
Setelah semalam memutuskan untuk kembali, pagi ini Jeje, Adhi, Fira, dan Zara menuju toko oleh-oleh sebelum pulang.
"Kamu beli banyak sekali," ucap Jeje yang melihat keranjang Fira penuh berisi.
"Iya, aku membelikan ibu, mama, Kak Raka, Celia, dan Valeria." Dengan semangat Fira menjelaskan pada Jeje.
Jeje hanya mengeleng mendengar ucapan Fira, dia memilih tidak protes, mengingat bagaimana tadi dirinya susah payah membujuk Fira untuk pulang.
Mata Jeje pun berpindah pada Adhi dan Zara yang sedang sibuk memilih oleh-oleh juga.
"Kamu sudah dapat oleh-olehnya?" tanya Adhi yang melihat keranjang milik Zara.
"Sudah, ini untuk ayah, Nadia, dan Kak Daffa."
Adhi sedikit mengerutkan dahinya. "Kamu tidak belikan untuk ibumu?"
"Ibu?" Zara sendiri tidak terpikir untuk membelikan ibunya. Rasanya Zara lupa kalau di rumah ternyata ada ibunya.
"Apa kamu masih belum bisa menerimanya?" tanya Adhi pada Zara.
"Bukan begitu, aku hanya tidak tahu caranya memulai."
Adhi menyadari apa yang di rasakan oleh Zara. Dirinya pun juga pernah berada di posisi Zara, dan Adhi memahami itu. "Belikanlah untuk ibumu, dan cobalah untuk memulai."
Mendengar ucapan Adhi memang benar yang di katakan oleh Adhi, jika dirinya bisa memulai dengan membelikan oleh-oleh untuk ibunya.
Setelah selesai membeli oleh-oleh, Adhi melanjutkan untuk kembali. Tempat pertama yang di tuju Adhi adalah apartemen Jeje. Adhi harus mengantarkan Fira dan Jeje dulu kembali ke apartemen, sebelum dirinya kembali rumah.
"Sepertinya mereka lelah," ucap Jeje pada Adhi yang melihat ke arah Fira dan Zara yang tertidur pulas.
Adhi pun melihat dari kaca spion depan. Terlihat jelas, jika Fira dan Zara tertidur sangat pulas. "Ya, semoga saat sampai mereka sudah bangun," ucap Adhi.
Sepanjang perjalanan Jeje menemani Adhi yang menyetir dengan mengobrol. Jeje tahu perjalanan yang cukup jauh, terkadang membuat lelah dan mengantuk. Mengisi dengan obrolan, membuat Adhi terjaga dan fokus pada jalanan yang dia lalui.
Sesampainya di apartemen, Jeje melihat Fira yang masih mengantuk. Walaupun sebenarnya tidak tega membangunkan Fira, Jeje tidak punya pilihan lain. Andai mungkin dirinya tidak membawa koper, dan beberapa barang milik Fira, mungkin Jeje memilih mengendong Fira dan tidak membangunkan Fira.
"Sayang," ucap Jeje membangunkan Fira.
Fira mengerjap saat terdengar suara Jeje. "Apa sudah sampai," tanya Fira yang merasa mobil sudah berhenti.
"Iya," jawab Jeje.
Zara yang mendengar suara pun mengerjap. Mengedarkan pandangan, ternyata mobil Adhi sampai di parkiran apartemen Jeje dan Fira.
Fira yang menyadari, jika dirinya sudah sampai pun bersiap untuk turun dari mobil. "Terimakasih ya," ucap Fira seraya membuka pintu.
Jeje yang sudah menurunkan koper pun mengintip dari balik kaca mobil untuk berterimakasih. Menarik tangan Fira lembut, Jeje melangkah menuju ke apartemennya bersama Fira.
Adhi yang melihat Fira dan Adhi sudah keluar pun, meminta Zara untuk pindah ke kursi depan.
