Terjebak Cinta Majikan

Terjebak Cinta Majikan
Harusnya yang lelah aku!


__ADS_3

Dinginnya udara pegunungan begitu menusuk hingga ke tulang. Tapi bagi mereka yang menikmati malam yang indah hanyalah kehangatan yang tercipta.


Duduk di teras villa, Adhi dan Zara menikmati embusan semilir angin malam. Udara yabg begitu masih terasa segar, masuk ke dalam paru-paru, hingga menciptakan kelegaan tersendiri.


"Kita baru ini ya jalan-jalan." Suara Adhi membelah keheningan malam, saat duduk bersama Zara.


Mendengar ucapan Adhi. Zara langsung memicingkan matanya. "Kamu lupa, kalau kita pernah jalan ke kampung Fira." Zara mengingatkan kembali kenangan mereka.


"Oh iya, aku lupa." Adhi teringat kembali pada kenangan mereka yang pergi mencari Fira. "Disana pertama kali aku jatuh cinta padamu." Adhi mengenggam erat tangan Zara.


Rasanya Zara begitu bahagia. Kini dia sadar, jika di dalam hatinya, dia yakin jika Adhi mencintainya.


"Apa kamu tidak keberatan menunggu diriku, hingga kembali dari luar negeri?"


Senyum terukir di wajah Zara. "Aku akan menunggu."


"Setelah aku kembali, aku akan langsung melamarmu, dan kita akan segera menikah."


Zara benar-benar merasa sangat senang dengan rencana Adhi. Dirinya pun menunggu Adhi untuk melamar dirinya. Membayangkan rumah tangga bersama Adhi, rasanya Zara sudah tidak sabar.


"Ayo masuk, sepertinya udaranya sudah semakin dingin," ucap Adhi pada Zara.


Zara pun berdiri dan masuk ke dalam villa bersama Adhi. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Menikmati malam indah, dengan dekapan mimpi.


***


Fira yang membersihkan wajah Jeje, hanya bisa tertawa sendiri membayangkan wajah Jeje.


"Apa kamu tidak bisa berhenti tertawa?" tanya Jeje kesal.


"Apa kamu tidak rela aku bahagia," ucap Fira ketus.


Rasanya Jeje tidak akan menang jika melawan Fira. "Tertawalah sayang." Akhirnya Jeje hanya bisa mengalah melawan Fira.


Fira tahu, jika Jeje sangat kesal dengan ulahnya mencoret-coret wajahnya. Fira pun memberikan kecupan di pipi Jeje. "Jangan kesal, tadi hanya permainan." Fira mencoba untuk menenangkan Jeje.


"Kenapa cuma disini?" tanya Jeje seraya menunjuk pipinya. "Bukannya yang di coret-coret tadi pipi sebelah juga?"


"Bilang saja mau di cium lagi," sindir Fira pada Jeje. Tanpa menunggu apa pun. Fira mencium pipi Jeje, tempat dimana dirinya tadi memberikan lipstik merah di pipinya.


"Yang disini belum?" Jeje menunjuk atas bibirnya.


"Kalau itu, harusnya kamu minta Adhi yang cium," ucap Fira seraya tertawa terbahak.


Jeje hanya bisa mendengus kesal. Jawab Fira benar-benar menyebalkan baginya.


Setelah puas tertawa, Fira menhentikan tawanya, dan langsung mengecup bibir Jeje. "Impas," ucap Fira yang berharap Jeje tidak akan marah lagi.


"Belum," ucap Jeje langsung menarik tengkuk Fira dan membenamkan bibirnya di bibir Fira. Menarik lebih dalam, Jeje memperdalam ciumannya. Tangannya sudah maraih baju Fira.


Fira yang melihat aksi Jeje, sudah tahu akan kemana bermuara. Mengikuti alur yang di buat Jeje. Fira menikmati setuhan lembut dari Jeje.


***


Kicauan burung terdengar merdu menyambut pagi. Dua insan yang menghabiskan malam dingin di pegunungan, membuat mereka masih betah meringkuk di bawah selimut hangat. Gesekan kulit pun menambah kehangatan tersendiri, bagi keduanya.


Fira mengerjap saat sinar matahari masuk ke dalam celah-celah jendela, dan membuat matanya merasakan silau yang amat mengangguk. "Sayang, sudah pagi," ucap Fira pada Jeje.


Jeje hanya melenguh saat mendengar suara Fira membangunkannya. Mengeratkan pelukannya, Jeje membawa Fira masuk ke dalam pelukannya lebih dalam.


"Sayang, ayo kita harus jalan-jalan pagi," ucap Fira yang terus saja berusaha melepaskan diri dari pelukan Jeje.


"Aku masih mengantuk, aku lelah, jadi biarkan aku tidur." Jeje pun malayangkan protes pada Fira.


"Bukannya yang lelah itu harusnya aku." Fira langsung berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Selesai mandi Fira keluar dari kamar mandi. Tapi saat Fira keluar dari kamar, Fira melihat Jeje yang masih asik bergelut dengan selimutnya.


