
Pagi ini Fira dan Jeje bersiap untuk kembali ke apartemen. Membantu Fira mengepak baju, Jeje bersimpuh di lantai.
"Adhi dan Zara belum pulang?" Fira yang mendengar kalau Jeje pulang lebih awal, baru tahu jika Adhi dan Zara masih di luar negeri.
"Iya, mungkin hari ini mereka sudah pulang," ucap Jeje seraya memasukkan baju Fira ke dalam koper.
"Kamu tega, tinggalin mereka."
Jeje langsung menghentikan tangannya yang sedang merapikan baju Fira di koper, saat mendengar ucapan Fira.
Berdiri, Jeje menghampiri Fira yang sedang merapikan tempat tidur, sebelum dirinya meninggalkan kamarnya lagi. "Itu semua karena aku begitu merindukanmu," ucap Jeje seraya memeluk tubuh Fira.
Fira menghentikan tangannya yang sedang merapikan tempat tidur. Membalikkan tubuhnya, Fira membalas memeluk Jeje. "Tapi jangan sampai perkerjaanmu menjadi korban, karena kamu merindukan aku."
"Iya," ucap Jeje. "Aku janji tidak akan terulang lagi. Tapi berjanjilah, jangan membuatku gelisah saat jauh darimu."
Fira hanya menarik senyum di ujung bibirnya, dia tahu dengan baik jika Jeje sangat gelisah saat mendengar suara Raka kemarin. "Iya."
"Ya sudah, ayo kita cepat selesaikan, dan melanjutkan perkerjaan kita di rumah." Jeje sedikit menjauhkan tubuh Fira untuk menjangkau wajah Fira.
"Perkerjaan apa?" tanya Fira mengoda Jeje.
"Perkerjaan menengok anakku."
Fira hanya bisa tercengang mendengar istilah yang Jeje berikan. "Dasar," ucap Fira seraya mencubit perut Jeje.
***
Setelah selesai mengemasi barang, Fira dan Jeje keluar dari kamarnya. Mencari Bu Ani, mereka berpamitan dengan ibunya.
"Kalian sudah siap?" Bu Ani yang dari dapur, menghampiri Fira dan Jeje yang baru saja keluar dari kamar. Dengan membawa bungkusan di tangannya, Bu Ani memberikan pada Fira. "Ini makanan untuk kamu, jadi kamu tidak perlu masak hari ini. Nanti tinggal kamu panaskan saja."
"Terimakasih." Fira menerima makanan dari Bu Ani.
"Kamu hati-hati, jaga kandungan kamu ya, ibu akan ke rumah untuk menjenguk kamu, jadi kamu tidak perlu kesini." Bu Ani memeluk Fira.
"Iya Bu," ucap Fira. "Salamkan pada Kak Raka, kalau Fira sudah pulang." Fira yang melihat Raka sudah berangkat, tidak sempat berpamitan.
"Iya, nanti ibu akan sampaikan."
Jeje pun bergantian berpamitan dengan Bu Ani, setelah Fira selesai berpamitan.
Setelah mereka berpamitan, Jeje dan Fira masuk ke dalam mobil, dan Jeje melajukan mobilnya sesaat setelah mereka masuk.
Perjalanan ke ruamah kali ini tidak terlalu macet, jadi membuat perjalalanan Fira dan Jeje sampai lebih awal.
Sesampainya di rumah Fira langsung merapikan makanan di dalam lemari pendingin terlebih dahulu, sebelum nanti dia akan panaskan untuk makan siang.
Sedangkan Jeje sibuk membawa kopernya ke kamar.
Menyusul Jeje yang berada di kamar, Fira langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. "Aku merindukan tempat tidur ini." Fira yang di atas tempat tidur merasakan kelembutan tempat tidurnya.
Jeje yang melihat Fira sedang menikmati tempat tidurnya, Jeje menarik senyum di ujung bibirnya. Melangkah ke tampat tidur, Jeje ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memiringkan tubuhnya, Jeje langsung memeluk Fira. "Kalau aku, merindukan pemilik tempat tidur ini." Jeje membenamkan kepalanya di ceruk leher Fira.
"Sayang," panggil Fira seraya menjauhkan sedikit tubuh Jeje. Rasa geli di lehernya membuat Fira berdesir.
"Kenapa?" tanya Jeje yang protes karena Fira menghentikan aksinya.
"Aku masih lelah, bisa kan tunggu sebentar," pinta Fira.
