih."
__ADS_1
Fira tersenyum, merasakan kebahagiaan dua sahabatnya yang selalu ada untuknya itu. Melihat dua sahabatnya bersanding, membuat kebahagiaan itu tak bisa di ungkapkan lagi oleh Fira dengan kata-kata lagi. Fira tahu, bagaimana Adhi dulu memperjuangkan sebuah cinta, dan kini dia sudah mendapatkanya.