Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Sampai di luar negeri


__ADS_3

Adhi yang mendengar Jeje masih sempat menyalahkan Fira dalam situasi ini menjadi emosi. Rasanya dia tak habis pikir, Jeje bisa menyalakan Fira yang pergi begitu saja. Adhi tahu betul, Fira tidak akan pernah salah mengambil keputusan, kalau pun dia memilih pergi, dia pasti sudah memikirkan dengan baik.


"Aku tidak nyangka Abang bisa menyalahkan Fira yang tidak meyakinkan ibunya, aku tahu sebesar apa dia mencintai abang, pasti Fira akan meyakinkan ibunya dengan caranya." bela Adhi pada Jeje.


"Cinta? kalau dia mencintai, dia nggak akan pergi?" Kepergian Fira, benar-benar membuat Jeje tidak percaya akan cinta Fira padanya. Kekecewaan begitu terlalu dalam, di rasakan oleh Jeje. Dan itu membuat dirinya meragukan cinta Fira padanya.


"Jadi Abang menganggap Fira pergi karena dia tidak mencintai abang?" tanyanya pada Jeje. Dan dari raut wajah Jeje, Adhi bisa mengartikan, bahwa jawabannya adalah iya.


"Bisa-bisanya abang menuduh Fira begitu." Adhi benar-benar tak habis fikir dengan Jeje, yang bisa menuduh Fira tidak mencintainya. Padahal sebagai teman terdekat Fira, dia tahu Fira begitu mencintai Jeje. Adhi mengingat terakhir kali bertemu Fira, dia melihat wanita itu begitu bahagia, dengan hubungan cintanya dengan Jeje.


"Kalau Fira tidak mencintai abang dia tidak akan memilih Abang," tambahnya saat dia benar-benar tidak mampu meredam emosinya pada Jeje.


Jeje yang mendengar ucapan Adhi, benar- benar tidak mengerti, apa yang Adhi bicarakan padanya. "Apa maksud kamu dengan kata memilih?" tanyanya memperjelas ucapan Adhi.


"Ya Bang, aku mencintai Fira dari dulu, dan saat aku tahu dia mencintai Abang, aku melepasnya, karena dia lebih memilih Abang," ucap Adhi. Emosi Adhi memuncak, mengingat bagaimana Fira yang lebih memilih Jeje, dan menolak cintanya. Semua itu menandakan, dia amat mencintai Jeje. Tapi melihat Jeje yang seperti itu, ada penyesalan di hati Adhi melepas Fira untuk Jeje.


Jeje begitu kaget mendengar pengakuan Adhi kalau dia mencintai Fira. Dia tidak menyangka Adhi memiliki rasa pada kekasihnya. Jeje pikir


Adhi hanya berteman saja dengan Fira. Dan Fira pun, tidak pernah menceritakan perihal Adhi padanya.


Sedangkan saat Jeje mendengar Fira memilihnya, senyum tipis terukir di wajah Jeje. Dia merasa seorang pemenang, yang mengalahkan lawan-lawannya.


Tapi tetap tak mengubah rasa kecewanya pada Fira yang memilih untuk pergi dari pada berjuang bersama denganya.

__ADS_1


"Tapi sekarang aku menyesal melepas Fira untuk Abang, hingga membuat Fira pergi," ucap Adhi seraya melayangkan pukulan pada wajah Jeje.


Bug...


Adhi memukul Jeje seketika karena kesal. Adhi yang sudah berusaha merelakan Fira untuk Jeje, harus menerima pil pahit, bahwa Fira pergi karena Jeje.


"Dhi.." Daffa yang kaget langsung menahan adiknya agar tidak memukul Jeje lagi.


Jeje yang tidak menyangka Adhi akan melayangkan pukulan pada wajahnya, tak mampu mengelak. Jeje hanya bisa memegangi pipinya yang di pukul oleh Adhi. Sudut bibirnya yang berdarah membuatnya meringis kesakitan.


"Loe pulang aja bro.." pinta Daffa pada Jeje.


Daffa yang melihat emosi Adhi, tidak mau mengambil resiko, dengan perkelahian yang akan terjadi antara adik dan temannya itu.


