Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Harus berpisah.


__ADS_3

Pagi ini sesuai rencana Adhi dan Zara akan pulang ke rumah Adhi. Setelah sarapan, Adhi dan Zara bersiap.


"Bawa saja seperlunya, nanti kita bisa kembali lagi untuk ambil baju kamu lagi," ucap Adhi pada Zara.


Zara yang sedang memilih bajunya, menoleh pada Adhi. "Iya, aku juga nggak bawa banyak," ucap Zara seraya memasukkan baju ke dalam kopernya.


"Sebelum ke rumah, kita mampir dulu ya ke rumah Bang Daffa. Tadi mama meminta kita kesana." Adhi yang tadi di hubungi mamanya memberitahu, jika ingin bertemu dengan Adhi dan Zara.


"Iya."


Setelah menyelesaikan mengepaki baju, Adhi dan Zara nembawa koper keluar. Adhi menarik satu koper dan Zara menarik satu koper juga. Keluar dari kamar Adhi dan Zara berpamitan dengan Ayah Abian dan Bu Intan.


"Kalian sudah siap?" tanya Bu Intan.


"Iya, Bu." Zara berhenti di depan ibunya, dan menghentikan tangannya yang menarik koper.


"Jaga diri baik-baik ya, yang nurut sama Adhi." Bu Intan memberitahu pada anaknya.


"Iya, Bu, Zara akan menurut dengan Adhi."


"Titip Zara, Dhi." Abian menepuk bahu Adhi.


"Iya, yah. Adhi akan menjaga Zara."


Sebenarnya Abian tidak perlu meragukan apa yang di janjiakan oleh Adhi. Abian sudah cukup tahu bagiamana baiknya menantunya.


"Jadi istri yang baik," ucap Abian pada Zara.


"Iya, yah," ucap Zara seraya memeluk ayahnya.


Setelah berpamitan, Adhi dan Zara menuju ke mobil. Hal pertama yang mereka lakukan adalah memasukkan koper ke bagasi. Setelah memastikan semua barang yang Zara bawa sudah masuk ke bagasi, Zara dan Adhi masuk ke dalam mobil.


Mengijak pedal gasnya, Adhi menuju ke rumah Daffa.


Sepanjang perjalanan, Adhi terus mengenggam tangan Zara. Seoalah Adhi tidak mau melepaskan Zara sama sekali.


"Dari semalam, kamu sudah memelukku erat, dan tidak melepaskannya. Sekarang kamu mengeggam tanganku terus, memangnya kamu pikir aku akan pergi," sindir Zara tersenyum.


"Iya, aku benar-benar takut kamu pergi," jawab Adhi.


"Memangnya aku mau pergi kemana, jika tujuanku ada disini." Zara mengeratkan tangan Adhi dan membawanya kepelukannya.


"Jangan bawa tanganku ke situ, aku tidak bisa jamin di akan memegang yang ada di situ," goda Adhi.


"Dhi," ucap Zara menegur ucapan Adhi. Pipi Zara langsung merona saat mendengar ucapan Zara. Zara benar-benar baru tahu, kalau Adhi selalu suka membicarakan hal-hal yang mengarah kesana.


"Kenapa kamu masih malu?" tanya Adhi, saat melihat wajah merona Zara.


"Iya, aku masih malu."


"Perlahan, aku akan membuang rasa malumu, saat bersama ku." Adhi tersenyum pada Zara.

__ADS_1


Zara hanya membalas senyuman ucapan Adhi.


Sesampainya di rumah Daffa, Adhi dan Zara langsung masuk ke dalam rumah. Adhi yang terbiasa langsung masuk ke dalam rumah, tidak perlu mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kalian sudah datang?" tanya Nyonya Ayu.


"Iya, ma," ucap Adhi menautkan pipinya pada pipi mamanya.


Beralih pada Zara, Nyonya Ayu menautkan pipinya pada pipi Zara. "Halo, sayang," ucap Nyonya Ayu.


"Kenapa mama menghubungi Adhi?" tanya Adhi setelah melihat mamanya melepaskan pelukiannya pada Zara.


"Kita duduk di dalam, ada yang lain di ruang keluarga." Nyonya Ayu mengajak Adhi dan Zara untuk masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke ruang keluarga, Adhi dan Zara melihat ada Tuan Edward, Daffa dan Tania, yang sedang duduk menunggu Adhi dan Zara.


"Wah pengganti baru," goda Daffa. "Sudah malam pertama belum?" tanya Daffa.


"Sayang," tegur Tania yang melihat Daffa melihat mengoda Adhi dan Zara.


Adhi hanya melirik tajam pada Daffa. Adhi tahu pasti, jika kakaknya itu sedang mengodanya.


