
"Sudah selesai?" tanya Adhi yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Sudah." Zara yang sudah menyelesaikan perkerjaanya berdiri. Bersama Adhi, Zara menuju ke lift.
"Sudah di berikan oleh-olehnya?" Pertanyaan Adhi mengisi keheningan di dalam lift.
"Sudah," ucap Zara pada Adhi. Senyum mengembang di wajah Zara, saat dia menjawab pertanyaan Adhi.
"Dari senyummu itu, aku bisa menebak, jika hubunganmu sudah jauh lebih baik."
"Iya, aku dan ibu sudah saling memaafkan." Zara yang mengingat kejadian kemarin, merasakan sangat senang.
"Syukurlah, aku turut senang saat kamu bisa saling memaafkan dengan ibumu."
"Semua juga karenamu." Zara sadar betul, jika Adhi lah yang banyak mendukungnya, untuk memaafkan ibunya.
"Aku hanya mengingatkan, tapi semua kembali padamu."
"Iya."
"Apa kita berarti akan merayakan kebahagiaanmu malam ini?" tanya Adhi tersenyum penuh arti pada Zara.
"Boleh." Zara berpikir tidak ada salahnya mengajak Adhi untuk berbagi kebahagiaannya.
"Restoran?"
Zara sudah tahu, maksud dari restoran adalah restoran milik kakaknya. Zara pun mengelang, menjawab pertanyaan Adhi.
"Lalu?" tanya Adhi yang sedikit bingung dengan jawaban Zara.
"Kedai es krim," jawab Zara tersenyum memamerkan deretan giginya.
"Oke," ucap Adhi seraya mengacak rambut Zara sedikit.
Setelah memutuskan ke kedai es krim. Adhi melajukan mobilnya menuju ke kedai es krim. Di dalam perjalanan, Adhi dan Zara bercerita banyak hal. Terkadang mereka memang mengunakan moment pulang bersama, untuk lebih dekat lagi. Walaupun Adhi dan Zara sudah saling mengenal lama, tapi mereka belum saling memahami secara dalam.
Sesampainya di kedai es krim. Zara dengan semangat sudah turun lebih dulu. Adhi yang melihat Zara begitu bersemangat, hanya bisa mengeleng kepala. Mengikuti Zara yang turun, Adhi pun turun dari mobilnya.
"Coklat dua," ucap Zara pada penjual es krim.
Adhi yang berada di belakang Zara pun hanya tersenyum. Mengeluarkan dompetnya, Adhi membayar es krim yang di beli Zara.
"Kenapa kamu yang bayar?" tanya Zara yang heran.
"Memang kenapa?"
"Aku yang mengajakmu kemari, jadi aku yang harusnya membayar."
"Tidak akan aku biarkan kamu membayar apa pun." Adhi mencubit pipi Zara, karena gemas.
Zara yang memegang dua es krim di tangannya, tidak bisa menangkis tangan Adhi yang mencubitnya. Zara hanya bisa mencebikkan bibirnya, karena kesal pada Adhi.
"Jangan memasang bibirmu seperti itu," ucap Adhi seraya mengambil es krim di tangan Zara. Adhi berlalu dan menuju ke kursi di kedai es krim.
"Kenapa?" tanya Zara yang mengejar Adhi.
Adhi yang berdiri di samping Zara pun mendudukkan sedikit tubuhnya. "Kalau kamu mencebikkan bibirmu seperti itu, aku takut akan menciummu," ucap Adhi berbisik.
Zara langsung membulatkan matanya, saat mendengar apa yang di ucapakan oleh Adhi. Pipinya langsung merona, karena malu mendengar ucapan Adhi.
"Ra," panggil Adhi yang melihat Zara masih berdiri. Adhi yang duduk sudah mulai menikmati es krimnya.
Saat Adhi memanggilnya, Zara langsung tersadar. Menarik kursi tepat di depan Adhi, Zara ikut duduk bersama Adhi.
"Tenang aku akan menunggu waktu yang tepat untuk hal itu." Adhi yang menyadari wajah malu Zara pun menenangkan Zara.
Zara yang mendengar Adhi membahas kembali soal ciuman, merasa sangat malu. Zara sadar betul, jika dirinya dan Adhi belum sejauh itu. Mereka hanya melakukan ciuman pipi saja selama ini.
***
Setelah menikmati es krim. Adhi mengantarkan Zara untuk pulang.
"Terimakasih," ucap Zara seraya membuka seatbelt yang melingkar di tubuhnya.
"Hanya terimakasih?" tanya Adhi mengoda.
__ADS_1
Cup.
Zara mendaratkan kecupan manis tepat di pipi Adhi. "Terimakasih." Zara yang malu pun langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Adhi yang tadi berniat mencium Zara, tidak menyangka jika dirinyalah yang di cium. Memegang pipinya, Adhi masih merasakan bibir Zara berada di pipinya.
