
Setelah mendapatkan oleh-oleh untuk tunangan Jeje, Jeje mengajak Fira keluar dari toko perhiasaan, dan melanjutkan perjalanan. Jeje melihat-lihat toko yang terdapat di mall tersebut.
"Apa ada yang anda cari lagi Tuan?" tanya Fira yang melihat Jeje berjalan-jalan dan tidak mencari apa-apa lagi.
"Aku mau menonton film bisa kah kamu temani aku dulu," pinta Jeje saat Fira menanyakan dia mau apa.
Fira merasa sangat kesal, bisa-bisanya Jeje memanfaatkan waktu yang di berikan Tuan Edward, untuk membeli oleh-oleh tunangannya. Dan dengan seenaknya dia malah mengajakanya Fira untuk menonton film.
"Maaf Tuan Gajendra, tugas saya hanya mengantar anda membeli oleh-oleh, kalau anda sudah selesai sebaiknya saya kembali ke kantor," Fira menolak dengan sopan.
Jeje yang melihat Fira menolaknya, merasa kebingungan, "Jangan, em maksudku, oke kita tidak jadi nonton, kalau gitu kita makan saja, anggap saja ucapan terimakasih ku, karena kamu mau mengantarku," Jeje memilih untuk berusaha membujuk Fira, karena takut Fira memilih untuk kembali ke kantor.
Fira menimbang-nimbang ucapan Jeje, dan akhirnya mengiyakan permintaan Jeje untuk makan. Fira berfikir mungkin saat makan, dia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Jeje.
Setelah memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Mereka memilih restoran di dalam mall, dan masuk ke dalam untuk melanjutkan niat mereka untuk makan.
Jeje dan Fira memilih duduk di sudut restoran, dan duduk saling berhadapan. Jeje langsung memanggil pelayan, dan memesan makanan.
Saat makanan datang, mereka fokus dengan makanannya. Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, sampai mereka selesai makan, mereka hanya di temani kesunyian.
Jeje menatap lembut Fira yang masih menunduk, dan menyelesaikan makannya, "Fir bisakah kamu kembali padaku," satu kalimat yang Jeje tahan sedari tadi saat dia melihat Fira.
Fira yang masih meletakkan sendoknya, langsung menengadah, menatap Jeje saat Jeje berbicara padanya, "Apa maksudmu?" tanya Fira ingin tahu.
"Aku ingin kamu dan aku kembali seperti dulu fir, aku akan lupakan kepergian mu, dan kita mulai dari awal lagi," Jeje mengenggam erat tangan Fira, meyakinkan Fira untuk menjalin hubungan kembali.
__ADS_1
Fira terperangah mendengar ucapan Jeje, dia langsung melepas genggaman tangan Jeje.
"Kita tidak akan bisa melanjutkan hubungan ini je," jawaban yang hanya keluar dari mulut Fira, karena dalam hatinya, dia ingin selalu bersama dengan pria yang ada di hadapannya itu.
Jeje yang mendengar jawabab Fira, tidak percaya bahwa dia akan menjawab seperti itu, karena dari apa yang di rasakannya kemarin, dia tahu Fira masih menyimpan cinta untuknya, "Kenapa?"
"Karena orang tuamu tidak menyutujuinya," Fira menjawab dengan tegas.
Jeje membulatkan matanya mendengar apa yang Fira ucapkan, "Jangan beri alasan konyol padaku fir, orang tuaku menyetujui hubungan kita," jawabnya tidak kalah tegas.
"Menyetujui?" Fira mengerutkan keningnya, memahami kata-kata itu dengan baik.
"Ya fir, orang tua ku sudah menyetujuinya, aku sudah memberi tahu mereka waktu itu," jelas Jeje mengenggam tangan Fira kembali, " Dan di hari kamu pergi, aku datang bersama orang tuaku untuk melamarmu," Jeje menatap lekat meyakinkan wanita yang ada di hadapannya itu.
"Iya fir, aku datang ke rumahmu, untuk melamarmu, tapi kamu sudah pergi waktu itu."
