Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Satu syarat


__ADS_3

Setelah Adhi pergi Jeje memanggil Reza ke ruangannya untuk membahas beberapa perkerjaan, sebelum Reza dan Valeria cuti.


"Apa proyek Axton grup sudah siap, za?"


"Belum, Pak. Mungkin sebelum saya cuti akan saya selesaikan."


"Baiklah, kalau begitu hari ini kamu tidak perlu ikut untuk menemui klien. Kamu bisa kerjakan perkerjaanmu saja."


"Baiklah, Pak.'' Reza pun izin untuk permisi keluar, setelah mendengar perintah Jeje.


"Za,'' panggil Jeje, yang membuat langakah Reza berhenti. "Panggilkan Fira untuk masuk kemari.'' Jeje melanjutkan memberi perintah pada Reza.


Reza pun keluar dari ruangan Jeje, dan memanggil Fira untuk masuk ke dalam ruangan Jeje.


Fira yang mengetuk pintu terlebih dahulu, masuk setelah suara Jeje mempersilahkan Fira masuk.


"Kamu memanggilku?" tanya Fira seraya membuka pintu.


Jeje yang sedang fokus pada laptopnya, beralih ke arah pintu, saat mendengar suara Fira. "Iya sayang, kemarilah."


Fira yang diminta masuk oleh Jeje, melangkah menuju meja kerja Jeje, menarik kursi yang berada di depan meja Jeje, dan mendudukkan tubuhnya di kursi.


"Apa kamu sudah makam buburnya?" Jeje tersenyum menatap lekat wajah Fira, dan bertanya.


"Sudah," jawab Fira di sertai anggukan.


"Nanti sebelum jam makan siang, aku ada jadwal bertemu klien, aku ingin mengajakmu, karena Reza dan Valeria harus mengerjakan perkerjaan mereka sebelum cuti." Jeje menjelaskan alasan kenapa dia memanggil Fira ke ruangannya.


"Baiklah." Fira tersenyum menerima ajakan Jeje.


"Apa tadi kamu muntah lagi setelah makan bubur?" Dengan nada sedikit khawatir Jeje bertanya.


"Tidak, sepertinya dia menerima sarapan pagi ini?" Fira berucap seraya membelai perutnya.


Jeje yang mendengar Fira tidak muntah lagi merasa sangat lega, paling tidak ada asupan kalori yang masuk ke dalam tubuh Fira. Jeje memperhatikan Fira sedang membelai perutnya, ikut tersenyum. Dia pun berdiri menghampiri Fira yang duduk di kursi di depan mejanya. Tepat di hadapan Fira, Jeje berlutut dan ikut membelai perut Fira. "Anak papa pintar ya, nggak buat mama muntah lagi," ucap Jeje seraya mencium perut Fira. Walaupun perut Fira belum nampak membuncit, tapi rasa ada rasa senang di hati Jeje, bisa berinteraksi dengan anaknya yang berada di perut Fira.


Fira yang melihat Jeje membelai perutnya, hanya tersenyum melihat aksi Jeje. Walaupun terdengar masih aneh saat Jeje memanggil dirinya papa dan dirinya mama, tapi mungkin nanti mereka akan terbiasa.


"Baiklah papa, sekarang kita lanjutkan perkerjaan." Fira membelai lembut rambut Jeje yang sedang sibuk menciumi perut Fira.


Jeje langsung menengadah melihat ke arah Fira dan tersenyum. "Baiklah, mama Fira," goda Jeje seraya berdiri.


Fira pun tersenyum, dan ikut berdiri juga. Setelah Jeje mengecup pucuk kepalanya, Fira keluar dari ruangan Jeje.


**


Tepat jam sepuluh Jeje dan Fira sudah sampai di restoran yang di tuju. Saat sampai, belum nampak klien yang di tunggu oleh Jeje. Fira dan Jeje pun langsung duduk setelah pelayan menunjukan meja yang kosong.


"Apa nanti kamu mau makan siang disini juga?"


"Tidak, sepertinya aku ingin makan pasta di restoran Kak daffa."


"Baiklah, setelah ini kita akan makan di restoran Daffa."


Akhirnya Fira dan Jeje hanya memesan minuman di restoran yang mereka kunjungi, untuk bertemu klien. Jeje memesan espresso coffee dan Fira memesan orange juice.


"Selama pagi, Pak Gajendra," sapa seorang pria yang baru saja menghampiri Jeje.


