Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Frustrasi kepergian Fira


__ADS_3

Enam bulan Kemudian


Sudah enam bulan Fira dan ibunya tinggal dan berkerja di luar negeri. Perlakuan dari penghuni rumah yang ramah membuat Fira dan ibunya betah tinggal di rumah ini. Majikan yang begitu menghargai mereka.


Fira yang melihat ibunya sudah bahagia, di tempat ini pun merasa sangat senang. Baginya tujuan utamanya adalah ibunya. Walau pun dia harus merelakan cintanya pada Jeje.


Fira dan ibunya sudah hidup normal, kebahagiaan juga sudah mulai nampak dari raut wajah mereka. Tawa kadang menghiasi hari-hari mereka. Sejenak mereka melupakan apa yang membuat mereka sampai di negara ini.


Terlepas apa yang di lakukan oleh Bu Inan, mereka hanya dapat bersyukur, Bu Inan mengirim mereka pada orang baik.


Pagi ini Fira merawat bunga-bunga di taman rumah Nyonya Ayu. Selama di rumah Nyonya Ayu, Fira lah yang merawat bunga-bunga di rumah ini.


Setiap pagi Fira selalu menyirami bunga-bunga yang di tanam rumah Nyonya Ayu, memberi pupuk, dan menjaga semua tanaman di seluruh rumah. Fira sangat senang melihat bunga-bunga yang bermekaran.


"Bunga-bunga mu makin cantik fir," ucap Bibi Cristina yang baru datang ke taman belakang rumah Nyonya Ayu, untuk menghampiri Fira.


Fira yang mendengar suara menoleh, dan tersenyum saat tahu Bibi Cristina yang menghampirinya.


"Ya bi, lihat lah mereka mulai bermekaran, sangat cantik" Fira menunjukan bunga-bunga yang begitu indah yang sedang bermekaran.


"Kamu merawatnya dengan baik, pasti bunga-bunga ini akan jadi cantik seperti dirimu"


Pipi Fira langsung merona, saat Bibi Cristina mengodanya, "Ach..bibi bisa saja," elak Fira.


Saat serang mengobrol dengan Bibi Cristina, Fira teringat sesuatu. "Bi, bolehkah aku bertanya."


"Tanya apa?"


"Apa Nyonya Ayu dan Tuan Edward tidak memiliki anak?" Fira bertanya pada bibi Cristina dengan suara rendah, karena takut ada yang mendengar. Fira akan merasa tidak enak kalau nanti ada yang mendengar, apa lagi Nyonya Ayu.


Fira yang sudah enam bulan ini, tinggal di rumah Nyonya Ayu, memperhatikan kalau di rumah ini hanya di huni oleh Tuan Edward dan Nyonya Ayu. Fira tidak pernah sama sekali melihat anak dari Tuan Edward dan Nyonya Ayu.

__ADS_1


"Oh itu, Nyonya Ayu dan Tuan Edward memang tidak memiliki anak, tapi Nyonya Ayu memiliki anak dari suami terdahulu," jelas Bibi Cristina.


"Lalu kemana anak Nyonya Ayu?" tanya Fira penasaran.


"Aku kurang tahu mereka tinggal dimana. Aku belum melihat mereka sejak aku berkerja dirumah ini" jelas Bibi Cristina pada Fira.


"Mereka?, mereka itu maksudnya lebih dari satu, Bi?" Fira memperjelas pertanyaan dai Bibi Cristina.


"Ya Nyonya Ayu memiliki dua anak."


"Bibi sudah berapa lama kerja di sini?" Fira menatap Bibi Cristina.


"Aku berkerja disini sejak Nyonya Ayu tinggal di negara ini, ya sekitar sepuluh tahun," jelas Bibi Cristina.


"Sudah lanjutkan perkerjaan mu, bunga mu akan layu mendengarkanmu banyak bertanya," ucap bibi Cristina seraya tertawa, mengoda Fira. Bibi Cristina pun masuk ke dalam dapur, dan membantu Bu Ani memasak.


Selama ini Bu Ani bertugas memasak untuk majikannya, sedangkan Bibi Cristina membersihkan rumah. Fira yang bertugas merawat taman, sesekali membantu Bu Ani atau pun Bibi Cristina.


