
Pagi ini Fira melihat ibunya dan Bibi Cristina sedang sibuk di dapur. Nyonya Ayu meminta ibunya untuk memasak makanan kesukaan Adhi.
"Fira bantu ya bu," Fira yang melihat ibunya kerepotan merasa tidak tega.
"Sudah, kamu bersiap berangkat kerja saja," Bu Ani mendorong tubuh Fira lembut, Bu Ani tahu, anaknya bisa terlambat jika harus membantunya.
Fira tidak ada pilihan lain, selain menuruti ke inginan ibunya. Dia pun berlalu ke dalam kamar, dan bersiap untuk ke kantor.
**
Adhi membuka matanya, dia sedikit kaget mendapati kamar yang berbeda, tapi sejenak dia mengingat kalau dia berada di rumah mamanya. Adhi pun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia keluar menuju meja makan.
"Pagi ma," Adhi berjalan menuruni tangga, dan melihat mamanya sedang menyiapkan sarapan.
Nyonya Ayu menoleh saat anaknya menyapanya, "Pagi sayang, sini sarapan, bentar lagi om Edward akan turun kita sarapan bersama."
Adhi pun menarik kursi dan duduk bersama mamanya, "Apa Fira sudah berangkat ma?" tanya Adhi pada mamanya. Adhi yang mengedarkan pandangan mencari sosok Fira, tapi nampak tidak ada Fira di rumah.
"Mama rasa belum, mungkin sebentar lagi dia berangkat"
"Naik apa dia kalau berangkat ma?"
Nyonya Ayu curiga anaknya pagi-pagi menanyakan wanita cantik yang selama ini ada dirumahnya. Walau pun Nyonya Ayu tahu kalau Fira itu teman kuliah Adhi, tapi dari cara Adhi memperhatikan Fira terlihat jelas Adhi memiliki sedikit rasa pada Fira. Seperti semalam, dia langsung menemui Fira, dan mengobrol di taman dengan wanita cantk itu.
"Naik taxy," jelas mamanya, "Kamu mau antar dia, kamu bisa pakai mobil mama, kalau mau antar," tawar Ayu pada Adhi dengan sedikit mengoda.
"Em...tidak ma," jawab Adhi salah tingkah, Ayu pun hanya tertawa melihat reaksi dari putranya.
"Apa kamu suka sama Fira?" tanya mamnya ingin tahu perasaan apa yang ada di hati anaknya.
"Nggak ma, Adhi hanya berteman saja," Adhi gugup menjawab pertanyaan mamanya. Dirinya masih malu mengakui bahwa dia mencintai Fira.
__ADS_1
"Mama nggak keberatan lho kamu sama Fira, dia cantik dan baik, mama rasa dia cocok sama kamu."
Adhi yang mendengar ucapan mamanya hanya tersenyum.
"Tapi kalau kamu nggak suka sih ya nggak apa-apa," Ayu mengucapkan sambil mengoda.
"Mama cuma kasihan sama dia, Inan memperlakukannya seperti itu, untung sih nggak jadi sama Jeje, coba kalau jadi dapat mertua kayak Inan, ich.." Nyonya Ayu bergidik ngeri mengingat yang di lakukan temannya pada Fira.
Adhi hanya mengeleng kepala melihat mamanya yang begitu tanpa henti menceritakan Fira, "Ich..mama pagi-pagi udah gosip aja," goda Adhi.
"Mending juga dapat mertua kayak mama, baik cantik sayang lagi," sombong Ayu pada Adhi.
"Lagian emang Fira mau punya mertua kayak mama?" goda Adhi.
"Mau lah Fira punya mertua kayak mama, tapi nunggu kamu bilang suka dulu" Nyonya Ayu berkata seraya mengedipkan mata, mengoda putranya.
"Andai kamu mau fir sama aku, mama bakal sayang sama kamu, dan kamu nggak perlu di tolak dan pergi sejauh ini " batin Adhi.