Jeje yang mendengar ucapan Daffa, akhirnya mengalah, dan memilih pergi dari rumah Daffa. Jeje melangkahkan kakinya keluar rumah Daffa. Tapi belum sampai dia mencapai pintu, dia mendengar Adhi berteriak. Jeje pun berhenti, dan mendengarkan dengan baik kata-kata Adhi.


Jeje memutar tubuhnya, menatap Adhi dengan tajam. "Jangan bermimpi!" serunya, "Sebelum kamu menemukannya, aku adalah orang pertama yang akan menemukannya," ancamnya balik pada Adhi.


Jeje pun berlalu meninggalkan rumah Adhi, dan melajukan mobilnya ke apartemennya. Jeje lebih memilih kembali ke apartemennya, dari pada ke kantor. Karena pikirnya, dia tidak akan ke kantor dengan luka lebam di wajahnya.


Sesampainya di apartemem, Jeje mengambil ponselnya, dan menghubungi Reza. Jeje meminta Reza melacak Fira, untuk tahu keberadaan Fira.


Setelah Jeje menghubungi Reza, dia melangkah ke dapur, dan mengambil es batu untuk mengompres lukanya. Saat sudah di rasa cukup, dia mengolesi dengan salep anti nyeri, untuk mengobati pipinya yang di pukul oleh Adhi.

__ADS_1


Rasanya Jeje benar-benar geram, dengan anak kecil itu, yang memukulnya seenakanya. Jeje bisa saja membalasnya, tapi rasanya dia masih menghormati Daffa sebagai temannya.


Saat dia sedang mengobati pipinya, ponsel Jeje berdering, dan Reza lah yang menghubunginya.


"Halo za, gimana udah dapat info?" tanya Jeje, saat pertama kali mendengar Reza menghubunginya.


"Maaf Pak, saya sudah mengecek Bandara, Stasiun dan Terminal tapi tidak menemukan keberangkatan atas nama Nona Zhafira, saya juga sudah cek ponsel Nona Zhafira, tapi titik terakhir berada di rumah Nona Zhafira sendiri" Reza menjelaskan semua informasi yang dia dapat.


"Baiklah, lanjutkan pencarianmu, jangan pernah berhenti sampai kamu dapat!" perintah Jeje, dan mengakhiri sambungan telepon.


"Aku akan segera menemukanmu fir, bagaimanapun caranya, dan saat aku menemukanmu tak akan aku biarkan kamu pergi"


Jeje benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk menemukan Fira, dan membawanya kembali padanya.


**


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya Fira sampai di negara yang di tuju. Saat sampai di Bandara, sudah ada seorang pria yang menjemputnya di bandara. Pria itu akan mengantarkan Fira dan ibunya ke rumah seseorang. Fira dan ibunya hanya tahu dia adalah teman bu Inan.


Fira hanya bisa pasrah mengikuti arahan. Fira hanya masih memikirkan tinggal di negara asing, dengan orang asing, dan itu masih berasa seperti mimpi. Dia tidak menyangka perjalanan cintanya mengantarkannya sampai disini.


Sepanjang jalan Fira memperhatikan keindahan negara ini. Bangunan berjajar rapi sepanjang jalan, yang di laluinya. Fira merasa tempat ini, tidak beda jauh dengan tempatnya dulu.


Walaupun masih berat untuk Fira tinggal disini, ini sudah menjadi keputusannya. Dan Fira akan menjalani semuanya. Fira hanya bisa berharap, hidupnya akan di awali disini.

__ADS_1


Perjalanan Fira dari bandara, berakhir di sebuah rumah. Pemandangan pertama yang di lihatnya, adalah rumah besar yang megah, dan mungkin hampir sama dengan rumah milik keluarga Jeje. Yang membedakan hanya rumah yang ada di hadapannya ini lebih asri, karena banyak tanaman, dan bunga-bunga indah menghiasinya.


Mobil berhenti tepat di parkiran rumah megah itu. Fira dan ibunya pun turun, dan mengikuti arahan supir untuk masuk ke dalam. Saat sampai di pinti utama, Fira dan ibunya sudah di sambut oleh pelayan rumah itu.


__ADS_2