
Setelah Mama Inan pulang. Jeje dan Fira mengisi waktu mereka membaca artikel seputar kehamilan.
"Lihatlah gambar ini, ternyata perkembangan bayi di dalam perut itu begitu menakjubkan," ucap Jeje menunjukan gambar di laptopnya pada Fira.
Fira yang melihat gambar di laptop Jeje pun tersenyum. Dalam hatinya berkata, begitu menakjubkannya saat Tuhan menciptakan manusia melalui tubuh seorang ibu.
Jeje langsung meletakkan laptop yang dari tadi berada di pangkuannya, ke atas meja. Dia langsung memutar tubuhnya sedikit menunduk, agar bisa menjangkau perut Fira. "Aku sangat bahagia saat hasil kerja kerasku ada disini," ucapnya seraya membelai perut rata Fira.
Fira yang mendengar ucapan Jeje menarik senyum di bibirnya. "Apa kamu pikir cuma kamu yang berkerja keras," ucap Fira tak mau kalah.
Jeje menengadah saat Fira menjawab ucapannya. dia langsung bangkit dan mensejajarkan tubuhnya dengan Fira. "Bukankah aku yang lebih banyak berkerja di banding dirimu?" Goda Jeje pada Fira.
Fira mencebikkan bibirnya, mendengar ucapan Jeje. Walau tidak di pungkiri bahwa Jeje yang lebih banyak kerja. Tapi dirinya merasa tidak mau kalah. "Tapi tetap saja ini bukan kerja kerasmu sendiri."
Jeje langsung tertawa melihat istrinya kesal. "Iya, ini memang hasil kerja keras kita bersama," ucapnya pada Fira seraya mencubit pipi Fira karena gemas. "Lagi pula kalau bukan kita berdua yang berkerja, mana enak aku kerja sendiri," lanjut Jeje berucap, dan langsung dapat cubitan kecil dari Fira di pingangnya.
Jeje langsung membawa Fira ke dalam pelukannya, dan bersadar pada sofa. "Akan mirip siapa anak kita nanti?" Tanyanya seraya membelai rambut Fira.
"Entah." Fira hanya bisa menjawab tidak tahu. Dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa anaknya nanti.
"Aku harap dia akan punya lesung pipi seperti dirimu."
"Walaupun nanti anak kita laki-laki?" Tanya Fira memastikan.
"Aku rasa dia akan tubuh jadi pria lesung pipi yang tampan nanti," ucap Jeje seraya tertawa membayangkan, anaknya dengan lesung pipi seperti Fira.
Fira pun mengeratkan pelukannya, melihat Jeje sebegitu bahagianya membayangkan anaknya nanti. Rasanya kehadiran janin di rahimnya, menambah kebahagiaan dirinya dan Jeje. Dia berharap kebahagiaan ini tidak akan berberakhir, dan akan abadi selamanya.
**
Di kantor Reza di sibukkan dengan perkerjaan yang begitu menumpuk. Atasannya yang memilih cuti, membuat perekerjaannya berlipat-lipat.
"Ayo makan siang." Valeria yang menghampiri Reza pun, mengajak Reza untuk istirahat.
__ADS_1
Reza menghela nafasnya, rasanya perkerjaan ini tidak akan ada hentinya kalau dia tetap melanjutkan. Dia akhirnya memilih untuk meninggalkan sejenak dan beristirahat.
Mereka berdua menuju kantin kantor, dan duduk berdua untuk makan siang.
"Kapan kita akan mencari cincin?" Tanya Valeria di sela-sela makan.
"Maafkan aku belum bisa menemani kamu untuk mencari cincin." Reza yang merasa tidak enak pun akhirnya meminta maaf.
Valeria yang menyadari perkerjaan Reza yang begitu banyak, mengerti kenapa calon suaminya itu belum bisa menemani dirinya. "Tidak apa-apa. Setelah Pak Gejendra masuk kerja, mungkin kita bisa mencari cincin."
Reza hanya mengangguk mendengar jawaban Valeria. Dia merasa beruntung saat Valeria memahami dirinya yang masih begitu sibuk, karena atasannya masih cuti.
Setelah Reza dan Valeria makan siang, mereka berdua kembali ke ruanganya untuk melanjutkan perkerjaanya.
**
Seharian Jeje benar-benar di sibukkan dengan menemani Fira di rumah. Dia ingin memanfaatkan cutinya benar-benar untuk menjaga Fira. Seharian dia sibuk memasakan di siang hari dan di malam hari untuk makan malam. Jeje tidak mau membeli atau memesan makanan dari luar. Dia memilih memastikan Fira makan, makanan yang bergizi buatannya.
"Ini." Jeje menyodorkan segelas susu ibu hamil untuk Fira.