Turun dari mobil, Zara berlalu dan berpindah ke kursi depan.
Melajukan mobilnya kembali, Adhi menuju ke rumah Zara. "Sepertinya kamu lelah sekali?" tanya Adhi membelah keheningan di dalam mobil.
"Iya, aku tadi mengantuk sekali." Zara tersenyum pada Adhi.
"Iya, aku melihat, kamu dan Fira begitu lelap."
"Fira juga tidur ya tadi?" tanya Zara. Zara tidak tahu, jika Fira pun juga tidur, mengingat waktu Zara bangun, Fira sudah bangun.
"Iya."
Sepanjang perjalanan Adhi dan Zara mengisi keheningan di dalam mobil dengan mengobrol.
"Oke, terimakasih sudah mengantar." Zara yang melihat Adhi sebelum membuka pintu mobil.
"Sama-sama, sampai bertemu di kantor besok."
Zara keluar dari mobil, dan menunggu mobil Adhi melaju meninggalkan rumahnya. Setelah mobil Adhi sudah jauh dari jangkauannya, Zara masuk ke dalam rumahnya.
Menarik kopernya, Zara masuk ke dalam rumah. Tapi langkahnya terhenti di depan pintu, saat melihat ibunya di depan pintu.
"Kamu sudah pulang, Ra?" tanya ibunya.
__ADS_1
"Sudah, Bu." Zara tahu, ibunya selalu berusaha untuk dekat dengan dirinya. "Zara masuk lebih dulu, Bu." Melewati ibunya Zara masuk ke dalam kamarnya.
Meletakkan kopernya di kamar. Zara berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa lengket karena perjalanan, rasanya hilang seketika saat air mengalir di tubuhnya.
Setelah selesai melakukan rutinitas mandinya. Zara keluar mencari Nadia, untuk memberikan oleh-olehnya. Tapi ternyata Zara melihat Nadia sedang berbincang dengan ibunya di ruang tamu.
"Kak Zara, kemari," panggil Nadia.
Zara pun mendekat dan ikut duduk dengan Nadia dan ibunya. "Ini oleh-oleh untuk kamu," ucap Zara memberikan satu tas kecil berisi oleh-oleh.
Nadia dengan senang menerima tas yang di berikan oleh Zara. Membuka isi tas kecil, Nadia mendapati sebuah kaos. "Terimakasih, Kak," ucap Nadia. "Aku coba dulu ya." Nadia pun berlalu menuju kamarnya untuk mencoba baju pemberian Zara.
Melihat Nadia yang sedang Zara dan ibunya merasa sangat senang. "Ini untuk ibu," ucap Zara seraya menyerahkan tas berisi oleh-oleh pada ibunya.
Mata Bu Intan menangis. Bu intan tidak menyangka Zara akan memberikan sesuatu padanya. "Maafkan ibu, Ra." Kata itulah yang terlontar dari mulut ibunya.
Zara yang tidak tahan pun meneteskan air matanya. Sudah cukup lama dirinya tidak memberikan maaf untuk ibunya, tapi kini dirinya tidak mau kebencian yang tak kunjung usai itu berada di dalam hatinya terus. "Zara juga minta maaf, Bu."
Bu Intan tidak menyangka Zara akan memaafkan dirinya, setelah apa yang sudah dia lakukan. Memeluk Zara, Bu Intan meluapkan kebahagiaannya. Rasanya tidak ada kata lain lagi yang bisa dia ungkapkan selain kata bahagia.
"Ibu, Kakak," panggil Nadia.
Bu Intan menoleh melihat putri bungsunya. "Kemarilah," ucap Bu Intan seraya mengulurkan tangannya.
Nadia tahu pasti kakaknya memang masih berat untuk memaafkan ibunya. Tapi apa yang di lihatnya sekarang, menadakan jika kakaknya sudah memaafkan.
Nadia pun ikut berpelukan, meluapkan kebahagiaannya yang melihat kakak dan ibunya sudah saling memaafkan.
