
"Fira tidak akan pergi keluar negeri, Bu," ucap Fira pada ibunya, yang sedang menutup pintu setelah kepergian bu Inan.
"Kamu sudah dengar ternyata, jadi ibu tidak perlu menjelaskan panjang lebar," Bu Ani melangkah melewati Fira yang masih mematung.
"Bu Fira mohon, Fira janji akan menjauhi Jeje, kita tidak perlu keluar negeri bu." Fira mengekor ibunya yang berjalan kedalam kamar.
"Kamu sudah dengar kan Tuan Jeje akan menemukanmu dimana pun kamu berada, jadi sudah lah berhenti memohon pada ibu." Bu Ani begitu kesal, mendengar Fira yang terus memohon padanya.
"Pokoknya Fira nggak mau keluar negeri, Bu," ucap Fira berteriak.
Bu Ani yang terbawa emosi pun langsung melayangkan satu tamparan untuk Fira.
"Apa kamu sekarang sudah tidak bisa mendengarkan ibu fir, mana janji kamu mau membahagiakan ibu, yang ada kamu membuat ibu malu sama keluarga Tuan Rayhan, dengan menjalin hubungan dengan Tuan Jeje."
"Apa kamu tidak berfikir lebih dulu sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan, harusnya kamu fikirkan dari kalangan apa mereka."
"Mereka kalangan atas fir, kita hanya orang kecil, tidak pantas kita berdampingan dengan mereka fir, masih bersyukur mereka tidak marah saat kamu menjalin hubungan dengan anaknya."
Bu Ani meluapkan semua kenyataan yang harus Fira terima. Sebenarnya dia tidak tega melihat putrinya, tapi dia juga tidak punya pilihan lain. Bu Ani merasa harus menyadarkan Fira, akan status sosialnya, yang melekat pada diri mereka selama ini.
"Ibu tidak minta persetujuan kamu, mau tidak mau, kamu harus ikut. Sekarang kemasi barang kamu, dan jangan coba - coba menghubungi siapapun, atau ibu tidak akan memaafkanmu."
Bu Ani langsung berlalu ke dalam kamarnya, dia pun menangis. Bu Ani bisa merasakan, apa yang anaknya rasakan, tapi kenyataan bahwa bu Inan tidak bisa menerima Fira, membuat dirinya melakukan ini.
Fira yang melihat ibunya pergi ke kamar, memegangi pipinya, ini untuk pertama kalinya ibunya menamparnya. Fira bisa merasakan, ini adalah luapan kekecewaan ibunya padanya.
Fira benar-benar dalam dilema, ibu adalah orang tuanya satu-satunya yang dia miliki, setelah kepergian ayahnya. Tapi rasa cintanya pada Jeje tak bisa membuat dia meninggalkan dia. Dan sekarang Fira harus memilih di antara dua orang yang dia cintai.
Fira menghapus air matanya. "Aku akan turuti semua mau ibu"
Akhirnya Fira memilih untuk memilih sang ibu dan meninggalkan Jeje untuk selamanya.
**
__ADS_1
Setelah pagi-pagi Jeje ke rumah orang tuanya, untuk menjelaskan hubungannya dengan Fira, di kantor Jeje tetap tidak bisa fokus berkerja. Pikirannya melayang, memikirkan bagaimana ke depan hubungannya degan Fira.
Saat asik dengan pikirannya, suara pintu ruangan Jeje di ketuk.
"Masuk!!" seru Jeje.
"Maaf Pak, saya mau menyampaikan bahwa Nona Zhafira mengajukan surat pengunduran diri, tadi pagi saya menerima surat pengunduran diri yang di bawa temannya bernama Zara," jelas Reza sesaat setelah masuk ke dalam ruangan Jeje.
Reza menyodorkan map berisi surat pengunduran diri, dia atas meja Jeje.
Jeje melihat surat pengunduran diri Fira, yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ada rasa sesak saat melihat Fira memilih untuk keluar dari perusahaannya.
