
Saat Fira dan Zara sedang membahas Adhi, tiba-tiba ponsel Fira berdering, dan membuyarkan obrolan mereka.
"Nomer siapa ini" gumam Fira mengerutkan keningnya saat melihat nomer asing yang menghubunginya.
Dengan ragu-ragu Fira mengusap layar ponselnya, dan menerima panggilan dari nomer asing yang tidak dia kenal, "Halo" ucap Fira pertama kali saat mengangkat sambungan telepon.
"Halo fir, bisa aku bertemu denganmu" ucapnya tanpa basa-basi saat menghubungi Fira.
Fira mengingat suara siapa yang di dengarnya, dan dia menemukan jawab setelah pikirannya berusaha kerja untuk mengingat, walaupun sedikit kaget Fira berusaha untuk tenang, "Iya bisa, temui aku di restoran A, sekarang" jawab Fira memberitahu tempat untuk bertemu.
"Bisa kah kita bertemu besok saja" tanyanya bernegosiasi dengan Fira.
"Sekarang atau tidak sama sekali" ancam Fira yang malas mendengar negosiasi yang dilakukannya.
"Baiklah tiga puluh menit lagi aku akan sampai"
Setelah bersedia menerima untuk bertemu sekarang, Fira mematikan sambungan teleponnya, bersiap menuju restoran yang Fira sebut tadi di sambungan telepon, sekaligus untuk makan siang bersama Zara.
Restoran yang di maksud Fira terletak di depan kantor Adhi, jadi Fira hanya perlu berjalan kaki untuk menuju tempat yang sudah dia janjikan.
"Kamu yakin mau bertemu dengan dia?" tanya Zara memastikan lagi sesaat mereka tiba di restoran yang Fira maksud.
"Apa kamu tidak takut dia berniat buruk?" Zara patut curiga saat Fira mendapat telepon.
"Jangan berburuk sangka dulu, siapa tahu dia memang berniat baik" Fira mencoba menepis ucapan Zara.
"Terserah padamu, aku hanya memperingatkanmu, jangan sampai kedatangannya merusak segalanya"
"Iya, aku akan pastikan dia tidak akan merusak apa pun" Fira mencoba menenangkan Zara.
"Dia masih datang tiga puluh menit lagi, jadi kita bisa makan terlebih dahulu" ucapnya mengalihkan pembicaraan, dan mengingat niatnya ke restoran adalah dua hal, bertemu seseorang dan makan siang.
__ADS_1
Mereka berdua memesan makanan, dan asik menikmati makanan sambil berbincang.
Sampai tiga puluh menit kemudian, Fira melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, "Dia belum datang"
Fira masih setia menunggu sampai Sepuluh menit berlalu dari jam yang di janjikan. Akhirnya setelah menunggu lebih dari sepuluh menit, Fira melihat seseorang berjalan menghampirinya.
"Maaf aku terlambat" ucapnya saat pertama kali datang menghampiri Fira.
"Tidak apa-apa" jawab Fira datar.
"Aku akan mengawasimu dari meja sebelah, selesaikan semua" ucap Zara seraya berdiri meninggalkan Fira. Ekor matanya tetap memfokuskan untuk mengawasi Fira, dan tak melepas sedikitpun. Zara tak mau terjadi sesuatu pada Fira.
"Silahkan duduk"
"Terimakasih" ucapnya seraya menarik kursi, dan duduk tepat di depan Fira.
"Ada apa kamu menghubungiku?" tanya Fira langsung pada intinya, karena tidak mau berlama-lama membuang waktunya, karena jam istirahatnya sudah hampir habis.
"Jeje menarik semua saham di perusahaan ayahku" ucapnya pertama kali membuka pembicaraan pada Fira.
"Lalu apa hubunganya dengan ku?" tanya Fira bingung kenapa dia mengatakan hal itu padanya.
"Aku tidak bisa menemui Jeje karena petugas keamanan di kantornya melarang aku untuk masuk" jelas Ana pada Fira.
"Aku tahu Jeje menarik saham, karena kamu marah dengannya waktu itu"
"Waktu itu " rasanya masih sakit, saat mengingat waktu itu yang di maksud oleh Ana. Waktu dimana dia melihat Ana di bawah kungkungan Jeje.
"Aku tahu, aku salah karena mendatangi Jeje, padahal aku sudah tahu dia sudah menikah"
"Kalau dia tahu sudah menikah, untuk apa dia datang?" batin Fira begitu kesal mendengar penjelasan Ana. Tapi Fira memilih diam, dan mendengarkan sampai Ana selesai berbicara.
