
Jeje mengerjap, karena hawa dingin tiba-tiba menusuk tulangnya. Saat dia membuka matanya sempurna, dia mendapati ternyata selimut yang menutupi tubuh polosnya sedikit tersingkap. Dia pun menarik selimut untuk kembali menutupi tubuhnya. Tapi seketika di menoleh ke samping, berfikir apa selimut yang di pakai Fira juga tersingkap. Dan saat di menoleh, ternyata hanya selimutnya lah yang tersingkap, sedangkan selimut Fira masih rapat membungkus tubuh polosnya.
Di pandangnya wajah Fira lekat, dia berfikir bagaimana dia bisa secinta itu, dengan wanita yang sedang menikmati mimpi indahnya itu. Dulu dia pikir kisahnya akan berakhir sama dengan Valeria, berpacaran agar terlihat move on, tapi nyatanya mereka tidak pernah saling mencintai. Tapi dengan Fira, dia di buat benar-benar gila, mencintai dan harus berjuang.
"Emm," lenguhan Fira terdengar saat tangan kekar membelai lembut wajahnya, di bukanya matanya perlahan, dan mendapati Jeje lah yang membelainya."Kamu sudah bangun?"
"Iya," jawabnya seraya mendekat, dan membawa Fira dalam pelukannya.
"Apa kamu hari ini ke kantor?" Fira mengeratkan pelukannya.
"Kalau kamu menahanku di atas tempat tidur, lalu bagaimana aku bisa ke kantor," godanya pada istrinya.
Fira mencebikan bibirnya, "Siapa yang menahanmu."
Jeje yang mendengar Fira menggerutu langsung mencubit hidungnya.
"Apa kamu mau mencoba tes kehamilan yang kita beli kemarin?" tanyanya saat mengingat alat itu.
Fira sedikit berfikir, menimbang-nimbang untuk mencobanya, "Apa pun hasilnya kamu tidak akan kecewa?" tanyanya ragu-ragu.
"Iya." Jeje berusaha memastikan lagi.
Akhirnya Fira mengangguk, tanda menyetujui. Dia langsung bangun dan mengambil bajunya yang tergeletak di lantai, dan memakainya.
Jeje pun melakukan hal yang sama, dan mengambil alat tes kehamilan yang terdapat di dalam nakas. "Ini." Jeje menyodorkan alat tes kehamilan pada Fira.
Ragu-ragu Fira mengambilnya, dan berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan Jeje menunggu, dan duduk di sofa kamar.
Di dalam kamar mandi Fira membaca petunjuk pemakaian yang terdapat dalam kemasan. Saat dia sudah mengerti bagaimana caranya mengunkannya, akhirnya di mempraktekkan sesuai petunjuk.
Fira keluar dari kamar mandi, dan Jeje langsung berdiri menghampiri."Bagaimana?" tanyanya begitu penasaran. Sedari tadi dia duduk di sofa menunggu Fira yang keluar dari kamar mandi. Jantungnya yang berdebar menanti hasil tes kehamilan membuatnya benar-benar gugup.
"Entahlah," Fira mengedikan bahunya, seolah tidak tahu akan jawabannya sendiri.
Jeje menautkan alis tegasnya, merasa bingung dengan jawaban Fira, "Entah apa maksudnya?" Dia benar-benar tidak tahu maksud Fira, dan tidak bisa mengartikan wajah Fira yang terlihat bingung.
"Di petunjuk tertera akan ada dua garis merah, tapi ini berbeda, jadi aku tidak tahu itu artinya apa," Fira yang sedari tadi menunggu hasil tes kehamilan memang di buat bingung, dengan hasil dari test kehamilan yang tidak sesuai petunjuk.
__ADS_1
"Coba aku lihat," Jeje meminta alat tes kehamilan yang di pegang oleh Fira. Dia langsung melihat hasil tesnya.
"Kalau seperti ini artinya apa?" Jeje menatap Fira, setelah dari tadi menatap bingung pada tes kehamilan yang di pegang.
"Aku tidak tahu."
"Sebaiknya kita ke dokter saja ya, biarkan dokter yang menjelaskan," Jeje tidak punya pilihan lain, karena dia tidak bisa memastikan sediri arti dari garis yang dia lihat.
Akhirnya Fira mengiyakan permintaan Jeje, dan bersiap ke rumah sakit untuk menanyakan semua.
**
Sesampainya di rumah sakit, Fira dan Jeje mendaftarkan diri untuk memeriksakan pada dokter kandungan. Dan di persilahkan untuk menunggu antrian.
