
Setelah dua bulan pernikahan Raka dan Celia serta kelahiran anak Daffa dan Tania, Bu Ani sudah tinggal di rumah Fira.
Bu Ani yang tidak mau melewatkan menjaga Fira di bulan-bulan terakhir melahirkan pun harus rela meninggalkan rumahnya.
Rumah Fira selalu ramai orang, karena selain ada Bu Ani, mama Inan selalu datang setiap hari untuk memantau perkembangan menantu dan cucunya.
Pagi ini setelah menyiapkan semua keperluan Jeje, Fira keluar dari kamar. Menuju ke dapur Fira ingin membantu ibunya menyiapkan sarapan.
"Kamu mau apa?" tanya Bu Ania pada Fira.
"Mau bantu, Bu."
"Tidak perlu. Biarkan ibu saja yang menyiapkan. Kamu duduk saja." Bu Ani yang melihat perut Fira semakin besar merasa kasihan jika harus bersusah payah membantu.
"Fira heran, tidak ibu dan tidak Jeje, semua sama, semua tidak ada yang membolehkan Fira mengerjakan sesuatu." Fira benar-benar merasa sangat kesal, karena sudah cukup lama dirinya tidak boleh mengerjakan apa-apa.
"Nanti setelah kamu melahirkan. Kamu bisa kerjakan semuanya." Bu Ani mencoba menenangkan Fira.
Fira hanya bisa pasrah saat mendengar ucapan ibunya. Meninggalkan ibunya yang sibuk di dapur, Fira memilih duduk di kursi.
"Kamu kenapa terlihat kesal seperti itu?" tanya Jeje yang baru saja sampai di meja makan. Jeje mendaratkan kecupan di dahi Fira.
"Semua hal tidak boleh aku kerjakan, seolah aku tidak bisa mengerjakan." Fira meluapkan kekesalannya pada Jeje.
Jeje hanya tersenyum saat Fira meluapkan kekesalannya. Jeje sadar apa yang membuat Fira begitu kesal. "Sudah, jangan kesal seperti itu, setelah ini kita jalan-jalan." Jeje mencoba menenangkan istrinya.
"Kamu tidak kerja?" tanya Fira. Fira merasa heran karena Jeje mengajaknya jalan-jalan.
"Mulai hari ini, aku akan berkerja di rumah," jelas Jeje.
"Sampai kapan?"
"Sampai dengan waktu yang tidak di tentukan."
"Kenapa bisa begitu?" Fira mengerutkan dahinya, saat mendengar penjelasan Jeje.
"Karena aku mau menjagamu, sampai kamu melahirkan."
Fira yang mendengar Jeje akan berkerja dari rumah menjelang dirinya yang akan melahirkan, merasa sangat senang. Fira tahu, jika Jeje ingin selalau ada di saat moment paling berharga yang Fira alami.
"Terimakasih." Fira tersenyum pada Jeje.
Jeje yang melihat senyum Fira, langsung mencubit pipi Fira. Pipi yang sudah mengembul itu tidak bisa menampakkan lesung pipi milik Fira saat tersenyum. Seolah lesung pipi yang biasa menghiasi wajah Fira, hilang tertelah tumpukan lemak di pipinya.
Fira yang merasa kesal saat Jeje mencubitnya, hanya bisa mencebikkan bibirnya.
Setelah Bu Ani datang, mereka pun memulai sarapan.
***
Sesuai janji Jeje hari ini. Jeje akan menemani Fira untuk jalan-jalan. Setelah sarapan, Jeje dan Fira memilih untuk berjalan-jalan di kawasan komplek perumahan mereka.
__ADS_1
Saat berjalan-jalan di komplek perumahan. Fira melihat kelengkeng di rumah tentangganya. "Sayang, aku mau itu." Fira menunjuk ke arah pohon kelengkeng.
Jeje hanya bisa mengertukan dahinya saat melihat Fira menunjuk pohon kelengkeng. "Bagiamana kalau kita beli saja di supermarket, sepertinya ada."
"Tidak mau, aku mau itu." Fira meregek meminta pada Jeje.
Jeje benar-benar tidak bisa menolak apa yang diminta oleh Fira. Apa lagi Fira yang sedang hamil, akan mudah sensitif saat keinginanya tidak terpenuhi.
"Baiklah, baiklah."
Jeje yang melangkah menuju ke pagar rumah pemilik pohon kelengkeng pun, mencet bel yang terdapat di sisi pagar.
Menunggu sejenak, seorang wanita dengan tubuh besar menghampiri Jeje. Jeje yang melihat wanita itu pun hanya bisa membulatkan matanya, karena wanita yang sedang mengahampirinya terlihat sangat garang.
"Ada apa?" tanya wanita bertubuh besar itu pada Jeje.
"Maaf, Bu. Saya mau meminta kelengkeng. Kebetulan istri saya sedang hamil." Jeje menjelaskan dengan takut-takut pada wanita itu.
