Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Permintaan menikah


__ADS_3

Fira berjalan menuju lift apartemennya. Saat Fira masuk kedalam lift apartemen, tiba-tiba lift terhenti, saat ada seseorang yang menahan lift, dan ingin masuk kedalam lift. Fira begitu kaget saat lift terhenti, tapi kagetannya hilang saat melihat orang yang hendak masuk kedalam lift adalah Jeje


"Sayang..." panggil Fira.


"Iya ini aku," jawab Jeje tersenyum.


"Kamu baru pulang juga?" tanya Fira yang melihat Jeje baru pulang.


"Iya tadi aku mampir ke rumah mama," Jeje menjelaskan kenapa dirinya bisa pulang terlambat.


Merkea menunggu lift terbuka, dan melangkah keluar saat lift terbuka. Jeje membuka pintu apartemnya, dan mereka pun masuk ke dalam apartemen bersama.


Setelah Jeje menutup pintu apartemen, tiba-tiba Jeje menarik Fira, dan memasukannya dalam pelukannya.


"Kamu kenapa?" tanya Fira bingung, saat tiba-tiba Jeje memeluknya.


"Kamu pulang dengan siapa?" tanya Jeje


"Apa dia melihatku tadi."


"Dengan Adhi," jawab Fira.


"Dia tidak berbohong, kalau dia pulang dengan seorang pria." batin Jeje.


"Apa kamu melihatku tadi?" tanya Fira, dan Jeje mengangguk. "Kenapa tidak menyapaku?" lanjutnya menanyakan.


"Aku hanya melihatmu dari mobil," jelas Jeje.


Jeje yang baru saja pulang dari rumah mamanya, melihat Fira di parkiran apartemen. Jeje melihat Fira keluar dari mobil, dia memperhatikan lekat siapa pemilik mobil itu. Tapi karena jarak dari mobilnya cukup jauh, Jeje tidak bisa tahu siapa pemilik mobil itu. Yang Jeje tahu dia adalah seorang pria.


"Bukannya kamu pergi dengan Zara?" tanya Jeje memastikan pada Fira.


"Iya memang aku pergi dengan Zara, tapi tadi di mall aku tidak sengaja bertemu dengan Adhi, karena Zara ada urusan, maka Adhi yang mengantarku pulang," jelas Fira, menceritakan kenapa dia bisa pulang bersama Adhi.


"Jangan bilang kamu cemburu melihatku pulang di antar oleh Adhi?" tanya Fira yang menebak dari sikap Jeje yang aneh, dan Jeje pun mengangguk, mengiyakan bahwa dia cemburu.


"Adhi itu temanku, aku sudah pernah menceritakannya bukan? dan satu lagi ternyata Adhi adalah adik Daffa," jelas Fira.


"Daffa?" Jeje mengernyitkan dahinya memikiran Daffa siapa yang di maksud Fira, Jeje mendorong lembut tubuh Fira agar bisa menjagkau wajah Fira.


"Iya Daffa temanmu."


"Adhi Prasetya?" tanyanya memastikan.


"Iya..."


"Kenapa kamu tidak bilang, jadi aku tidak perlu buang-buang tenaga untuk cemburu," rajuk Jeje saat mengetahui siapa pria yang bersama dengan Fira.


Fira yang mendengar ucapan Jeje hanya tersenyum, Fira tidak menyangka Jeje akan cemburu melihatnya dengan Adhi.


"Aku juga baru tahu, Adhi adik kak Daffa."

__ADS_1


"Kalian sudah lama kenal?" tanya Jeje ingin tahu.


"Iya, dari awal kuliah."


Jeje merasa lega saat mengetahui bahwa Adhi hanyalah teman Fira, dan Jeje pun mengenal Adhi.


"Sudah lepaskan pelukanmu aku mau mandi," ucap Fira seraya mendorong lembut tubuh Jeje.


Fira pun berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri, dan meninggalkan Jeje yang masih di depan pintu apartemen.


Jeje yang melihat Fira sudah pergi, masih asik berdiri di tempat Fira meninggalkanya. Jeje masih memikirkan apa yang di ucapkan mamanya. Jeje berfikir bagaimana caranya mengatakan ini semua pada Fira.


Sebelum kembali ke apartemen, Jeje ke rumah mamanya terlebih dahulu.


"Je mama mau mengatakan sesuatu"


"Ada apa ma, sepertinya serius?" tanya Jeje, yang melihat mamanya begitu serius ingin berbicara.


