
Aku mau Fira kembali kesini Bang," Adhi sudah bertekad untuk membawa kembali Fira ke negaranya. Adhi ingin mengembalikan kehidupan Fira yang lama. Adhi tau Fira begitu ingin kembali, tapi Fira masih ragu, dan semua hanya bisa terselesaikan di awali dari Jeje.
"Lalu hubunganya dengan aku apa?" Ucap Jeje cuek.
"Ya ada lah Bang, Fira masih takut Tante Inan akan mengganggunya lagi, jadi aku mau Abang bisa memberi pengertian pada tante Inan." Sebenarnya itu lah alasan Fira tidak mau kembali karena mama Jeje, maka dari itu Adhi berusaha berbicara dengan Jeje agar mama Jeje, melepaskan Fira, dan tidak menganggu Fira lagi.
"Tenanglah, aku sudah sepakat dengan mama soal ini, mama tidak akan menganggu Fira, selama aku sudah menuruti semua maunya." Jeje memang sudah meminta mamanya untuk tidak menganggu Fira lagi, dengan balasan Jeje menuruti kemauan mamanya.
"Oke kalau gitu aku percaya sama Bang Jeje." Adhi yang mendengar Jeje, yang sudah menyelesaikan masalah mamanya, merasa lega. Dirinya tinggal memikirkan bagaimana membujuk Fira untuk kembali ke negara ini.
"Bang Jeje mau ngomong apa sama aku?" Tanya Adhi yang mengingat, bukan hanya dia saja, yang ingin berbicara.
"Oh itu, aku dengar kamu akan mengurus perusahaan Om Edward disini?" Jeje memastikan kabar yang di dengarnya dari Tuan Edward, bahwa perusahaan barunya, akan di tangani oleh Adhi.
"Iya bang, aku dah setuju, dan aku sudah minta Fira untuk ikut tergabung di perusahaan ini nanti, jadi aku harap setelah Fira kesini Abang bisa penuhi ucapan Abang tadi." semua memang sudah di rencanakan oleh Adhi, setelah tahu Fira ingin sekali kembali, akhirnya Adhi menerima tawaran dari Tuan Edward untuk membangun perusahaan di negaranya, dan belajar dari Jeje atau pun dari Tuan Edward sendiri.
Dia juga sudah mendiskusikan dengan Daffa, dan Daffa tidak keberatan. Daffa kan meminta manager restoran lama, untuk mengurus restoran di luar kota, jadi Daffa tidak akan kesulitan mengurus dua restoran, saat Adhi berkerja di perusahaan baru.
"Baiklah," Jeje menyetujui semua permintaan Adhi. "Tapi aku ingin bertanya padamu, apa kamu masih mencintai Fira?"
Sejenak Adhi diam memikirkan pertanyaan Jeje, entah kenapa pertanyaan itu tidak bisa dia jawab begitu saja.
"Dari sorot matamu aku bisa menafsirkan kalau kamu sudah tidak mencintai Fira, apapun alasanya itu urusanmu," tebak Jeje.
__ADS_1
"Apa mau Bang Jeje?"
"Aku mau menikahinya?"
"Jangan main-main Bang, Abang sudah bertunangan dan Tante Inan tidak setuju," sergah Adhi, yang merasa tidak terima dengan niat Jeje.
"Aku sudah memutuskan pertunanganku, dan mama sudah menyetujui aku dan Fira. Rencana mama akan menemui Bu Ani ke luar negeri, untuk meminta maaf sekalian melamar Fira," jelasnya pada Adhi. Adhi pun yang mendengar rencana mama Jeje merasa lega.
" Aku ingin membuat rencana dengan mu," lanjut Jeje.
Adhi mengerutkan keningnya, sedikit bingung dengan ucapan Jeje, "Rencana apa?" Adhi tidak bisa menebak apa pun yang sedang di pikiran oleh Jeje.
"Kamu telah setuju untuk mengurus perusahaan Om Edward, dan karena gedung untuk perusahaan belum rampung, sementara akan memakai salah satu lantai di gedung perusahaanku, disana aku ingin mendekati Fira, dan Fira akan tinggal di apartemen tepat sebelah apartemen ku. Kamu bisa mengatakan bahwa itu apartemen Daffa." Jeje menjelaskan semua rencananya.