Memakai bajunya rapi, mata Fira terus memandang Jeje. "Jeje benar-benar menikmati tidurnya, dan tidak bergeming sama sekali saat dirinya sudah tidak ada di pelukannya.


Saat keluar sudah ada Adhi dan Zara di meja makan menikmati sarapan pagi mereka. Dengan suguhan secangkir kopi, menjadikannya sajian pas untuk pagi yang dingin.

__ADS_1


"Bang Jeje mana, Fir?" tanya Adhi yang melihat Fira sendiri.


"Dia masih tidur." Fira menarik kursi dan ikut duduk bersama Adhi dan Zara.


"Padahal kita kau jalan-jalan, tapi kalau dia masih tidur lalu bagaimana?" tanya Adhi.


Fira memikirkan bagaimana dirinya bisa pergi, jika Jeje tidak bangun. "Aku akan coba bangunkan lagi." Fira benar-benar kesal, karena harus kembali ke kamar untuk membangunkan Jeje.


Melangkah ke kamar, Fira membuka pintu kamarnya. Menghampiri Jeje tang masih setia di atas tempat tidur, Fira memanggilnya. "Sayang, bangun." Fira mengoyang-goyangkan tubuh Jeje, tapi Jeje hanya melenguh saja.


"Kalau kamu tidak bangun, jangan salahkan aku, kalau aku akan berangkat bersama Adhi dan Zara." Fira yang sudah kehilangan akalnya untuk membangunkan Jeje, akhienya mengunakan ancaman pada Jeje.


Samar-samar Jeje mendengar ucapan Fira. Akhirnya Jeje membuka matanya. "Jangan pergi tanpa aku." Suara Jeje terdengar tegas.


"Ya sudah, cepatlah! Atau aku akan meninggalkanmu."


Menyibak selimutnya Jeje langsung bangun, dan berlalu ke kamar mandi.


Fira yang menunggu Jeje, memilih keluar dari kamar, dan menyusul Adhi dan Zara.


"Bang Jeje belum bangun juga?"


"Sudah, dia sedang mandi."


"Kalian berdua hobby sekali bangun siang," ucap Adhi seraya menyindir.


"Nanti jika kamu menikah, kamu akan tahu, kenapa bisa bangun siang." Suara Jeje terdengar dari arah kamar, menjawab ucapan Adhi.


Pipi Fira langsung tersipu malu saat Jeje mengucapkan hal itu. Seperti membuka kartunya sendiri, ucapan Jeje seolah menunjukan apa yang terjadi semalam.


"Sudah-sudah, ayo jalan, nanti takut terlalu siang." Fira yang tidak mau melanjutkan obrolan Jeje dan Adhi pun mengakhirnya.


Akhirnya Jeje dan Adhi pun mengakhiri perdebatan mereka. Melanjutkan rencana, Jeje, Adhi, Fira, dan Zara langsung keluar menuju mobilnya.


Mereka menuju kebun teh, dan menikmati hanparan kebun teh yang begitu tampak hijau.


"Aku mau foto disana," ucap Fira menujuk tengah-tengah kebun teh.


"Bagiamana bagus tidak?" tanya Fira.


Jeje pun menunjukan foto yang di ambilnya. "Ini," ucap Jeje seraya menyerahkan ponselnya.


"Ich... jelek, ayo foto lagi." Fira mengembalikan kembali ponselnya pada Jeje.


Menerima ponselnya kembali, Jeje hanya bisa mendengus kesal. Tapi Jeje tidak mau membuat mood Fira buruk. Akhirnya menuruti keinginan Fira, Jeje mengambil beberapa jepretan foto lagi.


Jeje yang sibuk memfoto Fira berpose, melihat ke arah lain. Dari kejauhan, tampak Adhi dan Zara berselfi berdua. Melihat pemandangan itu pun, Jeje merasa kesal. Karena dirinya dan Fira tidak ada acara berselfi bersama. Yang ada hanya Fira yang sibuk berpose sendiri.


"Coba lihat," ucap Fira yang menghampiri Jeje lagi, dan ingin melihat hasil Foto miliknya. "Bagus," ucap Fira.


Fira yang sudah selesai pun langsung berlalu pergi. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Jeje tidak menyusulnya. "Kamu kenapa?" tanya Fira yang melihat Jeje diam.


Jeje hanya menatap Fira malas, saat Fira bertanya padanya.


"Kamu kenapa?" Fira mengulang ucapannya. Menghampiri Jeje kembali, Fira ingin tahu apa yang terjadi pada Jeje.


"Kamu sibuk berfoto sendiri, apa kamu tidak lihat Adhi dan Zara," ucap Jeje kesal.


Mendengar ucapan Jeje. Fira langsung melihat ke arah Adhi dan Zara. Tampak Adhi dan Zara sedang berselfi ria, dan Fira mengerti kenapa Jeje kesal.


"Maaf, aku lupa kalau kita belum foto berdua," ucap Fira seraya menampilkan senyum dengan hiasan lesung pipinya.