Jeje yang baru saja menikmati *coffe*e nya, menolah saat terdengar suara menyapanya. Jeje langsung berdiri, dan mengulurkan tangannya. "Selamat pagi juga, Pak Andrea," ucap Jeje membalas sapaan dari kliennya. "Silakan duduk." Jeje mempersilakan duduk tepat di hadapannya.


"Apa Pak Gajendra tidak mengenalkan sekertarisnya terlebih dahulu." Andrea yang melihat seorang wanita cantik di samping Jeje sudah bisa menebak, jika dia adalah sekertaris Jeje.


"Oh ya maaf, kenalkan ini sekertaris saya, Zhafira." Jeje pun memperkenalkan Fira sebagai sekertarisnya, mengingat dia sedang bertemu kliennya.


"Andrea," ucap Andrea seraya mengulurkan tangan pada Fira.


Fira menerima uluran tangan Andrea. "Zhafira." Fira memperkenalkan namanya.


Andrea yang berkenalan dengan Fira, tersenyum. Dia memperhatikan dengan seksama wajah cantik Fira. Dia tidak menyangka, bahwa Jeje memiliki sekertaris secantik Fira. Tapi tatapan Andrea langsung teralih, saat Jeje membicarakan kerja sama mereka.


Jeje memulai membicarakan kerja sama antara perusahaan miliknya dan perusahaan milik Andrea. Mereka saling menjelaskan proyek yang mereka tawarkan masing-masing.


Fira yang duduk tepat di samping Jeje, mencatat beberapa poin yang di minta Jeje dan Andrea.


"Saya permisi dulu ke toilet," ucap Andrea di sela-sela perbincangan mereka. Andrea berdiri dan berlalu menuju toilet.


"Apa kamu melihat bagaimana dia memandangku, rasanya aku tidak suka cara dia memandangku, aku rasa seperti singa yang kelaparan." Fira yang dari tadi memperhatikan Andrea menangkap bahwa Andrea memperhatikan dirinya selama berbincang dengan Jeje.


Jeje mengerutkan keningnya. "Benarkah?" Jeje yang tadi fokus menjelaskan perkerjaanya, tidak memperhatikan Andrea yang memandangi Fira.


"Iya, tadi dia memandangku dengan tatapan aneh." Fira bergidik ngeri saat mengingat tatapan Andrea.


Jeje yang melihat ketakutan Fira, menyadari bahwa mungkin benar adanya yang di katakan Fira. "Tunggulah aku di mobil saja. Aku tidak mau istriku di pandangi orang lain. Lagi pula tinggal kesepakatan saja, setelah itu kita bisa ke restoran Daffa." Jeje menyerahkan kunci mobil pada Fira.


Fira yang takut pun menerima kunci mobil milik Jeje. Pikir Fira lebih baik dia menunggu Jeje di mobil, dari pada dia merasa tidak nyaman dengan tatapan Andrea.


Andrea yang kembali ke mejanya, tidak mendapati Fira disana. "Kemana sekertaris Pak Gajendra?" tanya Andrea seraya menarik kursi dan duduk kembali.

__ADS_1


"Dia menunggu saya di mobil, karena saya rasa pembicaraan kita sudah hampir selesai."


Andrea yang mendengar ucapan Jeje mengangguk mengerti. "Baiklah, kita lanjutkan kesepakatan kita," ucap Andrea. "Saya akan menanda tangani kontrak kerja sama kita, dengan satu syarat."


Kening Jeje berkerut dalam saat mendengar Andrea mengajukan syarat. Setahu Jeje, mereka tinggal menyepakati kerja sama, tapi kenapa Andrea memberikan syarat padanya, pikir Jeje. "Syarat apa maksud Anda?"


"Berikan sekertaris selingkuhan Anda untuk menemani saya malam ini, dan saya akan langsung tanda tangani kontrak kerja sama kita." Andre berucap dengan senyum mengembang.


Jeje yang mendengar ucapan Andrea membulatkan matanya, darahnya langsung mendidih saat Andrea ingin meniduri Fira. Jeje membungkukkan tubuhnya ke arah Andrea, dan langsung menarik kerah jas milik Andrea. "Jangan melebihi batasmu Andrea." Jeje menatap tajam pada Andrea. Dirinya benar-benar tidak terima saat Andrea mengatakan hal itu padanya.


Andrea yang melihat emosi Jeje, hanya tertawa. "Ayolah Pak Gajendra, bukankah sudah biasa sebuah kerja sama di tukar dengan seorang wanita."


Jeje yang mendengar ucapan Andrea langsung melayangkan tangannya, tepat di wajah Andrea.


