
Malam setelah makan malam, Fira merasakan perutnya sakit. Tapi Fira mencoba mengabaikannya.
Masuk ke dalam kamarnya, Fira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Di kamar, Fira hanya sendiri, karena Jeje sedang mengantar mamanya untuk pulang.
Napas Fira mulai terengah-engah menahan rasa sakit di perutnya yang semakin lama semakin lebih terasa menyakitkan.
"Bu," panggil Fira pada Bu Ani.
Kamar Fira yang kedap suara membuat suaranya tidak terdengar. Akhirnya, Fira mencoba untuk berjalan keluar kamar, untuk meminta tolong pada ibunya.
Membuka pintu, Fira memanggil ibunya. "Bu." Suara Fira terasa berat saat menahan rasa sakitnya.
Bu Ani yang mendengar suara Fira pun keluar dari kamarnya. "Fira." Bu Ani yang melihat Fira terlihat kesakitan pun menghampiri.
"Perut Fira sakit, Bu," ucap Fira.
"Sepertinya kamu mau melahirkan," ucap Bu Ani, "kita ke rumah sakit saja."
"Tapi Jeje belum pulang, Bu." Fira memberitahu ibunya.
Bu Ani baru ingat, jika Jeje sedang pergi mengantar Mama Inan. Bu Ani pun merasa bingung, bagaimana dirinya pergi ke rumah sakit.
"Bi," panggil Bu Ani pada asisten rumah tangga.
Asisten rumah tangga yang di panggil pun datang. "Iya, Bu."
"Tolong, ambilkan ponsel saya di atas nakas!" Bu Ani pun meminta asisten rumah tangga membantu. Bu Ani berpikir untuk menghubungi Jeje saja, karena dirinya tidak berani membawa Fira sendiri ke rumah sakit.
"Kamu duduk dulu ya," ucap Bu Ani pada Fira. Bu Ani pun membantu Fira untuk duduk di sofa seraya menunggu ponselnya. Sebenarnya Bu Ani pun juga berdebar menghadapi Fira yang sudah ingin melahirkan, tapi dia berusaha untuk tenang karena tidak mau membuat Fira juga ikut panik.
"Ini, Bu," ucap asisten rumah tangga menyerahkan ponselnya pada Bu Ani.
Bu Ani langsung menerima ponsel yang di berikan asisten rumah tangga. Mengusap layar ponselnya, Bu Ani mencoba menghubungi Jeje.
"Halo, Bu," ucap Jeje saat mengangkat sambungan teleponnya.
"Je, kamu dimana, ini Fira sudah mau melahirkan." Bu Ani menjelaskan pada Jeje.
"Fira mau melahirkan?" tanya Jeje memastikan. Jeje benar-benar merasa kaget saat mendengar jika Fira ingin melahirkan. Tadi saat dirinya akan mengantar mamanya, Jeje melihat Fira masih belum ada tanda-tanda.
"Iya, kamu cepat pulang."
"Kalau begitu Jeje kembali saja, Bu." Jeje yang sedang mengantar mamanya akhirnya memilih untuk kembali, dan membatalkan mengantar mamanya. Pikirannya hanya tertuju pada Fira.
"Baiklah." Bu Ani pun mematikan sambungan telepon.
Beralih pada Fira Bu Ani melihat wajah Fira yang pucat. "Sabar ya, sayang, papa sedang pulang." Bu Ani pun membelai perut Fira, berharap bisa meredakan sakit yang didera Fira.
Fira hanya bisa tersenyum kecil saat melihat ibunya menenangkan anaknya. Menahan rasa sakitnya, Fira tidak mau membuat ibunya panik.
Setelah beberapa saat Jeje sampai di rumah. Perjalanan Jeje ke rumah mamanya yang belum jauh, membuat Jeje bisa dengan cepat sampai ke rumahnya kembali.
"Sayang," panggil Jeje yang melihat Fira sudah menahan sakit.