Adhi mengingat kembali awal mulai kebenciannya. Saat papa nya meninggal mama nya berkerja keras meneruskan restoran peninggalan papa nya. Sampai saat dia bertemu Tuan Edward, dan memutuskan menikah. Mamanya mengajaknya pindah ke luar negeri.
Tapi waktu itu Daffa dan Adhi tidak terima, harus meninggalkan restoran yang sudah di bangun papa nya. Mamanya tak ada pilihan karena sudah menikah dan harus mengikuti suaminya. Akhirnya mama nya memilih untuk meninggalkan Daffa dan Adhi. Itu membuat Daffa dan Adhi sakit hati. Setiap saat mamanya selalu berusaha membujuk Daffa dan Adhi untuk menyusulnya, tapi tak ada dari mereka yang menemui mamanya.
Ayu sesekali mengunjungi anak-anaknya, walau pun mungkin tidak sering, karena dia tidak bisa meninggalkan suaminya terlalu lama. Hal itu pun membuat hubungan anak dan ibu tidak terlalu dekat.
"Kamu mau nambah dhi, ini semua makanan kesukaan kamu lho," Ayu membuyarkan lamunan Adhi yang mengingat masa lalunya.
"Tidak ma, terimakasih."
"Mainlah ke kantor dhi, siapa tahu kamu tertarik di bisnis yang om geluti. Kamu juga bisa belajar bisnis," Tuan Edward selalu mencoba mendekati Adhi, walau semua tidak mudah.
Adhi mengingat semalam dia sengaja mengatakan mau ke kantor, karena ada Jeje, "Ya om, nanti Adhi akan main ke kantor."
__ADS_1
Nyonya Ayu yang mendengar Adhi mau menerima tawaran suaminya merasa senang, paling tidak Adhi mau membuka hati, dan menjalin hubungan baik dengan suaminya.
**
Setelah selesai bersiap Fira keluar dari kamarnya, dia berjalan lewat pintu samping rumah Nyonya Ayu, berniat untuk memesan taxy di depan rumah Nyonya Ayu.
Tapi langkahnya terhenti saat di pintu samping rumah Nyonya Ayu, dia melihat Adhi disana.
"Sudah mau berangkat fir?" tanya Adhi pada Fira.
"Sudah dhi, ini mau pesan taxy."
"Mau aku antar fir?" Adhi yang mendengar dari mamanya, jika dia bisa memakai mobil, berniat mengantar Fira.
Fira yang mendengar Adhi berniat mengantarnya, merasa tidak enak. Adhi jauh-jauh kesini untuk bertemu dengan mamanya. Jadi dia tidak mau merusak moment kedekatan ibu dan anak.
"Nggak perlu dhi, aku biasa naik taxy," tolak Fira halus.
"Nggak apa-apa fir, tadi mama juga sudah mengizinkan untuk memakai mobil," jelas Adhi.
"Bukan begitu, kamu kesini ingin bertemu mama kamu, jadia jangan sibukan dirimu dengan mengantar aku."
Adhi memahami kata-kata Fira. Adhi membenarkan kalau memang, dia kesini untuk bertemi dengan mamanya.
"Ya sudah hari ini aku akan bersama mama, dan besok bersama dengan mu," Adhi tetap tidak mau membuang kesempatan untuk dekat dengan Fira.
Fira hanya bisa mengangguk, dia pikir yang terpenting Adhi meluangkan waktu untuk mamanya lebih dulu. Fira tahu hubungan Adhi dan mamanya tidak terlalu dekat, jadi Fira berharap Adhi dan mamanya bisa menjalin hubungan lebih baik.
"Ya sudah aku berangkat dulu ya," ucap Fira pada Adhi.
"Ya, hati-hati ya."
__ADS_1
Akhirnya setelah berpamitan dengan Adhi, Fira melangkahkan kakinya ke depan rumah Nyonya Ayu, untuk menunggu taxy. Saat taxy datang, Fira naik ke dalam taxy, dan berangkat menuju kantornya. Sesampainya di kantor, Fira membayar taxy nya, dan turun dari taxy. Saat Fira turun dari taxy, Fira melihat dari kejauhan Fira melihat Jeje, yang sedang duduk di ruang tunggu.