Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Detak jantung


__ADS_3

Setelah kemarin Fira dan Jeje menghabiskan waktu di rumah, pagi ini Fira dan Jeje bersiap untuk ke rumah sakit.


"Pagi," ucap Fira yang melihat Jeje baru saja keluar. Fira yang keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan meninggalkan Jeje yang masih tertidur. Tadinya Fira berniat membangunkan Jeje, tapi ternyata Jeje bangun lebih awal.


"Pagi," ucap Jeje seraya mengecup pipi Fira. "Selalu saja aku di tinggal." Jeje sedikit merajuk, karena saat dia bangun tidur, tidak ada Fira di sebelahnya.


"Maaf, aku menyiapkan makanan, karena aku pikir kita ke rumah sakit pagi." Fira menangkup wajah Jeje mencoba merayunya. "Jangan marah ya," ucap Fira seraya mengecup bibir Jeje sekilas. Senyum di wajahnya pun mengiringi permohonan Fira pada Jeje.


Melihat senyum dengan hiasan lesung pipi, selalu membuat Jeje luluh seketika. "Iya."


Fira merasa lega, saat Jeje sudah tidak marah. "Ya sudah ayo makan."


Jeje langsung menarik kursi, dan mendudukkan tubuhnya. Fira pun langsung melayani Jeje dengan telaten. Mengambilkan makanan untuk Jeje, Fira menaruh nasi goreng di piring milik Jeje.


"Kamu jangan terlalu lelah," ucap Jeje.


Fira mengerti maksud lelah yang ucapkan Jeje. "Aku hanya masak nasi goreng itu tidak akan membuat lelah."


"Baiklah terserah padamu, tapi jika kamu besok di rumah, usahakan jangan terlalu lelah."


Fira hanya bisa mengangguk. Dirinya saja memikirkan apa yang akan di lakukan selama di rumah, untuk mengurangi kebosanannnya. Tapi sudah mendapat larangan dari Jeje lebih awal.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Fira dan Jeje berangkat menuju ke rumah sakit. Perasaan Fira begitu berdebar saat ingin memeriksakan kandunganya. Ini kali keduanya ke dokter kandungan, dan selalu menciptakan rasa yang sama.


"Jangan khawatir semua akan baik-baii saja." Jeje yang menyadari ketakutan Fira, akan permeriksaan kehamilan mencoba menenagkan.


Mengenggam tangan Fira, Jeje meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. Dirinya pun berharap bayi yang di kandung Fira akan sehat.


Sesampainya di rumah sakit. Jeje langsung mendaftarkan diri untuk memeriksakan kandungan Fira. Menunggu di ruang tunggu, Jeje dan Fira menunggu antrian untuk masuk ke dalam ruang periksa dokter kandungan.


Setelah menunggu sejenak, akhirnya nama Fira di panggil. "Ayo," ajak Jeje mengulurkan tangan pada Fira. Fira yang menerima uluran tangan Jeje, berdiri dan menuju ke ruang periksa dokter kandungan bersama dengan Jeje.


Saat masuk ke dalam ruang dokter, Fira dan Jeje disambut oleh dokter Helena-dokter kandungan yang menangangi Fira bulan lalu. "Selamat pagi," sapa dokter Helena saat melihat Fira dan Jeje.


"Pagi, Dok." Fira membalas sapaan dari dokter Helena seraya mengulurkan tangannya pada dokter Helena. Menarik kursi, Fira dan Jeje langsung duduk di depan meja praktek dokter Helena.


"Bagiamana keadaan Nyonya Fira, apa masih merasakan mual?" tanya dokter Helena menanyakan keadaan Fira.


"Masih, Dok. Tapi tidak terlalu sering." Fira menjelaskan pada dokter Helena, apa yang di rasa olehnya. Memang selama ini, Fira merasa mualnya, tapi memang tidak terlalu sering.


"Baiklah, mari kita periksa bayinya di dalam." Dokter Helena pun berdiri dan menuju ke alat USG di samping ranjang periksa.


Fira yang melihat dokter sudah duduk di depan layar, mengikuti di belakang menuju ke ranjang periksa. Naik ke atas ranjang periksa, Fira siap untuk di periksa. Perawat menyingkap baju milik Fira ke atas sampai di bawah payudara milik Fira, dan menuang jel di atas perut Fira.


Dokter pun langsung mengarah alat USG ke perut Fira. Memutar alat di atas perut Fira, dokter mencari letak kandungan Fira. Saat menemukan letaknya, dokter mulai menjelaskan. "Janin Nyonya Fira sudah berumur delapan minggu, mungkin sekarang sebesar kacang merah. Telinga, bibir dan hidung juga sudah mulai terbentuk. Mata bayinya juga sudah mulai terlihat jelas, karena retina sudah mulai mengembangkan pigmen."


Fira dan Jeje mendengarkan penjelasan dari dokter dengan seksama. Seraya melihat ke arah layar USG, Jeje dan Fira memperhatikan bentuk bayi yang sedang di kandung Fira. Mata Fira berkaca-kaca saat melihat pertumbuhan bayinya, ada rasa bahagia, saat melihat perkembangan bayinya sudah sangat bagus.


