Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Makan malam biasa


__ADS_3

Setelah acara pernikahan Daffa dan Tania selesai Ayu dan Edward berencana kembali ke negaranya. Ayu dan suaminya sudah berpamitan dengan Daffa dan Tania semalam, karena dia tidak mau menganggu pasangan pengantin baru pagi ini.


Dan pagi ini Adhi mengantar mamanya ke Bandara, untuk kembali pulang.


"Mama akan merindukanmu, berkunjunglah jika kamu ada waktu nak." Ayu membelai pipi Adhi, rasanya belum puas dia menghabiskan waktu dengan putranya. Tapi dia harus kembali karena suaminya harus berkerja kembali.


Adhi menatap mamanya, ada guratan kesedihan yang di rasakan sang mama, saat harus berpisah dengan dirinya. "Setelah abang pulang dari bulan madu, Adhi akan berkunjung." Adhi mencoba menenangkan mamanya yang masih berat untuk pergi.


Sejenak Adhi beralih menatap suami dari mamanya. "Adhi titip mama ya, Om," ucap Adhi tapi masih dengan nada dingin.


Edward memahami bahwa menerimanya butuh waktu. Untuk saat ini putra dari istrinya mau membuka hatinya saja, dia sangat bersyukur. Dia berfikir ini sudah lebih dari awal yang baik.


"Tenanglah aku akan menjaga mamamu, kunjungi kami kalau kamu ada waktu, mamamu pasti akan senang," ucap Edward dengan senyuman.


Mama dan suaminya, menarik kopernya dan meninggalkan Adhi. Adhi pun kembali pulang sesaat melihat mamanya sudah pergi.


**


"Kamu besok ada waktu, je? mama mau kamu pergi jalan-jalan bersama Ana," tanya Inan disertai permintaan.


Di awal Fira pergi Jeje masih tinggal di apartemen, tapi lambat laun dia merasa bayangan Fira mengisi seluruh bagian dari apartemennya. Akhirnya Jeje memutuskan sementara, tinggal di rumah orang tuanya. Sebenarnya Jeje malas harus tinggal dengan orang tuanya, tapi dia tidak ada pilihan.


Jeje yang mendengar permintaan mamanya, sangat malas mendengarnya. Selama dia tinggal di rumah mamanya, mamanya selalu saja berusaha mendekatkan dirinya dengan Ana. "Jeje sibuk ma, Jeje mau keluar negeri ada urusan bisnis," ucap Jeje datar.


"Mama tau itu cuma alasan kamu je." Inan sebenarnya tahu Jeje selalu menghindari Ana, setiap Ana mengajaknya jalan, Jeje akan beralasan sibuk.


"Ya sudah kalau mama tidak percaya," ucap Jeje acuh.


"Ya sudah, ajak Ana makan malam saja, paling tidak, luangkan waktumu untuk tunanganmu." Inan masih tetap berusaha keras untuk membuat Jeje dan Ana dekat.


"Terserah mama saja," ucap Jeje pasrah dengan keinginan mamanya


Jeje langsung meninggalkan mamanya untuk pergi ke kantor. Dirinya malas sekali harus berdebat dengan mamany sepagi ini.


**


Pagi ini mood Jeje di buat buruk oleh permintaan mamanya. Mamanya selalu meminta untuk menemui Ana, padahal Jeje benar-benar malas bertemu Ana.


Beberapa kali Jeje mencoba pergi dan bertemu dengan Ana, tapi yang dia dapat hanya kemanjaan yang menjijikan bagi Jeje. Kadang Jeje heran, Ana adalah seorang pengusaha juga seperti dirinya, tapi dia lebih punya banyak waktu untuk bersenang-senang, dan mengajaknya bertemu.


tok..tok..


Suara pintu ruangan Jeje di ketuk.

__ADS_1


"Masuk!" seru Jeje.


Reza masuk ke dalam ruangan Jeje, dan berjalan menghampiri Jeje. "Saya sudah siapkan semua disana pak," jelas Reza, yang di minta Jeje untuk menyiapkan perjalanan ke luar negeri.


"Terimkasih za," ucapnya. "Sebenarnya dia belum mengajukan kerja sama dengan kita, tapi mendengar dia mau berinvestasi disini, dan aku tertarik. Aku akan berkunjung melihat perusahaannya secara langsung," jelasnya pada Jeje.