Andrea tersungkur ke samping meja, saat Jeje melayangkan tangannya ke wajah Andrea. Andrea yang merasakan sakit, hanya memeganggi ujung bibirnya yang berdarah. "Hanya untuk seorang selingkuhan, Anda memukul saya Pak Gajendra." Adrea benar-benar kesal dengan apa yang di lakukan Jeje.


Jeje yang masih geram pun berdiri, dan menghampiri Andrea kembali. Jeje kembali menarik kerah jas milik Andrea. "Bahkan aku bisa membunuhmu." Jeje melayangkan satu lagi pukulan di wajah Andrea.


Restoran seketika menjadi kacau, saat Jeje menghajar Andrea. Pelayan menghampiri Jeje, dan menarik tubuh Jeje menjauh dari Andrea. "Perlu Anda ingat Pak Andrea, sekertaris yang Anda ingin inginkan itu adalah istri saya, dan saya tidak akan terima dengan ucapan Anda." Jeje berteriak pada Andrea.


"Istri?" Andrea membulatkan matanya, mendengar ucapan Jeje.


"Iya, sekertaris saya adalah istri saya." Jeje menatap tajam pada Andrea.


"Tapi wanita tadi mengatakan bahwa sekertaris Anda adalah selingkuhan Anda," elak Andrea yang tidak tahu bahwa Fira adalah istri Jeje. Andrea mengingat bagaimana tadi dia bertemu, dengan seorang wanita saat keluar dari toilet. Wanita itu mengatakan bahwa Fira adalah selingkuhan Jeje.


"Jangan mengalihkan kesalahan Anda Pak Andrea," ucap Jeje.


"Tapi.."


"Kerja sama kita batal. Dan saya tidak mau lagi berkerja sama dengan Anda." Jeje langsung meninggalkan Andrea yang masih bingung.


Dengan emosi yang begitu memuncak Jeje melangkah ke arah parkiran. Jeje langsung masuk ke dalam mobil, setelah Fira membukakan pintu mobil dari dalam.


"Apa kerja samanya sudah di sepakati?" tanya Fira yang melihat Jeje baru saja melihat Jeje masuk ke dalam mobil.


"Kerja sama batal," ucap Jeje dengan emosi, seraya menghidupkan mesin mobil, dan langsung melajukan mobilnya.


Fira bingung mendengar bahwa kerja sama telah di batalkan. Padahal tadi Fira tahu betul bahwa Jeje dan Andrea tinggal menandatangani kesepakatan. Kebingungan Fira bertambah saat melihat Jeje yang dengan wajah merah, dan penuh emosi. "Ada apa sebenarnya?"


Jeje tidak menjawab pertanyaan dari Fira, dia lebih fokus untuk menetralkan emosinya. Dan fokus pada jalanan yang sedang dia lalui.


Fira masih melihat dengan jelas, Jeje sedang menurunkan emosinya. Akhirnya Fira memilih diam dan tidak bertanya lagi.


Jeje yang melajukan mobilnya, menuju ke restoran Daffa. Sepanjang perjalanan, Jeje menahan gemuruh di dalam hatinya. Rasanya, dia masih terngiang ucapan Andrea yang ingin mengajak Fira, untuk memuaskan dirinya.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu emosi sekali? Kenapa juga kerja samanya batal?" Fira yang dari tadi menahan diri untuk tidak bertanya, langsung memberikan Jeje beberapa pertanyaan sekaligus.


Jeje menghela nafasnya. "Andrea meminta syarat untuk kesepakatan kerja sama, dan aku tidak bisa memenuhi syaratnya." Jeje menatap lekat wajah istrinya, rasanya dia tidak tega untuk mengatakan bahwa Andrea mau menikmati tubuh Fira, untuk syarat kerja samanya.


"Karena itu kamu emosi?"


"Iya," ucap Jeje di sertai anggukan.


"Ya sudah, kalau memang kamu tidak bisa memenuhi syarat yang di ajukan Pak Andrea, lebih baik tidak memaksakan." Sebenarnya Fira ingin menanyakan apa syarat yang di ajukan Andrea hingga membuat Jeje marah. Tapi Fira mengurungkan niatnya, mengingat itu akan membuat Jeje kembali emosi.


"Ya sudah ayo masuk, kamu ingin makan pasta bukan."


Akhirnya Jeje dan Fira masuk ke dalam restoran Daffa. Sesaat setelah mereka duduk, Fira langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Aku tadi bertemu Celia," ucap Fira, di saat mereka sedang menunggu pesanan makanan datang.