"Tanpa berjanji pun aku tidak akan menyakitinya karena aku mencintainya."
"Jadi semua ini rencana kamu?" Tanya Fira memastikan, dia benar-benar tidak percaya Jeje bisa merencanakan semuanya.
"Ya sebenarnya rencananya belum selesai," ucapnya enteng.
"Apa?" Pilekik Fira. "Jadi kamu masih mau mengerjai aku begitu?" Tanya Fira kesal, mendengar bahwa belum selesai dengan rencananya.
"Bukan begitu sayang, sebenarnya aku masih ingin mendekatimu mengatakan semuanya, melamarmu dengan romantis, tapi tiba-tiba mama datang dan mengacaukan semuanya," jelas Jeje pada Fira yang sudah ingin marah.
__ADS_1
Fira mengerutkan dahinya. "Maksudnya?"
"Kamu ingatkan kemarin malam, sebenarnya mama tidak marah sama kamu, tapi mama tidak sabar kamu menjadi menantunya, jadi mama mempercepat pernikahanku. Aku sendiri juga bingung saat mama mengacaukan semuanya."
"Lalu Adhi?" Fira masih mempertanyakan sikap Adhi kemarin padanya.
"Ya, untung Adhi langsung berpikir mengatakan untuk kamu akan menikah juga pada mama. Dia mengatakan itu agar membuat kesan kamu juga menikah di hari yang sama denganku. Kalau kamu tidak berpikir menikah, dan bersiap-siap untuk pernikahan, lalu aku mau menikah dengan siapa. Setelah Adhi keluar dari apartemen kamu, dia membantuku semuanya. Dia juga yang menjemput ibumu," jelas Jeje pada Fira.
"Kalian jahat sekali. " Fira meras sangat kesal, dia melampiaskan kekesalannya dengan memukuli lengan Jeje. Fira benar-benar kesal ternyata semua orang mengambil peran untuk mengerjainya. Dan dirinya benar-benar tidak tahu semua itu.
"Maaf, maaf sayang, aku benar tidak berniat mengerjai, aku sudah mau mengatakanya cuma waktunya belum tepat," jelas Jeje lagi.
"Apa kamu tahu aku menangis semalaman, memikirkan akan menikah dengan..." ucapan Fira terhenti.
"Dengan Adhi." Jeje melanjutkan ucapan Fira, dan Fira mengangguk menjawab ucapan Jeje.
"Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan orang lain." Jeje menatap lekat wajah Fira. "Maafkan aku sayang, aku tak akan membuatmu menangis lagi."Jeje membelai wajah Fira.
Fira yang mendengar permintaan maaf dari Jeje pun mengangguk. Walaupun semua yang di lakukan Jeje begitu jahat, tapi pada intinya, semua untuk dirinya. Dirinya bersyukur ternyata cintanya kembali padanya. Dan kini dia bisa bersatu dengan Jeje.
Jeje memperhatikan wajah Fira lekat. Dia tak menyangka kalau wanita yang di depannya sekarang adalah istrinya. Perlahan Jeje beralih memperhatikan bibir ranum Fira, dan mencoba mendekatinya. Jeje mulai membenamkan bibirnya di bibir ranum Fira. Saat mendapati tak ada penolakan dari Fira, Jeje mulai mencium dengan lembut. Fira yang mendapati ciuman lembut dari Jeje mencoba membalasnya ciuman Jeje. Keduanya begitu menikmati ciuman malam ini. Ciuman yang sudah lama, mereka rindukan. Ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami istri.
Perlahan Jeje melepas ciumannya, saat di rasa cukup lama dia mencium Fira. Jeje mengusap bibir Fira yang basah, sisa ciuman mereka. "Tidurlah, kamu pasti kamu lelah seharian tadi," ucap Jeje seraya membaringkan tubuh Fira, dan memeluknya.
__ADS_1
Mereka berdua merasakan hangatnya cinta dalam pelukan mereka. Rasanya beban mereka selama ini menguap di udara. Dan yang tersisa hanya kebahgiaan, untuk memulai kehidupan baru bersama.