"Apa anda butuh saya temani, Pak?" tanya Reza menwarkan diri.


"Tidak perlu, za."


"Apa ada lagi yang anda butuhkan, Pak?"


"Oh ya, kosongkan jadwalku sore ini, aku harus menemui Ana," ucap Jeje sambil memijat keningnya.


Reza tahu bosnya ini malas sekali bertemu tunangannya. Setiap tunanganya datang pun, dia selalu beralasan sibuk.


"Baik, Pak." Reza pun keluar dari ruangan Jeje.


**


Sore harinya Jeje memilih untuk pulang terlebih dahulu, sebelum menemui Ana. Dirinya ingin membersihkan diri terlebih dahulu.


Setelah selesai bersiap, Jeje menuruni tangga, menuju ke parkiran rumahnya. Tapi langkahnya terhenti saat mamanya memanggilnya.


Jeje hanya memutar bola mata malas mendengar pertanyaan dari mamanya.


"Iya, ini juga mau berangkat."


Inan merasa lega, anaknya mau pergi makan malam bersama dengan Jeje. "Ya sudah, kamu yang baik sama Ana,l."


"Jeje berangkat dulu ma." Jeje yang malas menjawab pertanyaan mamanya, berlalu setelah bepamitan.


"Anak itu masih saja belum melupakan Fira, sebegitu besarnya rasa cintanya, sampai dia belum bisa menerima Ana," gumam Inan, melihat anaknya pergi.


**


Jeje melajukan mobilnya untuk menjemput Ana terlebih dahulu. Dia memilih menunggu Ana di mobil, dan menghubungi Ana untuk langsung keluar.


"Hai sayang," ucapnya menyapa Jeje, sesaat setelah masuk ke dalam mobil.


Jeje hanya diam dan tak membalas sapaan Ana.


"Selalu saja begitu," kesal Ana dengan tanggapan Jeje, yang memilih diam.

__ADS_1


"Kamu sampai kapan sih bersikap seperti itu sama aku?" tanya Ana yang menatap Jeje, dengan kecewa.


"Bersikap seperti apa maksud kamu?" Jeje berucap tanpa menoleh pada Ana, dan tetap fokus menyetir.


Ana mengehela nafasnya, menahan kesalnya, "Sikap kamu yang dingin sama aku."


"Aku menganggap sikap aku biasa saja, jadi jangan lebih-lebihkan."


"Tapi.."


"Sudah lah, aku tidak mau berdebat," potong Jeje sebelum Ana menjawab ucapab Jeje.


Ana pun memilih untuk diam, dan tak melanjutkan pertanyaanya lagi. Dirinya sudah mengambio keputusan menikah dengan Jeje, jadi bagaimana pun Jeje, dirinya akan menerima.


Mobil Jeje berhenti di sebuah restoran. Ana membulatkan matanya saamelihat restoran yang akan di jadikan untuk makan malamnya bersama Jeje.


Dia pikir, Jeje akan membawanya ke restoran mewah yang romantis. Tapi ternyata dia hanya membawanya ke restoran biasa.


Jeje langsung membuka pintu mobil, dan keluar dari mobil. Ana yang melihat Jeje keluar dari mobil, mengikutinya dari belakang.


"Kenapa aku seperti asistennya yang berjalan di belakangnya," grutu Ana yang berjalan tepat di belakang Jeje.


Sesampainya di meja makan Ana masih menatap bingung, dia mengedarkan pandangan, dan mendapati restoran yang ramai pengunjung. "Kenapa dia mengajakku makan disini,"


"Ayo duduk." Jeje membuyarkan pikiran Ana.


Ana yang mendengar Jeje mengajaknya duduk langsung duduk tepat di depan Jeje. "Kenapa kita makan malam disini?" Akhirnya Ana memberanikan diri untuk bertanya.


"Kita kan mau makan malam," jawab Jeje datar.


"Maksudku kenapa kamu tidak pilih tempat yang lebih private, untuk kita berdua makan malam?"


"Aku tak ada waktu untuk memesannya." Jeje beralasan.


"Dia pikir aku bodoh, dengan kekayaannya dia akan mudah mendapatkan private room walaupun tidak dengan memesan dulu, " batin Ana


Ana hanya bisa pasrah dengan makan malam nya. Makan malam dengan pria dingin yang jarang bicara, dan makan malam dengan keramaian.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like🄰


__ADS_2