Senyum terangkat di bibir Adhi saat mendapatkan ciuman dari Zara. Melanjukan mobilnya, Adhi pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.
***
Suara bel terdengar, dan membuat Fira berdiri dan melangkah ke arah pintu. Dirinya yang baru saja melakukan olah raga, harus terhenti untuk membuka pintu.
"Ibu, Kak Raka," ucap Fira yang melihat ibunya dan Raka di depan pintu. "Kalian sudah datang?" Fira yang kemarin memberitahu ibunya, jika Celia ingin memasak, malah membuat Bu Ani ingin ikut bergabung.
"Iya, Karena Raka ingin berangkat kerja, jadi ibu sekalian ikut," jelas Bu Ani.
"Oh, ya sudah ayo masuk." Fira pun mempersilakan ibunya dan Raka masuk ke dalam apartemen.
"Kakak tidak bisa mampir, nanti saja saat jam makan siang kakak akan kemari," ucap Raka yang tidak ikut masuk ke dalam apartemen Fira.
"Ya sudah kalau begitu, kakak hati-hati kerjanya."
Setelah Raka pergi, Fira langsung menutup pintu. Fira menghampiri ibunya, yang duduk di sofa ruang tamu.
"Ibu mau minum apa?" tanya Fira seraya ikut duduk di samping ibunya.
"Sudah tidak perlu repot," ucap Bu Ani. "Nanti ibu buat sendiri."
Fira hanya tersenyum, saat ibunya tidak mau di buatkan minum. "Fira dan Celia janjian jam sepuluh, ibu tidak apa-apa menunggu?" Fira yang melihat jam menunjukan angka delapan, merasa ibunya akan lama menunggu.
"Santai saja, ibu malah bisa mengobrol dulu sama kamu."
Akhirnya Fira dan ibunya mengobrol seraya menunggu Celia. Fira menceritakan hasil pemerikasaan USG bayinya pada ibunya, serta menunjukan foto USG juga.
Bu Ani yang mendengar hasil pemeriksaan cucunya, sangat baik pun merasa senang, apa lagi di tambah melihat hasil USG cucunya.
Saat Fira dan Bu Ani sedang sibuk bercerita terdengar suara bel berbunyi. Fira dan Bu Ani pun yang mendengar sudah bisa menebak jika itu adalah Celia.
Fira berdiri dan menuju pintu. Membuka pintu apartemen, Fira mendapati Celia ya ng berada di depan pintu.
"Tidak, ayo masuk, ibu sudah di dalam."
Celia yang memang sudah tahu jika Bu Ani akan datang pun tidak kaget. Karena Raka sudah memberiyahu, jika Raka tadi mengantar Bu Ani, tapi dirinya tidak bisa mampir ke tempat Celia.
Masuk ke dalam apartemen Fira, Celia langsunng menyalami Bu Ani.
Fira, Celia, dan Bu Ani melanjutkan dengan belajar memasak. Bu Ani dengan telaten mengajari beberapa macam bumbu dasar pada Celia. Celia dengan baik, memahami semua penjelasna Bu Ani.
Resep pertama yang Bu Ani ajarkan adalah ayam kecap. Bu Ani tidak mau membuat calon menantunya itu kesulitan di hari pertamanya belajar memasak. Suasana sangat ramai saat tiga wanita berada di dapur, dengan hebohnya.
Saat jam makan siang, akhirnya masakan mereka selesai.
"Bagiamana rasanya, Bu?" tanya Celia pada Bu Ani yang mencicipi masakan Celia.
"Rasanya cukup enak," ucap Bu Ani yang merasakan masakan Celia.
Celia sangat senang saat Fira dan Bu Ani dengan sangat baik mengajarinya. Celia tidak menyangka jika dirinya akan mendapatkan keluarga yang bagitu baik padanya.
Saat jam istirahat tiba, terdengar bel apartemen berbunyi. "Itu pasti Kak Raka," ucap Fira. "Fira buka dulu ya," ucap Fira seraya melangkah menuju pintu.
Saat Fira membuka pintu, benar dugaannya, jika yang menekan bel adalah Raka. "Pas sekali, Kaka datang," ucap Fira.
"Apa memasakanya sudah selesai?" tanya Raka seraya masuk ke dalam apartemen Fira.
"Iya, Celia baru saja selesai masak." Fira menutup pintu dan melangkah menuju ke meja makan bersama Raka.
Raka yang melihat ke arah meja makan, melihat hasil masakan Celia. Senyumnya terukir saat melihat ayam kecap kesukaanya. "Sepertinya enak," ucap Raka seraya menarik kursi.
"Kamu harua coba, karena masakan Celia tidak kalah dengan masakan ibu."
Celia yang mendapat pujian dari Bu Ani merasa sangat senang.
"Baiklah, kita coba," ucap Raka.
Celia langsung mengambilkan nasi dan ayam kecap buatnya. Rasanya dirinya baru kali ini melayani Raka, dan mungkin ini akan jadi rutinitasnya nanti saat sudah menikah dengan Raka.