Wanita bertubuh besar itu pun melihat Fira yang berdiri di belakang Jeje. "Kalau mau ya beli," ucap wanita bertubuh besar itu pada Jeje.
"Iya, saya tidak masalah, jika beli," ucap Jeje. "Berapa?" tanya Jeje.
"Satu juta."
Jeje yang mendengar ucapan wanita di hadapanya hanya bisa menelan ludahnya kasar. Untuk kelengkeng yang diminta Fira dirinya harus merogoh koceknya sejuta.
"Di supermarket saja saya bisa dapat lebih murah, kenapa ibu memberikan harga begitu mahal?"
"Kalau mau silahkan, kalau tidak ya sudah." Wanita bertubuh besar itu pun berbalik meninggalkan Jeje.
"Bu," panggil Jeje. "Baiklah saya akan bayar segitu." Jeje bisa bayangkan jika dirinya tidak mendapatkan kelengkeng yang di minta Fira.
Wanita itu pun tersenyum, dan membuka pintu gerbang untuk Jeje.
Jeje mengambil dompetnya dan memberikan uang pada wanita itu.
"Silakan ambil sendiri, sesuka hati kalian," ucap wanita bertubuh besar itu pada Jeje.
Mau tidak mau, Jeje harus memanjat pohon kelengkeng.
"Coba beli ke supermarket, uang segitu tadi bisa dapat banyak kelengkeng dan juga aku tidak perlu memanjat," grutu Jeje seraya memajat pohon.
Fira yang melihat Jeje memanjat pohon begitu senang. Di bawah dia mengabadikan gambar Jeje yang sedang berusaha untuk memanjat.
"Yang itu, sayang." Fira menunjuk pohon dimana ana buah kelengkeng yang terdapat di dekat Jeje.
"Kenapa semutnya banyak sekali," ucap Jeje mengidik ngeri saat melihat semut di pohon yang dia pijaknya.
Jeje buru-buru memetik buah kelengkeng yang diminta oleh Fira, karena dirinya tidak mau jadi sasaran empuk semut-semut yang berada di pohon.
Tapi tetap saja, sekuat Jeje berusaha menghindari semut-semut, tubuh Jeje tetap tergigit juga.
__ADS_1
Setelah memetik kelengkeng yang di minta Fira. Jeje pun buru-buru turun.
"Ini," ucap Jeje. Jeje langsung menghentak-hentakan kaki, agar semut yang menempel di badannya cepat pergi.
Fira yang mendapatkan buah kelengkeng pun merasa sangat senang, dan memutuskan untuk cepat pulang. Fira sudah tidak sabar untuk memakan buah kelengkeng yang di petik oleh Jeje
"Terimakasih," ucap Fira saat perjalanan pulang.
Melihat wajah berbinar Fira, Jeje merasa sangat senang. Paling tidak pengorbanannya tidaklah sia-sia.
"Je, kamu kenapa?" Mama Inan yang melihat kaki Jeje merah-merah pun bertanya.
"Mama di sini?" tanya Jeje.
"Iya, mama baru saja datang. Kata Bu Ani kalian pergi. Memangnya kalian dari mana? dan apa itu?" Mama Inan pun bertanya apa yang di bawa Fira dalam kantung
Wanita pemilik kelengkeng tadi sempat memberikan plastik untuk membawa kelengkeng. "Kami jalan-jalan ma, dan waktu di jalan kami melihat kelengkeng." Fira menjelaskan pada mertuanya.
"Jadi kamu di gigit semut karena memanjat kelengkeng, je?" tanya Mama Inan mematikan.
"Iya," jawab Jeje malas.
Mama Inan hanya tertawa, saat mendengar ucapan Jeje yang terlihat kesal.
"Ya sudah, Jeje mau ke kamar mandi." Rasa gatal akibat gigitan semut begitu menyiksa. Jeje mau membersihkan diri, siapa tahu rasa sakitnya hilang.
***
Setelah selesai mandi, Jeje menyusul Fira, mama dan mertuanya di taman belakang. Dari kejauhan Jeje melihat Fira sudah menghabiskan kelengkeng yang dipetik oleh Jeje.
Jeje hanya bisa mengeleng menyaksikan semua aksi Fira.
"Lihat, anak kamu makan kelengkeng banyak sekali," ucap mama Inan pada Jeje.
Jeje hanya melihat dengan malas ucapan mamanya.
"Semoga habis keinginan kamu di turuti, kamu akan segera keluar ya, Nak." Mama Inan membelai perut Fira dan bicara dengan anaknya.
"Semoga ma." Fira yang sudah tidak sabar menanti pun berharap hal yang sama.
Fira sebenarnya sangat takut, karena sudah jadwal hari perkiraan lahir. Tapi anaknya tidak menunjukan tanda-tanda ingin keluar.
"Cepat keluar yang, sayang, papa sudah tidak sabar." Jeje yang duduk pun, ikut berbicara pada anaknya.
Semua keluarga memang sudah sangat menanti kelahiran anak Fira dan Jeje. Mereka semua tidak ada yang membiarkan Fira sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.
.