"Cepat bawa ke rumah sakit, Je." Bu Ani pun meminta Jeje untuk cepat membawa Fira.
Jeje pun dengan sigap langsung menangkup tubuh Fira, dan membawanya dalam gendongannya. Jeje benar-benar merasa panik, seperti yang di rasakan oleh Daffa dua bulan yang lalu. "Sabar sayang," ucap Jeje pada Fira.
Fira mengangguk dan menyelipkan senyuman pada Jeje. Fira tahu seberapa panik Jeje. Memutar kembali ingatannya, Fira mengingat jika Jeje begitu takut saat Tania merintih kesakitan. Belajar dari itu, Fira tidak mau terlalu merintih kesakitan. Walaupun sebenarnya dirinya benar-benar merasakan sakit.
Jeje yang melihat Fira, benar-benar tidak habis pikir. Di saat kepanikannya, Fira masih bisa tersenyum. Jeje tahu, Fira jarang sekali mengeluh apa lagi di saat dirinya panik seperti ini, pasti Fira menahannya.
Meletakkan Fira di kursi belakang dengan mama dan mertuanya, Jeje beralih pada kemudinya.
"Je, tetap hati-hati," ucap mamanya saat Jeje hendak melajukan mobilnya. Mama Inan tahu jika putranya pasti sedang sangat panik, dan karena itu Mama Inan tidak ingin Jeje sampai tidak fokus.
"Iya, Ma." Jeje melajukan mobilnya ke rumah sakit.
Entah kenapa Jeje merasa perjalanan begitu lama. Jeje merasa jarak rumah sakit terasa begitu sangat jauh, hingga mobilnya lama sekali untuk sampai. Belum lagi mendengar rintihan Fira, yang menyayat hati, seolah dirinya juga merasakan sakit yang di rasa oleh Fira.
__ADS_1
Akhirnya setelah perjalanan yang di rasa begitu lama oleh Jeje, mobilnya sampai juga di rumah sakit. Saat sampai para perawat sudah menyambut Fira. Para perawat memindahkan Fira ke bangkar, dan mendorong Fira ke ruang persalinan.
Jeje pun langsung turun dari mobil, dan ikut ke ruang persalinan. Tangan Jeje menggenggam tangan Fira erat, berharap genggaman tangannya bisa menyakinkan Fira, jika semua akan baik-baik saja.
Jeje merasakan dengan jelas tangan Fira yang menggenggam tangannya erat, dan sesekali terasa kencang. Jeje sadar jika itu tanda jika Fira sedang manahan sakitnya.
Sampai di ruang persalinan, dokter langsung mengecek saluran melahirkan milik Fira.
"Masih bukaan tiga, jadi masih sekitar tiga sampai lima jam lagi," ucap dokter, "sabar ya, Bu, di tunggu saja," lanjut dokter.
Jeje yang mendengar hanya bisa mengerutkan dahinya, saat mendengar jika dokter mengatakan Fira akan melahirkan tiga sampai lima jam lagi.
Dokter pun meninggalkan Fira dan Jeje di ruang persalinan. "Tolong di temani istrinya," ucap dokter sebelum pergi pada Jeje.
"Iya."
Jeje hanya mendengus kesal saat mendengar ucapan dokter. "Jelas saja aku akan menunggu," gumam Jeje. Jeje pun beralih pada Fira, Jeje melihat jelas jika Fira menahan sakitnya. "Sakit sayang?" tanya Jeje.
"Sakitnya hilang timbul." Fira berucap seraya mengernyitkan dahinya, menahan sakit. Tangannya yang menggenggam Jeje pun, semakin erat.
Jeje yang mendengar keluahan tidak bisa berbuat apa-apa. Dirinya ingin sekali cepat-cepat dokter membantu Fira melahirkan, tapi sayangnya dokter malah berkata jika Fira harus menunggu.