Mendengar ucapan Fira, Jeje membulatkan matanya. "Dimana?"


"Di restoran tempat kita tadi bertemu klien." Fira mengingat bagaimana tadi dirinya bertemu dengan Celia, dan menceritakan pada Jeje.


Fira yang di minta Jeje untuk menunggu Jeje di mobil, melangkah menuju parkiran. Tapi langkah Fira terhenti saat seseoranng memanggilnya. Dan saat Fira menoleh, dia mendapati Celia yang sedang melangkah menghampirinya. "Kamu disini Celia?"


"Iya, tadi aku ada janji dengan teman. Tapi sepertinya temanku tidak jadi datang, jadi aku ingin pulang," ucap Celia menjelaksan. "Kamu sendiri sedang apa?"


"Aku sedang bertemu klien."


Celia menganggu mengerti. "Kalau begitu aku permisi dulu ya." Celia pun berpamitan, dan berlalu meninggalkan Fira.


"Jadi tadi Celia ada di restoran yang sama dengan kita?" Jeje memperjelas cerita Fira.


"Iya."


Seketika Jeje langsung terdiam mendengar cerita Fira. Dia mengingat dengan ucapan Andrea, yang mengatakan bahwa dia mendengar bahwa dia mengetahui Fira selingkuhannya dari seorang wanita. "Apa mungkin Celia lah yang di maksud oleh Andrea," batin jeje


"Sayang," panggil Fira yang membuyarkan pikiran Jeje.


Jeje langsung tersadar saat Fira memanggilkanya. "Iya."


"Kamu kenapa?"


"Tidak, aku hanya berpikir tentang proyek kerja sama yang batal saja," elak Jeje.

__ADS_1


"Apa kamu menyesal dengan membatalkan proyek kerja sama dengan Pak Andrea?"


"Tidak, aku tidak menyesal sama sekali." Rasanya Jeje tidak akan pernah menyesali keputusannya, karena telah membuat kerjasama antara dirinya dan Andrea batal. Sekalipun dia kehilangan beribu proyek, dia tidak akan pernah menyesal, jika yang di pertahankan adalah istrinya.


Saat makanan Fira dan Jeje datang, mereka berdua memulai makan. Tapi saat Fira makan, Fira melihat dari arah pintu masuk ada Adhi dan Zara yang baru saja masuk ke dalam restoran. "Ra," panggil Fira.


Adhi dan Zara yang baru saja masuk ke dalam restoran di kagetkan dengan suara yang memanggil Zara. Dan saat Adhi dan Zara mencari ke sumber suara, mereka melihat Fira lah yang memanggil.


Adhi dan Zara pun melangkah menghampiri Fira dan Jeje.


"Kalian disini?" tanya Adhi yang melihat Fira dan Jeje.


"Iya tadi kami baru saja bertenu klien," jelas Fira. "Kalian mau makan siang ya? Ayo gabung saja." Fira langsung berdiri, dan berpindah duduk tepat di samping Jeje, untuk membiarkan Adhi dan Zara duduk di hadapannya.


"Setelah makan bubur tadi pagi, sekarang kamu mau makan apa?" goda Adhi.


Fira yang mendengar godaan Adhi, hanya tertawa. "Sekarang aku mau makan pasta," jelas Fira. "Sekali lagi terimkasih sudah mau mengantarkan bubur sampai ke kantor tadi."


"Sama-sama, fir."


Jeje yang mendengar ucapan terimakasih Fira pada Adhi, hanya diam saja. Baginya terimakasihnya sudah di wakilkan oleh Fira, jadi dirinya tidak perlu berterimakasih lagi pada Adhi.


Akhirnya Fira, Jeje, Adhi, dan Zara makan bersama-sama setelah pesanan mereka datang. Dengan menyelipkan obrolan-obrolan kecil, mekeka semua menikmati makan siang bersama.


Setelah selesai makan siang. Jeje dan Fira berpisah dengan Adhi dan Zara, untuk kembali ke kantor masing-masing.


Jeje melajukan mobilnya setelah dirinya dan Fira masuk ke dalam mobil.


Adhi pun sama, setelah masuk ke dalam mobil, dia melajukan mobilnya menuju kantor.


"Kamu tadi pagi antar bubur untuk Fira?" Zara menatap Adhi bertanya, saat dalam perjalanan menuju kantor.


Zara yang tadi pagi melihat Adhi terlambat datang, tidak menyangka bahwa Adhi mengantar bubur terlebih dahulu sebelum ke kantor.