***
Pagi ini keributan terjadi di kamar Fira. Entah bagaimana lagi Fira membangunkan Jeje, tapi rasanya Fira sudah lelah berkali-kali membangunkan Jeje.
"Kamu tahu, harusnya aku yang hamil yang bermalas-malasan, tapi kenapa jadi kamu yang bermalas-malasan?" Pertanyaan di sertai kekesalan terdengar nyaring di telinga.
"Aku mengantuk sayang," ucap Jeje, dengan mata yang masih terpejam.
"Kamu janji bukan, mau mangajak aku pergi, ayo bangun." Fira ingat Jeje semalam berencana mengajaknya pergi, tapi Jeje tidak mengatakan kemana dirinya akan pergi.
"Baiklah." Fira pun langsung mengambil ponselnya dan memasang alarm.
Tidak butuh waktu lama, lima menit yang di minta Jeje pun berakhir dengan suara ponsel yang mengelegar.
Fira yang meletakkan ponsel tepat di telinga Jeje, membuat Jeje terperajat dan terbangun. Matanya yang sulit terbuka pun, langsung terbuka sempurna saat mendengar bunyi ponsel.
"Iya, aku bangun," ucap Jeje seraya menyibak selimutnya.
Fira yang melihat idenya sanggup membuat Jeje bangun pun merasa senang.
Setelah bersiap, Fira dan Jeje keluar dari apartemennya. Jeje dan Fira menuju parkiran mobil, dan Jeje melajukan mobilnya setelah mereka masuk.
"Kita mau kemana?" tanya Fira. Dari semalam Jeje tidak sama sekali memberitahu Fira, kemana mereka akan pergi.
"Aku sudah bilang bukan, kejutan."
Fira hanya bisa mencebikkan bibirnya, saat mendengar ucapan Jeje. Dari semalam, Jeje mengatakan hal yang sama, bahwa semua ini adalah kejutan
"Jangan marah sayang." Jeje menautkan jemarinya pada jemari Fira erat, menenangkan Fira yang di landa kekesalan.
Fira selalu saja bisa luluh, saat Jeje merayu dirinya. Fira hanya bisa mengikuti kemana mobil Jeje melaju. Tapi mata Fira sejenak melihat kesekeliling, memperhatikan sekitar, Fira baru menyadari jika dirinya berada di sebuah kawasan perumahan.
"Kita mau ke rumah siapa?" tanya Fira yang ingin tahu, kemana dirinya akan berkunjung.
"Lihat saja nanti."
Fira sudah sangat malas, saat mendengar ucapan Jeje yang selalu tidak mau jujur. Sampai akhirnya Fira melihat Jeje berbelok pada sebuah rumah.
Mata Fira sejenak melihat keindahan rumah yang di tuju Jeje. Rumah dengan tampilan minimalis dengan taman yang indah membuat rumah terlihat sangat asri.
"Ayo turun," ajak Jeje seraya membuka seatbelt
"Ini rumah siapa?" Fira masih terus bertanya, entah kenapa Fira kesal, karena dirinya ke rumah orang yang tidak di kenalnya.
Jeje tidak menjawab, dan keluar dari mobil begitu saja. Menunggu Fira turun, Jeje berhenti di depan mobil. Setelah Fira turun, Jeje melihat Fira keluar dari mobil, dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Kamu dari tadi, tidak mengatakan ini rumah siapa?" Fira yang berjalan bersama Jeje terus saja bertanya.
Saat sampai di depan pintu rumah, Fira melihat seorang asisten rumah tangga membuka pintu.
"Pagi, Tuan," sapanya pada Jeje.
"Pagi," sapa Jeje.
Fira pun tersenyum manisa pada asisten rumah tangga.
Jeje pun membawa Fira masuk ke dalam rumah. Berjalan beriringan Jeje melangkah lebih dalam.