Bu Ani dan Mama Inan masuk ke dalam kamar, sudah terlihat juga Papa Rayhan yang juga sudah datang.
"Sudah bukaan berapa kata dokter?" tanya Mama Inan pada Jeje.
"Tiga, Ma."
"Sepertinya masih lama," ucap Mama Inan.
"Kamu pakai jalan-jalan, Fir, agar pembukaanya bisa lebih cepat." Mama Inan beralih pada Fira.
"Mama bagaimana sih, Fira sedang menahan sakit justru di minta untuk jalan-jalan." Jeje yang mendengar ucapan mamanya merasa tidak terima.
"Kamu itu pria tahu apa," ucap Mama Inan pada Jeje.
"Memang begitu, Je, akan lebih cepat jika di bantu bergerak, jadi jalan-jalan saja di ruangan ini." Bu Ani pun menjelaskan pada Jeje.
Fira pun berjalan kesana-kemari sesuai saran dokter. Sesekali Fira berhenti saat perutnya terasa sakit. Apa lagi saat sakitnya terasa lebih intens.
Sampai saat rasa sakitnya semakin terasa, akhirnya Jeje memanggil dokter. Jeje benar-benar tidak tega melihat Fira yang begitu kesakitan.
"Sayang, sakit ya?" tanya Jeje.
"Iya." Wajah Fira menahan rasa sakit sungguh terlihat nyata.
"Dokter apa istri saya sudah bisa melahirkan?" tanya Jeje yang melihat dokter sedang mengecek Fira.
"Sepertinya sudah," ucap dokter pada Jeje.
Jeje merasa lega saat dokter akan segera memantu Fira untuk melahirkan.
Dokter pun beralih pada perawat. "Siapkan untuk persalinan," ucap dokter pada para perawat.
***
Di ruangan perawatan dokter membantu Fira untuk lahiran. Alat-alat sudah di tersedia di sana. Dengan cekatan perawat memasang selang infus. Tidak lupa beberapa alat penunjang pun di pasang oleh perawat.
Dokter memulai membantu Fira untuk melahirkan. Dokter menyuruh Fira untuk membuka kakinya, agar jalan keluar bayi Fira terlihat.
"Dorong, Bu," ucap dokter pada Fira.
"Ehhhhhh...." Fira mengejan mendorong bayinya untuk keluar dari perutnya. Dengan segala tenaga yang di milikinya, Fira mendorong anaknya aga keluar.
"Terus sayang," ucap Jeje. Jeje terus memberikan semangatnya. Sesekali Jeje mendaratkan kecupan pada dahi Fira, untuk menyemangati Fira.
Fira terus mengejan, rasa sakitnya begitu menyiksa, seolah tulangnya remuk saat merasakan sakit. Bercampur dengan mengeluarkan tenaga, keringat Fira bercucuran.
Tangan Fira yang memegang Jeje, tanpa sadar jemarinya mencengkram lengan Jeje. Kuku lentiknya pun mencengkram dan membuat luka di sana.
__ADS_1
Tapi Jeje yang juga hanya fokus pada Fira, mengabaikan rasa sakit di lengannya. Jeje pun fokus, mengusap keringat Fira, dan memberi semangat terus pada Fira.
"Terus ya, Bu, dorong lagi, kepala bayinya sudah hampir keluar." Dokter mengarahkan Fira terus.
Napas Fira sudah sangat terengah. Badannya sudah terasa lemah. Seakan tenaganya benar-benar sudah habis.
"Sayang, ayo sedikit lagi." Jeje yang melihat Fira sudah lemas pun mencoba menyemangati. Jeje sebenarnya sangat takut, saat Fira sedang berjuang. Jeje melihat dengan jelas, Fira yang sedang mempertaruhkan nyawanya. "Anak kita akan lahir sebentar lagi," tambah Jeje.
Fira yang merasa lemas, kembali bersemangat saat mengingat jika anaknya akan lahir.
