Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Perasaan Nayla


__ADS_3

Setelah dari ruangan Jeje, Zara kembali ke ruangannya. Zara mencoba menghubungi Fira, sesuai yang di minta oleh Jeje.


"Halo ra" sapa Fira yang terdengar oleh Zara.


"Halo fir, emm..tadi pak Gajendra memintaku mengantikanmu sebagai sekertaris Adhi selama kamu cuti, apa benar?" Zara menceritakan apa yang di katakan Jeje dan menanyakan pada Fira.


"Oh, Jeje sudah bilang ya sama kamu, benar ra kamu akan mengantikanku sementara. Kamu nggak keberatan kan? " Fira sebenarnya merasa tidak enak saat harus memenuhi ide dari Jeje. Tapi tidak di pungkiri, dirinya ingin sekali menikmati liburan lagi. Kapan lagi mengunakan kuasa Jeje batinnya dalam hati.


"Iya aku nggak keberatan kok, tapi ngomong - ngomong aku mulai kapan harus kesana?"


"Oh kamu kesini besok aja ya, aku masih satu hari berkerja, jadi aku bisa mengajarimu beberapa hal yang akan kamu kerjakan selama aku cuti"


"Oh ya fir, besok aku akan kesana" ucap Zara sebelum akhirnya mengakhiri panggilan telepon.


Saat mengakhiri panggilan telepon, dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Zara di kejutkan dengan pertanyaan dari seseorang


"Tadi di panggil pak Gajendra ya ra?, Kenapa?" Nayla menatap Zara bertanya kenapa Zara pergi ke ruangan bosnya.


"Oh aku meminta mengantikan Fira jadi selama dia cuti"


"Mengantikan Fira artinya jadi sekertaris Adhi?" Nayla mempertegas penjelaaan dari Zara.


Zara merutuki dirinya sendiri, kenapa dia harus mengatakan pada Nayla. Nayla yang masih menyimpan rasa pada Adhi, sudah bisa di pastikan akan merasa sakit hati karena Zara akan jadi sekertaris Adhi.


"Ya, karena aku temen kuliah mereka berdua jadi pak Gajendra memintaku untuk mengantikan selama Fira cuti" jelas Zara yang merasa tidak enak pada Nayla.


"Lagi pula hanya sebentar, Fira cuti hanya untuk acara pesta pernikahan" lanjut Zara menjelaskan


Tadi Jeje dan Fira memang tidak ada yang membahas bulan madu, jadi Zara berfikir akan mengantikan Fira satu atau dua hari karena acara pernikahan.

__ADS_1


"Oh..ya semoga kamu cepat balik ya" ucap Nayla, menahan sedikit rasa tidak suka karena Zara bisa berdekatan dengan Adhi selama Fira cuti.


Zara yang menyadari raut wajah Nayla yang berubah hanya merasa bersalah.


"Apa kamu akan datang ke acara pak Gajendra?" Zara mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Semua karyawan di undang, aku rasa, aku akan datang"


"Bagaimana kalau kita mencari gaun, setelah jam pulang kerja"


"Aku setuju" senyum Nayla sudah mengembang kembali


Zara bersyukur, idenya untuk mengajak Nayla mencari gaun berbuah senyuman manis dari Nayla.


**


Sore hari seperti yang di janjikan Zara dan Nayla, mereka berdua menuju boutique. Nayla yang terbiasa berkerja mengendarai mobil, meminta Zara untuk meninggalkan motornya di kantor, dan menuju boutique mengunakan mobilnya.


Setelah puas memilih gaun, mereka berdua memutuskan untuk makan terlebih dahulu.


"Ra, maafin sikap aku tadi ya" ucap Nayla.


Mendegar ucapan permintaan maaf dari Nayla, Zara merasa bingung. Permintaan maaf untuk apa yang di sampaikan Nayla.


"Sikap yang mana nay?" tanyanya memastikan.


"Sikap saat kamu berkerja mengantikan Fira" Nayla menjelaskan sikap mana yang dia maksud.


"Oh, nggak apa-apa kok nay"

__ADS_1


"Aku tahu ra, Adhi memang tidak memberi harapan padaku, tapi entah kenapa aku belum bisa melupakan perasaanku padanya" Nayla menghela nafasnya, rasa sesak Nayla karena mencintai tapi tak berbalas berbuah sakit di hatinya.


Zara yang melihat Nayla merasa sangat iba, ingin rasanya membantu Nayla, dan mendekatkannya pada Adhi lagi. Tapi dirinya sadar, bahwa Adhi tidak memiliki rasa pada Nayla.


"Saat dia dekat denganmu, aku merasa iri. Dia bisa sedekat itu denganmu, tapi denganku tidak" lanjut Nayla yang mengungkapkan isi hatinya.


"Nay, aku sudah pernah jelaskan, kami berteman sudah sangat lama. Kamu salah kalau bilang aku dekat dengan Adhi, kami tidak sedekat yang kamu bayangkan. Mungkin justru Adhi lebih dekat dengan Fira" Zara merasa memang kedekatannya Fira dengan Adhi, melebihi kedekatannya dengan Adhi. Karena dari awal Adhi memang menaruh hati pada Fira, dan berusaha mendekati Fira.


"Kalau Fira kan sudah menikah ra, sedangkan kamu belum" sanggah Nayla pada Zara, dan langsung membuat Zara keheranan dengan kata-kata Nayla.


"Maksud kamu, kamu cemburu sama aku nay?" Zara tanpa basa-basi mengartikan kata-kaya Nayla.


"Aku hanya merasa Adhi menyukaimu" jawab Nayla lirih.


"Jadi ini yang Nayla fikirkan, bagaimana dia bisa menyimpulkan Adhi menyukaiku, aku saja bertemu dengannya jarang"


"Bagaimana kamu bisa mengatakan begitu nay, aku rasa itu hanya perasaanmu saja" elak Zara.


"Cara dia memandangmu dan memandangku berbebeda ra" jelas Nayla, Nayla yang beberapa kali memperhatikan Adhi, merasa Adhi memiliki rasa dengan Zara.


"Memandang?, Aku benar-benar tak pernah memperthatikan sejauh itu. Aku ahli melihat orang yang menyukai Fira, dan menebaknya. Tapi untuk diriku sendiri, aku rasa aku tidak ahli untuk diriku sendiri"


"Apa kamu memiliki perasaan suka dengan Adhi ra?"


Zara yang mendapatkan pertanyaan itu mengerutkan dahinya, "Nggak lah nay, aku menganggapnya teman, tidak lebih"


"Syukur kalau kamu hanya menganggapnya teman. Karena aku merasa akan terluka saat kamu mempunyai perasaan lebih"


"Mungkin terdengar egois ra, saat aku tidak mendapatkannya, aku tidak mau orang lain mendapatkannya" lanjut Nayla dengan seraya tertawa, menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


Zara hanya menanggapi dengan senyuman ucapan Nayla. Dirinya sendiri bingung harus menanggapi apa ucapan Nayla.


__ADS_2