"Menunggu antrian untuk ke dokter kandungan juga ya?" tanya seorang wanita di samping Fira.
Fira yang mendengar ada yang mengajaknya berbincang menoleh, dan mendapati seorang wanita hamil yang cukup besar duduk di sampingnya, "Iya," jawabnya sopan dengan sedikit senyum.
"Pasti masih pengantin baru?," godanya dan langsung membuat pipi putih Fira merona.
"Iya," jawabnya pada wanita itu.
"Saya sudah delapan bulan."
"Pasti berat ya, sudah sampai delapan bulan," ucap Fira yang melihat perut besar yang begitu terlihat sangat sesak.
"Kalau sudah besar seperti ini, memang berat, tapi senang," ucapnya dengan senyum mengembang. Dan Fira yang melihatnya bisa merasakan, seberapa senangnya. "Tapi tidak seberat awal kehamilan," lanjutnya.
Fira yang melihat raut wajah wanita itu berubah merasa bingung, "Kenapa?" tanyanya penasaran.
"Awal kehamilan saya selalu muntah, bau masakan selalu tidak bisa, akhirnya saya susah sekali makan. Hingga akhirnya harus di rawat di rumah sakit, karena tidak ada asupan yang masuk," jelasnya pada Fira. Fira yang mendengarkan cerita hanya mengangguk mengerti.
"Tapi lebih berat lagi, ketika saya nggak suka lihat suami saya," wanita itu menjelaskan lagi.
Fira yang mendengar ucapan wanita itu menautkan alisanya, dia berfikir kenapa bisa, "Maksudnya?" Fira yang begitu penasaran ingin tahu bagaimana bisa.
"Iya, saya kalau melihat wajah suami saya, rasanya ingin marah, intinya saya tidak suka dekat dengan suami saya," jelasnya dengan begitu semangat.
__ADS_1
Fira yang mendengarkan cerita membulatkan matanya, tidak menyangka wanita hamil ada yang seperti itu.
"Tapi saat memasuki delapan bulan, menjelang lahiran sudah tidak, malah sekarang saya lebih suka dekat dengan suami saya," wanita itu bercerita dengan wajah malu.
Fira yang melihat wajah malu wanita di hadapannya hanya tersenyum.
"Nona Intan," panggil perawat, dan membuyarkan obrolan mereka berdua.
"Saya duluan ya," pamit wanita yang bernama Intan itu, seraya masuk ke dalam ruangan dokter.
"Apa orang hamil seperti itu?" suara bass yang berat mengalihkan Fira, yang sedang melihat Intan berjalan ke dalam ruangan dokter, setelah suaminya membantunya berdiri.
Fira langsung menoleh pada Jeje pemilik suara itu, "Seperti apa maksudmu?"
"Seperti yang di ceritakan wanita tadi."
"Yang dia muntah dan susah makan?" Fira memastikan pertanyaan Jeje, dan Jeje mengangguk. "Ya seperti kamu dengar tadi, memang sebagian ibu hamil akan seperti itu, muntah dan terkadang membuat mereka susah makan."
"Tapi aku berharap kamu tidak seperti itu, aku tidak akan tega melihat kamu muntah-muntah dan susah makan," Jeje tidak bisa membayangkan kalau Fira tersiksa seperti itu.
"Itu nikmat seorang wanita hamil, jadi aku tidak keberatan," ucapnya pada Jeje, "Apa lagi seperti yang di ceritakan, kalau dia tidak suka dekat suaminya, aku juga tidak keberatan," Fira mengoda Jeje, yang masih belum terima dengan apa yang di alami ibu hamil.
Jeje yang mendengar ucapan Fira membulatkam matanya, "Kalau kamu tidak keberatan, aku yang keberatan," Jeje merasa kesal, saat Fira mau menerima, seperti yang terjadi pada wanita yang duduk di sebelah Fira tadi.
Fira langsung tergelak, melihat wajah suaminya yang terlihat kesal, "Kenapa keberatan?"
"Bagaiamana aku bisa tidak dekat dengan mu sampai delapan bulan," ucapnya bergedik ngeri membayangkan dirinya di jauhi oleh Fira. "Sedangkan baru jauh sebentar saja denganmu aku gila," ucapnya seraya mengingat bagaimana waktu Fira hilang ke luar negeri, dan waktu hilang karena Ana.
Fira tidak menyangka niatnya mengoda, membuat Jeje sepanik itu membayangkan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berikan like dan voteš„°
Mampir juga ke karya lain ku dan instagram aku Myafa16