Fira tercengang melihat tampilan dengan desain minimalis tapi tampak tertata rapi. Pikir Fira mungkin pemilik rumah ini, memang suka sesuatu yang simple dan tidak berlebihan, seperti dirinya.
"Ini rumah kita," ucap Jeje menatap ke arah Fira.
Mendengar ucapan Jeje, Fira hanya bisa tercengang. "Ini rumah kita?" tanya Fira memastikan.
"Iya, apa kamu suka?" Jeje tersenyum pada Fira.
"Seperti yang ada di pikiran aku," ucap Fira seraya melihat kesekeliling.
"Aku membuat seperti yang pernah kamu ceritakan."
Fira hanya bisa menatap Jeje. Dirinya tidak menyangka, jika obrolan tentang rumah yang dia inginkan menjadi acuan Jeje untuk membuat rumah untuk keluarga kecilnya dan Jeje.
Air mata langsung mengalir di pipi indahnya. Rasanya Fira tidak bisa membayangkan seberapa rasa cinta Jeje padanya, hingga setiap kata selalu di ingat Jeje.
"Jangan menangis sayang," ucap Jeje memeluk Fira.
"Terimakasih."
"Aku yang harusnya berterimakasih, karena dirimu sudah hadir di dalam hidupku, dan sekarang lagi kita tidak akan berdua."
Fira hanya bisa mengeratkan pelukannya, merasakan kebahagiaannya yang begitu di rasa amat besar di dalam hatinya.
"Ayo kita lihat ruangan lain." Jeje melepas pelukan Fira, dan mengajak Fira.
Fira mengangguk dan mengikuti kemana Jeje mangajaknya.
"Semua kamar masih kosong, jadi tugasmu lah melanjutkan mendesain sesuai keinginanmu."
"Aku?" tanya Fira memastikan.
"Iya, kamar kita, kamar anak kita, kamu yang akan mengaturnya," ucap Jeje.
"Benarkah?" tanya Fira dengan sorot mata berbinar.
"Iya, tapi tetap kamu harus menjaga kondisimu, kita masih punya waktu sampai anak kita lahir, jadi jangan di paksakan."
Fira mengangguk mengerti. "Aku janji, akan menjaga diriku dan anak kita."
Jeje dan Fira pun melanjutkan melihat-lihat ke dalam rumah yang akan menjadi tempat keluarga kecil mereka.
Setelah melihat semua kamar, Fira dan Jeje menuju ke taman belakang. Duduk di kursi ayun, Jeje dan Fira menikmati keindahan taman.
Jeje memang sudah menempatkan asisten runah tangan di rumahnya, jadi rumah sudah tampak rapi.
"Kamu tahu, aku sedang membayangkan anak kita akan bermain di taman ini. Berlari kesana kemari, dan aku akan mengejarnya," ucap Fira melihatbke hamparan lapang di taman.
Jeje memeluk Fira dari samping. "Aku juga sudah tidak sabar menunggu hari itu. Dimana saat aku pulang, aku akan di sabut dengan teriakan memanggil 'papa'." Jeje pun sama halnya dengan Fira membayangkan hari-hari bahagia itu bersama Fira dan anaknya.
Fira benar-benar merasakan bahagia, cinta Jeje yang begitu besar membuatnya selalu jatuh cinta padanya.
Setelah menikmati dan melihat setiap sudut rumahnya, Jeje dan Fira akhirnya memilih untuk pulang.
Sepanjang perjalanan, senyum terus mengembang di wajah Fira. Lesung pipinya pun menghiasi indahnya wajahnya.
"Apa kamu senang?" tanya Jeje.
"Jangan tanya aku senang atau tidak, karena tidak bisa mengambarkan perasaanku sendiri."
Sebenarnya tanpa Jeje bertanya pun Jeje sudah tahu, jika Fira sangatlah bahagia. Jeje hanya bisa berharap, kehabagiaanya akan bertambah saat kehadiran buah hati mereka nanti.
__ADS_1