"Fa, jangan goda adikmu seperti itu." Nyonya Ayu pun menegur Daffa. "Sudah ayo duduk, ada yang mau mama bicarakan," lanjut Nyonya Ayu menatap pada Adhi.


Adhi dan Zara yang melihat mama sepertinya ingin membicarakan hal serius, akhirnya memilih duduk.


"Jadi begini, karena mama sudah di sini, mama ingin melanjutkan langsung tinggal di sini. Jadi kamu bisa mengantikan Edward untuk mengurus perusaahaan di sana." Nyonya Ayu menjelaskan pada Adhi.


"Iya."


Adhi begitu kaget dengan rencana mamanya itu. Adhi pikir mamanya akan sekitar dua bulan lagi menemani Tania. Tapi ternyata mamanya malah ingin secepatnya menemani kelahiran anak Tania.


"Tapi, ma, Adhi saja baru menikah, bagaimana bisa Adhi harus berpisah?" Adhi benar-benar kesal dengan ide mamanya, belum sempat dirinya menikmati bulan madu, tapi mamanya sudah memisahkan dirinya.


"Siapa yang suruh kamu pisah sama Zara?" tanya Nyonya Ayu.


"Lalu?"


"Kalian berdua bisa di sana berdua, dan nanti kita akan carikan ganti Zara dengan karyawan lain."


Adhi bernapas lega, karena ternyata dirinya tidak akan pergi sendiri. Adhi tidak bisa bayangkan, jika dirinya harus berjauhan dengan Zara.


"Baikalah kalau begitu, besok Adhi akan usahakan untuk cari penganti Zara, dan secepatnya kami akan keluar negeri.


Nyonya Ayu sangat senang saat mendengar ucapan Adhi. Sedangkan Daffa dan Tuan Edward hanya saling padang, karena melihat wajah gembira Nyonya Ayu. Mereka sudah bisa tebak kalau Nyonya Ayu akan sesenang itu.


"Kalau begitu, kami permisi dulu." Adhi berdiri dan berpamitan.


"Mau kemana?" tanya Daffa.


"Pualanglah."

__ADS_1


"Masih siang, nanti saja malam," ucap Daffa penuh arti.


Zara yang mengerti maksud Daffa, hanya menunduk malu.


"Jangan berisik," ucap Adhi kesal.


"Sudah, sudah." Nyonya Ayu memisahkan dua anaknya yang berdebat. Nyonya Ayu beralih pada Zara dan Adhi. "Sudah kalian pulanglah," ucap Nyonya Ayu.


Adhi pun berpamitan dan keluar dari rumah Daffa. Masuk ke dalam mobil, Adhi dan Zara menuju ke rumah Adhi.


Selama perjalanan, Adhi dan Zara membahas siapa tentang siapa yang akan mengantikan Zara. Zara sendiri menyarankan beberpa karywan yang dia kenal pada Adhi, untuk mengantikannya sebagai sekertaris.


Sesampainya di rumah Adhi, Zara dan Adhi turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


"Rumahku tidak terlalu besar, tapi cukup untuk kita berdua."


"Aku tidak masalah," ucap Zara tersenyum.


"Siapa yang membersihkan rumah?" tanya Zara pada Adhi.


"Biasanya ada asisten rumah tangga setiap pagi membersihkan rumah, dan dia akan pulang setelah selesai."


"Berarti sekarang dia tidak ada?" tanya Zara yang melihat kesekeliling mencari asisten rumah tangga Adhi.


"Tidak ada, dan hanya kita berdua," ucap Adhi. Adhi menatap Zara lekat. Menatap kedua bola mata Zara, pandangan Zara dan Adhi saling mengunci.


Mendekatkan tubuhnya pada Zara, Adhi membenamkan bibirnya pada bibir Zara.


Zara yang sudah tahu bagaiaman cara membalas, mulai membalas ciuman Adhi.


Menikmati setiap kecapan yang tercipta, membuat gairah keduanya mulai muncul.


Adhi melepaskan ciumannya. "Kita lanjutkan di kamar," ucap Adhi menangkup tubuh Zara dalam gendongannya.


"Dhi," panggil Zara yang kaget dengan apa yang di lakukan Adhi.


"Panggil sayang mulai sekarang," pinta Adhi.


"Sayang," ucap Zara mengalungkan tangannya di leher Adhi.


Adhi tersenyum saat mendengar panggilan Zara padanya. Menuju kamarnya, Adhi sesekali mengecup bibir Zara.


Sesampainya di kamar, Adhi melanjutkan apa yang seharusnya di lakukannya kemarin. Melepaskan rasa yang sudah tertahan, untuk mencapai kenikmatan.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan berikan rate bintang 5.


__ADS_2