Fira melanjutkan merawat bunga di taman. Bunga-bunga ini adalah pengobat kebosanan Fira dan pengobatan kesedihan Fira. Melihat bunga-bunga bermekaran membuat Fira sedikit bisa tersenyum melupakan kesedihananya.


**


Tok..


Tok..


Terdengar pintu ruangan Jeje di ketuk.


"Masuk!" seru Jeje dari dalam ruangannya.


"Permisi, Pak." Reza masuk ke rungan Jeje seraya membuka pintu

__ADS_1


"Apa kamu sudah dapat informasi?" tanya Jeje pada Reza, yang masuk ke dalam ruanganya.


Sudah enam bulan Jeje mencari informasi kepergian Fira. Jeje juga menyuruh Reza melacak semua yang berkaitan dengan Fira. Beberapa kali juga Jeje mencari ke rumah kerabat Fira dan Bu Ani. Tapi sampai sekarang belum menemukan hasilnya.


"Maaf pak saya belum dapat informasi"


"Sudah enam bulan, dan kamu selalu datang kemari dengan kalimat belum mendapatkan informasi, apa kamu tidak bisa berusaha lebih keras lagi za," bentak Jeje pada Reza. Jeje meluapkan kekesalanya pada Reza, yang tidak pernah membawakan kabar baik.


Reza sudah bisa menebak, Jeje akan marah kepadanya, saat dia tidak membawakan kabar baik tentang kekasihnya. Sudah enam bulan ini, dia di minta untuk mencari kekasih Presdir, tapi dia belum mendapatkan hasilnya.


"Maafkan saya Pak, saya rasa ada orang lain yang mambantu kepergian Nona Zhafira," jelas Reza pada Jeje.


Jeje mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Reza. Dia sedikit berfikir, benar juga yang di katakan Reza, jika Fira pergi dengan bantuan orang lain. Fira yang tidak sama sekali meninggalkan Jejak, tidak mungkin melakukannya sendiri.


"Apa maksud kamu?" tanya Jeje yang meminta informasi yang jelas.


"Dari semua informasi yang saya cari, tidak ada satu pun informasi mengenai kepergian dari Nona Zhafira. Dari mulai bandara, kereta dan bus, tidak ada informasi pemesanan atas nama Nona Zhafira. Saya juga sudah mengecek CCTV di dekat rumah Nona Zhafira, dan CCTV menunjukan bahwa Nona Zhafira di jemput oleh seorang pria. Wajah pria itu tidak terlihat jelas, dan juga pria itu mengunakan mobil yang berplat nomer palsu." Reza menjelaskan dengan sangat rinci.


Jeje yang mendengarkan kepergian Fira dengan pria yang tidak di ketahuinya menjadi sangat yakin, Fira tidak akan pergi jauh, dengan tangannya sendiri.


"Cari tahu siapa siapa orang yang membantu Fira pergi," perintah Jeje pada Reza


"Baik Pak, saya permisi." Reza pun meninggalkan ruangan Jeje.


Jeje benar-benar frustrasi akan kepergian Fira. Selama enam bulan dia tidak berhenti mencari Fira. Jeje sudah mengunakan segala cara untuk mencari Fira. Selama mencari Fira, Jeje menjadi sangat emosional, tidak dapatnya informasi tentang Fira membuatnya sering marah- marah.


Kemarahan Jeje terkadang di lampiaskan kepada karyawannya. Jeje yang terkenal baik dan tegas sekarang berubah kasar.


Saat orang-orang di kantornya membuat kesalahan, dia akan melempar orang-orang kantornya keluar dari perusahannya, tanpa memberi surat peringatan terlebih dahulu. Semua karyawan pun menjadi takut dengan Presdir mereka.


"Aku harus mencarimu kemana lagi fir," Jeje mengusap kasar wajahnya. Rasanya dia sudah sangat lelah mencari wanita yang di cintainya. Tapi batinnya mengatakan, jika dia harua berusaha mencari Fira.

__ADS_1


"Siapa yang membantu mu." Jeje terus memikirkan siapa yang membantu Fira pergi, hingga dia benar-benar tidak bisa mendapatkan informasi sama sekali.


"Saat aku menemukan siapa yang membantu mu, aku tidak akan mengampuninya."


__ADS_2