Jeje pun tidak kalah bahagia, saat melihat ke layar USG. Walaupun belum terlihat besar, tapi bayi di kandungan Fira sudah mulai terlihat perkembanganya. Jeje benar-benar merasa terharu, saat melihat janin yang di kandungan Fira.


"Mau dengar detak jantungnya?" tanya dokter Helena pada Jeje dan Fira.


Mendapat tawaran dari dokter Helena, Fira dan Jeje tidak membuang kesempatan berharga untuk mendengarkan detak jantung bayi di kandungan Fira. "Iya, dok." Jeje menjawab lebih dulu tawaran dokter.


Dokter Helena pun menunjukan suara detak jantung bayi di dalam kandungan Fira.


Air mata Fira langsung mengalir saat pertama kali mendengar detak jantung bayinya di dalam rahimnya. Fira tidak bisa berkata apa-apa saat untuk mengungkapka perasaan bahagianya.


Jeje yang berada di samping Fira, langsung memegang tangan Fira. Rasanya dirinya sama bahagianya dengan Fira, saat pertama kali mendengar detak jantung anaknya. Kebahgiaan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Setelah selesai memeriksakan kehamilan Fira, dokter mencetak hasilnya untuk di berikan pada Fira dan Jeje. Perawat yang melihat proses USG selesai, langsung membersihkan jel di atas perut Fira.


Di bantu Jeje, Fira turun dari ranjang periksa. Menuju ke kursi di depan dokter, Fira dan Jeje duduk kembali.


"Saya akan resepkan vitamin, dan jadwal untuk pemeriksaan selanjutnya. Saya hanya menyarankan untuk tetap makan makanan yang bergizi, dan pastikan istirahat." Dokter menjelaskan pada Fira dan Jeje seraya menulis di secarik kertas.


"Baik, dok."

__ADS_1


"Di rumah sakit juga ada program olahraga yoga untuk ibu hami, kalau mau ikut bisa saya daftarkan. Olah raga akan di adakan seminggu sekali."


"Baiklah, saya akan ikut," ucap Fira menerima tawaran dari dokter.


Dokter Helena pun mencatat nama Fira, untuk di daftarkan pada kelas yoga ibu hamil."


Setelah mendapatkan resep vitamin, Jeje dan Fira keluar dari ruang pemeriksaan. Menuju ke aptotek Fira dan Jeje, menunggu vitamin yang di resepkan oleh dokter.


"Aku senang sekali," ucap Jeje mengenggam tangan Fira.


Fira yang melihat Jeje begitu bahagia, juga merasakan hal yang sama.


"Ingat ya, kamu harus selalu berhati-hati. Jangan terlalu lelah saat di rumah nanti." Jeje yang memang tidak bisa mengawasi Fira setiap waktu, sangat mengkhawatirkan Fira.


Fira hanya bisa mendengus kesal, saat sikap kekhawatiran Jeje yang berlebih keluar. "Iya."


Setelah vitamin yang di siapkan apotek selesai, Fira dan Jeje kembali ke apartemen.


**


"Kamu jadi pesan makan siang?" tanya Jeje sesampainya di apartemen.


"Iya, ini aku sedang memesan makanan," jawab Fira seraya memainkan ponselnya.


Setelah tadi Jeje memutuskan makan siang bersama Fira terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor, Fira langsung memesan makanan di aplikasi di ponselnya.


"Sejak kapan kamu tahu ada restoran untuk ibu hamil?" Jeje yang mendengar cerita Fira, jika dia memesan makanan di restoran yang menyediakan menu untuk ibu hamil pun bertanya.


"Oh, karena waktu aku pergi bersama dengan Kak Raka, aku melihat restoran itu."


"Kapan kamu pergi dengan Raka?" Jeje sedikit mengerutkan keningnya, mendengar ucapan Fira.


Fira yang lupa mengatakan pada pada Jeje, jika dirinya dan Raka pergi jalan-jalan, sedikit salah tingkah saat Jeje bertanya. "Waktu itu aku ingin jalan-jalan, dan Kak Raka mengatarkannya."


Jeje hanya melirik tajam pada Fira.


"Tapi aku pergi dengan ibu juga." Fira langsung menjelaskan pada Jeje, sebelum Jeje menuduhnya yang bukan-bukan.


"Iya, aku pergi dengan ibu." Fira merasa lega, saat kemarin dirinya meminta ibunya untuk ikut jalan-jalan. Entah apa yang terjadi, jika Fira tidak mengajak ibunya. Sudah di pastikan, jika Jeje tahu dirinya hanya berdua dengan Raka, pasti dia akan sangat marah.


Jeje hanya mengangguk saat mendengar Fira menjelaskan kembali. Entah kenapa, Jeje masih sangat cemburu saat Fira pergi dengan Raka. Walapun dirinya tahu, jika mereka hanya menganggap hubungan mereka hanya kakak dan adik.