Jeje masuk ke dalam kamarnya kembali. Dia langsung merangkak ke atas tempat tidur, menyusul Fira yang masih duduk bersandar di tempat tidur.
"Apa benar besok kamu sudah mulai berkerja?" Tanya Fira yang memastikan kembali ucapan Jeje tadi siang yang memberitahu dirinya.
"Iya, kamu tidak apa-apa kan di rumah sendiri, aku akan usahakan cepat pulang nanti."
Fira menghela nafasnya, rasanya dia tidak bisa membayangkan, dirinya akan sebosan apa di rumah sendiri. "Bisakah aku mulai berkerja juga," ucap Fira lirih.
Jeje langsung menatap tajam pada Fira. "Tidak, kamu sudah tidak boleh berkerja lagi." Jeje langsung menolak dengan tegas permintaan Fira.
"Aku hanya hamil, bukan sakit, dan sampai detik ini juga aku belum ada keluhan yang membuatku susah. Aku rasa aku tidak masalah jika berkerja." Fira mencoba untuk menjelaskan keadaan dirinya pada Jeje.
"Aku bilang tidak ya tidak."
__ADS_1
Fira hanya bisa menahan kecewanya, ucapan Jeje sudah bagai perintah yang sudah tidak bisa di bantah. Tapi bagi Fira tidak ada kata menyerah. " Apa kamu tidak kasihan melihat aku di rumah sendiri." Fira memasang wajah sendunya, agar Jeje merasa kasihan.
Jeje yang melihat dan mendengar ucapan Fira pun menjadi kasihan. "Baiklah kamu boleh berkerja."
Kedua bola mata Fira langsung berbinar mendapat izin dari Jeje. " Terimakasih," ucapnya seraya memeluk Jeje. Dia benar-benar merasa sangat senang. Rasanya Fira benar-benar akan menikmati kehamilan yang menyenangkan karena bisa berkerja mengisi kesibukannya.
"Tapi kamu akan berkerja di kantor ku." Jeje melanjutkan ucapannya.
Seketika wajah bahagia Fira memudar mendengar Jeje melanjutkan ucapannya. "Kenapa harus di kantormu, bukannya aku karyawan Adhi." Fira yang tidak mengerti maksud Jeje pun bertanya.
"Aku sudah menukar posisi mu dengan Zara bukan. Jadi aku rasa tidak masalah jika kamu di kantor ku. Anggap saja pertukaran karyawan."
"Aku pikir hanya pelajar yang bisa mendapatkan pertukaran, tapi ternyata karyawan bisa mendapatkan pertukaran." batin Fira kesal.
"Lalu aku akan mengantikan posisi Zara di bagian pemasaran begitu?" Fira memperjelas ucapan Jeje.
"Tidak, kamu akan jadi sekertaris ku."
Fira mengerutkan dahinya, bagaimana bisa Jeje menjadikan dirinya sekertarisnya, sedang dia sudah punya sekertaris. "Lalu Valeria?"
"Kamu akan berkerja bersama dengan Valeria. Jadi kalian berdua akan berbagi perkerjaan."
"Kenapa harus berbagi perkerjaan?" Tanya Fira yang masih tidak terima.
"Ya agar kamu tidak lelah. Karena jika kamu melakukan perkerjaan sendiri, kamu akan menjadi lelah, dan aku tidak mau terjadi apa-apa denganmu," jelas Jeje.
"Kalau begitu biarkan akau berbagi perkerjaan dengan Zara, sama saja kan." Fira menatap pada Jeje saat berucap, berharap Jeje akan menerima sarannya.
"Aku mengizinkan kamu berkerja di kantorku, karena agar aku bisa mengawasi mu. Lalu kalau kamu berkerja di tempat Adhi juga, aku tidak akan bisa mengawasi mu. Jadi lebih baik aku tidak mengizinkan mu untuk berkerja saja, kalau kamu berkerja di kantor Adhi," ucap Jeje dengan tegas.
Fira hanya bisa menelan ludahnya kasar, saat Jeje menarik izinnya. "Baiklah, aku akan kerja di kantor mu, dan berbagi perkerjaan dengan Valeria." Fira tidak punya pilihan lain lagi. Dirinya tidak mau kalau sampai Jeje tidak mengizinkan dirinya berkerja. Batin Fira hanya bisa berkata, lebih baik berkerja di kantor Jeje, dari pada tidak berkerja.
"Tapi aku akan mengatakannya dulu dengan Zara dan Adhi besok, karena aku takut mereka berdua tidak setuju."
__ADS_1
"Aku rasa Adhi akan langsung setuju, dan untuk Zara, seharusnya dia ingat kalau dia karyawanku, jadi dia harus mendengar perintahku."
Fira hanya bisa diam, saat kekuasan seorang Gajendra Nareswara di perlihatkan. Dan sudah bisa di pastikan, semua akan berjalan sesuai keinginan Jeje.