Setelah tadi mamanya menghubungi Jeje, sepulang kerja Jeje ke rumah sang mama.


"Mama mau kamu menikah."


Jeje mengernyitkan dahinya, bingung kenapa tiba-tiba mamanya mengatakan untuk menikah.


"Apa yang mama sedang fikirkan, apa ini waktu yang tepat untuk aku mengatakan hubunganku dengan Fira," batin Jeje.


"Aku akan menikah ma, tenang saja," jawab Jeje tersenyum, karena apa yang di pikirkannya di sambut juga oleh mamanya.


Deg..


Kata-kata mamanya bagai hantaman batu untuk Jeje. Jeje membulatkan matanya, begitu kaget dengan apa yang di dengarnya.


"Apa maksud mama?" tanya Jeje masih bingung dengan ucapan sang mama.


"Mama dan orang tua Anastasya sudah sepakat menjodohkan kamu dengan Ana," ucap mama Jeje memberi penjelasan.


"Mama jangan bercanda, aku akan menikah tapi bukan dengan Ana," jelas Jeje.


"Apa kurangnya Ana, je, dia wanita yang baik pintar, dan keluargnya terpandang, dia sangat cocok denganmu." Mama Jeje begitu antusias menjelaskan bagaimana calon mantunya.


"Apa hanya itu saja yang mama lihat, aku tidak mencintainya."


"je, jangan berfikir hanya cinta, berfikirlah realistis. Keluarga Ana keluaraga terpandang dan itu sangat bagus. Apalagi Ana juga anak tunggal, kalian bisa mengabungkan perusahaan menjadi lebih besar."


Jeje benar-benar tak habis pikir dengan ucapan mamanya. Mamanya hanya memikirkan status sosial, tanpa memikirkan perasaannya.


"Ma, jangan paksa Jeje, kalau mama mau perusahaan jadi lebih besar, Jeje akan wujudkan keinginan mama, Jeje akan berkerja lebih keras, dan tidak perlu mama meminta Jeje menikahi Ana." Jeje menajamkan pandangan mengisyaratkan ketidak sukaannya dengan rencana mamanya.


"Mama mau kamu fikirkan dulu baik-baik, mungkin sekarang fikiran mu sedang buruk" Inan mencoba menenangkan anaknya yang begitu emosi, mendengar rencananya.


Inan hanya berfikir, mungkin dia bicara di waktu yang salah.

__ADS_1


"Keputusanku tetap tidak akan berubah ma, jadi tolong hargai" tegas Jeje.


Jeje pun meninggalkan rumah mamanya, dengan penuh kekesalan. Dia tidak menyangka mamanya memintanya datang, hanya untuk mengatakan tentang rencana penikahan dengan Ana.


**


"Kamu masih disitu?" tanya Fira membuyarkan lamunan Jeje.


Fira yang selesai mandi, berniat untuk memasak makan malam. Tapi langkahnya terhenti, saat melihat Jeje masih berdiri di tempat tadi, dia meninggalkan Jeje.


"Iya ini aku baru akan ke kamar," bohong Jeje.


Fira yang mendengarkan penjelasan Jeje, hanya mengangguk.


"Aku akan menyiapakan makan malam, setelah selesai mandi, mari kita makan bersama," ajak Fira.


"iya..."Jeje berlalu menuju kamarnya, dan menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Setelah mandi Jeje keluar, menyusul Fira yang sedang asik menyiapkan makan malam.


"Ada urusan apa ke rumah Nyonya Inan?" tanya Fira saat makan di meja makan.


Jeje yang mendapatkan pertanyaan itu langsung kaget, dia benar-benar bingung harus menjelaskan apa pada Fira.


"Mama hanya kangen." Jeje memilih berbohong, karena dia benar-benar belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Tadi ibuku menghubungiku, dan aku sudah mengatakan aku berkerja di perusahaan mu"


"Lalu apa tanggapan Bu Ani?"


"Ibu akan mencarikan asisiten baru untukmu," jelas Fira. "Kamu tidak keberatan kan?" tanya Fira yang takut Jeje akan marah.


"Tidak, aku malah senang, jadi perkerjaanmu tidak akan banyak"


"Tapi aku akan sedih tidak bertemu denganmu"


"Kita masih bertemu di kantor, dan lagi pula aku tidak akan pergi jauh," jelas Fira seraya tertawa.


"Semoga kamu benar-benar tidak pergi jauh dari ku."


.


.


.


.


.


Jangan lupa berikan like dan vote🄰

__ADS_1


Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16


__ADS_2