"Kali ini aku biarkan kamu keluar dari kantor, tapi aku tak akan keluarkan kamu dari hati aku fir. "
"Baiklah, terima saja," ucap Jeje pada Reza, dan akhirnya Reza keluar dari ruangan Jeje.
"Tunggu aku fir," gumam Jeje.
**
"Apa barang-barangmu sudah di kemasi?" tanya bu Ani saat melihat Fira keluar dari kamar.
"Sudah, Bu."
Bu Ani merasa lega, Fira mau mendengarkannya, dan memilih untuk meninggalkan Jeje, dengan pergi keluar negeri.
Malam harinya Fira dan ibunya sudah mempersiapkan diri, dan menunggu orang yang akan menjemput mereka.
Bu Inan sudah mengatur semuanya, bu inan juga sudah menyuruh orang untuk menjemput mereka, dan mengantarkannya ke bandara.
Saat mereka sedang menunggu, mereka mendengar suara pintu di ketuk. Bu Ani melangkahkan kami untuk membuka pintu rumahnya.
Bu Ani memperhatikan seorang pria, dengan tubuh tegap berdiri di depan rumahnya. Bu Ani menduga, bahwa ini adalah orang yang akan menjemputnya.
__ADS_1
"Permisi saya di suruh bu Inan untuk mengantarkan kalian ke Bandara," ucap pria itu sesaat Bu Ani membuka pintu.
Bu Ani yang mengerti bahwa itu adalah orang suruhan Bu Inan menganggukan kepalanya, "Baik, tunggu sebentar saya ambil barang-barang saya."
Bu Ani melangkahkan kaki ke dalam rumah, dia pun memanggil Fira untuk membawa kopernya keluar.
Mereka berdua membawa barang-barang mereka keluar rumah menuju mobil yang terparkir di depan rumahnya, dan memasukannya ke dalam bagasi mobil.
Sebelum meninggalkan rumah pria itu meminta ponsel Fira dan bu Ani, dan mengantinya dengan ponsel baru. Dia beralasan agar bu Ani dan Fira tidak bisa menghubungi siapa pun. Ponsel lama bu Ani dan Fira pun di tinggalkan di rumah, agar tidak membuat Jeje dapat melacaknya nanti.
Fira dan bu Ani di bawa ke luar negeri, untuk menjauh dari Jeje. Agar Jeje tidak melacak kepergian Fira, bu Inan sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk mengantar mereka.
Bu Ani dan Fira turun dari mobilnya. Mereka berdua di buat heran dengan pesawat yang di siapkan oleh bu Inan. Pesawat pribadi yang akan di isi dengan mereka berdua, yang di lihat oleh bu Ani dan Fira.
"Silakan." Seorang pria mempersilakan Bu Ani dan Fira masuk ke dalam pesawat.
Fira benar-benar tak habis fikir, Bu Inan benar-benar memikirkan dengan baik untuk membuat Jeje tidak mengetahui kepergiananya.
Fira duduk di dalam pesawat menunggu pilot menerbangkan pesawat meninggalkan negaranya.
"Selamat tinggal sayang, semoga kamu bahagia dengan pilihan orang tua mu. Aku akan membawa cintamu di hatiku," gumam Fira dan menenteskan air mata.
Rasanya sangat berat untuk Fira memilih jalan ini, tapi dirinya sudah mengambil keputusan, dan dia tidak akan pernah menyesalinya. Demi ibunya dia akan melepas cintanya.
Bu Ani yang tidak tega melihat anaknya, membelai rambut Fira dan memeluknya. Ada rasa penyesalan dalam hati bu Ani, melihat anaknya begitu terluka.
"Maafkan ibu fir, tapi ini yang terbaik untuk mu, kalau saja Bu Inan tidak keberatan mungkin ibu tidak akan mengambil langkah ini. "
"Kita akan mulai hidup baru disana," ucap bu Ani menatap lekat wajah Fira.
Fira pun mengangguk dan mengeratkan pelukan pada ibunya. Menangis dalam pelukan sang ibu yang begitu dia cintai.
Akhirnya mereka melakukan perjalanan dan meninggalkan negaranya. Meninggalkan semua kenangan yang ada disana.
__ADS_1