"Ehhhhhh...." Fira mencoba mendorong kembali.
"Terus, Bu." Dokter terus mengarahkan Fira untuk terus mendorong.
"Ayo, sayang," ucap Jeje.
"Ehhhhhh...." Sampai dorongan ketiga akhirnya bayi Fira dan Jeje keluar.
Oek...oek....
Suara bayi Fira saat keluar. Suara tangis anak Fira dan Jeje mengisi keheningan dan di tengah ruang persalinan.
Dokter pun langsung memotong tali pusar bayi Fira.
Fira dan Jeje pun merasakan senang saat mendengar suara anak mereka. Tubuh Fira yang lemas, masih bisa menampilkan senyum di wajahnya saat mendengar tangis anaknya. Rasa lemasnya bercampur dengan rasa bahagia.
"Anak kita sudah lahir," ucap Jeje seraya mendarat kecupan di dahi Fira. Jeje yang begitu berdebar dari tadi merasa sangat lega, saat mendengar suara tangis anaknya.
Perawat langsung meletakkan bayi Fira di atas dada Fira. Bayi kecil yang masih begitu merah itu pun berusaha menyusu pada Fira.
Air mata Fira mengalir saat melihat anaknya. Fira tidak menyangka jika dirinya sudah melahirkan anaknya. Bayi mungil yang berada di dadanya, begitu kecil. Hingga dirinya begitu takut untuk menyentuhnya.
Tapi Fira berusaha untuk menyentuh kulit halus dari anaknya. Fira ingin anaknya merasakan kehangatan tanganya.
Setelah proses persalinan selesai, perawat membersihkan tubuh bayi Fira dan Fira.
****
Fira sudah di pindahkan ke ruang rawat. Sementara anaknya masih di ruang bayi.
Mama Inan dan Bu Ani pun melihat anak Fira masih di ruang rawat bayi.
"Cucu kita, Bu," ucap Mama Inan pada Bu Ani. Rasanya Mama Inan begitu senang saat melihat anaknya dari balik kaca pembatas ruang rawat bayi.
"Iya, Bu." Bu Ani pun melihat dengan raut wajah bahagia. Dirinya tidak menyangka jika sekarang dirinya sudah menjadi nenek. Sejenak Bu Ani mengingat suaminya, karena pasti dia akan sangat senang saat melihat wajah cucunya.
Rayhan pun melihat cucunya hanya bisa menarik senyum di wajahnya. Kini dirinya punya penerus Nareswara setelah Jeje.
***
Perawat mengantarkan anak Fira ke ruangan rawat Fira. Seluruh keluarga pun menunggu menanti bisa melihat anggota keluarga baru.
Perawat pun memberikan anak Fira pada Fira.
Fira begitu bahagia bisa mengendong anaknya. Melihat bayi mungil yang begitu mengemaskan Fira tidak sabar untuk mendaratkan kecupan hangat di pipinya.
Jeje pun tak kalah bahagia saat melihat anaknya. Perjuangan Fira tadi benar-benar membuatnya lemas. Di depan matanya, Jeje melihat Fira berjuang antara hidup dan mati. Tapi saat melihat anaknya, hanya rasa bersyukur yang bisa dia ucapkan.
"Siapa namanya?" tanya Mama Inan pada Jeje dan Fira. Mama Inan melihat cucunya.
"Gaffi Alvarendra Nareswara," ucap Jeje.
"Gaffi Alvarendra Nareswara?" Mama Inan mengulang ucapan Jeje.
"Sesuai namanya kami berharap dia jadi seseorang yang berhati lembut, cerdas dan bijaksana," jelas Jeje.
Fira tersenyum pada Jeje. Fira dan Jeje berharap kelak anaknya akan menjadi anak yang berhati lembut, cerdas, dan bijaksana seperti namanya.
.
__ADS_1
.
TAMAT