
Setelah selesai makan Fira dan Jeje memutuskan untuk pulang, Jeje yang melihat Fira sudah lelah, memilih tidak kembali ke kantor. Lagi pula tadi pagi dia sudah bertemu klien penting, jadi sekarang di kantor tidak ada perkerjaan yang mengharuskan dia datang.
"Kamu yakin nggak mau aku antar ke dokter aja?" Jeje yang sedang menyetir mobil, memastikan untuk Fira memeriksakan kehamilannya.
Fira menghela nafasnya yang mulai berat, "Aku belum yakin apa yang di katakan Zara, kalau nafsu makan ku bertambah karena kehamilan."
Jeje menoleh pada Fira sejenak, "Ya sudah kita beli testpack saja?"
"Kalau nanti hasilnya aku tidak hamil, apa kamu tidak akan kecewa?" tanya Fira ragu-ragu, suara Fira yang lirih menandakan ada ketakutan dalam hatinya.
Jeje menoleh sebentar untuk melihat Fira, di tautkan tangan kirinya pada jemari Fira, "Aku tidak akan kecewa, kalau kamu belum hamil, kita bisa mencoba lagi bukan?" senyum mengoda mengembang sempurna dari wajah pria yang sedang sibuk menyetir itu.
Fira yang mendengar tersipu malu, pipinya langsung merona, dia selalu saja malu saat suaminya membahas hal-hal intim antara mereka.
Setelah tidak ke dokter, mereka memutuskan untuk membeli testpack, mereka berdua berhenti di apotik.untuk membelinya.
**
Setelah selesai makan, Adhi dan Zara pun kembali ke kantor.
"Akhir pekan ini kamu ada janji nggak ra?" tanya Adhi yang tetap fokus pada kemudinya.
Zara yang mendengar pertanyaan Adhi menoleh pada Adhi, "Kenapa?"
"Kamu nggak lupa kan, baru sekali nemenin aku."
Zara mencerna baik perkataan Adhi, Zara tahu maksud menemani, adalah menemani melupakan Fira. Tapi Zara mengingat sesuatu.
Flasback
Setelah Zara berpamitan dengan Atta, Zara masuk ke dalam mobil Nayla. Nayla pun melajukan mobilnya, untuk mengantarkan Zara pulang terlebih dahulu.
"Ra, kamu sampai kapan kerja di kantor Adhi?" tanya Nayla dalam perjalan pulang.
"Aku belum tahu nay, karena aku belum tahu sampai kapan Fira cuti," jelasnya pada Nayla.
"Ra, boleh aku minta sesuatu?"
__ADS_1
Zara langsung menoleh pada Nayla yang masih fokus menyetir. Zara memperhatikan dengan seksama raut wajah Nayla yang nampak berubah, berbeda dengan saat pertama kali datang ke acara pesta pernikahan Fira. Zara melihat Nayla nampak serius saat meminta sesuatu padanya, "Apa?" tanyanya yang ingin tahu.
"Jauhin Adhi."
Zara terperangah saat mendengar ucapan Nayla, rasanya aneh saat temannya itu tiba-tiba memintanya menjauhi Adhi, "Kenapa kamu bilang begitu?" tanyanya yang ingin tahu maksud dari keinginan Nayla.
"Tadi saat aku berjalan ke parkiran, aku bercerita beberapa hal, dan sampai saat aku menceritakan mu, raut wajah Adhi berubah. Aku melihat sorot matanya, menyimpan cinta untukmu," jelas Nayla menahan gemuruh dalam hatinya, rasanya berat melihat ada orang lain di hati orang yang di cintainya.
"Cinta, maksudnya Adhi mencintaiku?, aku tahu betul Adhi masih berusaha melupakan Fira, bagaiman bisa dia mencintai ku."
"Mungkin kalau orang lain aku akan lebih mudah menerima, tapi saat ternyata kamu, aku berat ra buat menerima," lanjut Nayla dengan suara yang berat.
Zara masih mencerna baik-baik ucapan Nayla, dirinya tidak menyangka Nayla akan mengatakan itu, "Kamu mungkin salah nay, Adhi nggak pernah mencintai aku," Zara berusaha untuk menjelaskan yang dia tahu.