Jeje tidak pernah bisa menolak keinginan Fira. "Baiklah." Jeje hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Berapa hari kita nanti pergi babymoon?" Fira yang mengingat kepergiannya keluar kota pun bertanya pada Jeje.
"Mungkin dua sampai tiga hari."
"Tidak bisakah lebih?"
Jeje menghela napasnya. "Jika tidak ada perkerjaan di kantor, kita bisa perpanjang babymoon kita."
Fira memutar tubuhnya menghadap ke Jeje. "Apa yang akan kita lakukan disana?"
"Emm... menikmati suasana pegunungan saja, jadi kita akan di Villa saja."
Fira mengerutkan dalam dahinya, saat mendenga ucapan Jeje. "Kenapa hanya di Villa?"
"Sayang, kalau kamu jalan-jalan itu akan membuat kamu lelah." Jeje tidak mau mengambil resiko dengan kandungan Fira.
Fira menghela napasnya. Fira bisa bayangkan akan sebosan apa nanti dirinya disana. "Bagaimana kalau kita mengajak yang lain, mungkin akan jauh lebih seru." Seketika terlintas ide untuk mengajak orang lain dalam acara babymoon mereka.
"Siapa yang kamu ingin ajak?" tanya Jeje yang bingung karena Fira ingin mengajak orang lain.
Sejenak Fira memikirkan siapa yang akan di ajaknya. "Adhi dan Zara, atau mungkin Kak Daffa dan Tania, atau Kak Raka dan Celia, atau semua saja kita ajak." Fira menyebut nama-nama yang bisa di ajaknya untuk berlibur.
Jeje langsung menajamkan pandangan mendengar nama-nama orang di sebut untuk di ajak. "Kita mau pergi berdua, kenapa semua orang di ajak?" tanya Jeje kesal.
Fira memanyunkan bibirnya saat Jeje menolak mengajak orang lain dalam jalan-jalan mereka. "Kalau Adhi dan Zara saja bagaimana?" Fira masih bernegosiasi untuk mengajak orang lain, untuk acara babymoon mereka.
"Boleh, tapi jika kamu bisa merayuku." Seragai licik terlihat di wajah Jeje.
"Merayu?" gumam Fira. Fira memutar otaknya bagaimana cara merayu Jeje.
Senyum langsung tertarik di bibir Fira, saar terlintas ide bagaiamana merayu Jeje. Tangan Fira mulai bergrilya di dada bidang milik Jeje. "Aku tidak bisa merayu," ucap Fira.
Wajah Fira dan Jeje yang saling berhadapan, membuat aroma napas mereka saling bersautan. "Tapi..." Fira membenamkan bibirnya di leher milik Jeje. Mengecup perlahan di leher Jeje. Fira melakukan seperti apa yang Jeje sering lakukan.
Beralih pada bibir Jeje. Fira membenamkan bibirnya ke bibir milik Jeje. Memberikan ciuman, Jeje pun langsung membalasnya.
Tangan Fira mulai masuk ke dalam kaos milik Jeje. Membelai lembut dada bidang Jeje tanpa penghalang.
"Sejak kapan kamu belajar merayu seperti ini." Jeje yang melepas ciuman untuk memberi ruang Fira bernapas, menyelipkan pertanyaan.
"Sejak saat ini." Fira kembali membenamkan bibrinya.
Jeje pun membiarkan Fira melakukan apa pun padanya. Dia ingin tahu, segigih apa Fira berusaha.
Tapi ternyata Jeje salah. Justru dirinyalah yang tidak tahan berlama-lama. Walaupun Fira yang memulai. Tetap saja Jeje yang akan mengakhirinya, dengan penyatuan mereka.
***
Setelah penyatuan mereka yang berakhir, dengan sebuah kelelahan. Jeje dan Fira masih meringkuk di bawah selimut.
Fira yang tidur di dada Jeje memeluk tubuh Jeje erat. "Kalau kamu besok mengatarku ke dokter, berarti kamu tidak akan ke kantor lagi?"
"Aku akan ke kantor setelah mengantarmu ke dokter." Jeje membelai rambut Fira.
Saat sedang menikmati pelukan hangat, terdengar suara perut Fira yang berbunyi.
Fira yang merasa perutnya berbunyi langsung tertawa. "Aku lapar."
Jeje pun ikut tersenyum mendengar Fira lapar, Jeje menyibak selimutnya. "Bersihkan dulu tubuhmu, selepas itu kita akan makan." Tanpa izin Fira, Jeje langsung mengendong Fira menuju ke kamar mandi.