__ADS_1
"Aku memang datang untuk mengodanya, karena aku tahu dia mengejar mu saat dia masih bertunangan denganku, yang aku artikan dia selingkuh dari aku. Sehingga membuatku kesal mengingat bahwa dia juga sama-sama selingkuh seperti diriku"
Fira mengerutkan keningnya mendengar penuturan dari Ana. Seingat Fira, Jeje mendekatinya setelah Jeje dari negara Y, dan itu sesaat setelah mama inan memergoki Ana di bar.
"Tunggu!!" Seru Fira yang sudah sedikit terpancing untuk membuka mulutnya, dan memotong pembicaraan Ana. Ana pun langsung berhenti berbicara saat itu juga.
"Sepertinya aku harus meluruskan ucapanmu. Aku bertemu dengan Jeje di negara Y, tapi kami tidak menjalin hubungan apa-apa, dan justru aku memintanya untuk berbahagia denganmu. Dan saat dia kembali kesini, dia dan mama inan memergokimu di bar, dan langsung memutuskan pertunanganmu. Setelah pertunanganmu berakhir, aku baru datang kemari. Jadi salah jika kamu menyamakan kami dengan mu yang selingkuh di belakang"
Ana yang mendengar cerita Fira merasa malu, tenyata dialah yang salah mengartikan semuanya. Emosi yang telah menyelimutinya waktu mamanya bilang Jeje sudah menikah, membuatnya pergi untuk mendatangi Jeje. Tadinya dia pikir dengan mudah dia akan bisa mengoda Jeje, tapi nyatanya Jeje malah menarik saham perusahaan ayahnya setelah Fira melihat mereka.
"Aku minta maaf akan kesalahfahaman yang aku artikan, dan aku juga ingin minta maaf karena sudah mendatangi Jeje dan membuatmu salah paham"
"Tapi percayalah, tidak terjadi apa-apa antara aku dan Jeje. Yang kamu lihat kemarin adalah kesalah pahaman, karena sebenarnya Jeje sedang memperingatkan ku dengan mendekat padaku"
Fira menghela nafasnya mendengar Ana datang menjelaskan dan meminta maaf, walaupun sebenarnya, Jeje telah menjelaskan semuanya, "Aku akan berusaha memaafkanmu atas kesalahpahaman antara kita. Dan untuk penjelasan mu, aku sudah tahu semuanya" ucap Fira.
"Lalu apa yang membuat kamu datang padaku?" Fira menatap tajam pada Ana, langsung membahas pada intinya, karena Fira tahu selain minta maaf, ada maksud lain kedatang Ana menemuinya.
"Aku mau meminta tolong kamu fir, aku ingin kamu meminta Jeje mengembalikan sahamnya di perusahaan ayahku" Ana menjelaskan tujuan utamanya kepada Fira.
Fira mengerutkan keningnya, dia begitu heran kenapa harus dia yang meminta pada Jeje.
"Jeje tidak akan memaafkan aku dan mengembalikan sahamnya di perusahaanku. Itulah yang membuatku kesini, aku ingin meminta maaf padamu fir, dan aku memintamu untuk bicara pada Jeje untuk mengembalikan saham di perusahaan ayahku" Ana menatap Fira dengan penuh harap. Dia tidak punya pilihan lain selain mendatangi Fira.
Fira yang melihat Ana dengan penuh harapan merasa kasihan, tapi dirinya berfikir, Jeje tidak akan mau dengan mudah mengembalikan saham Ana, mengingat apa yang sudah di lakukan Ana, dan berujung pada kepergian Fira.
"Aku tidak bisa membantumu" jawab Fira untuk permintaan Ana.
Ana mendengar ucapan Fira tampak kecewa, "Fir, aku mohon, aku berjanji tidak akan menganggumu lagi. Perusahaanku akan bangkrut kalau Jeje menarik sahamnya" Ana memohon pada Fira.
Fira yang melihat Ana yang memohon padanya begitu merasa iba, tapi Fira tidak bisa berbuat banyak, "Aku akan bicara pada Jeje, tapi keputusan tetap pada Jeje, aku tidak bisa memaksanya"
__ADS_1
"Baiklah, setidaknya dengan kamu bicara pada Jeje sudah membantuku" ucap Ana yang merasa lega Fira mau membantunya "Terimakasih" ucapnya Ana pada Fira, dan Fira mengiyakan.
Akhirnya mereka mengakhir pembicaraan, dengan hasil Fira akan mencoba membicarakan semua ini dengan Jeje, dan apapun hasilnya Ana sudah siap menerimanya nanti.