"Kamu benar mungkin aku salah, tapi sebelum itu jadi kenyataan apa kamu bisa menjauhinya," Nayla menatap Zara sebentar, dan kembali fokus pada kemudinya.
Zara melihat Nayla yang benar-benar terluka, rasanya Zara tidak tega melihatnya. Menjauh, rasanya kata itu terdengar susah untuk di lakukan, saat dia harus berkerja di kantor Adhi. "Tapi aku kan harus kerja di kantor Adhi?"
"Kamu bisa menjaga jarak, atau mungkin secepatnya kembali ke kantor Pak Gajendra."
Zara tidak ada pilihan lain, "Baiklah, aku akan usahakan."
Sebenarnya Zara sedikit menyesali karena menemani Adhi waktu itu, tapi dirinya sudah terlanjur lebih dulu berjanji pada Adhi, jauh sebelum dirinha berjanji pada Nayla. Tapi saat mengingat janjinya pada Nayla, Zara merasa mengkhianti Nayla dengan menemani Adhi. Zara benar-benar bingung saat di hadapkan dua janji yang bersamaan yang harus dia penuhi.
"Ra," panggil Adhi, dan membuyarkan lamunannya yang memikiran semua.
"Aku belum tahu dhi, nanti aku kabarin ya."
Adhi hanya mengangguk, dia berharap Zara akan mau menemaninya.
**
Jeje keluar dari kamar mandi, dengan mengosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Saat dia keluar, dia melihat Fira yang belum tidur, dan masih memainkan ponselnya. Jeje menaruh handuknya dan berlalu menghampiri Fira.
"Kamu belum tidur?" tanya Jeje seraya mengrangkak naik ke tempat tidur.
"Belum."
__ADS_1
Jeje ikut duduk di atas tempat tidur bersama Fira, bersandar bersebelahan bersama Fira. "Kamu sedang apa?" tanyanya mengintip sedikit ponsel Fira.
"Lihat lah, aku sedang membaca tanda-tanda kehamilan, dan nafsu makanku tidak termasuk di dalam tanda-tanda kehamilan," ucapnya seraya menunjukan layar ponselnya pada Jeje.
"Oh ya?" tanyanya memastikan, dan Fira mengangguk.
Fira pun menunjukan beberapa artikel yang dia baca pada Jeje. Mereka pun membacanya bersama dengan seksama.
"Sepertinya aku tidak hamil," ucapnya menatap Jeje, setelah mencari info yang dia baca.
Jeje menatap lekat Fira, sebagai wanita yang sudah menikah, menanti anak dalam rahimnya adalah hal yang dia tunggunya, "Ya sudah, kita bisa berusaha lagi, kalau kamu tidak hamil," Jeje berusaha menenangkan Fira.
"Apa kamu kecewa?" tanya Fira ragu-ragu.
"Aku sudah bilang bukan, aku tidak akan kecewa," ucap Jeje dan membawa Fira dalam pelukannya.
"Aku akan sabar menunggu waktu itu tiba, dimana akan ada banyak anak di rumah kita," Jeje membelai rambut Fira membayangkan bagaimana bahagianya nanti.
"Banyak?" tanya Fira menengadah.
"Iya banyak anak, apa kamu tidak mau?"
"Kenapa banyak?" Fira mencebikan bibirnya mendengar kata banyak yang di lontarkan Jeje.
"Karena aku tidak punya saudara, dan aku tidak mau anak-anakku sendiri seperti aku," ucap Jeje, "Dulu aku selalu bermain sendiri di rumah, jadi saat banyak anak di rumah, mereka bisa bermain bersama" jelasnya lagi.
"Apa tidak ada anak lain di rumahmu?" tanya Fira memastikan.
"Tidak."
Fira mengerutkan keningnya, mendengar jawab Jeje, "Tidak ada, apa dia tidak mengenalnya"
"Jadi ayo kita buat anak yang banyak," ucap Jeje dengan semangat, dan merebahkan tubuh Fira di atas tempat tidur.
"Kamu mau apa?" tanyanya saat melihat Jeje sudah tepat di atasnya.
"Membuat anak yang banyak," ucapnya seraya membenamkan bibirnya pada bibir Fira.
__ADS_1
Fira tahu akan berakhir kemana ciuman hangat yang di berikan Jeje. Dirinya hanya bisa mengikuti irama yang Jeje buat malam ini.