Jeje masih terlihat kesal, saat Fira terlambat menyadari jika dirinya ingin berfoto dengan Fira.


"Sudah ayo, senyum," ucap Fira seraya menarik Jeje untuk mendekat padanya dan mengarahkan kamera ponselnya untuo berselfi. "Senyum," ucap Fira membidik foto.


Melihat hasil fotonya, Fira melihat Jeje masih belum tersenyum. "Jangan murung, ayo senyum." Fira menatap Jeje dan mencoba membujuk Jeje.


Mengulang kembali berfoto, Fira mengarahkan kameranya ke arahnya. "Senyum ya," ucap Fira pada Jeje.


Jeje pun akhirnya tersenyum, ke arah kamera, setelah kekesalannya mereda. Fira yang melihat Jeje tersenyum pun, mengambil angle berbeda untuk fotonya.

__ADS_1


"Wah bagus," ucap Fira saat melihat hasil fotonya.


Setelah berfoto ria, akhrinya Jeje, Adhi, Fira, dan Zara menuju ke restoran di puncak, untuk menikmati makan siang, dan menikmati pemandangan dari ketinggian.


Di kelilingi pohon-pohon menjulang tinggi, di sertai semilir udara pegunungan membuat semua yang menikmati merasakan tenangan.


Duduk di salah satu restoran yang menjadikan pemandangan alam, Jeje, Fira, Adhi, dan Zara, menikmati semuanya suguhan di hadapannya.


"Aku senang bisa berjalan-jalan seperti ini." Fira yang begitu menikmati pemandangan merasakan kebahagiaan.


"Tapi kamu tidak boleh terlalu lelah," ucap Jeje mengingatkan.


"Iya, Fir, jangan terlalu lelah." Adhi pun tergerak untuk mengingatkan Fira.


"Iya." Fira sadar betul, dalam keadaan hamil muda seperti ini pastilah akan sangat bahaya jika dirinya kelelahan.


Menikmati makannya sesekali Fira dan Zara berfoto bersama. Mengabadikan moment yang indah dan tidak akan terulang kembali.


Setelah selesai makan Jeje, Adhi, Fira, dan Zara kembali ke villa. Melihat Fira yang kelelahan, mereka semua memutuskan untuk beristirahat di villa.


***


"Sayang, kaki aku pegal," ucap Fira manja dengan Jeje.


Jeje yang baru saja selesai mandi, di sambut dengan keluahan dari Fira. Matanya memadang lekat wajah istrinya yang sedang begitu kelelahan. Sejak pulang dari jalan-jalan memang Fira memilil mengistirahatkan tubuhnya dulu.


"Baiklah." Jeje menghampiri Fira yang sedang duduk di sofa, dan saat duduk, dia sudah di sambut dengan kaki Fira yang sudah naik ke pahanya.


Tangan Jeje dengan lembut langsung memijat kaki Fira. Sentuhan lembut tangan kokoh milik Jeje, mempu membuat Fira memejamkan matanya.


"Kamu pintar sekali memijat," puji Fira.


Jeje yang mendengar Fira berbicara dengan mata terpejam, hanya mengelengkan kepalanya. "Iya, jadi nikmati saja."


"Iya, aku sangat menikmati." Fira yang memejamkan matanya, memang menikmati setiap sentuhan Jeje.


Tidak butuh waktu lama, Fira pun tertidur.


Jeje yang melihat Fira sudah tidur, menurunkan kaki Fira yang berada di pahanya dengan perlahan-lahan. Berhasil menurunkan kaki Fira. Jeje langsung berdiri. Melihat ke arah Fira, Jeje melihat Fira yang tertidur sangat pulas.


Meraup tubuh Fira dengan kedua tangannya, Jeje memindahkan Fira ke tempat tidur. Jeje meletakkan Fira dengan perlahan, memastikan agar Fira tidak terbangun.


Setelah Fira lelah, Jeje pun keluar. Rasanya Jeje pun ingin menikmati udara malam di villa. Melangkah keluar, Jeje melihat Adhi tampak dari kejauhan duduk di teras.


"Sendiri?" tanya Jeje.


"Iya, Zara sudah tidur," ucap Adhi. "Fira sudah tidur?" tanya Adhi pada Jeje.


"Iya, sepertinya dia kelelahan." Jeje ikut duduk dengan Adhi.


"Apa kamu kembali besok saja?" Adhi yang melihat Fira sudah kelelahan seharian berjalan-jalan mencoba menawarkan pada Jeje.


"Aku pikir begitu, tapi aku belum mengatakan pada Fira," ucap Jeje. "Besok aku akan coba bicarakan. Kalau dia setuju, siang kita bisa kembali."


"Baiklah."


Menikmati malam Jeje dan Adhi bercerita tentang bisnis mereka. Berbagi cerita dan pengalaman Jeje mengajarkan banyak hal pada Adhi.


.


.


.


.


Terimakasih sudah baca sejauh ini.


Selamat membaca😊


Jangan lupa like👍🏻

__ADS_1


__ADS_2