"Apa saja yang kamu kerjakan saat jalan-jalan?" Jeje merasa sangat penasaran apa saja yang di kerjakan oleh Fira dan Raka.


"Tadinya aku ingin beli beberapa perlengkapan bayi. Tapi ibu melarang, karena katanya masih terlalu dini untuk membeli. Akhirnya aku hanya jalan-jalan, dan..."


Fira menghentikan ucapannya sejenak.


"Dan apa?"


"Dan ke toko parfum," ucap Fira saat mengingat kemana dia pergi. "Apa kamu tahu siapa pemilik toko parfum tempat kita membeli parfum?" tanya Fira pada Jeje.


Jeje hanya memutar bola matanya malas menanggapi pertanyaan Fira. "Mana aku tahu," ucap Jeje. "Memangnya siapa?" tanya Jeje melanjutkan ucapannya.


"Kak Raka."


Jeje mengerutkan dalam keningnya, saat mendengar ucapan Fira. "Raka kakak angkat kamu?" Jeje mematikan kembali pada Fira.


"Iya," ucap Fira di sertai anggukan.


Mendengar ucapan Fira, pikiran Jeje melayang mengingat sesuatu. "Apa parfum gratis itu juga dari Raka." Jeje mencoba menebak yang ada pikirannya.


"Iya."


Jeje merasa tidak terima saat ternyata parfum gratis itu adalah pemberian Raka. Sebagia seorang pemilik Nareswara Grup, dirinya malu di beri parfum gratis oleh Raka. Tapi mau menyangkah atau menolak pun sudah tidak bisa lagi, karena semua sudah terjadi.


Saat Fira dan Jeje sedang asik berbicang, makanan pesanan Fira datang. Melanjutkan makannya, Fira dan Jeje menikmati makan siang bersama.

__ADS_1


**


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Jeje lansung menuju kantornya. Perkerjaan yang sudah di tinggalnya beberapa hari, pasti sangatlah sudah menumpuk.


Sesampainya di kantor, Jeje masuk ke dalam ruangannya. Mengecek berkas di atas meja, Jeje melihat berkas dari perusahaan Adhi. Jeje pun meraih telepon di mejanya untuk menanykan perihal berkas yang sudah di mejanya.


"Za, siapa yang mengantar berkas Perusahaan AGI?"


"Pak Adhi sendiri, Pak."


"Adhi tadi kemari?" tanya Jeje memastikan.


"Iya."


"Baiklah, aku akan menghubunginya."


Setelah mendapatkan informasi dari Reza, Jeje langsung menghubungi Adhi.


"Halo, Bang," saopa Adhi saat menerima telepon dari Jeje.


"Kamu tadi ke kantor?"


"Iya, tadi aku menganta berkas, tapi Bang Jeje belum datang."


"Iya aku mengantar Fira ke dokter," jelas Jeje. "Apa semua berkas sudah rampung?"


"Iya, semua sudah selesai."


"Baiklah, kalau begitu. Berarti sekarang kamu resmi pemegang penuh perusahaan." Jeje sedikit mengoda Adhi.


"Tapi tetap saja, aku harus belajar banyak dari Abang."


Jeje tertawa mendengar ucapan Adhi. "Kamu sudah bisa, aku yakin."


"Terimkasih, Bang."


"Sepertinya harus di rayakan," ucap Jeje pada Adhi. "Makan malam mungkin."


"Sepertinya ide yang bagus."


"Oke, malam ini makan malam di restoran Daffa."


"Oke."


Jeje mematikan sambungan telepon setelah membuat janji makan malam dengan Adhi. Beralih pada ponselnya, Jeje mengirim pesan pada Fira untuk nanti malam bersiap makan malam bersama Adhi, dan tentu akan bersama Zara juga.


***


"Kita akan makan malam dengan Bang Jeje dan Fira," ucap Adhi pada Zara. Zara dan Adhi yang baru sampai di kantor setelah makan siang pun kembali ke ruanganya.


"Dimana?"


"Biasa, di tempat Bang Daffa."


Zara hanya mengangguk. Sebenarnya dirinya ingin tidak ikut, karena ingin bertemu dengan ayahnya. Sejak kemarin Zara belum sempat bertemu dengan ayahnya, untuk menanyakan perihal kedatangan ibunya.


"Kamu kenapa?" Adhi yang melihat Zara tampak murung dari tadi menjadi penasaran.


"Ibu ada di rumah," ucap Zara dengan tatapaj kosong. Pikirannya masih melayang memikirkan kenapa ibunya tiba-tiba datang.


"Ibumu yang pergi meninggalkan kamu?" Adhi mencoba memperjelas kembali ucapan Zara.


"Iya," ucap Zara. "Dan aku sedikit aneh, kenapa dia tiba-tiba datang."


"Kamu sudah tanyakan ayahmu?"


"Dari kemarin aku belum bertemu ayah."

__ADS_1


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Adhi berusaha untuk menenangkan Zara.


"Ya, aku berharap juga begitu."


__ADS_2