"Iya, tadi dia menghubungi aku untuk meminta bubur di dekat kampus. Karena itu aku mampir kesana. Aku juga sekalian menanyakan kebenaran pada Bang Jeje tentang Celia."


"Kamu masih perhatian sekali sama Fira, padahal dia sudah punya suami," ucap Zara dengan nada sarkastis.


Adhi terkesiap mendengar ucapan Zara. Nada bicara Zara seolah sedang menyindirnya. "Kamu kenapa ra, nada bicara kamu lain?"


Zara yang mendapat pertanyan dari Adhi merasa gugup karena dirinya tidak sadar mengatakan hal itu pada Adhi. "Aku.." Zara berpikir jawaban yang tepat untuk Adhi. "Aku nggak mau aja kamu terlalu perhatian dengan Fira. Mengingat dulu kamu pernah punya rasa dengan Fira, aku rasa perhatian kamu berlebih."


Adhi semakin bingung dengan ucapan Zara. "Berlebih bagaimana maksud kamu, ra?"


"Iya pertama kamu antar bubur untuk Fira, padahal ada Pak Gajendra yang harusnya menuruti saat Fira nyidam. Kedua kamu sengaja menemui Pak Gajendra untuk menanyakan tentang Celia yang tinggal di apartemen sebelah Fira. Dari yang aku tangkap, kamu begitu khawatir pada Fira.'' Zara yang semalam pulang dari tempat Atta, baru tahu bahwa Celia adalah mantan kekasih Jeje, dari cerita Adhi.


"Apa menurutmu aku salah khawatir pada Fira?" Adhi masih tidak mengerti apa yang ada di pikiran Zara.


"Tidak ada yang salah. Tapi kekhawatiran kamu seakan menujukan bahwa kamu masih menyimpan rasa pada Fira." Semalam saat Adhi bercerita tentang Celia, Adhi nampak khawatir pada Fira, yang akan sakit hati saat tahu mantan kekasih suaminya, tinggal di sebelah apartemennya. Dan mendengar Adhi tadi pagi datang ke kantor Jeje, menunjukan bahwa seberapa khawatirnya Adhi pada Fira.


Kedua bola mata Adhi membulat sempurna saat mendengar ucapan Zara. "Kamu pikir aku khawatir ke Fira, karena aku masih menyukai Fira?" Adhi memperjelas lagi ucapan Zara.


"Iya," jawab Zara. "Dan sebagai teman, aku menyarankan untuk berhenti mengkhawatirkan Fira dhi, semakin kamu khawatir, semakin kamu nggak bisa move on dari Fira."


"Tapi aku sudah tidak menyukai Fira, ra."


"Ya kamu bilang tidak suka, tapi aku melihat kamu masih suka dhi."


Adhi langsung menepikan mobilnya, dan langsung membuka seatbelt nya. Adhi memutar tubuhnya mendekat pada Zara, menatap kedua bola mata Zara. Wajahnya yang berada tepat di hadapan Zara, membuat jarak antara mereka hanya beberapa centi saja.


Zara terkesiap saat melihat Adhi mendekat padanya, seketika mata Zara langsung saling pandang dengan mata Adhi, dan saling mengunci.


"Apa kamu melihat bahwa aku masih mencintai Fira?"


Zara sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Adhi, entah kenapa suaranya tercekat di tenggorokan. Dadanya berdebar dengan kencang, dan saat deru nafas Adhi berhembus tepat di wajahnya rasanya. Zara bingung mengartikan apa yang di rasakan saat ini.


"Aku.."


Belum sempat Adhi mengatakan isi hatinya, terdengar suara klason yang menghentikan ucapan Adhi. Dengan kesal Adhi menoleh arah suara klason itu. Dan ternyata itu adalah suara mobil yang baru saja mau keluar dari sebuah toko. Mobil Adhi yang menepi di depan toko, membuat mobilnya menghalangi mobil yang ingin keluar dari toko itu.


Akhirnya Adhi melajukan mobilnya kembali menuju kantor. Tidak ada pembicaraan antara Adhi dan Zara lagi. Zara yang malu, membuang muka melihat arah luar kaca mobil. Dirinya tidak berani sama sekali melihat ke arah Adhi. Sedangkan Adhi, diam saja karena rasanya dia bingung mau melanjutkan ucapannya, setelah terjeda tadi.


Sampai di kantor mereka berdua hanya dengan keheningan


.


.


.


.


Jangan lupa like🄰


Mampir juga ke instagram aku ya: Myafa16


.

__ADS_1


__ADS_2