__ADS_1
Raka memasukan makanan ke dalam mulutnya. Menikmati sensasi manis dan gurih. Raka merasakan kenikmatan dari masakan Celia.
"Bagaiamana?" tanya Celia takut-takut.
"Enak," ucap Raka.
Celia merasa senang saat Raka bisa menerima maksakannya, dan memuji masakannya.
Akhirnya mereka melanjutkan makan bersama-sama. Fira dan Celia menceritakan bagaimana tadi Celia belajar memasak pada Raka.
Raka yang mendengar cerita Fira dan Celia, merasa sangat puas, karena Celia benar-benar berusaha untuk memasak. Raka sadar seperti apa Celia yang manja, dan saat Celia berusaha untuk dirinya, ada perasaan senang di hati Raka.
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" Suara Bu Ani memecah keheningan di sela-sela makan siang.
"Rencananya kami mau tunangan dulu, Bu."
"Kenapa tidak langsung menikah?" tanya Bu Ani. "Ibu lebih suka kalian langsung menikah saja."
Raka yang mendengar ucapan Bu Ani pun merasa sangat bingung. Sebenarnya dirinya sudah menawari Celia untuk menikah, tapi Celia masih memilih untuk melangsungkan pertunangan terlebih dahulu.
"Bu, mereka pasti sudah punya rencana sendiri, kita cuma bisa membantu saja." Fira yang mendengar ucapan ibunya merasa tidak enak.
"Ya, sudah kalau memang kalian maunya begitu, ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik." Akhirnya Bu Ani pun memilih untuk mengikuti keinginan Raka dan Celia.
Melanjutkan makan, Bu Ani, Fira, Celia, dan Raka menikmati masakan Celia.
Setelah acara masak dan makan siang selesai, akhirnya Bu Ani berpamitan pulang pada Fira. Celia pun juga memilih untuk pulang, setelah Bu Ani pulang. Bu Ani, Celia dan Fira sudah merencanakan untuk belajar memasak kembali minggu depan.
***
"Bagaimana tadi belajar masakanya?" Jeje yang baru keluar dari kamar mandi bertanya pada Fira.
"Celia tadi memasak ayan kecap, dan rasanya tidak kalah dengan masakan ibu," ucap Fira. "Aku jiga tadi menyisakan untukmu, aku akan panaskan dulu untuk kamu makan." Fira hendak keluar dari kamar menuju ke dapur.
"Nanti saja," ucap Jeje memeluk Fira.
"Sayang baju ku basah nanti," protes Fira yang melihat Jeje memeluknya. Jeje yang baru saja selesai mandi, membuat badannya masih terdapat tetesan air di tubuhnya.
"Kalau basah tinggal di buka," ucap Jeje membenamkan kepalanya di ceruk leher Fira.
"Lepaskan aku dan cepat ganti bajumu," ucap Fira yang mulai kesal.
Jeje hanya terkekeh saat mendengar protes Fira. "Baiklah-baiklah." Jeje pun melepas tubuh Fira.
"Lihat lah bajuku basah," ucap Fira yang melihat bajunya sedikit basah. Melihat ke arah Jeje, Fira melihat Jeje menghiraukan ucapannya begitu saja. "Kamu membuatku harus menganti baju juga," grutu Fira yang mengikuti Jeje yang membuka lemarinya untuk mengambil baju.
Cup
Jeje memberikan satu kecupan di pipi Fira. "Jangan marah," ucap Jeje pada Fira.
Melihat aksi Jeje yang merayunya, Fira benar-benar tidak bisa menolak, untuk tidak melanjutkan marahnya.
"Cepatlah keluar, aku akan menyiapkan makan untuk mu." Fira pun keluar untuk memanaskan masakan yang di buat Celia tadi siang.
"Iya."
Setelah selesai mengenakan bajunya, Jeje menyusul Fira ke dapur. Sampai di dapur, Jeje melihat Fira sudah menyiapkan masakan di atas meja makan. Menarik kursi, Jeje duduk bersama dengan Fira.
"Apa hanya Celia yang memasak?" tanya Jeje.
"Iya."
"Kamu tidak memasak?"
"Tidak," jawab Fira seraya mengelengkan kepala.
"Aku lebih suka masakanmu," ucap Jeje pada Fira.
Fira yang mendengar ucapan Jeje, merasa tidak enak. "Maaf sayang," ucap Fira. "Besok aku akan memasakan makanan untukmu, tapi saat ini kamu makan masakan Celia dulu ya?" Fira menatap Jeje dengan penuh rasa bersalah.
"Baiklah."
Jeje tidak punya pilihan selain memakan masakan Celia. Jeje tidak mau membuat Fira merasa sangat bersalah karema tidak membuatkan masakan untuk dirinya.
Fira merasa lega karena akhirnya Jeje mau makan masakan Celia.
__ADS_1