"Kamu bilang, kamu datang ke rumahku untuk melamarku?" tanya Fira memastikan.
"Iya."
Kedua bola mata Fira yang coklat bak kacang kenari, membulat sempurna saat mendengar ucapan dari Jeje, "Permainan apa je, yang sebenarnya di lakukan oleh keluargamu, setelah mereka membuatku pergi sejauh ini, mereka melamarku!" seru Fira, dia benar-benar di menyangka mendengar penjelasan dari Jeje.
Jeje terkesiap, "Apa maksudmu fir," Jeje juga di buat bingung dengan penuturan Fira.
"Ya je, mama mu datang pada ibuku, meminta untuk menjauhkanku dari mu, dan mama mu mengirimku sampai di negara ini," sergah Fira, dengan suara yang meninggi, menandakan emosinya sudah tak tertahan lagi.
__ADS_1
Jeje menatap tajam pada Fira, rasanya dia tidak terima Fira memainkan kata, "Kamu bilang Adhi yang membawamu kemari, kenapa kamu jadi menyalahkan mama ku fir, kamu tahu bukan aku sudah jelaskan kalau mama menyetujui, dan malah datang untuk melamarmu!" seru Jeje, dengan suara tinggi tak kalah dari Fira.
"Kalau memang kamu tidak mau kembali padaku jangan jadikan mama ku sebagai alasan fir," lanjut Jeje kesal pada Fira
Fira terperangah mendengar ucapan Jeje. Jantung serasa di tusuk begitu dalam, rasanya sakit, saat Jeje menganggap penjelasannya salah.
Air mata Fira tertahan di pelupuk matanya, menahan gemuruh dalam hatinya, "Aku sudah jelaskan semua je, terserah kamu mau percaya atau tidak, itu terserah padamu," Fira menyerah untuk menjelaskan semua, baginya percuma menjelaskan, jika Jeje tak akan percaya.
Fria mendorong kursinya ke belakang, berdiri, menatap Jeje, "Kalau pun bukan karena orang tuamu, kita juga tidak akan bisa bersama, karena kamu sudah bertunangan," jelas Fira
"Terimaksih untuk cintamu selama ini, berhentilah mengejarku, dan jalani hidupmu, dan biarkan aku menjalani hidupku di negara asing ini," Fira berlalu melangkahkan kakinya, pergi dari restoran menahan tangisnya.
Hatinya hancur mendengar semuanya, cinta yang di berikan Jeje tak di sertai rasa percaya, dan semua kini telah berakhir. Fira memberhentikan taxy, dan masuk kedalam taxy. Seketika air matanya tumpah, sebesar apa dia mencoba menahannya, air matanya tak bisa di bendung lagi.
Jeje yang mendapati Fira pergi, masih termenung. Dan saat dia menyadari Fira tidak ada di hadapannya, dia mengejar Fira. Jeje langsung memberhentikan taxy tepat di belakang Fira, "Ikuti taxy di depan pak," perintah Jeje untuk mengikuti taxy yang di naiki oleh Fira.
Hati Fira benar-benar tidak keruan, hatinya sakit saat Jeje tak percaya padanya. Kenyataan malah berputar menyerangnya menyalahkannya.
"Kita mau kemana Nona,?" tanya supir taxy pada Fira.
Fira yang dalam keadaan seperti ini, memilih untuk kembali ke rumah Nyonya Ayu dari pada ke kantor. Fira pikir dengan keadaan hati yang tidak keruan, tidak mungkin dia kembali ke kantor. Akhirnya dia meminta supir taxy menuju rumah Nyonya Ayu.
Sesampainya di rumah nyonya Ayu, Fira menyuruh taxy berhenti tepat di depan gerbang. Fira heran karena gerbang terbuka, dan ternyata karena ada mobil yang baru saja masuk ke dalam.
Fira turun dan membayar taxy yang di tumpanginya, dia melangkahkan kami masuk ke dalam rumah Nyonya Ayu. Tapi langkahnya terhenti, saat dari kejauhan Fira melihat seseorang sedang mengangkat kopernya dari bagasi, dan Fira ingat betul siapa pria itu.
__ADS_1