"Sayang," pekik Fira yang kaget saat Jeje mengendongnya.
__ADS_1
"Diamlah jangan bergerak, jika kamu bergerak kamu akan jatuh."
Mendapatkan perintah Jeje, Fira akhirnya memilih diam, dan menurut saja apa yang di katakan oleh Jeje.
Menurunkan Fira, Jeje berdiri di bawah shower, membersihkan diri bersama Fira.
***
Mandi yang harusnya sebentar, menjadi lebih lama saat Jeje mandi mengiringi dengan cumbuan.
Fira yang keluar dari kamar mandi, dengan perasaan kesal, saat niatnya cepat makan harus tertunda dengan menuruti Jeje bercumbu dulu. Memang tidak ada penyatuan kembali, tapi tetap saja memakan waktu.
Berlalu memanaskan makanan, Fira dan Jeje berniat untuk makan siang dengan makanan yang di bawakan Bu Ani.
"Sepertinya enak," ucap Jeje yang membantu Fira menghangatkan makanan untuk mereka makan.
"Iya." Fira mengakui memang masakan ibunya adalah masakan yang terenak. Selama di rumah ibunya saja, Fira makan banyak dan lahap.
Menyajikan makanan di meja makan. Fira dan Jeje memulai makannya.
**
Adhi dan Jeje yang sampai di Bandara langsung menaiki taxi untuk menuju ke rumah. Taxi melaju ke rumah Zara terlebih dahulu, sebelum akhirnya menuju rumah Adhi.
"Aku senang kamu sudah bertemu dengan mama," ucap Adhi pada Zara. Adhi yang melihat kedekatan Adhi dan Zara merasa sangat senang.
"Iya, aku juga senang." Perjalanan bersama Adhi kali ini memang sangat berkesan untuk Zara. Dirinya yang bertemu dengan mama Adhi, merasa sangat senang, saat mama Adhi menerima dengan baik kedatangan Zara.
Sesampainya di rumah Zara. Adhi dan Zara turun dari taxi. Adhi membantu menurunkan koper milik Zara, dan berpamitan dengan Zara.
Melihat taxi meninggalkan rumahnya, Zara masuk ke dalam rumahnya. Saat masuk ke dalam rumah Zara di kagetkan dengan kehadiran seseorang.
"Zara kamu sudah pulang," ucap seorang wanita paruh baya.
"Ibu," gumam Zara. Zara masih diam membeku saat melihat wanita yang sudah meninggalkan dirinya, adik dan ayahnya itu bertahun-tahun lalu.
Entah apa yang di lakukan ibunya di rumah. Zara sendiri tidak bisa menebak.
Melangkah menghampir Zara, Intan langsung memeluk putrinya. "Ibu kangen, Ra."
Zara masih belum memberikan rekasi apa-apa pada ibunya. Dirinya masih memikirkan bagaimana ibunya bisa di rumahnya.
"Kamu istirahat dulu ya. Kamu pasti sangat lelah."
Zara masih belum merespon ucapan ibunya, sampai surara Nadia menyadarkannya.
"Kakak, sudah pulang." Nadia yang melihat Zara pulang pun menghampiri Zara.
Nadia tahu jika kakaknya sangat kaget dengan kehadiran ibunya di rumah. "Ayo, Nadia bantu." Nadia langsung meraih koper Zara dan menariknya ke kamar Zara.
Zara pun mengekor di belakang Nadia, melangkah menuju ke kamarnya. Pikirannya masih berkecambuk memikirkan bagaiamana ibunya bisa di rumah, dan pikirnya Nadialah yang bisa menjawabnya.
"Kenapa ibu bisa disini?" tanya Zara setelah menutup pintu.
"Ayah yang membawa ibu kemari, Kak."
"Ayah?"
"Nadia tidak tahu kenapa ayah membawa ibu, karena ayah tidak pernah mengatakan apa-apa pada Nadia."
Zara masih mencerna ucapan Nadia. Pikirnya hanya ayahnya lah yang bisa menjawab pertanyaan ini.
__ADS_1
"Ya sudah, kakak mau istirahat, terimaksih." Zara menepuk bahu Nadia memberikan ucapan terimaksih.
"Iya." Nadia pun keluar, dan Zara berlalu membersihkan diri sebelum akhirnya dirinya melanjutkan istirahatnya.